Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab
44
Memuliakan Alim
Ulama, Orang-orang Tua, Ahli Keutamaan Dan Mendahulukan Mereka Atas
Lain-lainnya, Meninggikan Kedudukan Mereka Serta Menampakkan Martabat Mereka
Allah Ta'ala berfirman:
"Katakanlah - hai Muhammad, adakah sama orang-orang yang
mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Hanyasanya yang mengingat
ialah orang-orang yang menggunakan fikirannya." (az-Zumar: 9)
Dari Abu Mas'ud yaitu'Uqbah bin 'Amr al-Badri al-Anshari r.a.,
katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Yang
berhak menjadi imamnya sesuatu kaum - waktu shalat ialah yang terbaik bacaannya
terhadap kitabullah - al-Quran. Jikalau semua jamaah di situ sama baiknya dalam
membaca kitabullah, maka yang terpandai dalam as-Sunnah - Hadis. Jikalau semua
sama pandainya dalam as-Sunnah,maka yang terdahulu hijrahnya.Jikalau dalam
hijrahnya sama dahulunya, maka yang tertua usianya.
Janganlah
seseorang itu menjadi imamnya seseorang yang lain dalam daerah kekuasaan orang
lain itu dan jangan pula seseorang itu duduk dalam rumah orang lain itu di atas
bantainya- orang lain tadi, kecuali dengan izinnya - yang memiliki."
(Riwayat Muslim)
Dalam riwayat
lain disebutkan oleh Imam Muslim: "Maka yang terdahulu masuknya
Islam" sebagai ganti "yang tertua usianya."
Dalam riwayat lain lagi disebutkan:
"Yang
berhak menjadi imamnya sesuatu kaum - waktu shalat ialah yang terbaik bacaannya
terhadap kitabullah - al-Quran, dan orang yang terdahulu pandai membacanya.
Jikalau dalam pembacaan itu sama - dahulu dan pandainya, maka hendaklah yang
menjadi imam itu seorang yang terdahulu hijrahnya. Jikalau dalam hijrahnya sama
dahulunya, maka hendaknya menjadi imam seorang yang tertua usianya."
Yang dimaksudkan
bisulthanihi yaitu tempat
kekuasaannya atau tempat yang ditentukan untuknya. Takrimatihi dengan fathahnya ta' dan kasrahnya ra' ialah sesuatu
yang dikhususkan untuk diri sendiri, baik berupa bantal, hamparan, kasur
ataupun lain-lainnya.
Dari Abu Mas'ud r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. mengusap
bahu-bahu kita dalam shalat dan bersabda:
"Ratakanlah
- saf-saf dalam shalat - dan jangan bersilih-silih lebih maju atau lebih ke
belakang, sebab jikalau tidak rata, maka hatimu semua pun menjadi berselisih.
Hendaklah menyampingi saya - dalam shalat itu - orang-orang yang sudah baligh
dan orang-orang yang berakal di antara engkau semua. Kemudian di sebelahnya
lagi ialah orang-orang yang bertaraf di bawah mereka ini lalu orang yang
bertaraf di bawah mereka ini pula." (Riwayat Muslim)
Sabda beliau s.a.w.:
Liyalini diucapkan dengan takhfifnya
nun -tidak disyaddahkan-serta tidak menggunakan ya'sebelum nun ini, tetapi ada
yang meriwayatkan dengan
217
syaddahnya nun
dan ada ya' sesudah nun itu - lalu dibaca liyalianni -. Annuha yakni akal. Ululahlami
ialah orang-orang yang sudah baligh, ada pula yang mengertikan: ahli hilm - kesabaran - dan fadhal - keutamaan.
349. Dari Abdullah bin Mas'ud r.a.,
katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Hendaklah
menyampingi saya - dalam shalat - itu orang-orang yang sudah baligh dan
berakal, kemudian orang-orang yang bertaraf di bawah itu." Ini
disabdakannya sampai tiga kali. Beliau s.a.w. lalu melanjutkan: "Jauhilah
olehmu semua akan berkeras-keras suara seperti pasar. (Riwayat Muslim)
Dari Abu Yahya, ada yang mengatakan, namanya: Abu Muhammad,
iaitu Sahal bin Abu Hatsmah - dengan fathahnya ha' muhmalah dan sukunnya tsa'
mutsallatsah - al-Anshari r.a., katanya: "Abdullah bin Sahal dan
Muhayyishah bin Mas'ud berangkat ke Khaibar dan pada saat itu antara penduduk
Khaibar - dengan Nabi s.a.w. - ada persetujuan perdamaian. Kemudian kedua orang
itu berpisah.Setelah itu Muhayyishah mendatangi tempat Abdullah bin Sahal,
tetapi yang didatangi ini sudah dalam keadaan berlumuran darah dan telah
terbunuh. Muhayyishah lalu menanamnya, terus berangkat kembali ke Madinah.
Setelah itu Abdur Rahman bin Sahal, Muhayyishah dan Huwayyishah, yakni
putera-putera Mas'ud, berangkat ke tempat Nabi s.a.w., lalu Abdur Rahman mulai
berbicara, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Yang tua saja yang
berbicara, yang tua saja yang berbicara," sebab Abdur Rahman adalah yang
termuda antara orang-orang yang menghadap itu. Abdur Rahman lalu berdiam diri
dan kedua orang itulah yang berbicara. Sesudah itu Nabi s.a.w. lalu bersabda:
"Adakah engkau semua bersumpah dan dapat menghaki orang yang membunuhnya
itu?" Seterusnya Abu Yahya yang merawikan Hadis ini - menyebutkan
kelengkapan Hadis di atas. (Muttafaq 'alaih)
Dari Jabir r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. mengumpulkan antara dua
orang lelaki dari golongan orang-orang yang terbunuh dalam peperangan Badar -
yakni dikumpulkan dalam sebuah kubur, kemudian beliau bertanya - kepada
sahabat-sahabatnya: "Manakah di antara kedua orang ini yang lebih banyak
hafalnya pada al Quran?" Ketika beliau s.a.w. diberi isyarat antara salah
satunya, maka yang dikatakan lebih banyak hafalannya al-Quran itulah yang lebih
didahulukan untuk dimasukkan dalam liang lahad." (Riwayat Bukhari)
Dari
Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Saya
pernah melihat diri saya sendiri dalam impian di waktu saya sedang bersugi
dengan menggunakan sebatang kayu siwak. Kemudian datanglah padaku dua orang
lelaki, yang satu lebih tua daripada yang lainnya. Lalu siwak itu hendak saya
berikan kepada orang yang lebih muda, tiba-tiba ada seorang yang berkata
padaku: "Berikanlah kepada yang tua." Oleh sebab itu, maka saya
berikanlah kepada yang tertua di antara kedua orang tadi."
Diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai
musnad dan oleh Imam Bukhari sebagai
ta'liq.
Dari Abu Musa r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Setengah daripada cara mengagungkan Allah Ta'ala ialah dengan jalan
memuliakan orang Islam yang sudah beruban serta orang yang hafal al-Quran yang
tidak melampaui batas ketentuan -dalam membacanya
218
- dan tidak pula meninggalkan
membacanya. Demikian pula memuliakan seorang sultan - penguasa pemerintahan
yang adil."
Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Imam
Abu Dawud.
Dari
Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari neneknya r.a., katanya: "Rasulullah
s.a.w.
bersabda:
"Tidak
termasuk golongan kita - ummat Islam - orang yang tidak belas kasihan kepada
golongan kecil di antara kita - baik usia atau kedudukannya - serta tidak
termasuk golongan kita pula orang yang tidak mengerti kemuliaan yang tua di
antara kita."
Hadis shahih
yang diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi. Imam Termidzi
mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih. Dalam riwayat Abu Dawud
disebutkan: "hak orang yang tua dari kita."
Dari Maimun bin Abu Syabib bahawasanya Aisyah radhiallahu 'anha
dilalui oleh seorang peminta-minta lalu olehnya diberi sepotong roti, juga
dilalui oleh seorang lelaki yang mengenakan pakaian baik serta berkeadaan baik,
lalu orang itu didudukkan kemudian ia makan. Kepada Aisyah ditanyakan, mengapa
berbuat demikian - yakni tidak dipersamakan cara memberinya. Lalu ia berkata:
"Rasulullah s.a.w. bersabda: "Letakkanlah masing-masing manusia itu
di tempatnya sendiri-sendiri." Diriwayatkan oleh Abu Dawud, tetapi kata
Imam Abu Dawud: "Maimun itu tidak pernah menemui Aisyah."
Hadis ini
disebutkan oleh Imam Muslim dalam permulaan kitab shahihnya sebagai ta'liq,
lalu katanya: "Dan disebutkan dari Aisyah, katanya: "Rasulullah
s.a.w. memerintahkan kepada kita supaya kita menempatkan para manusia itu di
tempatnya sendiri-sendiri - yakni yang sesuai dengan kedudukannya."
Imam Hakim Abu
Abdillah menyebutkan ini dalam kitabnya Ma'rifatu
'ulumil Hadis dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis shahih.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: 'Uyainah bin
Hishn datang - di Madinah - lalu bertemu di rumah anak saudaranya-sepupunya -
yaitu Hurbin Qais. Hur ini adalah di antara golongan orang-orang yang dekat
hubungannya dengan Umar r.a. dan memang para ahli membaca al-Quran itu menjadi
sahabat dalam majlisnya Umar dan yang diajaknya bermusyawarat, baik pun mereka
itu golongan orang-orang yang sudah tua ataupun yang masih pemuda.
'Uyainah berkata
kepada sepupunya: "Hai anak saudaraku, engkau ini mempunyai wajah - yakni
dikenal amat baik - di sisi Amirul mu'minin ini - maksudnya Umar, maka dari itu
mintakanlah izin untukku supaya aku dapat bertemu dengannya. Hur memintakan
izin lalu Umar mengizinkannya. Setelah 'Uyainah masuk lalu ia berkata: "Ingat
hai anaknya Alkhaththab, demi Allah, engkau ini tidak dapat memberikan banyak
keenakan pada kita dan engkau tidak memerintah kepada kita dengan cara yang
adil."
Umar r.a. marah
padanya sehingga hampir saja bermaksud akan memberikan hukuman pada 'Uyainah
itu. Tetapi Hur kemudian berkata pada Umar: "Hai Amirul mu'minin,
sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman kepada Nabinya s.a.w. - yang ertinya:
"Berilah pengampunan, perintahkan
dengan kebajikan dan janganlah menghiraukan kepada orang-orang yang
bodoh." (al-A'raf: 199) dan sesungguhnya orang ini - yakni 'Uyainah -
adalah termasuk golongan orang-orang
yang bodoh."
219
Demi Allah, maka
Umar tidak suka melanggar ayat tersebut ketika dibacakan padanya dan Umar
adalah orang yang paling dapat menahan dirinya - yakni paling mentaati - kepada
isi kitabullah Ta'ala itu." (Riwayat Bukhari)
Dari Abu Said yaitu Samurah bin jundub r.a., katanya:
"Niscayalah saya dahulu itu sebagai seorang anak-anak di zaman Rasulullah
s.a.w., maka saya menghafal - berbagai ajaran - dari beliau. Juga beliau tidak
pernah melarang saya berbicara, melainkan jikalau di situ ada orang yang lebih
tua usianya daripadaku sendiri." (Muttafaq 'alaih)
Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tidaklah seseorang pemuda itu memuliakan seseorang tua kerana usianya,
melainkan Allah akan mengira-ngirakan untuknya orang yang akan memuliakannya
nanti, jikalau ia telah berusia tua -maksudnya setelah tuanya pasti akan
dimuliakan anak-anak yang lebih muda daripadanya."
Diriwayatkan
oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa Hadis ini adalah Hadis gharib.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan