Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab
43
Memuliakan Ahli
Baitnya Rasulullah s.a.w. Dan Menerangkan Keutamaan Mereka
Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya Allah menghendaki akan menghilangkan kotoran
daripadamu semua, hai ahlul bait - yakni keluarga Rasulullah - dan membersihkan
engkau semua dengan sebersih-bersihnya." (al-Ahzab: 33)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan barangsiapa yang memuliakan tanda-tanda suci - agama
Allah, maka sesungguhnya yang sedemikian itu adalah menunjukkan ketaqwaan
hati." (al-Haj:32)
Keterangan:
Ahli bait
Rasulullah s.a.w., yang di dalamnya termasuk pula zurriyah atau keturunannya
dan yang dalam hukum Agama Islam sama sekali tidak boleh diberi sedekah dan
merekapun haram pula menerimanya apabila diberi, di negeri kita pada umumnya
diberi nama "Sayyid" bagi yang lelaki dan "Sayyidah" bagi
yang wanita. Golongan sayyid atau sayyidah itu adalah dari keturunan Sayidina
Hasan r.a.
Adapun jika dari keturunan Sayidina Husain r.a., maka diberi nama
"Syarif" bagi yang lelaki dan "Syarifah" bagi yang
perempuan. Makna sebenarnya, sayyid adalah pemuka dari kata Saada Yasuudu, artinya mengepalai atau
mengetuai, sedang Syarif artinya adalah orang yang mulia dari kata Syarufe Yasyrufu, maknanya mulia.
Dalam Hadis yang
tertera di bavvah ini tercantum suatu anjuran kepada kita semua, agar kita
memuliakan kepada golongan mereka, tetapi ini tidak bererti bahwa kita tidak
perlu memuliakan kepada golongan selain mereka itu. Perihal penghormatan
terhadap siapa pun juga manusianya, tetap wajib. Jadi dalam hal penghormatan
sama sekali tidak ada diskriminasi atau perbedaan, baik mengenai caranya, menemui
atau berhadapan dengannya dan lain-lain lagi. Jadi jikalau di antara golongan
mereka ada yang meminta supaya dimuliakan lebih dari golongan selain mereka,
maka hal itu tidak dapat dibenarkan, sebab manusia yang termulia di sisi Allah
hanyalah yang terlebih ketaqwaannya kepada Allah Ta'ala itu belaka.
Sebagian
golongan ada yang menggunakan ayat di bawah ini sebagai nash atau dalil bahawa
Nabi Muhammad s.a.w. menyuruh ummatnya agar keturunan beliau s.a.w. lebih
dimuliakan, lebih dihormati dan dialu-alukan daripada golongan lainnya. Ayat
yang digunakan pedoman itu ialah yang berbunyi:
"Katakanlah - wahai Muhammad! Untuk ajakan itu, aku tidak
meminta upah atau bayaran kepadamu semua, melainkan kekasih sayangan terhadap
keluarga". (asy-Syura:23)
Oleh sementara
golongan, keluarga yang wajib dikasih-sayangi ialah keluarga Rasulullah s.a.w.,
dengan makna bahwa mereka yang diberi nama Sayyid, Sayyidah, Syarif atau
Syarifah itu wajib lebih dimuliakan dan dihormati melebihi yang lain. Jadi
makna Al-qurbaa dikhususkan kepada
keturunan Sayidina Hasan dan Sayidina Husain radhiallahu 'anhuma yang keduanya itu putera Sayidina Ali r.a. dan isterinya
bernama Sayidatina Fathima radhiallahu 'anha yakni puteri Rasulullah s.a.w.
Tetapi beberapa ahli tafsir menjelaskan bahawa makna dari lafaz Alqurbaa itu bukan dikhususkan untuk
golongan
214
keturunan
Sayidina Hasan serta Sayidina Husain r.a. itu saja. Baiklah kita meneliti
sejenak apa yang dijelaskan dalam Ash-Shawi,
sebuah hasyiyah dari Tafsir Jalalain
dan hasyiyah atau kupasan tersebut ditulis oleh Imam Ahmad ash-Shawi al-Maliki.
Di antara kupasannya mengenai lafaz Alqurbaa
beliau berkata:
"Para ahli
tafsir sama berselisih pendapat dalam memberikan makna ayat ini," yang
dimaksudkan ialah "kasih-sayang pada keluarga, sehingga jumlah pendapat
itu menjadi tiga macam. Selanjutnya secara ringkasnya beliau menyatakan:
Kekeluargaan.
Kerabat
atau rasa kefamilian antara seluruh kaum muslimin.
Mentaqarrubkan atau mendekatkan diri kepada Allah dengan
melaksanakan amal perbuatan yang baik dan diridhai olehNya.
Jadi kalau yang
digunakan menurut bagian (a) yakni yang pertama, maka benarlah bahawa zurriyah
Nabi s.a.w. itulah yang dimaksudkan, sebagaimana juga tertera dalam Hadis di
bawah ini, yaitu no. 345.
Namun demikian,
kalau ada yang mengatakan bahawa golongan mereka itu adalah manusia suci dari
dosa, ataupun sudah pasti masuk syurga, atau pada akhir hayatnya pasti
memperoleh husnul khatimah atau lain-lain yang bukan-bukan, maka sama sekali
tidak dapat diterima, sebab, memang tidak ada keterangan dalam al-Quran atau
Hadis yang terjamin kebenarannya, sebab suci atau terjaga dari dosa (ma'shum
minadz-dzunub) hanyalah para Nabi 'alaihimush shalatu wassalam, sedangkan masuk
syurga ataupun memperoleh husnul khatimah adalah semata-mata di dalam ketentuan
Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Sesudah kita
meninjau salah satu kitab tafsir yang ditulis oleh angkatan tua, kini marilah
kita meneliti apa yang ditulis oleh salah seorang ahli tafsir dari angkatan
sekarang atau dalam abad kita ini, yaitu seorang Sayyid juga yang bernama Sayid
Quthb dalam kitabnya yang bernama Fi-Dhilalil
Quran yang ertinya "Di bawah naungan al-Quran." Keringkasan dari
huraian beliau itu adalah sebagai berikut:
"Dalam
menyampaikan agama Allah yakni Agama Islam kepada ummatnya yang dimulainya
dengan golongan kaum Quraisy, Nabi s.a.w. mendapat banyak tentangan dan
permusuhan, beliau s.a.w. disakiti dan lain-lain. Padahal yang melakukan
penganiayaan sedemikian itu adalah kaumnya sendiri, kaum Quraisy yang terdiri
dari berbagai bathn atau
perkampungan, padahal dalam setiap bathn
dari golongan kaum Quraisy itu beliau pasti mempunyai ikatan kekeluargaan. Jadi
yang diharapkan oleh beliau s.a.w. hendaklah mempunyai rasa kasih-sayang sebab
toh juga masih ada ikatan kekeluargaan yakni Alqurbaa.
Sayid Quthb tidak memberikan ulasan
selain yang diringkaskan di atas itu.
Wallahu A'lam bish-shawaab.
Dari Yazid bin Hayan, katanya: "Saya berangkat bersama
Hushain binSabrah dan Umar bin Muslim ke tempat Zaid bin Arqam r.a. Ketika kita
sudah duduk-duduk di dekatnya, lalu Hushain berkata padanya: "Hai Zaid,
engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak sekali. Engkau dapat kesempatan
melihat Rasulullah s.a.w., mendengarkan Hadisnya, berperang besertanya dan juga
bersembahyang di belakangnya. Sungguh-sungguh engkau telah memperoleh kebaikan
yang banyak sekali. Cubalah beritahukan kepada kita apa yang pernah engkau
dengar dari Rasulullah s.a.w. Zaid lalu berkata: "Hai anak saudaraku, demi
Allah,sungguh usiaku ini telah tua dan janji kematianku hampi rtiba, juga saya
sudah lupa akan sebagian apa yang telah pernah saya ingat dari Rasulullah
s.a.w. Maka
215
dari itu, apa
yang saya beritahukan kepadamu semua, maka terimalah itu, sedang apa yang tidak
saya beritahukan, hendaklah engkau semua jangan memaksa-maksakan padaku untuk
saya terangkan." Selanjutnya ia berkata: "Rasulullah s.a.w. pernah
berdiri berkhutbah di suatu tempat berair yang disebut Khum, terletak antara
Makkah dan Madinah. Beliau s.a.w. lalu bertahmid kepada Allah serta memujiNya,
lalu menasihati dan memberikan peringatan, kemudian bersabda:
"Amma
Ba'du, ingatlah wahai sekalian manusia, hanyasanya saya ini adalah seorang
manusia, hampir sekali saya didatangi oleh utusan Tuhanku - yakni
malaikatul-maut, kemudian saya harus mengabulkan kehendakNya - yakni
diwafatkan. Saya meninggalkan untukmu semua dua benda berat - agung - yaitu
pertama Kitabullah yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Maka ambillah
amalkanlah - dengan berpedoman kepada Kitabullah itu dan peganglah ia
erat-erat." Jadi Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk berpegang teguh
serta mencintai benar-benar kepada kitabullah itu.
Selanjutnya
beliau s.a.w. bersabda: "Dan juga ahli baitku. Saya memperingatkan
kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam memuliakan ahli baitku, sekali
lagi saya memperingatkan kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam
memuliakan ahli baitku."
Hushain lalu
berkata kepada Zaid: "Siapakah ahli baitnya itu, hai Zaid. Bukankah
isteri-isterinya itu termasuk dari golongan ahli baitnya?" Zaid menjawab:
"Ahli baitnya Rasulullah s.a.w. ialah Ahli keluarga keturunan - Ali, Alu
Aqil, Alu Ja'far dan Alu Abbas." Hushain mengatakan: "Semua orang
dari golongan mereka ini diharamkan menerima sedekah." Zaid berkata:
"Ya, benar." (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan:
"Ingatlah
dan sesungguhnya saya meninggalkan kepadamu semua dua benda berat-agung,
pertama ialah Kitabullah. Itu adalah tali agama Allah. Barangsiapa yang
mengikutinya ia dapat memperoleh petunjuk, sedang barangsiapa yang meninggalkan
- mengabaikan - padanya, ia akan berada dalam kesesatan."
Dari Ibnu Umar
radhiallahu 'anhuma dari Abu Bakar as-Shiddiq r.a. dalam sebuah Hadis mauquf 'aiaih, bahawasanya dia
berkata: "Intailah Muhammad s.a.w.
dalam ahli baitnya." (Riwayat Bukhari)
Maknanya Urqubuhu ialah jagalah dan hormati serta
memuliakanlah ia, dengan menghormati serta memuliakan ahli baitnya Rasulullah
s.a.w. itu.
Wallahu a'lam.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan