Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab
45
Berziarah Kepada
Para Ahli Kebaikan, Duduk-duduk Dengan Mereka, Mengawani Mereka, Mencintai
Mereka, Meminta Mereka Supaya Berziarah — Ke Tempat Kita, Meminta Doa Dari Mereka
Serta Berziarah Ke Tempat-tempat Yang Utama
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan ketika
Musa berkata kepada bujangnya: "Saya tidak akan berhenti berjalan sehingga
sampai di pertemuan dua sungai atau aku berjalan sampai bertahun-tahun sehingga
firman
Allah: "Musa berkata kepadanya -
yakni Hidhir -: "Bolehkah aku mengikuti engkau dengan maksud supaya engkau
mengajarkan kepadaku kebenaran yang telah diajarkan kepadamu?” 34 (al-Kahfi:
60-66)
Keterangan:
Orang yang hendak dicari oleh Nabiullah Musa a.s. yang
dianggapnya lebih pandai daripadanya sendiri itu ialah Hidhir. Sebagian
alim-ulama ada yang mengatakan bahwa Hidhir itu adalah seorang Nabi, ada pula
yang mengatakan, ia seorang waliullah yang memiliki karamah (keistimewaan yang
tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa sebagai tanda kemuliaan yang
dikurniakan oleh Allah padanya, jadi sama halnya dengan mu'jizat bagi seseorang
Nabi atau Rasul), juga ada yang mengatakan bahawa ia adalah orang shalih saja.
Jadi dalam hal ini banyak pendapat alim-ulama Islam. Mana yang benar, hanyalah
Allah Ta'ala yang Maha Mengetahui. Juga diperselisihkan pula oleh beliau-beliau
itu perihal kematian atau masih hidupnya Hidhir itu sampai saat ini, hingga
tibanya hari kiamat nanti sebagaimana diperselisihkannya tentang kematian atau
masih hidupnya Nabiullah Isa al-Masih a.s. Tegasnya ada sebagian ulama yang
menyatakan pendapatnya bahwa kedua beliau itu masih hidup dan baru akan mati
nanti setelah datangnya hari kiamat, tetapi hidupnya Hidhir a.s. di bumi dan
Isa a.s. di langit. Juga ada sebagian ulama yang menyatakan pendapatnya bahawa
keduanya itu sudah mati. Wallahu A'lam bishshawaab.
Ketika Nabiullah Musa a.s. hendak mencari Hidhir, Allah
memberikan petunjuk kepadanya bahawa tempat Hidhir itu ada di Majma'ul Bahrain yakni tempat pertemuan
dua
Firman Allah Ta'ala dalam surah
al-Kahfi di atas adalah ayat 60, sedang yang di bawahnya adalah ayat 65.
Adapun
ayat-ayat yang terletak di antara keduanya itu ialah ayat-ayat 61, 62, 63, 64
dan 65.
Kelengkapannya
adalah sebagai berikut:
Sesudah
keduanya (yakni Musa dan bujangnya) telah sampai di pertemuan kedua lautan itu,
mereka lupa kepada ikannya (yang dibawa sebagai bekal), lalu ikan itu melompat
mengambil jalannya sendiri di lautan (61)
Setelah
keduanya berjalan lebih jauh, ia (Musa) berkata pada bujangnya: "Ambillah
makanan kita, sungguh kita telah merasa lelah sebab (jauhnya) perjalanan kita ini
(62)
Bujangnya
menjawab; "Tidakkah Tuan ketahui bahawa ketika kita mencari tempat
perlindungan (peristirahatan) di batu besar tadi, saya benar-benar lupa kepada
ikan itu dan tiada lain yang menyebabkan saya terlupa itu selain syaitan jua.
Ikan itu lalu mengambil jalannya di lautan. Ini amat mengherankan sekali untuk
mengingatnya (63)
Ia
(Musa) berkata: "Itulah tempat yang kita cari," kemudian keduanya
kembali mengikuti jejaknya semula (64)
Lalu
keduanya mendapati seseorang dari hamba-hamba Kami (Tuhan) yang telah Kami
berikan kurnia kepadanya iaitu kerahmatan dari sisi Kami dan Kami ajarkan
kepadanya ilmu pengetahuan dari berbagai ilmu yang ada pada Kami (65)
221
lautan. Inipun
diperselisihkan pula, ada yang mengatakan bahawa lautan di situ maksudnya dua
sungai. Jadi Majma'ul Bahrain,
artinya ialah pertemuan dua sungai yakni Sungai Nil Biru dan Nil Putih. Ada
pula yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan memang betul-betul pertemuan dua
lautan, yakni lautan Hitam yang dulu masuk wilayah kerajaan Parsi di zaman
kejayaannya dan lautan Tengah yang dulu masuk wilayah kerajaan Romawi di zaman
keemasannya. Jadi kalau
Ini yang
dianggap benar, maka pertemuan kedua lautan itu ialah di selat Bospores yang
kini masuk wilayah Turki. Namun demikian, semua pendapat itu masih merupakan
serba kemungkinan dan belum dapat dipastikan keshahihannya. Wallaahu A'lam
bishshawaab.
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Dan sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru
Tuhan mereka di waktu pagi dan sore, mereka menginginkan keridhaan Tuhan."
(al-Kahfi:
28)
Dari Anas r.a., berkata: "Abu Bakar berkata kepada Umar
radhiallahu 'anhuma setelah wafatnya Rasulullah s.a.w.: "Marilah berangkat
bersama kita ke tempat Ummu Aiman 35 agar kita dapat berziarah padanya,
sebagaimana Rasulullah s.a.w. juga menziarahinya. Setelah keduanya sampai di tempatnya,
Ummu Aiman menangis, lalu keduanya bertanya: "Apakah yang menyebabkan
engkau menangis? Tidakkah engkau ketahui bahawa apa yang ada di sisi Allah itu
lebih baik untuk Rasulullah s.a.w.?" Ummu Aiman lalu menjawab:
"Sesungguhnya saya bukannya menangis kerana saya tidak mengerti bahawa apa
yang ada di sisi Allah adalah lebih baik untuk Rasulullah s.a.w. itu, tetapi
saya menangis ini ialah kerana sesungguhnya wahyu itu kini telah terputus dari
langit."
Jawapan Ummu
Aiman menyebabkan tergeraknya hati kedua orang tersebut untuk menangis lalu
kedua orang itu pun mulai pula menangis bersama Ummu Aiman." (Riwayat
Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. bahawasanya ada seorang
lelaki berziarah kepada seorang saudaranya di suatu desa lain, kemudian Allah
memerintah seorang malaikat untuk melindunginya di sepanjang jalan - yang
dilaluinya. Setelah orang itu melalui jalan itu, berkatalah malaikat kepadanya:
"Ke mana engkau menghendaki?" Orang itu menjawab: "Saya hendak
ke tempat seorang saudaraku di desa ini." Malaikat bertanya lagi:
"Adakah suatu kenikmatan yang hendak kau peroleh dari saudaramu itu?"
Ia menjawab: "Tidak, hanya saja saya mencintainya kerana Allah."
Malaikat lalu berkata: "Sesungguhnya saya ini adalah utusan Allah untuk
menemuimu - guna memberitahukan - bahawa sesungguhnya Allah itu mencintaimu
sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena Allah." (Riwayat Muslim)
Dari
Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa
yang meninjau orang sakit atau berziarah kepada saudaranya kerana Allah, maka
berserulah seseorang yang mengundang-undang: "Engkau melakukan kebaikan
dan baik pulalah perjalananmu, serta engkau dapat menduduki tempat dalam
syurga."
Ummu Aiman adaiah perawat serta
pengasuh Rasulullah s.a.w. di waktu kecilnya. Ia adalah seorang hambasahaya,
lalu dimerdekakan oleh beliau s.a.w. setelah beliau s.a.w. dewasa. Suaminya
bernama Zaid bin Haritsah. Amat besar penghormatan Nabi s.a.w. terhadap Ummu
Aiman itu serta sangat dimuliakan, bahkan beliau s.a.w. pernah bersabda:
"Ummu Aiman ummi" ertinya: "Ummu Aiman itu adalah ibuku."
222
Diriwayatkan
oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan dan dalam
sebagian naskah disebutkan sebagai Hadis gharib.
362. Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a.
bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Hanyasanya
perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk adalah sebagai pembawa minyak
misik - yang baunya harum - dan peniup perapian - pandai besi. Pembawa minyak
misik ada kalanya memberikan minyaknya padamu, atau engkau dapat membelinya,
atau - setidak-tidaknya - engkau dapat memperoleh mencium - bau yang harum daripadanya.
Adapun peniup perapianmu, maka ada kalanya akan membakarkan pakaianmu atau
engkau akan memperoleh bau yang busuk daripadanya." (Muttafaq 'alaih)
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya:
"Seseorang wanita itu dikawini kerana empat perkara, iaitu kerana ada
hartanya, kerana keturunannya, kerana kecantikannya dan kerana teguh agamanya.
Maka dari itu dapatkanlah - yakni usahakanlah untuk memperoleh - yang mempunyai
keteguhan agama, tentu kedua tanganmu merasa puas - yakni hatimu menjadi tenteram."
(Muttafaq 'alaih)
Adapun maknanya
Hadis di atas itu ialah bahwasanya para manusia itu dalam ghalibnya
menginginkan wanita itu kerana adanya empat perkara di atas itu, tetapi engkau
sendiri hendaklah menginginkan lebih-lebih yang beragama teguh. Wanita
sedemikian itulah yang harus didapatkan dan berlumbalah untuk mengawininya.
Dari Ibnu Abbas r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda
Jibril a.s.: "Apakah sebabnya Tuan tidak suka berziarah pada kami yang
lebih banyak lagi - lebih sering - daripada yang Tuan berziarah sekarang
ini?" Kemudian turunlah ayat - yang ertinya: - Dan kami tidak turun
melainkan dengan perintah Tuhanmu. BagiNya adalah apa yang ada di hadapan serta
di belakang kita 36 dan apa saja yang ada di antara yang tersebut itu."
(Maryam: 64) (Riwayat Imam Bukhari)
Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Janganlah engkau bersahabat, melainkan orang yang mu'min dan janganlah
makan makananmu itu kecuali orang yang bertaqwa." Diriwayatkan oleh
Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dengan isnad yang tidak mengapa - untuk
dijadikan pegangan.
366. Dari Abu
Hurairah r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Seseorang itu adalah
menurut agama kekasihnya. Maka hendaklah seseorang dari engkau semua itu
melihat – meneliti benar-benar - orang yang dijadikan kekasihnya itu."
Diriwayatkan
oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dengan isnad shahih dan Imam Termidzi
mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.
367. Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a.
bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:
Maksudnya ialah bahawa bagi Allah itu
adalah semua yang ada di muka dan di belakang kita serta apa pun yang ada di
antara keduanya itu, baik mengenai waktu dan tempat. Oleh sebab itu kita semua
ini tidak dapat berpindah dari satu keadaan atau tempat kepada keadaan atau
tempat yang lain, kecuali dengan perintah dan kehendak Allah sendiri.
223
"Seseorang itu beserta orang yang
dicintainya." (Muttafaq 'alaih)
Dalam suatu
riwayat lain disebutkan: Abu Musa r.a. berkata: "Nabi s.a.w. ditanya:
"Ada seseorang mencintai sesuatu kaum, tetapi ia tidak pernah menemui
mereka itu, bagaimanakah?" Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Seseorang
itu beserta orang yang dicintainya."
Dari Anas r.a. bahawasanya ada seorang A'rab - orang Arab pedalaman
- berkata kepada Rasulullah s.a.w.: "Bilakah datangnya hari kiamat?"
Rasulullah s.a.w. bersabda kepadanya: "Apakah yang telah engkau persiapkan
untuk menemuinya?" A'rab itu menjawab: "Kecintaanku kepada Allah dan
RasulNya." Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Engkau akan menyertai
orang yang engkau cintai." (Muttafaq 'alaih)
Ini adalah lafaz
Imam Muslim. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim lainnya, disebutkan
demikian:
A'rab berkata:
"Saya tidak menyiapkan sesuatupun untuk menemui hari kiamat itu, baik yang
berupa banyaknya puasa, shalat atau sedekah, tetapi saya ini adalah mencintai
Allah dan RasulNya."
Dari Ibnu Mas'ud r.a. katanya: "Ada seorang lelaki datang
kepada Rasulullah s.a.w. lalu berkata: "Ya Rasulullah, bagaimanakah
pendapat Tuan mengenai seseorang yang mencintai sesuatu kaum, tetapi tidak
pernah menemui kaum itu?" 37 Rasulullah s.a.w. bersabda: "Seseorang itu beserta orang
yang dicintainya." (Muttafaq 'alaih)
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Para
manusia ini adalah bagaikan benda logam, sebagaimana juga logam emas dan perak.
Orang-orang pilihan di antara mereka di zaman Jahiliyah adalah orang-orang
pilihan pula di zaman Islam, jikalau mereka menjadi pandai - dalam hal agama.
Ruh-ruh itu adalah sekumpulan tentera yang berlain-lainan, maka mana yang
dikenal dari golongan ruh-ruh tadi tentulah dapat menjadi rukun damai, sedang
mana yang tidak dikenalinya dari golongan ruh-ruh itu tentulah berselisihan -
maksudnya ruh baik berkumpulnya ialah dengan ruh baik, sedang yang buruk dengan
yang buruk." (Riwayat Muslim)
Imam Bukhari
meriwayatkan sabda Nabi s.a.w. Al-Arwah
dan seterusnya itu dari riwayat Aisyah radhiallahu 'anha.
Keterangan:
Dalam menafsiri
pengertian perihal ruh itu ada yang saling kenal-mengenal yakni 'Ta'aruf dan ada yang tidak saling
kenal-mengenal yakni Tanakur, maka
Imam Ibnu Abdissalam berkata sebagai
berikut:
"Hal itu
yakni kenal atau tidak kenal, maksudnya adalah mengenai keadaan sifat. Artinya
andaikata anda mengetahui seseorang yang berlainan sifatnya dengan anda,
misalnya anda seorang yang berbakti kepada Allah dan yang dikenal itu orang
yang tidak berbakti atau mengaku ketiadaan Allah, sekalipun kenal orangnya,
tetapi tidak saling kenal-mengenal jiwa, ruh ataupun faham yang dianutnya.
Sebaliknya jika orang itu sama dengan
Dalam riwayat Imam Ibnu Hibban ada
tambahannya sesudah kata-kata "Walam yalhaq bihim", sedang
tambahannya itu berbunyi:
Ertinya:
"Dan
orang itu tidak dapat mengamalkan sebagaimana yang diamalkan oleh kaum yang
dicintainya
itu."
224
anda
perihal keadaan sifatnya, sama-sama berbaktinya kepada Allah, sama-sama
berjuang untuk meluhurkan kalimat Allah, sama-sama membenci kepada kemungkaran
dan kemaksiatan, maka selain kenal orangnya, juga sesuai jiwanya, sesuai ruhnya
dan sejalan dalam faham yang dianutnya. Oleh sebab itu dalam sebuah Hadis lain
disebutkan bahawa seseorang yang merasa jiwanya itu masih lari atau enggan
mengikuti ajakan orang yang mulia dan utama amalannya, pula bagus kelakuannya,
hendaknya segera mencari sebab-sebabnya, sekalipun ia sudah mengaku sebagai
manusia muslim. Selanjutnya setelah penyakitnya ditemukan, hendaknya secepatnya
diubati dan dibuang apa yang menyebabkan ia sakit sedemikian. Cara inilah yang
sebaik-baiknya untuk menyelamatkan diri dari sifat yang buruk, sehingga ruhnya
dan jiwanya dapat saling berkenalan dengan golongan orang-orang yang baik pula
ruh dan jiwanya."
Dari Usair bin Amr, ada yang mengatakan bahawa ia adalah bin
Jabir - dengan dhammahnya hamzah dan fathahnya sin muhmalah, katanya:
"Umar bin Alkhaththab ketika didatangi oleh sepasukan pembantu - dalam
peperangan - dari golongan penduduk Yaman, lalu ia bertanya kepada mereka:
"Adakah di antaramu semua seorang yang bernama Uwais bin 'Amir?" Akhirnya
sampailah Uwais itu ada di mukanya, lalu Umar bertanya: "Adakah anda
bernama Uwais." Uwais menjawab: "Ya." Ia bertanya lagi:
"Benarkah dari keturunan kabilah Murad dari lingkungan suku Qaran?"
Ia menjawab: "Ya." Ia bertanya pula: "Adakah anda mempunyai
penyakit supak, kemudian anda sembuh daripadanya, kecuali hanya di suatu tempat
sebesar wang dirham?" Ia menjawab: "Ya." Ia bertanya lagi:
"Adakah anda mempunyai seorang ibu?" Ia menjawab: "Ya."
Umar lalu berkata: "Saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Akan datang padamu semua seorang bernama Uwais bin 'Amir
beserta sepasukan mujahidin dari ahli Yaman, ia dari keturunan Murad dari
Qaran. Ia mempunyai penyakit supak lalu sembuh dari Penyakitnya itu kecuali di
suatu tempat sebesar wang dirham. Ia juga mempunyai seorang ibu yang ia amat
berbakti padanya. Andaikata orang itu bersumpah akan sesuatu atas nama Allah,
pasti Allah akan melaksanakan sumpahnya itu - dengan sebab amat berbaktinya
terhadap ibunya itu. Maka jikalau engkau kuasa meminta padanya agar ia
memintakan pengampunan - kepada Allah - untukmu, maka lakukanlah itu!"
Oleh sebab itu, mohonkanlah pengampunan kepada Allah - untukku. Uwais lalu
memohonkan pengampunan untuk Umar. Selanjutnya Umar bertanya lagi: "Ke
manakah anda hendak pergi?" Ia menjawab: "Ke Kufah." Umar
berkata: "Sukakah anda, sekiranya saya menulis - sepucuk surat - kepada
gabenor Kufah - agar anda dapat sambutan dan pertolongan yang diperlukan."
Ia menjawab: "Saya lebih senang menjadi golongan manusia yang
fakir-miskin."
Setelah tiba tahun mukanya, ada seorang dari golongan bangsawan
Kufah berhaji, lalu kebetulan ia menemui Umar, kemudian Umar menanyakan padanya
perihal Uwais. Orang itu menjawab: Sewaktu saya tinggalkan, ia dalam keadaan
buruk rumahnya lagi sedikit barangnya - maksudnya sangat menderita." Umar
lalu berkata: "Saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Akan
datang padamu semua seorang bernama Uwais bin 'Amir beserta sepasukan mujahidin
dari ahli Yaman, ia dari keturunan Murad dari Qaran. Ia mempunyai penyakit
supak lalu sembuh dari penyakitnya itu kecuali di suatu tempat sebesar wang
dirham. Ia juga mempunyai seorang ibu yang ia amat berbakti padanya. Andaikata
orang itu bersumpah akan sesuatu atas nama Allah, pasti Allah akan melaksanakan
sumpahnya itu. Maka jikalau engkau kuasa meminta padanya agar ia memintakan
pengampunan - kepada Allah untukmu, maka lakukan itu!" Orang bangsawan itu
lalu mendatangi Uwais dan berkata: "Mohonkanlah pengampunan - kepada Allah
-untukku. Uwais berkata: "Anda masih baru saja waktunya
225
melakukan
bepergian yang baik - yakni ibadat haji, maka sepatutnya memohonkanlah
pengampunan untukku." Uwais lalu melanjutkan katanya: "Adakah anda
bertemu dengan Umar?" Ia menjawab: "Ya". Uwais lalu memohonkan
pengampunan untuknya. Orang-orang banyak lalu mengerti siapa sebenarnya Uwais
itu, mereka mendatanginya, kemudian Uwais berangkat - keluar dari Kufah menurut
kehendaknya sendiri." (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat
Imam Muslim lainnya disebutkan: "Dari Usair bin Jabir bahawasanya ahli
Kufah sama bertemu kepada Umar r.a. dan di antara mereka ada seorang lelaki
yang menghina-hinakan Uwais. Umar lalu bertanya: "Apakah di situ ada
seorang dari keturunan Qaran?" Orang yang dimaksudkan itu lalu datang
padanya. Umar kemudian berkata: "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah
bersabda: "Sesungguhnya ada seorang lelaki dari Yaman, akan datang padamu
semua. Ia bernama Uwais. Dia tidak meninggalkan sesuatu di Yaman itu melainkan
seorang ibu. Ia mempunyai penyakit supak, lalu berdoa kepada Allah Ta'ala, lalu
Allah melenyapkan penyakitnya tadi, kecuali di suatu tempat sebesar wang dinar
atau dirham. Maka barangsiapa di antara engkau semua bertemu dengannya,
hendaklah meminta padanya agar ia memohonkan pengampunan - kepada Allah -
untuknya."
Juga disebutkan
dalam riwayat Imam Muslim lagi dari Umar, katanya: "Saya mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya
sebaik-baiknya kaum tabi'in ialah seorang lelaki bernama Uwais. Ia mempunyai
seorang ibu dan pada tubuhnya ada putih-putih - karena penyakit supak, maka
suruhlah ia supaya memohonkan pengampunan untuk semua."
Sabda Nabi
s.a.w. Ghabraan-un nas, dengan
fathahnya ghain mu'jamah,saknahnya ba' serta mad (dibaca panjang ra'nya).
Ertinya golongan manusia yang fakir-miskin dan rakyat jelata atau rendahan dan
tidak diketahui pula dari lingkungan mana sebenarnya orang itu, sedang Al-Amdad
adalah jamaknya Madad, yaitu para
penolong dan pembantu yang memberikan pertolongan serta bantuan kepada kaum
Muslimin dalam berjihad atau perjuangan menegakkan agama Allah.
Dari Umar bin Alkhaththab r.a., katanya: "Saya meminta
izin kepada Nabi s.a.w. untuk menunaikan umrah, lalu beliau mengizinkan dan
bersabda: "Jangan melupakan kita, hai saudaraku, untuk mendoakan kita."
Beliau s.a.w. telah mengucapkan suatu kalimat - meminta ikut disertakan dalam
doa - yang saya tidak senang memperoleh seisi dunia ini sebagai gantinya"
- maksudnya bahawa kalimat yang disabdakan oleh beliau s.a.w. bagi Umar r.a.
amat besar nilainya yakni melebihi dari nilai dunia dan seisinya.
Hadis shahih
yang diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi mengatakan bahawa ini
adalah Hadis hasan shahih.
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya: "Nabi s.a.w.
berziarah ke Quba' 38 sambil berkendaraan serta berjalan, kemudian beliau
bersembahyang dua rakaat." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat
lain disebutkan: "Nabi s.a.w. mendatangi masjid Quba' setiap hari Sabtu
sambil berkenderaan dan berjalan dan Ibnu Umar juga melakukan seperti
itu."
Quba' adalah sebuah desa yang jaraknya
dari Madinah ada sefarsakh atau kira-kira 5 km. Di situ ada masjidnya yang
terkenal, yakni masjid yang didirikan oleh Nabi s.a.w. yang pertama kali,
sedang yang kedua ialah masjid Nabawi di Madinah.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan