Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab
49
Menjalankan
Hukum-hukum Terhadap Manusia Menurut Lahirnya, Sedang Keadaan Hati Mereka
Terserah Allah Ta'ala
Allah Ta'ala berfirman:
"Maka jikalau orang-orang itu bertaubat dan mendirikan
shalat serta menunaikan zakat, maka bebaskanlah jalannya - yakni merdekakanlah
menurut kemauan hatinya." (at-Taubah: 5)
389. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma
bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Saya diperintah
untuk memerangi semua manusia, sehingga mereka suka menyaksikan bahawa tiada
Tuhan kecuali Allah dan bahawasanya Muhammad adalah pesuruh Allah dan
mendirikan shalat serta menunaikah zakat. Maka jikalau mereka telah melakukan
yang sedemikian itu, terpeliharalah daripadaku darah serta harta benda mereka,
melainkan dengan haknya Islam, sedang hisab - perhitungan amal - mereka adalah
terserah kepada Allah Ta'ala. (Muttafaq 'alaih)
Dari Abu Abdillah iaitu Thariq bin as-Syam r.a., katanya:
"Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa
yang mengucapkan La ilaha illallah dan kafir mengingkari - dengan sesuatu yang
disembah selain daripada Allah, maka haramlah harta benda serta darahnya,
sedang hisabnya adalah terserah kepada Allah." (Riwayat Muslim)
Dari Abu Ma'bad yaitu al-Miqdad bin al-Aswad r.a., katanya:
"Saya berkata kepada Rasulullah s.a.w.: "Bagaimanakah pendapat Tuan,
jikalau saya bertemu seseorang dari golongan kaum kafir, kemudian kita
berperang, lalu ia memukul salah satu dari kedua tanganku dengan pedang dan
terus memutuskannya. Selanjutnya ia bersembunyi daripadaku di balik sebuah
pohon, lalu ia mengucapkan: "Saya masuk Agama Islam karena Allah,"
apakah orang yang sedemikian itu boleh saya bunuh, ya Rasulullah sesudah ia
mengucapkan kata-kata seperti tadi itu?" Beliau s.a.w. menjawab:
"Jangan engkau membunuhnya." Saya berkata lagi: "Ia sudah
memutuskan salah satu tangan saya, kemudian mengucapkan sebagaimana di atas itu
setelah memutuskannya." Rasulullah s.a.w. bersabda lagi: "Jangan
engkau membunuhnya, kerana jikalau engkau membunuhnya, maka ia adalah menempati
tempatmu sebelum engkau membunuhnya dan sesungguhnya engkau adalah di tempatnya
sebelum ia mengucapkan kata-kata yang diucapkannya itu." (Muttafaq 'alaih)
Maknanya
innahu bimanzilatika: sesungguhnya ia
di tempatmu ialah bahawa orang itu harus dipelihara darahnya sebab telah
dihukumi sebagai orang Islam. Adapun maknanya innaka biman zilatihi: sesungguhnya engkau di tempatnya ialah
bahawa halal darahnya dengan qishash
untuk para ahli warisnya, bukan kerana ia dalam kedudukannya sebagai orang
kafir. Wallahu a'lam.'
Dari Usamah bin Zaid radhiallahu 'anhuma, katanya:
"Rasulullah s.a.w. mengirim kita ke daerah Huraqah dari suku Juhainah,
kemudian kita berpagi-pagi menduduki tempat air mereka. Saya dan seorang lagi
dari kaum Anshar bertemu dengan seseorang lelaki dari
234
golongan
mereka - musuh. Setelah kita dekat padanya, ia lalu mengucapkan: La ilaha
illallah. Orang dari sahabat Anshar itu menahan diri daripadanya - tidak
menyakiti sama sekali, sedang saya lalu menusuknya dengan tombakku sehingga
saya membunuhnya.
Setelah kita datang - di Madinah, peristiwa itu sampai kepada
Nabi s.a.w., kemudian beliau bertanya padaku: "Hai Usamah, adakah engkau
membunuhnya setelah ia mengucapkan La ilaha illallah?" Saya berkata:
"Ya Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya untuk mencari perlindungan diri
saja - yakni mengatakan syahadat itu hanya untuk mencari selamat, sedang
hatinya tidak meyakinkan itu." Beliau s.a.w. bersabda lagi: "Adakah
ia engkau bunuh setelah mengucapkan La ilaha illallah?" Ucapan itu
sentiasa diulang-ulangi oleh Nabi s.a.w., sehingga saya mengharap-harapkan,
bahawa saya belum menjadi Islam sebelum hari itu - yakni bahwa saya
mengharapkan menjadi orang Islam itu mulai hari itu saja, supaya tidak ada dosa
dalam diriku." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan: Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Bukankah ia telah mengucapkan La ilaha illallah, mengapa engkau
membunuhnya?" Saya menjawab: "Ya Rasulullah, hanyasanya ia
mengucapkan itu semata-mata kerana takut senjata." Beliau s.a.w. bersabda:
"Mengapa engkau tidak belah saja hatinya, sehingga engkau dapat
mengetahui, apakah mengucapkan itu kerana takut senjata ataukah tidak - yakni
dengan keikhlasan." Beliau s.a.w. mengulang-ulangi ucapannya itu sehingga
saya mengharap-harapkan bahwa saya masuk Islam mulai hari itu saja.
Dari Jundub bin Abdullah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w.
mengirimkan sepasukan dari kaum Muslimin kepada suatu golongan dari kaum
musyrikin dan bahawa mereka itu telah bertemu - berhadap-hadapan. Kemudian ada
seseorang lelaki dari kaum musyrikin jikalau menghendaki menuju kepada seorang
dari kaum Muslimin lalu ditujulah
tempatnya lalu dibunuhnya. Lalu ada
seorang dari kaum Muslimin menuju orang itu di waktu lengahnya. Kita semua
memperbincangkan bahawa orang itu adalah Usamah bin Zaid. Setelah orang Islam
itu mengangkat pedangnya, tiba-tiba orang musyrik tadi mengucapkan: "La
ilaha illallah." Tetapi ia terus dibunuh olehnya. Selanjutnya datanglah
seorang pembawa berita gembira kepada Rasulullah s.a.w. - memberitahukan
kemenangan, beliau s.a.w. bertanya kepadanya - perihal jalannya peperangan -
dan orang itu memberitahukannya, sehingga akhirnya orang itu memberitahukan
pula perihal orang yang membunuh di atas, apa-apa yang dilakukan olehnya. Orang
itu dipanggil oleh beliau s.a.w. dan menanyakan padanya, lalu sabdanya:
"Mengapa engkau membunuh orang itu?" Orang tadi menjawab: "Ya
Rasulullah, orang itu telah banyak menyakiti di kalangan kaum Muslimin dan
telah membunuh si Fulan dan si Fulan." Orang itu menyebutkan nama beberapa
orang yang dibunuhnya. Ia melanjutkan: "Saya menyerangnya, tetapi setelah
melihat pedang, ia mengucapkan: "La ilaha illallah." Rasulullah
s.a.w. bertanya: "Apakah ia sampai kau bunuh?" Ia menjawab:
"Ya." Kemudian beliau bersabda: "Bagaimana yang hendak kau
perbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?"
Orang itu berkata: "Ya Rasulullah, mohonkanlah pengampunan - kepada Allah
- untukku." Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bagaimana yang hendak kau
perbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?"
Beliau s.a.w. tidak menambahkan sabdanya lebih dari kata-kata:
"Bagaimanakah yang hendak kauperbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia
telah tiba pada hari kiamat?" (Riwayat Muslim)
Dari Abdullah bin Utbah bin Mas'ud, katanya: "Saya
mendengar Umar bin Alkhaththab r.a. bersabda: "Sesungguhnya sekalian
manusia itu dahulu diterapi dengan hukum sesuai dengan adanya wahyu yakni di
zaman Rasulullah s.a.w., dan sesungguhnya
235
wahyu itu kini
telah terputus - tidak datang lagi, sebab Nabi s.a.w. telah wafat. Maka
hanyasanya kami - Umar r.a. - menuntut engkau semua dengan dasar apa yang
tampak pada kami iaitu mengenai perbuatan-perbuatan yang engkau semua lakukan.
Jadi barangsiapa yang menampakkan perbuatan baik pada kami, maka kami berikan
keamanan dan kami dekatkan kedudukannya pada kami, sedang urusan apa yang dalam
hatinya tidak sedikitpun kami persoalkan, kerana Allah akan menghisabnya dalam
hal isi hatinya itu. Tetapi barangsiapa yang menampakkan kelakuan buruk pada
kami, maka kami tidak akan memberikan keamanan padanya dan tidak akan percaya
ucapannya, sekalipun ia mengatakan bahawasanya niat hatinya adalah baik."
(Riwayat Bukhari)
Tiada ulasan:
Catat Ulasan