Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang
Shalih
Bab
85
Menjaga Rahasia
Allah Ta'ala berfirman:
Dan
penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanyakan." (al-lsra': 34)
683. Dari Abu Said al-Khudri r.a,,
katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya
seburuk-buruknya manusia di sisi Allah dalam hal kedudukannya pada hari kiamat
ialah seseorang lelaki yang menyetubuhi isterinya dan isterinya itupun
menyet'ubuhinya, kemudian menyiar-nyiarkan rahasia isterinya itu,"
misalnya mengatakan pada orang lain perihal cara bersetubuhnya atau apa-apa
yang dilakukan sebelum itu dan lain-lain. Hal ini termasuk dosa besar. (Riwayat
Muslim)
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Umar r.a.
pada suatu ketika puterinya itu menjadi janda yakni Hafshah.
Umar berkata:
"Saya bertemu Usman bin Affan, kemudian saya menawarkan padanya akan
Hafshah, lalu saya berkata: "Jikalau anda suka, akan saya kawinkan anda
dengan Hafshah binti Umar." Usman menjawab: "Akan saya fikirkan dulu
persoalanku ini," - yakni suka mengawini atau tidaknya. Saya berdiam diri
beberapa malam -maksudnya menantikan sampai beberapa hari, kemudian ia menemui
saya lalu berkata: "Kini telah jelas dalam pendirian saya bahwa saya tidak
akan kawin pada hariku ini." Selanjutnya saya bertemu dengan Abu Bakar
as-Shiddiq r.a. lalu saya berkata: "Jikalau anda suka, saya akan
mengawinkan anda dengan Hafshah binti Umar. Abu Bakar r.a. diam saja dan
seterusnya ia tidak kembali padaku samasekali - yakni tidak memberikan jawaban
apa-apa perihal ya atau tidaknya. Oleh sebab tidak menerima jawaban itu, maka
saya lebih sangat marahnya kepada Abu Bakar daripada terhadap Usman.
Selanjutnya saya berdiam diri beberapa malam, kemudian dipinangoleh Nabi s.a.w.
lalu saya mengawinkan Hafshah itu kepada beliau s.a.w.
Setelah itu Abu
Bakar menemui saya, kemudian iapun berkatalah: "Barangkali anda marah
kepada saya ketika anda menawarkan Hafshah pada saya itu, tetapi saya tidak
memberikan jawaban apapun pada anda?" Saya berkata: "Ya." Abu
Bakar lalu berkata lagi: "Sebenarnya saja tidak ada yang
menghalang-halangi saya untuk kembali - memberikan jawaban - kepada anda itu
perihal apa yang anda tawarkan pada saya, hanya saja karena saya telah mengerti
bahwa Nabi s.a.w. pernah menyebut-nyebutkan Hafshah tadi -maksudnya beliau
s.a.w. ada keinginan akan mengawininya. Maka oleh sebab itu saya tidak akan
menyiar-nyiarkan rahasia Rasulullah s.a.w. itu. Andaikata beliau s.a.w.
meninggalkannya - yakni tidak ada keinginan mengawininya, niscayalah saya
menerimanya -yakni suka mengawininya. (Riwayat Bukhari)
Taayyamat yaitu menjadi tidak bersuami lagi - yakni janda, karena
suaminya r.a. telah wafat. Wajad-ta artinya marah.
Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Kita semua para
isteri Nabi s.a.w. sedang berada di sisi beliau s.a.w. itu. Kemudian menghadaplah
puterinya yakni Fathimah radhiallahu 'anha dengan berjalan dan jalannya itu
tidak ada salahnya samasekali - yakni
344
sama persis -
dari jalannya Rasulullah s.a.w. Ketika beliau s.a.w. melihatnya, beliaupun
menyambutnya dengan baik dan bersabda: "Marhaban hai puteriku."
Fathimah disuruhnya duduk di sebelah kanannya atau - menurut riwayat lain - di
sebelah kirinya. Seterusnya Nabi s.a.w. membisikinya, lalu Fathimah menangis
dengan tangisnya yang keras sekali. Setelah beliau s.a.w. melihat kegelisahan
puterinya lalu dibisikinya sekali lagi, ialu Fathimah tertawa."
Saya - Aisyah -
berkata kepada Fathimah: "Engkau telah diistimewakan oleh Rasulullah
s.a.w. di antara sekalian isteri-isterinya dengan dibisiki, kemudian engkau
menangis." Sesudah Rasulullah s.a.w. berdiri dari tempatnya, lalu saya -
Aisyah - bertanya kepada Fathimah: "Apakah yang disabdakan oleh Rasulullah
s.a.w. padamu itu?" Fathimah menjawab: "Saya tidak akan menyiar-nyiarkan
apa yang dirahasiakan oleh Rasulullah s.a.w."
Sesudah
Rasulullah s.a.w. wafat, saya berkata kepada Fathimah: "Saya bersengaja
hendak bertanya kepadamu dengan cara yang sebenarnya, supaya engkau
meberitahukan kepadaku apa yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. Fathimah menjawab:
"Kalau sekarang, baiklah saya memberitahukan itu. Adapun yang dibisikkan
oleh beliau s.a.w. pada pertama kalinya, yaitu beliau s.a.w. memberitahukan
kepada saya bahwasanya Jibril dahulunya memberikan kepadanya wahyu dari
al-Quran itu dalam setahun sekali, sedang sekarang dalam setahun diberikan dua
kali. Beliau s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya saya tidak mengetahui tentang
datangnya ajalku itu, melainkan tentu sudah dekat. Maka dari itu bertaqwalah
engkau dan bersabarlah, sesungguhnya saja sebaik-baiknya orang yang mendahului
ialah saya mendahuluimu." Karena itu lalu saya menangis sebagaimana
tangisku yang anda lihat dulu itu. Selanjutnya setelah beliau s.a.w. melihat
betapa kegelisahan hatiku, lalu saya dibisikinya untuk kedua kalinya, lalu beliau
bersabda: "Hai Fathimah, tidakkah engkau suka jikalau engkau menjadi
penghulu -pemimpin - dari seluruh wanita dari kalangan kaum mu'minin atau
penghulu dari seluruh wanita dari kalangan ummat ini?" Oleh karena itu,
maka sayapun ketawa sebagaimana yang anda lihat dulu itu." (Muttafaq
'alaih. Ini adalah lafaznya Imam Muslim)
Dari Tsabit dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w.
mendatangi saya dan di waktu itu saya sedang bermain-main dengan beberapa orang
anak. Beliau s.a.w. mengucapkan salam pada kita, kemudian menyuruh saya untuk
sesuatu keperluannya. Oleh sebab itu saya terlambat mendatangi ibuku.
Selanjutnya setelah saya datang, ibu lalu bertanya: "Apakah yang menahanmu
- sampai terlambat datangnya ini?" Saya berkata: "Saya diperintah oleh
Rasulullah s.a.w. untuk sesuatu keperluannya." Ibu bertanya: "Apakah
hajatnya itu?" Saya menjawab: "Itu adalah rahasia." Ibu berkata:
"Kalau begitu jangan sekali-kali engkau memberitahukan rahasia Rasulullah
s.a.w. tersebut kepada siapapun jua."
Anas berkata:
"Demi Allah, andaikata rahasia itu pernah saya beritahukan kepada
seseorang, niscayalah saya akan memberitahukan hal itu kepadamu pula, hai
Tsabit."
Diriwayatkan
oleh Imam Muslim, sedang Imam Bukhari meriwayatkan sebagian dengan
diringkaskan.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan