Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab
84
Malu Dan Keutamaannya Dan Menganjurkan Untuk Berakhlak Dengan Sifat Malu Itu
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
berjalan melalui seorang lelaki dari golongan kaum Anshar dan ia sedang
menasihati saudaranya tentang hal sifat malu - yakni malu mengerjakan
kejahatan. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Biarkanlah ia, sebab
sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari keimanan." (Muttafaq 'alaih)
Keterangan:
Malu itu ada
yang baik dan ada yang jelek. Malu menjalani sesuatu kemunkaran dan kemaksiatan
atau umumnya larangan agama atau hal-hal yang syubhat adalah terpuji dan sangat
baik. Tetapi malu menjalankan ketaatan kepada Allah, misalnya malu
bersembahyang karena baru saja menyadari kebenaran beragama, malu pergi ke
masjid, malu kalau tidak suka diajak berdansa-dansi, malu kalau menolak
berjabatan tangan dengan wanita (bagi seorang lelaki), semuanya itu adalah
tercela dan tidak ada kebaikannya samasekali.
Dalam hal ini ada sebuah Hadis yang
diriwayatkan Imam Bukhari yang diterima dan'
Abu Mas'ud yaitu Uqbah al-Anshari, mengatakan bahwa Rasulullah
s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya di antara hal-hal yang ditemui (didapatkan)
dari ucapan kenubuwatan yang pertama ialah: Apabila kamu tidak malu, maka
lakukanlah apa saja yang kamu kehendaki."
Adapun Hadis di
atas itu mengandung pengertian sebagai ancaman atau untuk menakut-nakuti pada
seseorang yang hendak berbuat semau-maunya. Jadr maksudnya ialah: "Kalau
kamu tidak malu kepada Allah dalam melakukan kemunkaran dan kemaksiatan itu,
terserahlah, kamu boleh melakukan apa-apa yang kamu inginkan dan sesuka
hatimulah. Tetapi ingatlah bahwa setiap sesuatu itu ada balasannya, baik di
dunia ataupun di akhirat."
Ada pula
sebagian alim-ulama yang berpendapat bahwa maksud Hadis di atas itu adalah
untuk menunjukkan kebolehan sesuatu kelakuan. Jelasnya: "Kalau kamu hendak
melakukan sesuatu, sekiranya kamu tidak malu kepada Allah dan para manusia,
sebab memang bukan larangan agama, baik sajalah kamu lakukan. Tetapi sekalipun
agama membolehkan, kalau kamu malu, tidak kamu lakukanpun baik juga jikalau hal
itu termasuk sesuatuyawaz (yakni bukan hal yang wajib atau sunnah). Jadi baik
dilakukan atau ditinggalkan sama saja bolehnya."
Dari Imran bin Hushain radhiallahu 'anhuma,
katanya: "Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Sifat malu itu tidak mendatangkan
sesuatu melainkan kebaikan." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
"Sifat malu itu baik seluruh akibatnya." Atau
beliau s.a.w. bersabda: "Malu itu semuanya baik
akibatnya."
Yang dimaksud
itu ialah malu mengerjakan kejahatan atau hal-hal yang tidak sopan menurut
pandangan umum. Adapun malu mengerjakan kebaikan, maka amat tercela dan tidak
dibenarkan oleh agama.
342
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Keimanan itu ada tujuhpuluh lebih - tiga sampai sembilan -atau keimanan
itu cabangnya ada enampuluh lebih - tiga sampai sembilan. Seutama-utamanya
ialah ucapan La ilaha illallah dan serendah-rendahnya ialah menyingkirkan
apa-apa yang berbahaya -semacam batu, duri, lumpur, abu kotoran dan Iain-Iain
sebagainya -dari jalanan. Sifat malu adalah suatu cabang dari keimanan
itu." (Muttafaq 'alaih)
Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w.
itu lebih sangat sifat malunya daripada seorang perawan dalam tempat
persembunyiannya - yakni perawan yang baru kawin dan berada dalam biliknya
dengan suami yang belum pernah dikenalnya. la amat sangat malu kepada suaminya
itu. Jikalau beliau s.a.w. melihat sesuatu yang tidak disenangi, maka kita
dapat melihat itu tampak di wajahnya." (Muttafaq 'alaih)
Para alim-ulama
berkata: "Hakikat sifat malu itu ialah suatu budipekerti yang menyebabkan
seseorang itu meninggalkan apa-apa yang buruk dan menyebabkan ia tidak mau
lengah untuk menunaikan haknya seseorang yang mempunyai hak." Kami
meriwayatkan dari Abul Qasim al-Junaid rahimahullah, katanya: "Malu ialah
perpaduan antara melihat berbagai macam kenikmatan atau karunia dan melihat
adanya kelengahan, lalu tumbuhlah di antara kedua macam sifat yang di atas tadi
suatu keadaan yang dinamakan sifat malu."
Wallahu a'lam.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan