Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab 86
Memenuhi Perjanjian Dan Melaksanakan
Janji
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
penuhilah perjanjian, karena sesungguhnya perjanjian itu akan ditanyakan."
(al-lsra':
34)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan penuhilah perjanjian terhadap Allah, jikalau
engkau semua menjanjikannya." (an-Nahl: 91)
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Hai
sekalian orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu." (al-Maidah: 1)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Hai sekalian orang-orang yang beriman, mengapa engkau
semua mengucapkan apa-apa yang tidak engkau
semua kerjakan? Besar sekali dosanya di sisi Allah jikalau engkau semua
mengucapkan apa-apa yang tidak engkau semua kerjakan itu." (as-Shaf:
2-3)
687. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya
Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tandanya
orang munafik itu ada tiga,yaitu: jikalau ia berbicara berdusta, jikalau ia
berjanji menyalahi dan jikalau ia dtpercaya berkhianat." (Muttafaq 'alaih)
la
menambahkannya dalam riwayat Imam Muslim: "Sekalipun orang itu berpuasa
dan bersembahyang dan mengaku bahwa dirinya adalah seorang Muslim."
Dari
Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma bahwasanya Nabi s.a.w.
bersabda:
"Ada empat
perkara, barangsiapa yang empat perkara itu semuanya ada di dalam dirinya, maka
orang itu adalah seorang munafik yang murni - yakni munafik yang
sebenar-benarnya - dan barangsiapa yang di dalam dirinya ada satu perkara dari
empat perkara tersebut, maka orang itu memiliki pula satu macam perkara dari
kemunafikan sehingga ia meninggalkannya, yaitu: jikalau dipercaya berkhianat,
jikalau berbicara berdusta, jikalau berjanji bercidera - yakni tidak menepati -
dan jikalau bertengkar maka ia berbuat kecurangan
yakni
tidak melalui jalan yang benar lagi." (Muttafaq 'alaih)
Keterangan:
Nifaq atau kemunafikan adalah suatu sifat yang ada di dalam hati
manusia dan tidak dapat diketahui
oleh orang lain. Kemunafikan adalah suatu penyakit rohani yang tidak dapat
disembuhkan kecuali oleh orang itu sendiri. Kita dapat mengetahui seseorang itu
dihinggapi oleh penyakit kemunafikan, hanyalah semata-mata dari tanda-tandanya
yang lahiriyah belaka.
Apakah
kemunafikan itu? Kemunafikan ialah menunjukkan di luar sebagai seorang Muslim
yang benar-benar keislaman dan keimanannya, tetapi dalam hatinya adalah
sebaliknya. Orang munafik itu hakikatnya adalah orang yang memusuhi Agama
Islam, menghalang-halangi perkembangan dan kemajuan Islam, tidak ridha dengan
kepesatan dan keluhuran Islam dan dengan segala daya-upaya hendak mematikan
Agama Islam. Itulah
346
yang terkandung
dalam hatinya yang sebenar-benarnya. Hanya tampaknya saja ia sebagai pemeluk
Islam yang setia. Bagi Islam orang munafik itu adalah sebagai musuh dalam
selimut. la menggunting dalam lipatan atau menohok kawan seiring dari belakang.
Besar benar bahayanya kaum munafik itu terhadap Islam dan kaum Muslimin. Oleh
sebab itu Allah menjanjikan siksa yang pedih kepada kaum munafik itu dengan
firmannya:
"Sesungguhnya
orang-orang munafik itu ada di dalam tingkat terbawah dari neraka."
Oleh sebab tidak seorangpun yang mengetahui isi hati seseorang,
maka oleh Rasulullah s.a.w. diuraikan tanda-tandanya kemunafikan, yaitu ada
empat macam perkara. Dijelaskan oleh beliau s.a.w. bahwa barangsiapa yang
memiliki empat macam perkara itu keseluruhannya, maka ia benar-benar dapat
digolongkan dalam kelompok kaum munafik yang tulen atau murni, bagaikan emas
kemunafikannya sudah 24 karat. Tetapi apabila hanya satu perkara saja yang
dimilikinya itu, maka ia telah dihinggapi satu macam penyakit kemunafikan
tersebut.
Adapun empat perkara itu ialah:
Jikalau
berbicara berdusta.
Jikalau
berjanji tidak menepati.
Jikalau
bertengkar atau bertentangan dengan seseorang, lalu berbuat kejahatan.
Jikalau membuat sesuatu perjanjian lalu merusakkan atau
membatalkannya sendiri yakni tidak mematuhi isi perjanjian itu dengan
sebaik-baiknya.
Dalam Hadis sebelumnya disebutkan bahwa salah satu sifat
kemunafikan ialah: Jikalau dipercaya lalu berkhianat. Penyakit kemunafikan itu
tetap berjangkit dalam diri seseorang selama sifat-sifat buruk di atas (lima
macam) tidak ditinggalkan, sekalipun orang tersebut mengerjakan shalat, puasa
serta mengaku bahwa dirinya adalah manusia Muslim.
Amat sederhana sekali tampaknya sifat-sifat kemunafikan yang
banyaknya empat atau lima macam di atas itu,tetapi bahayanya amat besar sekali.
Oleh sebab itu, selama masih ada satu penyakit kemunafikan itu menghinggapi
seseorang, maka tetap ia dapat dianggap sebagai orang munafik, jikalau
penyakitnya itu tidak dilenyapkan sendiri, sekalipun taraf kemunafikannya masih
rendah.
Jadi kemunafikan seseorang itu dianggap tinggi atau rendah,
murni atau tidak, hal itu tergantung kepada banyaknya sifat kemunafikan yang
dimiliki olehnya. Jelasnya kemunafikannya itu dapat 20%, 40%, 60%, 80% atau
100% yakni tulen dan murni.
Semoga kita semua dihindarkan dari
sifat kemunafikan ini selama-lamanya.
Dari Jabir r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda kepada
saya: "Andaikata harta dari daerah Albahrain itu benar-benar telah tiba,
tentulah saya akan memberimu sekian, sekian dan sekian."
Tetapi harta dari Albahrain itu tidak
pernah datang sampai Nabi s.a.w. wafat.
Kemudian setelah harta dari Albahrain itu datang, Abu Bakar
r.a. menyuruh supaya diserukan: "Barangsiapa yang di sisi Rasulullah
s.a.w. mempunyai suatu janji atau hutang, maka hendaklah datang ke tempat
kami." Saya lalu mendatangi Abu Bakar r.a., dan saya berkata:
"Sesungguhnya Nabi s.a.w. pernah bersabda kepada saya demikian,
demikian." Abu Bakar r.a. lalu memberikan kepada saya suatu pemberian,
kemudian saya menghitungnya, tiba-tiba jumlahnya itu ialah limaratusdirham dan
Abu Bakar r.a. berkata: "Ambillah dua kalinya itu lagi." (Muttafaq
'alaih)
Tiada ulasan:
Catat Ulasan