Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab
26
Keharamannya
Menganiaya Dan Perintah Mengembalikan Apa-apa Yang Dari Hasil Penganiayaan
Allah Ta'ala berfirman:
"Orang-orang
yang zalim itu tidak mempunyai sahabat
setia dan penolong yang dipatuhi." (Ghafir: 18)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Orang-orang yang menganiaya itu tidak mempunyai penolong." (al-Haj: 71)
Adapun
Hadis-hadisnya, maka di antaranya ialah Hadisnya Abu Zar r.a. yang sudah
disebutkan di muka dalam akhir bab Mujahadah atau Perjuangan, Lihat Hadis n.o
111.
Dari Jabir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Takutlah engkau semua - hindarkanlah dirimu semua - akan perbuatan
menganiaya, sebab menganiaya itu akan merupakan berbagai kegelapan pada hari
kiamat. Juga takutlah - hindarkanlah dirimu semua
akan sifat kikir, sebab kikir itu menyebabkan rusak binasanya
ummat yang sebelummu semua. Itulah yang menyebabkan mereka sampai suka
mengalirkan darah sesamanya dan pula menyebabkan mereka menghalalkan apa-apa
yang diharamkan pada diri mereka. (Riwayat Muslim)
Dari
Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w., bersabda:
"Niscayalah
engkau itu akan menunaikan - memberikan - hak-hak itu kepada ahlinya -
pemiliknya - pada hari kiamat, sehingga dibimbinglah kambing yang tak bertanduk
dari kambing yang bertanduk - yakni kambing tak bertanduk itu akan memberikan
balasan menyakiti kepada kambing yang bertanduk sesuai dengan perbuatan yang
bertanduk itu ketika di dunia." (Riwayat Muslim)
Keterangan:
Hadis ini dengan
jelas menerangkan bahwa semua binatang pada hari kiamat nanti akan dikumpulkan
di padang mahsyar dan dikembalikan tubuh dan ruhnya sebagaimana waktu hidupnya
di dunia. Jadi sama halnya dengan manusia, baik yang sudah mukalaf, yang masih
kanak-kanak, begitu pula yang gila.
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya: "Kita semua
sedang mempercakapkan perihal haji wada' - haji Nabi s.a.w. yang terakhir dan
sebagai mohon diri, sedang Nabi s.a.w. ada di hadapan kita. Kita semua tidak
mengetahui apa yang sebenarnya disebut haji wada' itu sehingga Rasulullah
s.a.w. bertahmid kepada Allah serta memujiNya, kemudian menyebutkan perihal
al-Masih Dajjal. 21 beliau s.a.w.
memperpanjang sekali dalam menguraikan tentang dajjal itu dan bersabda:
Dajjal adalah manusia penipu dan
pembohong, buta matanya yang sebelah kanan, memiliki berbagai keistimewaan dan
mengaku menjadi Tuhan. Banyak juga pengikutnya. Ia akan datang apabila hari
kiamat sudah hampir tiba. Jadi merupakan alamat kubra (alamat besar) perihal
akar segera datangnya hari kiamat itu.
157
"Tiada
seorang Nabipun yang diutus oleh Allah, melainkan Nabi itu tentu menakut-nakuti
ummatnya tentang tibanya Dajjal. Nuh dan semua Nabi yang datang sesudahnya sama
menakut-nakuti -ummatnya - tentang Dajjal tersebut. Bahwasanya Dajjal itu akan
keluar di kalangan engkau semua, maka tidak akan tersamarkan perihal keadaannya
itu atasmu semua dan persoalan dirinyapun tidak samar-samar pula bagimu.
Sesungguhnya Tuhanmu tidaklah buta matanya sebelah, padahal sesungguhnya Dajjal
itu adalah buta matanya sebelah kanan, seolah-olah matanya itu sebagai sebuah
buah anggur yang menonjol kemuka. Ingatlah, sesungguhnya Allah mengharamkan
atasmu semua darah-darahmu - untuk dialirkan - serta harta-hartamu - untuk
dirampas, sebagaimana kesuciannya harimu ini dalam negeri sucimu ini -yakni
negeri Makkah, Ingatlah, bukankah saya telah menyampaikan? Para sahabat
berkata: "Benar." Beliau s.a.w. bersabda: "Ya Allah,
saksikanlah," sampai tiga kali. "Celaka untukmu semua," atau
"Bencana untukmu semua," lihatlah - perhatikanlah, janganlah engkau
semua kembali menjadi orang-orang kafir sepeninggalku nanti, yang sebagian
memukul leher sebagian yang lain - yakni bunuh-membunuh tanpa dasar
kebenaran." (Riwayat Bukhari)
Imam Muslim juga meriwayatkan
sebagiannya.
207. Dari Aisyah radhiallahu 'anha
bahwasanya Rasululiah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa
yang menganiaya - mengambil tanpa izin pemiliknya - seukuran kira-kira
sejengkal tanah, maka tanah itu akan dikalungkan di lehernya dari tujuh lapis
bumi — sebagai siksanya pada hari kiamat nanti." (Muttafaq 'alaih)
208. Dari Abu Musa r.a., katanya:
"Rasululiah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya
Allah itu menantikan untuk orang yang zalim -tidak segera dijatuhi hukuman,
tetapi apabila Allah telah menghukumnya, maka tidak akan melepaskannya
samasekali – sampai hancur sehancur-hancurnya.
Selanjutnya
beliau s.a.w. membaca ayat - yang artinya: "Dan demikianlah hukuman yang
diberikan oleh Tuhanmu jikalau Dia menghukum negeri yang melakukan kezaliman.
Sesungguhnya hukuman Tuhan itu adalah pedih dan keras." (Muttafaq 'alaih)
Dari
Mu'az r.a., katanya: "Saya diutus oleh Rasulullah s.a.w. lalu beliau
s.a.w.
bersabda:
"Sesungguhnya
engkau akan mendatangi sesuatu kaum dari ahlul kitab - Yahudi dan Nasrani, maka
ajaklah mereka itu kepada menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah
dan bahwasanya saya adalah pesuruh Allah. Jikalau mereka telah mentaati untuk
melakukan itu, maka beritahukanlah bahwasanya Allah telah mewajibkan atas
mereka akan lima kali sembahyang dalam setiap sehari semalam. Jikalau mereka
telah mentaati yang sedemikian itu, maka beritahukanlah kepada mereka
bahwasanya Allah telah mewajibkan atas mereka sedekah - zakat - yang diambil
dari kalangan mereka yang kaya-kaya, kemudian dikembalikan - diberikan -kepada
golongan mereka yang fakir-miskin. Jikalau mereka mentaati yang sedemikian itu,
maka jagalah harta-harta mereka yang dimuliakan - yakni yang menjadi milik peribadi
mereka. Takutlah akan permohonan - doa - orang yang dianiaya
balk ia muslim atau kafir, karena sesungguhnya saja tidak ada
tabir yang menutupi antara permohonannya itu dengan Allah - yakni doanya pasti
terkabul." (Muttafaq 'alaih)
158
Dari Abu Humaid, yaitu Abdurrahman bin Sa'ad as-Sa'idi r.a.,
katanya: "Nabi s.a.w. mempergunakan seorang lelaki dari al-Azad - sebagai
petugas di sesuatu daerah. Orang itu bernama Ibnul Lutbiyah untuk urusan
pengambilan sedekah - zakat. Setelah ia datang, lalu berkata: "Ini adalah
untuk Tuan dan yang ini dihadiahkan kepadaku." Rasulullah s.a.w. lalu
berdiri di atas mimbar, bertahmid serta memuji kepada Allah kemudian bersabda:
"Amma ba'd.
Sesungguhnya saya telah mempergunakan seseorang di antara engkau semua untuk
sesuatu tugas dari sekian banyak tugas yang diserahkan oleh Allah kepadaku.
Lalu ia datang kembali dan berkata: "Ini adalah untuk Tuan - zakat yang
sebenarnya - dan yang ini adalah sebagai hadiah yang diberikan padaku."
Cobalah ia duduk saja di rumah ayah atau ibunya, apakah ada yang sampai
kedatangan hadiah, jikalau ia berbuat sebenarnya. Demi Allah, tiada sesuatupun
yang diambil oleh seseorang dari engkau semua yang tidak dengan haknya,
melainkan ia akan menemui Allah Ta'ala, barang itu akan dibawanya pada hari
kiamat. Sungguh-sungguh saya tidak akan mengenal seseorang dari engkau semua
yang menemui Allah itu dengan membawa seekor unta - suapan - sambil bersuara,
atau membawa seekor lembu sambil menguak atau seekor kambing sambil
mengembik." Selanjutnya beliau s.a.w. mengangkat kedua tangannya sehingga
terlihatlah putihnya kedua ketiak beliau itu lalu bersabda: "Ya Allah,
bukankah hal ini telah saya sampaikan." (Muttafaq 'alaih)
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya:
"Barangsiapa yang disisinya ada sesuatu dari hasil penganiayaan untuk
saudaranya, baik yang mengenai keperwiraan saudaranya itu ataupun sesuatu yang
lain, maka hendaklah meminta kehalalannya pada hari ini - semasih di dunia,
sebelum tidak lakunya wang dinar dan dirham. Jikalau -tidak meminta
kehalalannya sekarang ini, maka jikalau yang menganiaya itu mempunyai amal
shalih, diambillah dari amal shalihnya itu sekadar untuk melunasi
penganiayaannya,sedang jikalau tidak mempunyai kebaikan samasekali, maka
diambillah dari keburukan-keburukan orang yang dianiayanya itu, lalu dibebankan
kepada yang menganiayanya tadi." (Riwayat Bukhari)
Dari
Abdullah bin Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w.,
sabdanya:
"Muslim ialah orang yang semua orang Islam selamat dari
kejahatan lidah -ucapan - dan kejahatan tangannya-perbuatannya. Muhajir ialah
orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah padanya."
(Muttafaq 'alaih)
Juga dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash, katanya: "Adalah
di atas beban Nabi s.a.w. itu seorang lelaki yang namanya Kirkirah, kemudian ia
meninggal dunia. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Ia masuk dalam
neraka." Para sahabat lalu pergi melihat orang yang mati itu - dengan
tujuan ingin mengetahui apa sebab yang memasukkannya ke dalam neraka, kemudian
mereka menemukan sebuah baju kurung yang dikhianatinya - yakni disembunyikan
dari hasil rampasan peperangan yang semestinya dikumpulkan." (Riwayat
Bukhari)
Dari
Abu Bakrah, yaitu Nufai' bin al-Harits r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya:
"Sesungguhnya
zaman itu telah berputar sebagaimana keadaan-nya sejak hari Allah menciptakan
semua langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan dan di antaranya ada
159
empat bulan yang
suci, tiga berturut-turut, yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijah dan Muharram dan
keempatnya ialah bulan Rajab Mudhar 22 yang jatuh
antara Jumada dan Sya'ban. Sekarang ini bulan apakah?" Kita - para sahabat
-menjawab: "Allah dan RasulNya adalah lebih mengetahui." Beliau
s.a.w. berdiam diri, sehingga kita menyangka bahwa beliau akan memberinya nama
lain lagi selain dari nama yang biasa. Kemudian beliau bersabda: "Bukankah
ini bulan Dzulhijah." Kita menjawab: "Benar." Beliau bersabda
lagi: "Negeri manakah ini?" Kita menjawab: "Allah dan RasulNya
adalah lebih mengetahui. "Beliau berdiam diri, sehingga kita menyangka
seolah-olah beliau akan memberinya nama lain lagi selain dari nama yang biasa.
Kemudian beliau bersabda: "Bukankah ini baldah haram - negeri suci."
Kita menjawab: "Benar." Beliau bertanya lagi: "Hari apakah
ini." Kita menjawab: "Allah dan RasulNya adalah lebih
mengetahui." Beliau berdiam diri sehingga kita menyangka, seolah-olah akan
memberinya nama lain lagi selain dari namanya yang biasa. Lalu beliau bersabda:
"Bukankah hari ini hari Nahar - hari raya Kurban." Kita menjawab:
"Benar." Beliau bersabda pula:
"Sesungguhnya
darah-darahmu, harta-hartamu dan keperwiraanmu adalah haram atasmu semua -
yakni wajib dilindungi, darah tidak boleh dialirkan, harta tidak boleh dirampas
dan keperwiraan tidak boleh dipermalukan atau dihinakan, sebagaimana juga
kesuciannya harimu ini, di negerimu ini dan dalam bulanmu ini. Dan engkau semua
akan menemui Tuhanmu lalu Dia akan menanyakan kepadamu semua perihal
amalan-amalanmu. Ingatlah, maka janganlah engkau semua kembali menjadi
orang-orang kafir sepeninggalku nanti, yang sebagian memukul leher sebagian
yang lain - bunuh-membunuh tanpa dasar kebenaran. Ingatlah, hendaklah yang
menyaksikan - hadir ketika itu - menyampaikan kepada yang tidak hadir.
Barangkali orang yang diberi berita itu akan lebih memahami dari sebagian orang
yang mendengar sendiri." Kemudian beliau bersabda: "Ingatlah,
bukankah aku telah menyampaikan ini? Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikan
ini?" Kita menjawab: "Benar." Beliau bersabda lagi: "Ya
Allah, saksikanlah." (Muttafaq 'alaih)
Dari Abu Umamah, yaitu lyas bin Tsa'labah al-Haritsi r.a.
bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa
yang mengambil haknya seseorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah telah
mewajibkan neraka untuknya dan mengharamkan syurga atasnya." Kemudian ada
seorang lelaki yang bertanya: "Apakah demikian itu berlaku pula, sekalipun
sesuatu benda yang remeh,ya Rasulullah?" Beliau s.a.w. menjawab:
"Sekalipun bendanya itu berupa setangkai kayu penggosok gigi."
(Riwayat Muslim)
Dari Adi
bin Amirah r.a.,
katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Barangsiapa
yang kita pergunakan di antara engkau semua sebagai petugas atas sesuatu
pekerjaan, kemudian menyembunyikan dari kita sebuah jarum, apalagi yang lebih
besar dari jarum itu, maka hal itu adalah sebagai pengkhianatan yang akan
dibawanya sendiri pada hari kiamat." Kemudian ada seorang lelaki berkulit
hitam dari kaum Anshar berdiri, seolah-olah saya pernah melihat padanya, lalu
ia berkata: "Ya Rasulullah terimalah kembali tugas yang Tuan serahkan itu
daripadaku - maksudnya ia mohon dihentikan sebab takut akan berbuat serong
sebagai petugas. Rasulullah s.a.w. bertanya: "Mengapa engkau?" Ia
Bulan Rajab diberi tambahan kala
"Mudhar", sebabnya ialah kabilah mudhar itu lebih sangat menghormati
dan memuliakannya. kalau dibandingkan dengan kabilah-kabilah Arab yang
lain-lain.
160
menjawab:
"Saya mendengar Tuan bersabda demikian, demikian - yakni sabda di atas
itu." Beliau s.a.w. lalu bersabda pula: "Saya berkata sekarang:
"Barangsiapa yang kami pergunakan sebagai petugas dari engkau semua untuk
melaksanakan sesuatu pekerjaan, maka hendaklah datang kepada kami dengan membawa
hasil sedikit atau hasil banyak - kalau sebenarnya dapat banyak. Jadi apa-apa
yang diberikan padanya, ambillah itu dan apa-apa yang dilarang, janganlah
diambil." (Riwayat Muslim)
Keterangan:
Penggelapan
harta atau istilah pada zaman kita sekarang ini disebut korupsi, menilik Hadis
di atas adalah sangat besar dosanya bagi seorang pegawai yang diberi amanat dan
kepercayaan untuk memimpin dan melayani ummat, sekalipun yang digelapkan itu
hanya sebuah jarum saja, apalagi kalau lebih besar nilainya. Oleh sebab itu
Hadis di atas adalah suatu ancaman yang sangat keras serta peringatan yang
tegas agar seseorang pegawai itu jangan berbuat pengkhianatan terhadap hak
milik negara.
Dalam Hadis itu
pula dijelaskan bahwa, seseorang yang memangku suatu jabatan,baik yang tingkat
tinggi,sedang atau rendah, apabila merasa tidak sanggup memenuhi tugas yang
dipertanggungjawabkan kepadanya, wajiblah meminta berhenti sebagaimana yang
dilakukan oleh seorang Anshar yang berkulit hitam, yang dengan terang-terangan
memberikan kepada Nabi s.a.w. agar diterima kembali tugas yang diserahkan
padanya.
Dari Umar bin Alkhaththab r.a., katanya: "Ketika terjadi
perang Khaibar, ada sekelompok dari sahabat-sahabat Nabi s.a.w. datang
menghadap padanya, kemudian mereka mengatakan: "Fulan itu mati syahid dan
Fulan itu juga mati syahid," sehingga akhirnya mereka menyebutkan nama
seseorang lalu mereka berkata: "Fulan itupun mati syahid pula." Lalu
Nabi s.a.w. bersabda: "Tidak sama sekali, Fulan itu saya lihat masuk dalam
neraka karena sebuah baju burdah atau baju kurung yang dikhianatkannya - yakni
disembunyikan dari hasil rampasan peperangan." (Riwayat Muslim)
Dari Abu Qatadah yaitu al-Harits bin Rib'i r.a. dari Rasulullah
s.a.w. bahwasanya beliau s.a.w. berdiri berkhutbah di muka orang banyak,
kemudian menyebutkan kepada mereka bahwasanya jihad fi-sabilillah dan beriman
kepada Allah itu adalah seutama-utamanya amalan. Kemudian ada seorang lelaki
berdiri dan berkata: "Ya Rasulullah, bagaimana pendapat Tuan, jikalau saya
terbunuh dalam peperangan fi-sabilillah, apakah semua kesalahan saya akan
dihapuskan-?" Beliau s.a.w. menjawab: "Benar, jikalau engkau dibunuh
fi-sabilillah itu dalam keadaan sabar, mengharapkan keridhaan Allah, sedang
maju dan tidak mengundurkan diri." Selanjutnya Rasulullah s.a.w. bertanya:
"Apayangakan kau katakan sekarang?" Orang itu berkata lagi:
"Bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau saya terbunuh dalam peperangan
fi-sabilillah? Apakah semua kesalahan saya dihapuskan?" Beliau s.a.w.
menjawab: "Benar demikian, asalkan engkau dalam keadaan sabar,
mengharapkan keridhaan Allah, sedang maju dan tidak mengundurkan diri, kecuali
pula kalau engkau mempunyai tanggungan hutang, karena sesungguhnya Jibril
mengatakan hal itu kepadaku." (Riwayat Muslim)
Keterangan:
Dalam Hadis di
atas ada suatu keterangan yang jelas bahwa sekalipun berjihad fi-sabilillah
sampai mati syahid itu, pahalanya amat besar sekali di sisi Allah, namun tidak
dapat menghapuskan tanggungan perihal haknya sesama manusia seperti hutang.
Jadi selama hutangnya itu belum dilunasi atau direlakan oleh yang memberi
hutang, tetap masih akan diperhitungkan di akhirat nanti sebagai suatu dosa
yang menjadi bebannya.
161
Jadi yang dapat
dihapus hanyalah hak-haknya Allah yang berupa dosa-dosa kecil belaka. Inilah
yang insya Allah akan diampuni.
Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya s.a.w. bersabda: "Adakah
engkau semua tahu, siapakah orang yang pailit - bangkrut - itu?" Para
sahabat menjawab: "Orang pailit di kalangan ' kita ialah orang yang sudah
tidak memiliki lagi sedirhampun atau sesuatu benda apapun." Beliau s.a.w.
lalu bersabda: "Orang pailit dari kalangan ummatku ialah orang yang datang
pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa dan zakatnya, tetapi
kedatangannya itu dahulunya - ketika di dunia - pernah mencaci maki si Anu,
mendakwa serong kepada si Anu, makan harta si Anu, mengalirkan darah si Anu -
tanpa dasar kebenaran, pernah memukul si Anu. Maka orang yang dianiaya itu
diberikan kebaikan orang tadi dan yang lainpun diberi kebaikannya pula, Jikalau
kebaikan-kebaikannya sudah habis sebelum terlunasi tanggungan
penganiayaannya,maka diambillah dari kesalahan-kesalahan orang-orang yang
dianiayanya itu lalu dibebankan kepada orang tersebut, selanjutnya orang itu
dilemparkanlah ke dalam neraka." (Riwayat Muslim)
Dari
Ummu Salamah radhiallahu 'anha bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Hanyasanya
saya ini adalah seorang manusia seperti engkau semua pula dan sesungguhnya
engkau semua akan mengajukan perselisihanmu itu kepadaku, barangkali sebagian
dari engkau semua ada yang lebihcerdik mengemukakan hujah - alasannya - dari
sebagian yang lain. Maka saya akan memutuskannya sesuai dengan apa yang saya
dengar. Maka barangsiapa yang saya putuskan untuknya - mendapat kemenangan - sedangkan
ia mengetahui bahwa itu adalah hak saudaranya - dimenangkan karena kepandaian
bicaranya, maka sesungguhnya saja saya tentukan untuknya sepotong daripada api
neraka." (Muttafaq 'alaih)
Alhanu, artinya lebih mengerti atau lebih pandai (dalam mengemukakan
alasan dan lain-lain).
221. Dari Ibnu Umar radhiallahu
'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Senantiasalah
seseorang mu'min itu ada di dalam kelapangan agamanya, selama ia tidak pernah
memperoleh darah yang haram - yakni tidak pernah membunuh tanpa dasar
kebenaran." (Riwayat Bukhari)
Dari Khaulah binti Tsamir al-Anshariyah dan ia adalah isterinya
Hamzah radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Sesungguhnya
ada beberapa orangyang membelanjakan harta Allah - yakni harta milik kaum
Muslimin - tanpa dasar kebenaran, maka bagi mereka itu adalah neraka pada hari
kiamat." (Riwayat Bukhari)
162
Tiada ulasan:
Catat Ulasan