Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab
32
Keutamaan
Kelemahan Kaum Muslim'm, Kaum Fakir Dan Orang-orang Yang Tidak Masyhur
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sabarkanlah
dirimu bersama dengan orang- orang yang menyeru Tubannya di waktu pagi dan sore, mereka menginginkan keridhaan
Tuhan dan janganlah engkau hindarkan pandanganmu terhadap mereka itu." (al-Kahf:
28)
Dari
Haritsah bin Wahab r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulultah s.a.w.
bersabda:
"Sukakah engkau semua saya beritahu,siapakah ahli syurga
itu? Mereka itu setiap orang yang lemah dan dianggap lemah oleh para manusia,
tetapi jikalau ia bersumpah atas Allah, pastilah Allah mengabulkan apa yang
disumpahkannya itu.
Sukakah engkau semua saya beritahu, siapakah ahli neraka itu?
Mereka itu ialah setiap orang yang 'utul
- keras, jawwazh - kikir tetapi
gemar mengumpulkan harta, lagi pula congkak." (Muttafaq 'alaih)
Al'utul
ialah orang yang
keras kepala lagi kasar dalam pergaulan.
Aljawwazh, dengan fathah
jim dan syaddahnya wawu dan dengan zha' mu'jamah yaitu orang yang gemar mengumpulkan harta, tetapi kikir kalau dimintai
sesuatu kebaikan. Ada yang mengatakan artinya ialah orang yang gemuk lagi
sombong ketika berjalan. Ada pula yang mengatakan artinya ialah orang yang
pendek lagi suka makan.
Dari Abul Abbas yaitu Sahal bin Sa'ad as-Saidi r.a., katanya:
"Ada seorang lelaki yang berjalan melalui Nabi s.a.w., lalu beliau
bertanya kepada seseorang yang sedang duduk di sisinya: "Bagaimanakah
pendapatmu tentang orang ini." Orang yang ditanya itu menjawab: "Ini
adalah seorang lelaki dari golongan manusia bangsawan. Orang ini demi Allah,
sudah nyatalah apabila ia melamar seseorang wanita, tentu terlaksana ia
dikawinkan dan apabila memintakan pertolongan pada sesuatu, tentu akan
dikabulkan permintaan pertolongannya itu - untuk kepentingan orang lain."
Selanjutnya ada seorang lelaki lain berjalan melalui Nabi
s.a.w. kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda - kepada kawan seduduknya itu:
"Bagaimanakah pendapatmu tentang orang ini?" Orang itu menjawab:
"Ya Rasulullah. Ini adalah seorang lelaki dari golongan kaum fakirnya
orang-orang Islam. Orang ini nyatalah bahwa jikalau meminang, tentu tidak akan
diterima untuk dikawinkan - dengan yang dipinangnya - dan jikalau memintakan
pertolongan pada sesuatu, tentu tidak akan dikabulkan permintaan pertolongannya
itu."
Kemudian Rasulullah bersabda:
"Yang ini - yakni yang engkau hinakan karena kefakirannya
-adalah lebih baik dari pada seluruh isi bumi itu penuh seperti yang ini -
yakni yang dimuliakan karena kekayaannya." (Muttafaq 'alaih)
177
Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya:
"Syurga dan neraka itu saling berbantah-bantahan. Neraka berkata: "Di
dalamku ada orang-orang yang keras kepala
gemar
memaksakan kehendaknya pada orang lain - serta orang-orang yang congkak."
Syurga berkata: "Di dalamku ada para manusia yang lemah-lemah serta kaum
fakir miskin." Allah lalu memutuskan perbantahan mereka itu dan firmanNya:
"Engkau itu, syurga, sesungguhnya adalah tempat kerahmatanKu, yang Aku
merahmati denganmu itu siapa saja yang Kukehendaki, sedang engkau neraka,
sesungguhnya adalah tempat penyiksaanKu, yang Aku menyiksa denganmu siapa saja
yang Kuhendaki. Atas kehendakKu pulalah kedua-duanya itu siapa-siapa yang akan
diisikannya." (Riwayat Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya:
"Sesungguhnya saja nanti akan datanglah seseorang yang besar lagi gemuk
pada hari kiamat, tetapi di sisi Allah, tidak ada timbangan beratnya lebih dari
timbangan sehelai sayap nyamuk." (Muttafaq 'alaih)
Keterangan
Maksud Hadis di atas ialah bahwa orang yang sewaktu di dunia
ini besar dan tinggi kedudukannya, gemuk badannya serta gendut perutnya, tetapi
kosong amalannya yang baik, tidak mentaati perintah Allah dan malahan melanggar
laranganNya, maka pada hari kiamat nanti oleh Allah orang tersebut tidak ada
harganya samasekali, dianggap ringan dan remeh dan sudah dipastikan akan
memperoleh siksaNya yang pedih dalam neraka.
Jadi untuk mencapai keluhuran tingkat di sisi Allah, dapat
mendekatkan diri padaNya serta mendapatkan keridhaanNya hanyalah dengan jalan
membersihkan hati dari semua sifat yang tercela, menyucikannya agar menerima
cahaya Ilahiyah, di samping mengamalkan semua perintah dan menjauhi
laranganNya.
Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, ada lanjutannya
Hadis di atas itu dan berbunyi:
"Bacalah jika kamu suka - firman Allah, yaitu -:
"Maka Kami (Allah) tidak merasa perlu menimbang orang-orang yang semacam
itu - sebab timbangannya yang berupa amal kebaikan samasekali tidak ada dan
tidak lebih berat daripada sayap nyamuk belaka."
Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya ada seorang wanita hitam
yang biasanya menyapu masjid. Dalam sebuah riwayat dikatakan: seorang pemuda -
sebagai ganti wanita hitam tersebut, yang pekerjaannya juga suka menyapu
masjid. Kemudian Rasulullah s.a.w. - pada suatu hari -tidak menemukannya lagi,
lalu bertanya, ke mana orang yang suka menyapu itu. Para sahabat berkata bahwa
ia telah meninggal dunia. Beliau bersabda: "Mengapa engkau semua tidak
memberitahukan hal itu padaku." Mereka tidak memberitahukan itu,
seolah-olah mereka menganggap remeh saja kematian orang tersebut. Beliau
bersabda pula: "Tunjukkanlah aku di mana kuburnya." Orang-orang
menunjukkannya, kemudian beliau s.a.w. menyembahyangi orang yang mati itu -
yang sudah dalam kubur. Setelah itu beliau bersabda: "Sesungguhnya kubur
itu penuh kegelapan atas para penghuninya, tetapi Allah membuatnya bercahaya
untuk mereka itu dengan sebab saya menyembahyangi atas mereka itu."
(Muttafaq 'alaih)
Dari
Abu Hurairah r.a. lagi, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Kadang-kadang
orang-orang yang tidak karuan letak rambutnya lagi pula penuh debu tubuhnya,
serta selalu ditolak jika ada di pintu - tidak dihiraukan karena miskinnya,
178
jikalau bersumpah atas Allah niscayalah
Allah mengabulkan padanya - apa yang disumpahkannya itu." (Riwayat Muslim)
Dari Usamah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Saya berdiri
di pintu syurga, tiba-tiba - saya lihat - kebanyakan orang yang memasukinya itu
adalah orang-orang miskin, sedang orang-orang yang mempunyai kekayaan masih
tertahan - belum lagi diizinkan untuk masuk syurga. Tetapi para ahli neraka
sudah semua diperintahkan untuk masuk neraka. Saya juga berdiri di pintu
neraka, tiba-tiba -saya lihat -kebanyakan para ahli neraka itu adalah kaum
wanita." (Muttafaq 'alaih)
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Tidak
seorang bayipun yang dapat berbicara ketika masih dalam belaian kecuali tiga
anak. Ini yang dari kalangan Bani Israil, sedang yang tidak dari kalangan
mereka ada pula yang lain-lain seperti tertera dalam Hadis nomor 30. Tiga anak
itu ialah Isa putera Maryam. Kedua sahabat Juraij -yang menyaksikan kebenaran
Juraij. Juraij adalah seorang lelaki yang tekun ibadatnya, lalu ia mengambil
sebuah tempat yang tinggi letaknya. Ia senantiasa berada di situ. Suatu ketika
ibunya datang dan ia sedang bersembahyang, serunya: "Hai Juraij."
Juraij berkata - dalam hatinya: "Ya Tuhanku, itu adalah ibuku, tetapi saya
lebih mengutamakan shalatku." Ia terus tekun dalam shalatnya - dan ibunya
tidak dihiraukan olehnya. Ibunya lalu pergi. Ketika menjelang esok harinya,
ibunya datang lagi dan ia juga sedang bersembahyang. Ibunya berseru: "Hai
Juraij." Ia berkata pula - dalam hatinya: "Ya Tuhanku, itu adalah
ibuku, tetapi saya lebih mengutamakan shalatku." Ia terus tekun dalam
shalatnya. selanjutnya pada esok harinya lagi, ibunya datang sekali lagi dan ia
sedang bersembahyang. Ibunya berseru: "Hai Juraij." Ia berkata pula -
dalam hatinya: "Ya Tuhanku, itu adalah ibuku, tetapi saya lebih
mengutamakan shalatku." Ia terus pula tekun dalam shalatnya. lbunya lalu
berkata - berdoa "Ya Allah, janganlah Engkau mematikannya, sehingga ia
melihat wajahnya wanita-wanita pelacur."
Kaum Bani Israil sama
menyebut-nyebutkan perihal diri juraij itu serta ketekunan ibadatnya. Di
kalangan mereka ada seorang wanita pelacur yang karena cantiknya sampai dibuat
sebagai perumpamaan. Wanita itu berkata: "Jikalau engkau semua suka,
niscaya dapatlah aku memfitnahnya." Wanita itu menunjukkan diri pada Juraij,
tetapi ia tidak menoleh samasekali pada wanita itu. Wanita itu lalu mendatangi
seorang penggembala yang berdiam di tempat peribadatan Juraij lalu ia
memungkinkan dirinya pada penggembala itu - yakni membolehkan dirinya
disetubuhi olehnya. Penggembala itu menyetubuhinya kemudian ia pun hamillah.
Setelah wanita itu melahirkan, ia berkata bahwa anak itu adalah hasil dari
hubungannya dengan Juraij. Orang-orang banyak sama mendatangi Juraij, ia
diturunkan dan mereka merobohkan tempat ibadatnya, bahkan merekapun memukulnya.
Juraij bertanya: "Ada apa engkau semua ini?" Orang-orang sama
berkata: "Engkau berzina dengan wanita pelacur ini, lalu ia melahirkan
anak dari hasil perbuatanmu." Ia berkata: "Manakah anak itu?"
Orang-orang sama mendatangkan anak itu padanya. Juraij lalu berkata:
"Biarkanlah saya hendak bersembahyang dulu." Iapun bersembahyanglah.
Ketika ia kembali di hadapan orang banyak, ia mendatangi anak itu lalu menusuk
perutnya - dengan jarinya - dan berkata: "Hai anak, siapakah ayahmu?"
Anak kecil itu berkata: "Ayahku si Fulan, penggembala itu." Kemudian
orang-orang banyak itu sama menghadapi Juraij menciuminya dan mengusap-usap
tubuhnya. Mereka berkata: "Kita akan mendirikan tempat sembahyangmu itu
dari emas." Juraij berkata: "Jangan, kembalikan sajalah dari tanah -
batu merah -sebagaimana dahulunya." Mereka terus mengerjakan
pembangunannya kembali.
179
Ketiga dari anak
yang dapat berbicara ialah - pada suatu ketika ada seorang anak bayi sedang
menyusu pada ibunya. Kemudian berlalulah seorang lelaki mengendarai seekor
binatang kendaraan yang indah dan serba bagus keadaan serta pakaiannya. Ibunya
lalu berkata: "Ya Allah, jadikanlah anakku ini seperti orang itu!"
Anak itu lalu melepaskan teteknya dan menghadap untuk melihat orang lelaki
tersebut, kemudian berkata: "Ya Allah, janganlah saya Engkau jadikan
seperti orang itu!" Selanjutnya anak itu kembali menghadapi teteknya dan
mulai menyusui lagi.
Saya - yang
meriwayatkan Hadis ini - seolah-olah melihat kepada Rasulullah s.a.w. di waktu
beliau menirukan cara anak itu menyusu, yaitu dengan menggunakan jari telunjuk
beliau dan beliau mengisapnya. Selanjutnya beliau s.a.w. melanjutkan sabdanya:
Seterusnya
mereka melalui seorang hamba sahaya wanita dan orang-orang sama memukulinya,
dan mereka mengucapkan: "Engkau berzina dan engkau mencuri," sedang
wanita itu berkata: "Cukuplah Allah sebagai penolongku dan Dia adalah
sebaik-baiknya Zat yang memberikan perlindungan." Ibu anak tadi lalu berkata:
"Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan anakku ini seperti wanita
itu!" Anak tersebut melepaskan teteknya lagi lalu melihat pada wanita itu
kemudian berkata: "Ya Allah, jadikanlah saya seperti wanita itu!"
Sampai di sini
kedua orang ibu dan anaknya tadi mengulangkan percakapannya. Ibunya berkata:
"Ada seorang lelaki yang indah sekali keadaannya, lalu saya berkata:
"Ya Allah, jadikanlah anakku seperti orang itu," tetapi engkau
berkata: "Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan saya seperti orang itu."
Orang-orang sama melalui seorang hamba sahaya wanita dan mereka memukulinya,
juga mengatakan: "Engkau berzina dan engkau mencuri." Saya lalu
berkata: "Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan anakku seperti wanita
itu," tetapi engkau berkata: "Ya Allah, jadikanlah saya seperti wanita
itu." Apakah sebabnya demikian." Anak bayi itu menjawab: "Orang
lelaki itu adalah seorang yang keras kepala - dalam kebathilan, maka itu saya
mengatakan: "Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan saya seperti orang
itu," sedangkan wanita yang orang-orang sama mengatakan padanya:
"Engkau berzina," sebenarnya ia tidak berzina dan: "Engkau
mencuri," sebenarnya ia tidak mencuri. Oleh sebab itu saya mengatakan:
"Ya Allah, jadikanlah saya seperti wanita itu." (Muttafaq 'alaih)
Tiada ulasan:
Catat Ulasan