Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab
31
Mendamaikan Antara Para Manusia
Allah Ta'ala berfirman:
"Tiada kebaikannya samasekali dalam banyaknya pembicaraan
rahasia mereka itu, melainkan orang yang memerintahkan bersedekah, menyuruh
berbuat kebaikan serta mengusahakan perdamaian antara seluruh manusia."
(an-Nisa': 114)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan berdamai itu adalah yang terbaik." Allah Ta'ala berfirman
pula:
"Maka benaqwalah engkau semua kepada Allah dan damaikanlah
antara sesamamu sendiri." (al-Anfal: 1)
Juga Allah Ta'ala berfirman:
"Hanyasanya kaum mu'minin itu adatah sebagai saudara, maka
damaikanlah antara kedua saudaramu." (al-Hujurat: 10)
249. Dari Abu Hurairah r.a., katanya:
"Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Setiap
seruas tulang dari seluruh manusia itu harus memberikan sedekahnya pada setiap
hari yang matahari terbit pada hari itu. Mendamaikan dengan cara yang adil
antara dua orang adalah sedekah, menolong seseorang pada kendaraannya lalu
mengangkatnya di tas kendaraannya itu atau mengangkatkan barang-barangnya ke
sana, itupun sedekah, ucapan yang baik juga sedekah dan setiap langkah yang
dijalaninya untuk pergi shalat juga merupakan sedekah, menyingkirkan
benda-benda yang berbahaya dari jalan termasuk sedekah pula." (Muttafaq
'alaih)
Dari Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abu Mu'aith, katanya:
"Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Bukannya
termasuk pendusta orang yang mendamaikan antara para manusia, lalu ia
menyampatkan berita yang baik atau mengatakan sesuatu yang baik."
(Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat
Muslim disebutkan tambahannya demikian: Ummu Kultsum berkata: "Saya tidak
pernah mendengar dari Nabi s.a.w. tentang dibolehkannya berdusta daripada
ucapan-ucapan yang diucapkan oleh para manusia itu, melainkan dalam tiga hal
yaitu perihal peperangan, mendamaikan antara para manusia dan perkataan
seseorang suami kepada isterinya serta perkataan isteri kepada suaminya - yang
akan membawa kebaikan rumah-tangga dan lain-lain."
Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w.
mendengar suara pertengkaran di arah pintu, yang suara kedua orang yang
bertengkar itu terdengar keras-keras. Tiba-tiba salah seorang dari keduanya itu
meminta kepada yang lainnya agar sebagian hutangnya dihapuskan dan ia meminta
belas kasihannya, sedangkan kawannya itu berkata: "Demi Allah, permintaan
itu tidak saya lakukan - tidak dibenarkan."
175
Rasulullah s.a.w. kemudian keluar menemui keduanya lalu
bersabda: "Siapakah orang yang bersumpah atas Allah untuk tidak melakukan
kebaikan itu?" Orang itu berkata: "Saya ya Rasulullah. Tetapi
baginya- orang yang berhutang tadi - mana saja yang ia sukai - maksudnya
pemotongan sebagian hutangnya dikabulkan dengan sebab syafa'at beliau s.a.w.
itu." (Muttafaq 'alaih)
Dari Abul Abbas yaitu Sahal bin Sa'ad as-Saidi r.a. bahwasanya
Rasulullah s.a.w. menerima berita bahwa antara sesama keturunan 'Amr bin 'Auf
itu terjadi suatu hal yang tidak baik - perselisihan faham, lalu Rasulullah
s.a.w. keluar menemui mereka untuk mendamaikan antara orang-orang itu dan
beliau disertai beberapa orang sahabatnya. Rasulullah s.a.w. tertahan - ditahan
oleh orang-orang yang didatangi olehnya untuk diberi jamuan sebagai tamu,
sedangkan shalat - Ashar - sudah masuk waktunya. Bilal mendatangi Abu Bakar
r.a. lalu berkata: "Hai Abu Bakar, sesungguhnya Rasulullah tertahan,
sedangkan shalat sudah masuk waktunya. Adakah Tuan suka menjadi imamnya para
manusia?" Abu Bakar menjawab: "Baiklah, jikalau engkau menghendaki
demikian." Bilal membaca iqamah dan majulah Abu Bakar, kemudian ia
bertakbir dan orang-orangpun bertakbir pula.
Di tengah shalat itu Rasulullah s.a.w. datang berjalan di
barisan sehingga berdirilah beliau di suatu barisan. Orang-orang banyak mulai
bertepuk tangan, sedangkan Abu Bakar tidak menoleh dalam shalatnya itu. Tetapi
setelah para manusia makin banyak yang bertepuk-tepuk tangan, lalu Abu Bakar
menoleh ke belakang, tiba-tiba tampaklah olehnya Rasulullah s.a.w. Beliau
s.a.w. mengisyaratkan supaya shalat diteruskan - dan ia sebagai imamnya. Tetapi
Abu
Bakar setelah mengangkat tangannya - untuk beri'tidal lalu
bertahmid kepada Allah terus kembali ke belakang perlahan-lahan sampai berada
di belakang terus berdiri di jajaran shaf.
Rasulullah
s.a.w. lalu maju, kemudian bersembahyang sebagai imamnya para manusia. Setelah
selesai beliau s.a.w. menghadap orang-orang itu lalu bersabda: "Hai
sekalian manusia, mengapa ketika terjadi sesuatu dalam shalat, lalu engkau
semua bertepuk tangan? Hanyasanya bertepuk tangan itu untuk kaum wanita.
Barangsiapa yang terjadi sesuatu dalam shalatnya, hendaklah mengucapkan:
Subhanallah, maka sesungguhnya tiada seorangpun yang mendengar ketika dibacakan
Subhanallah itu, melainkan ia tentu akan menoleh. Hai Abu Bakar, apakah yang
menyebabkan saudara terhenti tercegah - tidak meneruskan - melakukan shalat
sebagai imamnya orang banyak, ketika saya memberikan isyarat untuk
meneruskannya itu?" Abu Bakar menjawab: "Kiranya tidak sepatutnyalah
untuk anak Abu Quhafah ini kalau bersembahyang sebagai imam di sisi Rasulullah
s.a.w. - maksudnya Rasulullah sebagai makmumnya." (Muttafaq 'alaih)
Tiada ulasan:
Catat Ulasan