Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab
14
Berlaku Sedang Dalam Beribadat
Allah Ta'ala berfirman:
"Tidaklah Kami turunkan al-Quran itu padamu - hai Muhammad
agar engkau mendapat celaka." (Thaha: 1-2)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Allah menghendaki kemudahan padamu semua dan tidak
menghendaki kesukaran untukmu semua." (al-Baqarah: 185)
Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Nabi s.a.w. memasuki
rumahnya dan di sisi Aisyah itu ada seorang wanita. Beliau s.a.w. bertanya:
"Siapakah ini?" Aisyah menjawab: "Ini adalah si Anu." Aisyah
menyebutkan perihal shalatnya wanita tadi - yang sangat luar biasa tekunnya.
Beliau s.a.w.
bersabda: "Jangan demikian, hendaklah engkau semua berbuat sesuai dengan
kekuatanmu semua saja. Sebab demi Allah, Allah itu tidak bosan - memberi pahala
- sehingga engkau semua bosan - melaksanakan amalan itu. Adalah cara melakukan
agama yang paling dicintai oleh Allah itu ialah apa-apa yang dikekalkan
melakukannya oleh orangnya itu - yakni tidak perlu banyak-banyak asalkan
langsung terus." (Muttafaq 'alaih)
Mah adalah kata untuk melarang dan mencegah. Maknanya La yamallullahu, ialah Allah tidak bosan, maksudnya bahwa
Allah tidak akan memutuskan pahalanya padamu semua atau balasan pada
amalan-amalanmu itu ataupun memperlakukan engkau semua sebagai perlakuan orang
yang sudah bosan. Hatta tamallu
artinya sehingga engkau semua yang bosan lebih dulu, lalu amalan itu
ditinggalkan.
Oleh sebab itu
seyogyanya engkau semua mengambil amalan itu sekuat tenagamu saja yang
sekiranya akan tetap langsung dan kekal melakukannya agar supaya pahalanya
serta keutamaannya tetap atas dirimu semua.
Dari Anas r.a., katanya: Ada tiga macam orang datang ke rumah
isteri-isteri Nabi s.a.w. menanyakan tentang hal bagaimana ibadahnya Nabi
s.a.w. Kemudian setelah mereka diberitahu lalu seolah-olah mereka menganggap
amat sedikit saja ibadah beliau. s.a.w. itu. Mereka lalu berkata: "Ah, di
manakah kita ini - maksudnya: Kita ini jauh perbedaannya kalau dibandingkan -
dari Nabi s.a.w. sedangkan beliau itu telah diampuni segala dosanya yang lampau
dan yang kemudian."
Seorang dari
mereka itu berkata: "Adapun saya ini, maka saya bersembahyang semalam
suntuk selama-lamanya." Yang lainnya berkata: "Adapun saya, maka saya
berpuasa sepanjang tahun dan tidak pernah saya berbuka." Yang seorang lagi
berkata: "Adapun saya, maka saya menjauhi para wanita, maka sayapun tidak
akan kawin selama-lamanya."
Rasulullah
s.a.w. kemudian mendatangi mereka lalu bersabda: "Engkau semuakah yang
mengatakan demikian, demikian? Wahai, demi Allah, sesungguhnya saya ini adalah
orang yang tertaqwa di antara engkau semua kepada Allah dan tertakut kepadaNya,
tetapi saya juga berpuasa dan juga berbuka, sayapun bersembahyang tetapi juga
tidur, juga saya
115
suka kawin dengan para wanita. Maka
barangsiapa yang enggan pada cara perjalananku, maka ia bukanlah termasuk dalam
golonganku." (Muttafaq 'alaih)
Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Binasalah orang-orang yang memperdalam-dalamkan." Beliau s.a.w.
menyabdakan ini sampai tiga kali banyaknya." (Riwayat Muslim)
Almutanathtbi'un yaitu orang-orang yang
memperdalam-dalamkan serta memperkeraskan
sesuatu yang bukan pada tempatnya.
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Agama
itu mudah, tidaklah agama itu diperkeraskan oleh seseorang melainkan agama itu
akan mengalahkannya - yakni orang yang memperkeras-keraskan itu sendiri yang
nantinya akan merasa tidak kuat meneruskannya. Maka dari itu, bersikap luruslah
engkau semua, lakukanlah yang sederhanasaja-jikalau tidak kuasa melakukan yang
sesempurna-sempurnanya, bergembiralah
untuk
memperoleh pahala, sekalipun sedikit, juga mohonlah pertolongan dalam melakukan
sesuatu amalan itu, baikdi waktu pergi pagi-pagi, sore-sore ataupun sebagian
waktu malam." (Riwayat Bukhari)
Dalam riwayat
Imam Bukhari lainnya disebutkan: "Berlaku luruslah, lakukanlah yang
sederhana, pergilah di waktu pagi, juga di waktu sore serta sebagian di waktu
malam.
Berbuatlah sederhana,tentu engkau semua
akan sampai pula – pada tujuannya."
Addin
itu dirafa'kan
karena merupakan maf'ulnya fi'il yang tidak disebutkan fa'ilnya.
Ada pula yang mengatakan bahwa itu harus dinashabkan.
Ada yang
meriwayatkan dengan lafaz Lan yusyaddad
dina ahadun, artinya tidak seorangpun yang hendak memperkeraskan agama
tersebut.
Sabda Rasulullah
s.a.w. Illa ghalalabahu, artinya
melainkan agama itu mengalahkannya, yakni bahwa agama tadi mengalahkan orang
itu dan dengan sendirinya orang yang memperkeras-keraskan sendiri itu akhirnya
akan lemah untuk menghadapi agama tersebut, sebab banyak jalan yang perlu
ditempuhnya.
Ghadwah ialah bepergian pada pagi hari dan Rawhah pada sore hari, sedang
Adduljah ialah pada akhir malam. Ini semua adalah sebagai kata kiasan atau
perumpamaan. Maksudnya ialah: Hendaklah engkau semua memohonkan pertolongan
untuk melakukan ketaatan kepada Allah 'Azzawajalla itu dengan melakukan
berbagai amalan di waktu engkau semua dalam keadaan bersemangat, serta hati
dalam keadaan lapang, sehingga dengan demikian engkau semua akan merasa lezat
melakukan ibadah tadi dan tidak akan merasa bosan, juga dengan itu apa yang
dimaksudkan sudah pula tercapai. Ini adalah sebagaimana seseorang yang pandai
bepergian, ia tentu berangkat dalam keadaan semacam di atas itu dan ia
beristirahat, baik dirinya maupun kendaraannya dalam waktu sudah lelah ataupun
hati kurang enak. Dengan demikian dapat pula ia mencapai tujuannya tanpa
kelelahan samasekali. Wallahu a'lam.
146. Dari Anas
r.a., katanya: "Nabi s.a.w. masuk
ke dalam masjid, tiba-tiba tampak
di situ ada seutas tali yang memanjang
antara dua tiang. 12 Beliau s.a.w.
bertanya: "Tali
Dua tiang yang dimaksudkan di sini
ialah dari beberapa tiang yang ada di masjid. Tujuan utama dalam Hadis ini
ialah anjuran yang penting sekali untuk diperhatikan, yakni hendaknya kita
melaksanakan agama Islam ini
116
apakah
ini?" Orang-orang menjawab: "Ini adalah kepunyaan Zainab, jikalau ia
sudah malas - lelah bersembahyang, ia menggantung di situ." Nabi s.a.w.
lalu bersabda: "Lepaskan sajalah. Baiklah seseorang itu melakukan shalat
di waktu ia sedang bersemangat, maka jikalau ia telah merasa malas, baiklah ia
tidur saja." (Muttafaq 'alaih)
147. Dari Aisyah radhiallahu 'anha
bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Jikalau
seseorang dari engkau semua mengantuk dan ia sedang bersembahyang, maka baiklah
ia tidur dulu, sehingga hilanglah kantuk tidurnya. Sebab sesungguhnya seseorang
dari engkau semua itu jikalau bersembahyang sedang ia mengantuk, maka ia tidak
tahu, barangkali ia memulai memohonkan pengampunan - kepada Allah, tetapi ia
lalu mencaci maki dirinya sendiri." (Muttafaq 'alaih)
Dari Abu Abdillah, yaitu Jabir bin Samurah radhiallahu 'anhuma,
katanya: "Saya pernah bersembahyang dengan Nabi s.a.w. beberapa shalatan,
maka keadaan shalat beliau s.a.w. itu adalah sedang dan khutbahnyapun sedang
pula." (Riwayat Muslim)
Ucapan qashdan maksudnya antara panjang dan pendek, yakni sederhana
Dari Abu Juhaifah yaitu Wahab bin Abdullah r.a., katanya:
"Nabi s.a.w. mempersaudarakan antara Salman dan Abuddarda' -maksudnya
keduanya disuruh berjanji untuk berlaku sebagai saudara." Salman pada
suatu ketika berziarah ke Abuddarda', ia melihat Ummud Darda' - isteri
Abuddarda' - mengenakan pakaian yang serba kusut - yakni tidak berhias samasekali,
Salman bertanya padanya: "Mengapa saudari berkeadaan sedemikian ini?"
Wanita itu menjawab: "Saudaramu yaitu Abuddarda' itu sudah tidak ada
hajatnya lagi pada keduniaan - maksudnya: Sudah meninggalkan keduniaan, baik
terhadap wanita atau lain-lain."
Dalam riwayat
Addaraquthni lafaz Fiddunyaa, diganti
dengan lafaz Fi nisaid dunyaa,
artinya tidak ada hajatnya lagi pada kaum wanita di dunia ini. Sementara itu
dalam riwayat Ibnu Khuzaimah ditambah pula dengan kata-kata Yashuumun nahaar wa yaquumullail,
artinya: Ia berpuasa pada siang harinya dan terus bersembah - yang pada malam
harinya."
Abuddarda' lalu
datang, kemudian ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abuddarda'
berkata kepada Salman:
"Makanlah,
karena saya berpuasa." Salman menjawab: "Saya tidak akan suka makan,
sehingga engkaupun suka pula makan."
Abuddarda' lalu makan.
Setelah malam
tiba, Abuddarda' mulai bangun. Salman berkata kepadanya: "Tidurlah!"
Ia tidur lagi. Tidak lama kemudian bangun lagi dan Salman berkata pula:
"Tidurlah!" Kemudian setelah tiba Akhir malam, Salman lalu berkata
pada Abuddarda': "Bangunlah sekarang!" Keduanya terus bersembahyang.
Selanjutnya Salman lalu berkata: "Sesungguhnya untuk Tuhanmu itu ada hak
atas dirimu, untuk dirimu sendiri juga ada hak atasmu, untuk keluargamupun ada
hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang berhak itu akan haknya
masing-masing."
jangan
melampaui batas, khususnya dalam peribadatan, seperti shalat, puasa dan
lain-lain yang termasuk sunnah hukumnya. Jadi kita dilarang mempersangatkan
diri sendiri, sehingga membuat kita lelah dan akhirnya malas. Juga terdapat
suatu anjuran lain, yakni hendaklah dalam mengerjakannya itu dengan penuh
semangat dan bukan seenaknya saja.
117
Abuddarda' -
paginya - mendatangi Nabi s.a.w. kemudian menyebutkan peristiwa semalam itu,
lalu Nabi s.a.w. bersabda:
"Salman benar ucapannya."
(Riwayat Bukhari)
Keterangan:
Dengan
berdasarkan Hadis di atas, maka syariat Agama Islam memerintahkan kepada kaum
Musiimin agar antara seorang dengan yang lainnya bersikap sebagaimana
orang-orang yang bersaudara dan semata-mata bukan karena ini atau itu, tetapi
hanya untuk mengharapkan keridhaan Tuhan, juga memerintahkan agar saling
kunjung-mengunjungi karena Allah, demikian pula bermalam di rumah saudara
seagamanya karena Allah pula.
Di samping itu
syariat membolehkan seseorang lelaki bercakap-cakap dengan wanita lain yang
bukan mahramnya yakni ajnabiyah, bilamana betul-betul ada keperluan yang
penting untuk berbuat sedemikian itu.
Selain itu dalam
Hadis itu pula terdapat anjuran yang sungguh-sungguh agar antara seorang muslim
dengan muslim lainnya, hendaknya gemar nasihat-menasihati dengan cara yang
baik, mengingatkan siapa yang lupa dan lalai melaksanakan perintah Allah dan
ada pula anjuran untuk gemar mengerjakan shalat malam (shalatuilail) dan
lain-lain lagi.
Dari Abu Muhammad, yaitu Abdullah bin al-'Ash radhiallahu
'anhuma, katanya: "Nabi s.a.w. diberitahu bahwasanya saya berkata: Demi
Allah, niscayalah saya akan berpuasa pada pagi hari dan berdiri bersembahyang
di waktu malam - maksudnya setiap hari, siangnya berpuasa dan malamnya
bersembahyang sunnah, selama hidupku." Rasulullah
s.a.w. lalu
bersabda: "Apakah engkau yang berkata sedemikian itu?" Saya menjawab
kepadanya:
"Sungguh
saya berkata demikian itu, bi-abi anta wa
ummi, ya Rasulullah." Beliau.bersabda: "Sesungguhnya engkau tidak
kuat melaksanakan itu, maka dari itu berpuasalah, berbukalah, tidurlah dan juga
berdirilah - bersembahyang malam. Dalam sebulan itu berpuasalah tiga hari,
sebab sesungguhnya kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Jadi tiga
hari sebulan itu sama dengan berpuasa setahun penuh." Saya berkata:
"Saya masih kuat beramal yang lebih utama dari itu." Beliau s.a.w,
bersabda: "Kalau begitu berpuasalah sehari dan berbukalah dua hari."
Saya berkata lagi: "Saya masih kuat beramal yang lebih utama dari
itu." Beliau s.a.w. bersabda: "Kalau begitu berpuasalah sehari dan
berbukalah sehari pula. Yang sedemikian itu adalah puasanya Nabi Dawud a.s. dan
inilah sesedang-sedangnya berpuasa." Dalam riwayat lain disebutkan:
"Yang sedemikian itu adalah seutama-utamanya berpuasa." Saya berkata
pula: "Saya masih kuat beramal yang lebih utama dari itu." Rasulullah
s.a.w. lalu bersabda: "Tidak ada yang lebih utama daripada puasa - seperti
Nabi Dawud a.s. itu." Sebenamya andaikata saya menerima saja tiga hari
yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. -pertama kali - itu adalah lebih
kucintai daripada seluruh keluarga dan hartaku."
Dalam riwayat lain disebutkan demikian:
Nabi s.a.w.
bersabda: "Bukankah saya telah diberitahu bahwasanya engkau berpuasa pada
siang hari dan bersembahyang sunnah setiap malamnya?" Saya menjawab:
"Benar, ya Rasulullah." Beliau lalu bersabda: "Jangan
mengerjakan seperti itu. Berpuasalah dan berbukalah, tidurlah dan bangunlah,
karena sesungguhnya untuk tubuhmu itu ada hak atas dirimu, kedua matamu pun ada
haknya atas dirimu, isterimu juga ada hak atasmu, untuk tamumu pun ada hak
atasmu. Sebenamya sudah cukuplah jikalau untuk setiap bulan itu engkau berpuasa
sebanyak tiga hari saja, sebab sesungguhnya setiap kebaikan itu diberi
118
pahala
dengan sepuluh kali lipatnya. Jadi berpuasa tiga hari setiap bulan itu sama
halnya dengan berpuasa setahun penuh." Saya - maksudnya Abdullah bin 'Amr
bin al-'Ash - mengeras-ngeraskan sendiri lalu diperkeraskanlah atas diriku.
Saya berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya saya masih mempunyai kekuatan
untuk lebih dari itu." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Kalau begitu
berpuasalah seperti puasanya Nabiullah Dawud dan jangan engkau tambahkan lagi
dari itu - yakni sehari berpuasa dan sehari berbuka." Saya bertanya:
"Bagaimanakah berpuasanya Dawud a.s.?" Beliau s.a.w. bersabda:
"Ia berpuasa setengah tahun."
Abdullah, setelah tuanya berkata: "Alangkah baiknya
jikalau dahulu saya terima saja keringanan yang diberikan oleh Rasulullah
s.a.w." Dalam riwayat lain lagi disebutkan:
Nabi s.a.w.
bersabda: "Bukankah saya telah diberitahu bahwasanya engkau berpuasa
setahun penuh dan mengkhatamkan bacaan al-Quran sekali setiap malam?" Saya
menjawab: "Benar demikian ya Rasulullah dan saya tidak menghendaki dengan
amalan yang sedemikian itu melainkan mengharapkan kebaikan belaka." Beliau
s.a.w. lalu bersabda: "Berpuasalah seperti puasanya Nabiullah Dawud a.s.,
sebab sesungguhnya ia adalah setaat-taat manusia perihal ibadatnya. Selain itu
khatamkanlah bacaan al-Quran itu sekali dalam setiap bulan." Saya berkata:
"Ya Nabiullah, saya masih kuat beramal yang lebih utama dari itu."
Beliau s.a.w. bersabda: "Kalau begitu khatamkanlah itu sekali setiap dua
puluh hari." Saya berkata: "Ya Nabiullah, sebenarnya saya masih kuat
yang lebih utama dari itu." Beliau s.a.w. bersabda: "Kalau begitu
khatamkanlah itu sekali dalam setiap sepuluh hari." Saya berkata: "Ya
Nabiullah,saya masih kuat beramal yang lebih utama dari itu." Beliau
s.a.w. bersabda: "Kalau begitu, khatamkan sajalah al-Quran itu sekali
dalam seminggu dan jangan ditambah lagi - beratnya amalan tadi - lebih dari
itu." jadi saya memperberatkan diri sendiri lalu diperberatkanlah amalan
itu atas diriku. Nabi pada saat itu bersabda: "Sesungguhnya engkau tidak
tahu, barangkali engkau akan diberi usia yang panjang." Maka jadilah saya
sampai pada usia tua sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi s.a.w. Setelah saya
berusia tua, saya ingin sekali kalau dahulunya saya menerima saja keringanan
yang diberikan oleh Nabiullah s.a.w.
Dalam riwayat lain disebutkan: "Sesungguhnya untuk anakmu
pun ada hak atas dirimu."
Juga dalam riwayat lain disebutkan: "Tidak dibenarkanlah
seseorang yang berpuasa terus sepanjang tahun." Ini disabdakan oleh beliau
s.a.w. sampai tiga kali.
Selain itu dalam riwayat lain disebutkan demikian: "Puasa
yang amat tercinta di sisi Allah adalah puasanya Nabi Dawud, sedang shalat yang
amat tercinta di sisi Allah juga shalatnya Nabi Dawud. Ia tidur separuh malam,
lalu bangun - untuk bersembahyang malam
sepertiga malam, kemudian tidur lagi seperenam malam. Ia
berpuasa sehari dan berbuka sehari. Ia tidak akan lari jikalau menemui -
berhadapan dengan musuhnya.
Ada pula riwayat lain yang menyebutkan demikian: "Ia
berkata: Ayahku mengawinkan saya dengan seorang wanita yang memiliki keturunan
baik. Ayah membuat janji dengan menantunya - wanita itu - yakni isteri anaknya,
untuk menanyakan pada wanita perihal keadaan suaminya. Setelah ditanya,
isterinya itu berkata: Sebaik-baik lelaki ialah suamiku itu, ia tidak pernah
menginjak hamparan kita dan tidak pernah memeriksa tabir kita
maksudnya tidak pernah berkumpul untuk menyetubuhi isterinya -
sejak kita datang padanya."
Setelah peristiwa itu berjalan lama, maka ayahnya
memberitahukan hal tersebut kepada Nabi s.a.w., lalu beliau bersabda kepada
ayahnya: "Pertemukanlah saya dengan lelaki itu."
119
Saya menemui
Nabi s.a.w. sesudah diadukan oleh ayahku itu, beliau s.a.w. bertanya:
"Bagaimanakah caranya engkau berpuasa?" Saya menjawab: "Saya
berpuasa tiap hari." Beliau s.a.w. bertanya: "Bagaimanakah caranya
engkau mengkhatamkan al-Quran?" Saya menjawab: "Setiap malam saya
khatamkan sekali." Seterusnya orang itu menyebutkan sebagaimana ceritera
yang sebelumnya. Ia menghabiskan sebagian bacaan al-Quran itu atas isterinya
sebanyak sepertujuh bagian, yang dibacanya itu dirampungkannya di waktu siang
agar lebih ringan untuk apa yang akan dibacanya di waktu malamnya. Jikalau ia
hendak memperkuatkan dirinya, ia berbuka selama beberapa hari dan dihitunglah
jumlah hari berbukanya itu kemudian berpuasa sebanyak hari di atas itu pula.
Sebabnya ia melakukan demikian, karena ia tidak senang kalau meninggalkan
sesuatu sejak ia berpisah dengan Nabi s.a.w.
Semua riwayat di atas adalah shahih,
sebagian besar dari shahih Bukhari dan shahih
Muslim dan hanya sedikit saja yang tertera dalam salah satu
kedua kitab shahih itu - yakni
Bukhari dan Muslim saja.
Dari
Abu Rib'i yaitu Hanzhalah bin Arrabi' al-Usayyidi al-Katib, salah seorang
diantara jurutulisnya Rasulullah s.a.w..katanya: "Abu Bakar bertemu
denganku, lalu ia berkata: Bagaimanakah keadaanmu hai Hanzhalah." Saya
menjawab: "Hanzhalah takut pada dirinya sendiri kalau sampai menjadi
seorang munafik." Abu Bakar berkata lagi: "Subhanallah - sebagai
tanda keheranan, apakah yang kau ucapkan itu?" Saya menjawab: "Semula
kita berada di sisi Rasulullah s.a.w. Beliau mengingat-ingatkan kepada kita
perihal syurga dan neraka, seolah-olah keduanya itu benar-benar dapat
dilihat-tampak di mata. Tetapi setelah kita keluar dari sisi Rasulullah s.a.w.,
kita masih juga bermain-main dengan isteri-isteri, anak-anak dan mengurus
berbagai harta - untuk kehidupan kita di dunia ini, sehingga dengan demikian,
banyak yang kita lupakan - tentang hal syurga dan neraka tadi." Abu Bakar
lalu berkata: "Demi Allah, sesungguhnya kami sendiripun pernah mengalami
seperti yang kau alami itu." Selanjutnya saya dan Abu Bakar berangkat
bersama sampai masuk ke tempat Rasulullah s.a.w. lalu saya berkata:
"Hanzhalah takut pada dirinya sendiri kalau sampai menjadi seorang
munafik, ya Rasulullah." Rasulullah s.a.w. lalu bertanya: "Mengapa
demikian?" Saya menjawab: "Ya Rasulullah kita semula ada di sisi Tuan
dan Tuan mengingat-ingatkan kepada kita perihal neraka dan syurga seolah-olah
keduanya itu dapat dilihat oleh mata. Tetapi setelah kita keluar dari sisi
Tuan, kitapun masih juga bermain-main dengan isteri-isteri, anak-anak serta
mengurus pula berbagai harta, sehingga karena itu, banyak yang kita lupakan
tentang keduanya tadi." Setelah itu Rasulullah s.a.w. bersabda: "Demi
Zat yang jiwaku ada didalam genggaman kekuasaanNya, jikalau engkau semua tetap
sebagaimana hal keadaanmu di sisiku dan juga senantiasa berzikir - ingat kepada
Allah, niscayalah malaikat-malaikat itu menjabat tanganmu semua, baik ketika
engkau ada di hamparanmu - sedang tidur, juga ketika ada di jalananmu - sedang
berjalan-jalan. Tetapi, hai Hanzhalah, sesaat dan sesaat - maksudnya sesaat
untuk melakukan peribadatan kepada Allah dan sesaat lagi untuk mengurus segala
sesuatu yang diperlukan oleh manusia dalam kehidupannya, mencari sandang pangan
dan lain-lain." Ini disabdakan beliau s.a.w. tiga kali. (Riwayat Muslim)
Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Pada suatu
ketika Nabi s.a.w. berkhutbah, tiba-tiba ada seorang lelaki yang berdiri lalu
beliau bertanya kepadanya - tentang nama dan perlunya berdiri.
"Orang-orang - para sahabat - sama berkata: "Dia adalah Abu Israil
bernazar hendak berdiri di terik matahari, tidak akan duduk-duduk, tidak akan
bernaung, tidak akan berbicara dan tetap akan berpuasa." Nabi s.a.w. lalu
bersabda:
120
"Perintahkan padanya, supaya ia
suka berbicara, bernaung, duduk-duduk dan juga supaya ia meneruskan
puasanya." (Riwayat Bukhari)
Tiada ulasan:
Catat Ulasan