Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab
13
Menerangkan Banyaknya Jalan-jalan
Kebaikan
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan apa saja yang engkau semua lakukan dari kebaikan,
maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya." (al-Baqarah:
215)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan apa
saja yang engkau semua lakukan dari
kebaikan, pasti Allah Maha Mengetahuinya." (al-Baqarah: 197)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat
timbangan debu, maka Ia akan mengetahuinya - di akhirat nanti memperoleh
balasannya." (az-Zalzalah: 7)
Juga Allah Ta'ala berfirman:
"Barangsiapa yang melakukan amal shalih, maka perbuatannya
Itu akan menguntungkan dirinya sendiri." (al-Jatsiyah:
15)
Ayat-ayat yang berhubungan dengan bab
ini amat banyak sekali.
Adapun
Hadis-hadis yang menguraikan bab ini juga amat banyak sekali dan tidak dapat
diringkaskan keseluruhannya. Maka itu akan kami sebutkan sebagian daripada
Hadis-hadis tersebut:
Pertama: Dari Abu Zar, yaitu Jundub bin Junadah r.a., katanya:
"Saya berkata: Ya Rasulullah, amalan manakah yang lebih utama - banyak
fadhilahnya?" Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu beriman kepada Allah dan
berjihad untuk membela agamaNya." Saya bertanya lagi: "Hambasahaya
manakah yang lebih utama?" Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu yang
dipandang terindah bagi pemiliknya serta yang termahal harganya."
Saya bertanya
pula: "Jikalau saya tidak dapat mengerjakan itu -yakni berjihad
fi-sabilillah ataupun memerdekakan hambasahaya yang mahal harganya, maka apakah
yang dapat saya lakukan?" Beliau s.a.w. bersabda: "Berilah
pertolongan kepada seseorang pekerja - shani'
- atau engkau mengerjakan sesuatu kepada seseorang yang kurang pandai
bekerja - akhraq." Saya berkata
pula: "Ya Rasulullah, bukankah Tuan telah mengetahui, jikalau saya ini lemah sekali dalam sebagian
pekerjaan?" Beliau s.a.w. bersabda:
"Tahanlah
keburukanmu, jangan sampai mengenai orang banyak, amalan sedemikian itupun merupakan
sedekah daripadamu untuk dirimu sendiri - yakni tidak mengganggu orang
lain." (Muttafaq 'alaih)
Lafaz Shani' - yang artinya pekerja - dengan
menggunakan shad muhmalah, itulah yang masyhur. Tetapi ada riwayat lain yang
menyebutkan bahwa kalimat itu berbunyi dha-i',
yakni dengan mu'jamah - dhad, maka artinya ini ralah orang yang mempunyai
banyak apa-apa yang hilang, misalnya karena kefakirannya ataupun karena
kekurangan keluarga-keluarganya dan lain-lain lagi. Adapun akhraq itu artinya ialah orang yang tidak dapat memperbaguskan
apa-apa yang sedang diusahakan untuk mengerjakannya.
106
118. Kedua: Dari Abu Zar r.a. juga
bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Setiap
ruas tulang dari seseorang di antara engkau semua itu setiap paginya hendaklah
memberikan sedekahnya, maka tiap setasbihan - bacaan Subhanallah - adalah sedekah, tiap setahmidan -bacaan Alhamdulillah - adalah sedekah, tiap
setahlilan bacaan La ilaha illallah - adalah sedekah, tiap
setakbiran - bacaan AllahuAkbar - adalah
sedekah, memerintah pada kebaikan
adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah dan yang sedemikian itu
dapat dicukupi - diimbangi pahalanya - oleh dua rakaat yang seseorang itu
bersembahyang dengannya di waktu dhuha - antara sedikit setelah terbitnya
matahari sampai matahari di tengah-tengah atau istiwa'." (Riwayat Muslim)
Ketiga: Dari Abu Zar juga, katanya: "Nabi s.a.w. bersabda:
"Ditunjukkanlah padaku amalan-amalan ummatku, yang baik dan yang buruk.
Maka saya mengetahuinya dalam golongan amalan-amalan yang baik adalah
menyingkirkan sesuatu yang berbahaya dari jalan, sedang dari golongan
amalan-amalan yang buruk ialah dahak yang dilakukan di dalam masjid dan tidak
ditanam."(Riwayat Muslim)
Keempat: Dari Abu Zar pula, bahwasanya orang-orang sama
berkata: "Ya Rasulullah, orang-orang yang kaya raya sama pergi dengan
membawa pahala yang banyak - karena banyak pula amalannya. Mereka itu
bersembahyang sebagaimana kita juga bersembahyang, mereka berpuasa sebagaimana kita
juga berpuasa, tambahan lagi mereka dapat bersedekah dengan kelebihan
harta-harta mereka. Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Bukankah
Allah telah menjadikan untukmu semua sesuatu yang dapat engkau semua
gunakansebagai sedekah. Sesungguhnya datam setiap tasbih adalah merupakan
sedekah, setiap takbir merupakan sedekah, setiap tahmid merupakan sedekah,
setiap tahlil merupakan sedekah, memerintahkan kebaikan juga sedekah, melarang
kemungkaran itupun sedekah pula dan bahkan dalam bersetubuhnya seseorang dari
engkau semua itupun sedekah."
Para sahabat
berkata: "Ya Rasulullah apakah seseorang dari kita yang mendatangi
syahwatnya itu juga memperoleh pahala?" Beliau s.a.w. bersabda:
"Adakah
engkau semua mengerti, bagaimana jikalau syahwat itu diletakkannya dalam
sesuatu yang haram, adakah orang itu memperoleh dosa? Maka demikian itu pulalah
jikalau ia meletakkan syahwatnya itu dalam hal yang dihalalkan, iapun
memperoleh pahala." (Riwayat Muslim)
Ad-dutsuur, dengan tsa' yang bertitik tiga buah,
artinya harta benda yang melimpah ruah,
mufradnya berbunyi Ditsrun.
Keterangan:
Yang menghadap
Nabi s.a.w. ini adalah dari golongan kaum Muhajirin (orang-orangyangsama
berpindah mengikuti Nabi s.a.w. dari Makkah ke Madinah) yang fakir-fakir. Jadi
pokoknya mereka mengadu karena merasa kurang pahalanya kalau dibanding dengan
orang-orang yang kaya-kaya itu, sebab merasa tidak dapat bersedekah karena
miskinnya.
Setashbih, yakni
sekali membaca tasbih (Subhanallah). Takbir yaitu membaca Allahu Akbar. Tahmid
yakni bacaan Alhamdulillah dan Tahlil yaitu La ilaha illallah.
Dalam kemaluan
isteripun ada sedekahnya yakni bersetubuh itupun ada pahalanya seperti pahala
sedekah.
Menyampaikan syahwat dalam keharaman
yakni melacur atau berzina.
107
121. Kelima: Dari Abu Zar lagi,
katanya: "Nabi s.a.w. bersabda kepadaku:
"Janganlah
engkau menghinakan sesuatu kebaikan sedikitpun, sekalipun hanya dengan jalan
engkau menemui saudaramu dengan wajah yang berseri-seri." (Riwayat Muslim)
122. Keenam: Dari Abu Hurairah r.a.,
katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Setiap ruas tulang dari para manusia itu harus memberikan
sedekah setiap harinya yang di situ terbitlah matahari. Berlaku adil antara dua
orang itupun sedekah, ucapan yang baik itupun sedekah, dengan setiap langkah
yang dijalaninya untuk pergi shalat juga sedekah, melemparkan apa-apa yang
berbahaya dari jalan itu juga sedekah." (Muttafaq 'alaih)
Imam Muslim meriwayatkan juga dari
riwayat Aisyah radhiallahu 'anha, katanya:
"Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Bahwasanya setiap manusia dari Bani Adam itu dijadikan
atas tigaratus enampuluh ruas tulang. Maka barangsiapa yang bertakbir kepada
Allah, bertahmid kepada Allah, bertahlil kepada Allah, bertasbih kepada Allah,
mohon pengampunan kepada Allah, suka melemparkan batu dari jalan para manusia,
ataupun duri ataupun tulang dari jalan orang banyak, atau memerintahkan
kebaikan atau melarang kemungkaran, sebanyak tigaratus enampuluh kali
banyaknya, maka sesungguhnya orang itu bersore-sore pada hari itu dan ia telah
menjauhkan dirinya dari neraka."
Keterangan:
Berlaku adil yang dimaksudkan dalam Hadis ini seperti waktu
memberi pulusan pada dua orang yang sedang berselisih adalah sebesar-besar
pahala dalam arti sedekah ini. Ingatlah firman Allah:
"Tidak ada
kebaikan sama sekali di dalam bisik-bisik mereka itu. Kecuali orang yang
menyuruh bersedekah dan kebaikan atau yang mendamaikan antara para manusia. Dan
barangsiapa yang suka melakukan sedemikian itu untuk mencari keridhaan Allah, maka padanya oleh Allah diberi pahala yang besar
sekali."
Perkataan yang baik itu seperti memberi nasihat, menunjukkan
orang yang tersesat jalan dan lain-lain.
Menghindarkan bahaya dari jalan misalnya bahaya itu ialah batu,
pecahan kaca, paku dan lain-lain agar tidak mengenai kaki orang yang
melaluinya.
123. Ketujuh: Dari Abu Hurairah r.a.
dari Nabi s.a.w.,sabdanya:
"Barangsiapa yang pergi ke masjid pagi atau sore hari,
maka Allah menyediakan untuknyasebuah jaminan - nuzul - dalam syurga setiap ia
pergi, pagi atau sore hari itu." (Muttafaq 'alaih)
Nuzul, maksudnya
jaminan yang berupa makanan atau rezeki dan apa saja yang dapat disediakan untuk tamu.
124. Kedelapan: Dari Abu Hurairah r.a.
katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Hai kaum muslimat - wanita Islam, janganlah seseorang
tetangga itu menghinakan tetangganya,sekalipun yang diberikan oleh tetangganya
itu hanya berupa kaki kambing." (Muttafaq 'alaih)
108
Imam al-Jauhari
berkata: Al-Firsin, artinya kaki
binatang umumnya dipergunakan untuk kaki unta, sebagaimana halnya lafaz At-Hafir dipergunakan untuk menerangkan
kaki ternak yang lain-lain. Tetapi adakalanya Al-Firsin itu digunakan sebagai
kata isti'arah (pinjaman) untuk menerangkan kaki kambing.
Keterangan:
Hadis ke-24 itu mengandung dua macam
pengertian yaitu:
Pertama: Orang
yang diberi jangan sekali-kali menghinakan tetangganya yang
memberikan
sesuatu kepadanya, sekalipun berupa kaki kambing. Uraian inilah yang kami
cantumkan di atas dan sesuai pula dengan penafsiran yang dapat kita periksa
dalam kitab Dalilul Falihin syarah
Riyadhus Shalihin, yang dikarang oleh
Syekh 'Alan ash-Shiddiqi asy-Syafi'i al-Makki yang wafat pada tahun 1057
Hijriyah-Rahimahullahu Ta'ala rahmatan wasi'ah - yakni dalam jilid kedua
halaman 128, diterbitkan oleh "Darul Kitabil 'Arabi", Beirut Libanon.
Jadi yang diberi
hendaknya bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada pemberinya, meskipun
apa yang diberikan itu baginya tidak berarti.
Sebabnya orang
yang diberi itu dilarang menghinakan pemberian orang lain, sekalipun sedikit
nilainya, karena pada umumnya orang yang enggan berterima kasih pada pemberian
sedikit, ia enggan pula berterima kasih pada pemberian yang banyak.
Dalam sebuah Hadis lain di sebutkan:
"Tidak
bersyukur kepada Allah orang yang enggan bersyukur kepada sesama manusia."
Kedua: Dapat pula diberi penafsiran bahwa orang yang mem-beri itu
jangan sekali-kali menghinakan
kecilnya pahala yang akan diperolehnya dengan jalan memberikan sedekah atau
hadiah yang disampaikan kepada tetangganya, meskipun hanya berupa kaki kambing.
Ini sebagai sindiran karena yang diberikan itu amat sedikitnya, kurang berharga
atau tidak berarti.
Jadi memberi itu
sekalipun sedikit adalah lebih baik daripada tidak memberi samasekali. Dalam
persoalan pahalanya, Allah Ta'ala berfirman:
"Barangsiapa yang melakukan kebaikan - meskipun - itu
seberat debu (biji sawi atausemut kecil), maka ia akan mengetahuinya (yakni
mendapatkan pahalanya)."
Penjelasan ini
sesuai dengan catatan yang ditulis oleh Al-Ustadz Ridhwan Muhammad Ridhwan
dalam kitab Riyadhus Shalihin yang
drterbitkan oleh "Darul Kitabil 'Arabi", Beirut Libanon.
Kedua pendapat
di atas itu sama-sama dapat dipakainya, yakni baik bagi pemberi atau yang
diberi. Yang memberi jangan menghina kecilnya pahala, sebab yang disedekahkan
atau dihadiahkan hanya sedikit sekali, sedang yang diberipun jangan menghina
orang yang memberi, sebab sedekah atau hadiah yang disampaikan kepadanya itu
hanya sedikit dan kurang berharga, yaitu kaki kambing atau lain-lain yang sifatnya
tidak bernilai tinggi atau tidak mahal harganya.
Kesembilan: Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w.,
sabdanya: "Iman itu ada tujuhpuluh lebih atau enampuluh lebih - lebihnya
ialah antara tiga sampai sembilan - cabangnya. Maka yang terutama sekali ialah
ucapan La ilaha illallah, sedang yang terendah sekali ialah melemparkan apa-apa
yang berbahaya dari jalan. Perasaan malu - berbuat keburukan - adalah salah
satu cabang dari keimanan." (Muttafaq 'alaih)
109
Kesepuluh: Dari
Abu Hurairah r.a.
lagi bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Pada suatu
ketika ada seorang lelaki berjalan di suatu jalan, ia sangat merasa haus, lalu
menemukan sebuah sumur, kemudian turun di dalamnya terus minum. Setelah itu
iapun keluarlah. Tiba-tiba ada seekor anjing mengulur-ulurkan lidahnya sambil
makan tanah karena hausnya, Orang itu berkata - dalam hati; "Niscayalah
anjing ini telah sampai pada kehausan sebagaimana yang telah sampai padaku
tadi." lapun turun lagi ke dalam sumur lalu memenuhi sepatu khufnya dengan
air, kemudian memegang sepatu itu pada mulutnya, sehingga ia keluar dari sumur
tadi, terus memberi minum pada anjing tersebut. Allah berterima kasih pada
orang tadi dan memberikan pengampunan padanya."
Para sahabat
bertanya: "Ya Rasulullah, apakah sebenarnya kita juga memperoleh pahala
dengan sebab memberi - makan minum - pada golongan binatang?" Beliau
s.a.w. menjawab:
"Dalam
setiap hati yang basah - maksudnya setiap sesuatu yang hidup yang diberi makan
minum - ada pahalanya." (Muttafaq 'alaih)
Dalam sebuah
riwayat dari Imam Bukhari disebutkan demikian: "Allah lalu berterima kasih
pada orang tersebut, kemudian memberikan pengampunan padanya, lalu
memasukkannya ke dalam syurga."
Dalam riwayat
lain dari Bukhari dan Muslim disebutkan pula: "Pada suatu ketika ada
seekor anjing berputar-putar di sekitar sebuah sumur, hampir saja ia terbunuh
oleh kehausan,tiba-tibaada seseorang pezina - perempuan - dari golongan kaum
pelacur Bani Israil melihatnya. Wanita itu lalu melepaskan sepatunya kemudian
mengambilkan air untuk anjing tadi dan meminumkan air itu padanya, maka dengan
perbuatannya itu diampunilah wanita tersebut.
Keterangan:
Hadis di atas
mengandung suatu anjuran supaya kita semua berbuat baik terhadap segala macam
binatang yang muhtaram atau yang dimuliakan. Yang dimaksudkan binatang muhtaram
ialah binatang yang menurut agama Islam tidak boleh dibunuh.
127. Kesebelas: Dari Abu Hurairah r.a.
lagi dari Nabi s.a.w. sabdanya:
"Niscayalah
saya telah melihat seseorang yang bersuka-ria dalam syurga dengan sebab
memotong sebuah pohon dari tengah jalanan yang pohon itu membuat kesusahan bagi
kaum Muslimin." (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat
Muslim yang lain disebutkan demikian: "Pada suatu ketika ada seorang
lelaki berjalan melalui sebuah cabang pohon yang melintang di tengah jalanan,
kemudian ia berkata:
"Demi
Allah, niscayalah pohon ini hendak kulenyapkan dari jalanan kaum Muslimin
supaya ia tidak membuat kesukaran pada mereka itu." Orang tersebut lalu
dimasukkan dalam syurga.
Dalam riwayat
Bukhari dan Muslim pula disebutkan demikian: "Pada suatu ketika ada
seorang lelaki yang berjalan di jalanan. Ia menemukan cabang dari sebuah pohon
berduri pada jalanan itu, kemudian cabang berduri itu disingkirkan olehnya.
Allah lalu berterima kasih kepada orang tadi dan memberikan pengampunan
kepadanya."
128. Keduabelas: Dari Abu Hurairah
r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
110
"Barangsiapa yang berwudhu' lalu memperbaguskan wudhu'nya
kemudian mendatangi shalat Jum'at, lalu mendengarkan - khutbah serta berdiam
diri - tidak bercakap-cakap sedikitpun, maka diampunilah untuk antara Jum'at
itu dengan Jum'at yang berikutnya dan ditambah pula dengan tiga hari lagi.
Barangsiapa yang memegang - mempermain-mainkan - batu kerikil - di waktu ada
khutbah - maka ia telah berbuat kesalahan." (Riwayat Muslim)
129. Ketigabelas: Dari Abu Hurairah
r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Jikalau seseorang hamba muslim ataupun mu'min berwudhu',
kemudian ia membasuh mukanya, maka keluarlah dari mukanya itu setiap kesalahan
yang dilihat olehnya dengan menggunakan kedua matanya bersama dengan air atau
bersama dengan tetesan air yang terakhir. Selanjutnya apabila ia membasuh kedua
tangannya, maka keluarlah dari kedua tangannya itu semua kesalahan yang diambil
- dilakukan - oleh kedua tangannya bersama dengan air atau bersama tetesan air
yang terakhir. Kemudian apabila ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah semua
kesalahan yang dijalani oleh kedua kakinya itu bersama dengan air atau bersama
dengan tetesan air yang terakhir, sehingga keluarlah orang tersebut dalam
keadaan bersih dari semua dosa." (Riwayat Muslim)
130. Keempatbelas: Dari Abu Hurairah
r.a.dari Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Shalat lima waktu, dari Jum'at yang satu ke Jum'at yang
benkutnya,dari Ramadhan yang satu ke Ramadhan yang berikutnya itu dapat menjadi
penghapus dosa-dosa antara jarak keduanya itu, jikalau dosa-dosa besar
dijauhi." (Riwayat Muslim)
131. Kelimabelas: Dari Abu Hurairah
r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sukakah engkau semua saya tunjukkan pada sesuatu amalan
yang dengannya itu Allah akan menghapuskan segala macam kesalahan serta
mengangkat pula dengannya tadi sampai beberapa derajat?" Para sahabat
menjawab; "Baik, ya Rasulullah." Beliau s.a.w. bersabda:
"Yaitu
menyempurnakan wudhu' sekalipun menghadapi kesukaran-kesukaran banyaknya,
melangkahkan kaki untuk pergi ke masjid serta menantikan shalat setelah selesai
shalat yang satunya. Yang sedemikian itulah yang dinamakan perjuangan."
(Riwayat Muslim)
Keterangan:
Menyempurnakan wudhu' sekalipun menghadapi kesukaran, misalnya
di saat yang udaranya dingin sekali, sehingga airnyapun menjadi sangat pula
dinginnya.
Dalam Hadis di atas dijelaskan bahwa senantiasa berthaharah
yakni tetap suci dari hadas besar dan kecil, juga shalat dan segala sesuatu
yang dilakukan ditujukan untuk niat beribadat dan berbakti kepada Tuhan, adalah
sama pahalanya dengan berjihad fi-sabilillah.
Keenambelas: Dari
Abu Musa al-Asy'ari
r.a., katanya: Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Barangsiapa
yang bersembahyang dua shalat barad - makna sebenarnya dingin, maka ia dapat
masuk syurga." (Muttafaq 'alaih)
Dua shalat barad maknanya ialah shalat
Subuh dan Asar.
111
133. Ketujuhbelas: Dari Abu Musa
al-Asy'ari pula, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Apabila
seseorang hamba itu sakit atau bepergian, maka dicatatlah untuknya pahala
ketaatan sebagaimana kalau ia mengerjakannya di waktu ia sedang berada di rumah
sendiri dan dala keadaan sihat." (Riwayat Bukhari)
134. Kedelapanbelas: Dari Jabir r.a.,
katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Setiap
perbuatan baik itu merupakan sedekah." Diriwayatkan oleh Imam Bukhari Juga
diriwayatkan oleh Imam Muslim dari riwayat Hudzaifah r.a.
135. Kesembilanbelas: Dari Jabir r.a.
pula, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tiada
seorang muslimpun yang menanam suatu tanaman, melainkan apa saja yang dapat
dimakan dari hasil tanamannya itu, maka itu adalah sebagai sedekah baginya, dan
apa saja yang tercuri daripadanya, itupun sebagai sedekah baginya. Dan tidak
pula dikurangi oleh seseorang lain, melainkan itupun sebagai sedekah
baginya." (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat
Imam Muslim yang lain disebutkan: "Maka tidaklah seseorang muslim itu
menanam sesuatu tanaman, kemudian dari hasil tanamannya itu dimakan oleh
manusia ataupun binatang, ataupun burung, kecuali semuanya itu adalah sebagai
sedekah baginya sampai hari kiamat."
Dalam riwayat
Imam Muslim yang lain lagi disebutkan: "Tidaklah seseorang muslim itu
menanam sesuatu tanaman, tidak pula ia menanam sesuatu tumbuh-tumbuhan,
kemudian dari hasil tanamannya itu dimakan oleh manusia, ataupun oleh binatang
ataupun oleh apa saja, melainkan itu adalah sebagai sedekah baginya."
Imam Bukhari dan
Imam Muslim meriwayatkan Hadis-hadis semuanya itu dari riwayat Anas r.a.
Keduapuluh: Dari Jabir r.a. lagi, katanya: "Bani Salimah -
salah satu kabilah kaum Anshar yang terkenal radhiallahu 'anhum - bermaksud hendak
berpindah tempat di dekat masjid. Berita itu sampai kepada Rasulullah s.a.w.,
kemudian beliau s.a.w. bersabda kepada Bani Salimah itu: "Sesungguhnya
saja telah sampai berita kepadaku bahwa engkau semua ingin berpindah ketempat
di dekat masjid?" Mereka menjawab: "Benar, ya Rasulullah, kita
berkehendak sedemikian itu." Beliau s.a.w. bersabda lagi: "Wahai Bani
Salimah, tetaplah
di rumah-rumahmu itu saja, akan
dicatatlah langkah-langkahmu itu - pahala melangkahkan kaki dari rumah ke
masjid itu pastt dicatat sebanyak yang dijalankan. Jadi tidak perlu berpindah
ke dekat masjid. Tetaplah di rumah-rumahmu itu saja, akan dicatatlah
langkah-langkahmu itu." (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan:
"Sesungguhnya
dengan setiap langkah itu ada derajatnya sendiri." Imam Bukhari
meriwayatkan pula dengan pengertian yang semakna dengan di atas dari riwayat
Anas r.a.
Keduapuluhsatu: Dari Abdulmundzir yaitu Ubaybin Ka'ab r.a.
katanya: "Ada seseorang yang saya tidak mengetahui ada orang lain yang
rumahnya lebih jauh lag! daripada orang itu untuk pergi ke masjid. Orang tadi
tidak pernah terluput oleh shalat - jamaah. Kemudian kepadanya itu ditanyakan,
atau saya sendiri bertanya kepadanya: Alangkah baiknya jikalau engkau membeli
seekor keledai yang dapat engkau naiki apabtla
112
malam gelap
gulita ataupun di waktu siang yang panasnya amat terik." Orang itu
menjawab: "Saya tidak senang sekiranya rumahku itu ada di dekat masjid.
Sesungguhnya saya ingin sekali kalau perjalananku ke masjid itu dicatat-
sebagai pahala, demikian juga pulangku jikalau saya pulang
ketempatkeluargaku."Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Allah telah
mengumpulkan untukmu semua yang kau kehendaki itu - yakni keinginanmu untuk
memperoleh pahala banyak itu dikabulkan oleh Allah."
Dalam riwayat lain disebutkan:
"Sesungguhnya
bagimu adalah pahala apa yang telah engkau amalkan-yakni diperhitungkan menurut
banyak sedikitnya langkah yang dijalani dari rumah ke masjid itu."
Ar-ramdha'
ialah bumi yang
terkena panas matahari yang amat terik.
Keduapuluh dua: Dari Abu Muhammad yaitu Abdullah bin 'Amr bin
Ash radhiallahu 'anhuma, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Ada empat puiuh perkara,
setinggi-tingginya - dalam derajat-nya - ialah memberikan
manihah - kambing. Tiada seorangpun yang mengerjakan salah satu
perkara dari empatpuiuh perkara itu, dengan mengharapkan pahalanya dan
mempercayai apa yang dijadikan - oleh Tuhan - melainkan Allah akan
memasukkannya ke dalam syurga." (Riwayat Bukhari)
Manihah ialah memberikan kambing betina pada orang lain agar diperah
susunya - binatang yang diberikan
tadi, lalu dimakan -yakni diminum, kemudian dikembalikan lagi kepada yang
memilikinya, apabila sudah habis susu yang ada di dalam teteknya. Manihah itu
dapat berupa kambing dan disebut Manihatul
'ami atau Manihatusy syaati dan
dapat pula berupa unta, lalu disebut Manihatun
naaqati.
Keduapuluh
tiga: Dari 'Adi bin Hatim r.a., katanya: Saya mendengar Nabi s.a.w.
bersabda:
"Takutlah
pada - siksa - neraka itu, sekalipun dengan memberikan sedekah potongan
kurma." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim,
disebutkan lagi, dari 'Adi bin Hatim, katanya:
Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tiada
seorangpun dari engkau semua, melainkan akan diajak berbicara oleh Tuhannya dan
antara dia dengan Tuhannya tidak ada seorang tarjumanpun - penyambung kata.
Orang itu melihat ke sebelah kanannya, maka tidak ada yang dilihat olehnya
kecuali amalan yangtelah dilakukannya sebelum itu -dari amalan yang baik - dan
juga dia melihat ke sebelah kirinya, maka tidak ada pula yang dilihat olehnya,
kecuali amalan yang dilakukan sebelum itu - dari amalan yang jelek. Dia melihat
pula antara kedua tangannya, maka tidak ada yang dilihatnya kecuali neraka yang
ada di hadapannya. Maka takutlah engkau semua pada - siksa - neraka, sekalipun
dengan bersedekah potongan kurma. Kemudian barangsiapa yang tidak menemukan
sesuatu untuk disedekahkan, maka bersedekahlah dengan ucapan yang baik
saja."
Keduapuluh empat: Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah
s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah itu niscaya meridhai pada seseorang
hamba, jikalau ia makan sesuatu makanan - pagi ataupun sore, kemudian
mengucapkan puji-pujian kepada Allah atas makanan yang dimakannya itu, ataupun
meminum sesuatu minuman, kemudian
113
mengucapkan puji-pujian kepada Allah
atas minuman yang diminumnya itu." (Riwayat Muslim)
Al-Aktah, dengan difathahkan hamzahnya, artinya ialah makan siang atau
makan malam.
Keduapuluh lima: Dari Abu Musa r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Setiap orang Islam itu harus bersedekah." Abu Musa bertanya:
"Tahukah Tuan, bagaimanakah jikalau ia tidak menemukan sesuatu untuk
disedekahkan?" Beliau menjawab: "Kalau tidak ada hendaklah ia bekerja
dengan kedua tangannya, kemudian ia dapat memberikan kemanfaatan kepada dirinya
sendiri, kemudian bersedekah." Ia bertanya lagi: "Tahukah Tuan,
bagaimanakah jikalau ia tidak kuasa berbuat demikian?" Beliau menjawab:
"Hendaklah ia memberikan pertolongan kepada orang yang menghajatkan
bantuan." Ia bertanya lagi: "Tahukah Tuan, bagaimanakah jikalau ia
tidak dapat berbuat demikian?" Beliau menjawab: "Hendaklah ia
memerintah dengan kebaikan atau kebagusan." Ia bertanya lagi:
"Tahukah Tuan, bagaimanakah jikalau ia tidak kuasa berbuat demikian."
Beliau menjawab: "Hendaklah ia menahan diri dari berbuat kejahatan, maka
yang sedemikian itupun sebagai sedekah yang diberikan olehnya." (Muttafaq
'alaih)
Tiada ulasan:
Catat Ulasan