Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
Bab 3
ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺼﱪ
Sabar
ﻗﺎﻝ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ : } ((ﺁﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ : (200 ﻭﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﱃ }ﻭﻟﻨﺒﻠﻮﻧﻜﻢ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﳋﻮﻑ ﻭﺍﳉﻮﻉ ﻭﻧﻘﺺ
ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﻭﺍﻷﻧﻔﺲ ﻭﺍﻟﺜﻤﺮﺍﺕ ﻭﺑﺸﺮ ﺍﻟﺼﺎﺑﺮﻳﻦ)) { ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : ((155 ﻭﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﱃ : { ﺇﳕﺎ ﻳﻮﰱ
ﺍﻟﺼﺎﺑﺮﻭﻥ ﺃﺟﺮﻫﻢ ﺑﻐﲑ ﺣﺴﺎﺏ } ((ﺍﻟﺰﻣﺮ: (( 10 ﻭﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﱃ: { ﻭﳌﻦ ﺻﱪ ﻭﻏﻔﺮ ﺇﻥ ﺫﻟﻚ ﳌﻦ ﻋﺰﻡ
ﺍﻷﻣﻮﺭ} ((ﺍﻟﺸﻮﺭﻯ : (( 43 ﻭﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﱃ: { ﺍﺳﺘﻌﻴﻨﻮﺍ ﺑﺎﻟﺼﱪ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﺇﻥ ﺍﷲ ﻣﻊ ﺍﻟﺼﺎﺑﺮﻳﻦ} ((ﳏﻤﺪ
(( 31 ﻭﺍﻵﻳﺎﺕ ﰲ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﺼﱪ ﻭﺑﻴﺎﻥ ﻓﻀﻠﻪ ﻛﺜﲑﺓ ﻣﻌﺮﻭﻓﺔ .
Allah Ta'ala berfirman:
"Hai sekalian orang yang beriman, bersabarlah dan cukupkanlah kesabaran itu ." (ali-lmran:
200)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Niscayalah Kami akan memberikan cobaan sedikit kepadamu semua seperti ketakutan, ketaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, kemudian sampaikaniah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar." (al-Baqarah: 155)
Lagi Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu akan dipenuhi pahala mereka dengan tiada
hitungannya - kerana amat banyaknya." (az-Zumar: 10) Juga Allah Ta'ala berfirman:
"Orang yang bersabar dan suka memaafkan, sesungguhnya hal yang demikian itu niscayalah
termasuk pekerjaan yang dilakukan dengan hati yang teguh." (as-Syura: 43)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Mintalah pertolongan dengan sabar dan mengerjakan shalat sesungguhnya Allah bersama
orang-orang yang sabar." (al-Baqarah: 153)
Lagi Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sesungguhnya Kami hendak menguji kepadamu semua , sehingga Kami dapat mengetahui
siapa di antara engkau semua itu yang benar-benar berjihad dan siapa pula orang-orang yang bersabar." (Muhammad: 31)
Ayat-ayat yang mengandung perintah untuk bersabar dan yang menerangkan
keutamaan sabar itu amat banyak sekali dan dapat dimaklumi.
40
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻝﺎﻗ :ﻝﺎﻗ ﻪﻨﻋ ﷲﺍ ﻲﺿﺭ ﻱﺮﻌﺷﻷﺍ ﻢﺻﺎﻋ ﻦﺑ ﺙﺭﺎﳊﺍ ﻚﻟﺎﻣ ﰊﺃ ﻦﻋﻭ 25-ﺎﻣ -ﻸﲤ ﻭﺃ- ﻥﻶﲤ ﷲ ﺪﻤﳊﺍﻭ ﷲﺍ ﻥﺎﺤﺒﺳﻭ ،ﻥﺍﺰﻴﳌﺍ ﻸﲤ ﷲ ﺪﻤﳊﺍﻭ ،ﻥﺎﳝﻹﺍ ﺮﻄﺷ ﺭﻮﻬﻄﻟﺍ" : ﻢﻠﺳﻭ ﻭﺃ ﻚﻟ ﺔﺠﺣ ﻥﺁﺮﻘﻟﺍﻭ ،ﺀﺎﻴﺿ ﱪﺼﻟﺍﻭ ،ﻥﺎﻫﺮﺑ ﺔﻗﺪﺼﻟﺍﻭ ،ﺭﻮﻧ ﺓﻼﺼﻟﺍﻭ ،ﺽﺭﻷﺍﻭ ﺕﺍﻭﺎﻤﺴﻟﺍ ﲔﺑ .((ﻢﻠﺴﻣ ﻩﺍﻭﺭ)) "ﺎﻬﻘﺑﻮﻣ ﻭﺃ ،ﺎﻬﻘﺘﻌﻤﻓ ﻪﺴﻔﻧ ﻊﺋﺎﺒﻓ ،ﻭﺪﻐﻳ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﻞﻛ .ﻚﻴﻠﻋ
Dari Abu Malik al-Harits bin Ashim al-Asy'ari r.a. berkata: Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Bersuci adalah separuh keimanan dan Alhamdulillah itu memenuhi imbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah itu dapat memenuhi atau mengisi penuh apa-apa yang ada di antara langit-langit dan bumi. Shalat adalah pahaya, sedekah adalah sebagai tanda - keimanan bagi yang memberikannya - sabar adalah merupakan cahaya pula, al-Quran adalah merupakan hujjah untuk kebahagiaanmu - jikalau mengikuti perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya - dan dapat pula sebagai hujjah atas kemalanganmu - jikalau tidak mengikuti perintah-perintahnya dan suka melanggar larangan-larangannya. Setiap orang itu berpagi-pagi, maka ada yang menjual dirinya - kepada Allah - berarti ia memerdekakan dirinya sendiri - dari siksa Allah Ta'ala itu - dan ada yang merusakkan dirinya sendiri pula - kerana tidak menginginkan keridhaan Allah Ta'ala." (Riwayat Muslim)
Keterangan:
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Hadis ini ialah:
Bersuci yakni menyucikan diri dari hadas dan kotoran.
Memenuhi neraca kerana sangat besar pahalanya, hingga neraca akhirat penuh dengan ucapan itu saja.
Artinya andaikata pahalanya itu dibentuk menjadi jisim yang tampak, pasti dapat memenuhi langit dan bumi.
Shalat adalah cahaya yakni cahaya yang menerangi kita ke jalan yang diridhai Allah. Sebab orang yang tidak suka bersembahyang pasti hati nuraninya tertutup daripada kebenaran yang sesungguh-sungguhnya.
Sedekah yang sunnah atau wajib (zakat) itu merupakan kenyataan yang menunjukkan bahwa orang itu benar-benar telah melakukan perintah Allah.
Al-Quran itu hujjah (keterangan) bagimu yakni membela dirimu kalau engkau suka melakukan isinya. Atau juga keterangan atasmu yakni mencelakakan dirimu yaitu kalau engkau menyalahi apa-apa yang menjadi perintah Allah.
Kita di dunia ini ibarat orang yang sedang dalam bepergian ke lain tempat yang hanya terbatas sekali waktunya. Di tempat itu kita menjual diri yakni memperjuangkan nasib untuk hari depan seterusnya yang kekal yaitu di akhirat. Tetapi di dalam memperjuangkan itu, ada di antara kita yang memerdekakan diri sendiri yakni melakukan semua amat baik dan perintah-perintah Allah, sehingga diri kita merdeka nanti di syurga. Tetapi ada pula yang merusak dirinya sendiri kerana melakukan larangan-larangan Allah hingga rusaklah akhirnya nanti di dalam neraka, amat pedih siksa yang ditemuinya.
41
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
26- ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﺳﻌﻴﺪ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺑﻦ ﺳﻨﺎﻥ ﺍﳋﺪﺭﻱ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻬﻤﺎ: "ﺃﻥ ﻧﺎﺳﺎﹰ ﻣﻦ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭ ﺳﺄﻟﻮﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺄﻋﻄﺎﻫﻢ، ﰒ ﺳﺄﻟﻮﻩ ﻓﺄﻋﻄﺎﻫﻢ ، ﺣﱴ ﻧﻔﺪ ﻣﺎ ﻋﻨﺪﻩ، ﻓﻘﺎﻝ ﳍﻢ ﺣﲔ ﺃﻧﻔﻖ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﺑﻴﺪﻩ : "ﻣﺎ ﻳﻜﻦ ﻋﻨﺪﻱ ﻣﻦ ﺧﲑ ﻓﻠﻦ ﺃﺩﺧﺮﻩ ﻋﻨﻜﻢ ، ﻭﻣﻦ ﻳﺴﺘﻌﻔﻒ ﻳﻌﻔﻪ ﺍﷲ، ﻭﻣﻦ ﻳﺴﺘﻐﻦ ﻳﻐﻨﻪ ﺍﷲ، ﻭﻣﻦ ﻳﺘﺼﱪ ﻳﺼﱪﻩ ﺍﷲ. ﻭﻣﺎ ﺃﻋﻄﻲ ﺃﺣﺪ ﻋﻄﺎﺀً ﺧﲑﺍﹰ ﻭﺃﻭﺳﻊ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﱪ" ((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)) .
26. Dari Abu Said yaitu Sa'ad bin Malik bin Sinan al-Khudri radhiallahu 'anhuma bahwasanya ada beberapa orang dari kaum Anshar meminta - sedekah - kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau memberikan sesuatu pada mereka itu, kemudian mereka meminta lagi dan beliau pun memberinya pula sehingga habislah harta yang ada di sisinya, kemudian setelah
habis membelanjakan segala sesuatu dengan tangannya itu beliau bersabda: "Apa saja kebaikan - yakni harta - yang ada di sisiku, maka tidak sekali-kali akan
kusimpan sehingga tidak kuberikan padamu semua, tetapi oleh sebab sudah habis, maka tidak ada yang dapat diberikan. Barangsiapa yang menjaga diri - dari meminta-minta pada orang lain, maka akan diberi rezeki kepuasan oleh Allah dan barangsiapa yang merasa dirinya cukup maka akan diberi kekayaan oleh Allah - kaya hati dan jiwa - dan barangsiapa yang berlaku sabar maka akan dikarunia kesabaran oleh Allah. Tiada seorangpun yang dikaruniai suatu pemberian yang lebih baik serta lebih luas – kegunaannya - daripada karunia kesabaran itu." (Muttafaq 'alaih)
27- ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﳛﲕ ﺻﻬﻴﺐ ﺑﻦ ﺳﻨﺎﻥ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ "ﻋﺠﺒﺎ ﻷﻣﺮ ﺍﳌﺆﻣﻦ ﺇﻥ ﺃﻣﺮﻩ ﻛﻠﻪ ﻟﻪ ﺧﲑ، ﻭﻟﻴﺲ ﺫﻟﻚ ﻷﺣﺪ ﺇﻻ ﻟﻠﻤﺆﻣﻦ : ﺇﻥ ﺃﺻﺎﺑﺘﻪ ﺳﺮﺍﺀ ﺷﻜﺮ ﻓﻜﺎﻥ ﺧﲑﺍﹰ ﻟﻪ، ﻭﺇﻥ ﺃﺻﺎﺑﺘﻪ ﺿﺮﺍﺀ ﺻﱪ ﻓﻜﺎﻥ ﺧﲑﺍﹰ ﻟﻪ" ((ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ)).
27. Dari Abu Yahya, yaitu Shuhaib bin Sinan r.a., katanya: Rasulullah s.a .w. bersabda:
"Amat mengherankan sekali keadaan orang mu'min itu, sesungguhnya semua
keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seseorangpun melainkan hanya untuk orang mu'min itu belaka, yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, iapun bersyukur-|ah, maka hal itu adalah kebaikan baginya,sedang apabila ia ditimpa oleh kesukaran - yakni yang merupakan bencana - iapun bersabar dan hal inipun adalah merupakan kebaikan baginya." (Riwayat Muslim)
28- ﻭﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ﳌﺎ ﺛﻘﻞ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺟﻌﻞ ﻳﺘﻐﺸﺎﻩ ﺍﻟﻜﺮﺏ ﻓﻘﺎﻟﺖ
ﻓﺎﻃﻤﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻬﺎ: ﻭﺍﻛﺮﺏ ﺃﺑﺘﺎﻩ. ﻓﻘﺎﻝ : "ﻟﻴﺲ ﻋﻠﻰ ﺃﺑﻴﻚ ﻛﺮﺏ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻴﻮﻡ" ﻓﻠﻤﺎ ﻣﺎﺕ ﻗﺎﻟﺖ
: ﻳﺎ ﺃﺑﺘﺎﻩ ﺃﺟﺎﺏ ﺭﺑﺎﹰ ﺩﻋﺎﻩ، ﻳﺎ ﺃﺑﺘﺎﻩ ﺟﻨﺔ ﺍﻟﻔﺮﺩﻭﺱ ﻣﺄﻭﺍﻩ، ﻳﺎ ﺃﺑﺘﺎﻩ ﺇﱃ ﺟﱪﻳﻞ ﻧﻨﻌﺎﻩ، ﻓﻠﻤﺎ ﺩﻓﻦ ﻗﺎﻟﺖ :
42
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
ﻓﺎﻃﻤﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻬﺎ : ﺃﻃﺎﺑﺖ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﺃﻥ ﲢﺜﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ؟ ((ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ)).
28. Dari Anas r.a. katanya: "Ketika Nabi s.a.w. sudah berat sakitnya, maka beliaupun diliputi oleh kedukaan - kerana menghadapi sakratulmaut, kemudian Fathimah radhiallahu 'anha berkata: ''Aduhai kesukaran yang dihadapi ayahanda." Beliau s.a.w. lalu bersabda:
"Ayahmu tidak akan memperoleh kesukaran lagi sesudah hari ini."
Selanjutnya setelah beliau s.a.w. wafat, Fathimah berkata: "Aduhai ayahanda, beliau telah memenuhi panggilan Tuhannya. Aduhai ayahanda, syurga Firdaus adalah tempat
kediamannya. Aduhai ayahanda, kepada Jibril kita sampaikan berita wafatnya."
Kemudian setelah beliau dikebumikan, Fathimah radhiallahuanha berkata pula: "Hai Anas, mengapa hatimu semua merasa tenang dengan menyebarkan tanah di atas makam
Rasulullah s.a.w itu?"
Maksudnya: Melihat betapa besar kecintaan para sahabat kepada beliau s.a.w. itu
tentunya akan merasa tidak sampai hati mereka untuk menutupi makam Rasulullah s.a.w. dengan tanah. Mendengar ucapan Fathimah radhiallahu 'anha ini, Anas r.a. diam belaka dan tentunya dalam hati ia berkata: "Hati memang tidak sampai berbuat demikian, tetapi sudah
demikian itulah yang diperintahkan oleh beliau s.a.w. sendiri." (Riwayat Bukhari)
ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﺣﺎﺭﺛﺔ ﻣﻮﱃ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺣﺒﻪ ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﺯﻳﺪ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﺑﻦ 29-
ﻗﺎﻝ: ﺃﺭﺳﻠﺖ ﺑﻨﺖ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺇﻥ ﺍﺑﲏ ﻗﺪ ﺍﺣﺘﻀﺮ ﻭﺍﺑﻦ ﺣﺒﻪ، ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻬﻤﺎ،
ﻳﻘﺮﺉ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﻳﻘﻮﻝ: "ﺇﻥ ﷲ ﻣﺎ ﺃﺧﺬ، ﻭﻟﻪ ﻣﺎ ﺃﻋﻄﻰ، ﻭﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻋﻨﺪﻩ ﺑﺄﺟﻞ ﻓﺎﺷﻬﺪﻧﺎ، ﻓﺄﺭﺳﻞ ﻭﻣﻌﺎﺫ ﻓﻠﺘﺼﱪ ﻭﻟﺘﺤﺘﺴﺐ" ﻓﺄﺭﺳﻠﺖ ﺇﻟﻴﻪ ﺗﻘﺴﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻟﻴﺄﺗﻴﻨﻬﺎ. ﻓﻘﺎﻡ ﻭﻣﻌﻪ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺩﺓ، ﻣﺴﻤﻰ، ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﺑﻦ ﺟﺒﻞ، ﻭﺃﰊ ﺑﻦ ﻛﻌﺐ، ﻭﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ، ﻭﺭﺟﺎﻝ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻬﻢ، ﻓﺮﻓﻊ ﺇﱃ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﺼﱯ ﻓﺄﻗﻌﺪﻩ ﰲ ﺣﺠﺮﻩ ﻭﻧﻔﺴﻪ ﺗﻘﻌﻘﻊ، ﻓﻔﺎﺿﺖ ﻋﻴﻨﺎﻩ، ﻓﻘﺎﻝ ﺳﻌﺪ: ﻳﺎ ﺭﻭﺍﻳﺔ : "ﰲ ﻗﻠﻮﺏ ﻣﻦ ﺷﺎﺀ ﻣﻦ ﻣﺎﻫﺬﺍ؟ ﻓﻘﺎﻝ: "ﻫﺬﻩ ﺭﲪﺔ ﺟﻌﻠﻬﺎ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﰲ ﻗﻠﻮﺏ ﻋﺒﺎﺩﻩ" ﻭﰱ ﻭﻣﻌﲎ ﺗﻘﻌﻘﻊ : ﺗﺘﺤﺮﻙ ﻭﺗﻀﻄﺮﺏ. ((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)) . ﺍﻟﺮﲪﺎﺀ" ﻋﺒﺎﺩﻩ ﻭﺇﳕﺎ ﻳﺮﺣﻢ ﺍﷲ ﻣﻦ ﻋﺒﺎﺩﻩ
29. Dari Abu Zaid, yaitu Usamah bin Zaid bin Haritsah, sahaya Rasulullah s.a.w. serta
kekasihnya serta putera kekasihnya pula radhiallahu 'anhuma, katanya: "Puteri Nabi s.a.w. mengirimkan berita kepada Nabi s.a.w. -bahwa anakku sudah hampir meninggal dunia, maka dari itu diminta supaya menyaksikan keadaan kita." Kita: yakni yang akan meninggal serta yang sedang menungguinya. Beliau lalu mengirimkan kabar sambil menyampaikan salam, katanya: "Sesungguhnya bagi Allah adalah apa yang Dia ambil dan bagiNya pula apa yang Dia berikan dan segala sesuatu di sampingnya itu adalah dengan ajal yang telah ditentukan, maka hendaklah bersabar dan berniat mencari keridhaan Allah."
Puteri Nabi s.a.w. mengirimkan berita lagi serta bersumpah nadanya supaya beliau
suka mendatanginya dengan sungguh-sungguh. Beliau s.a.w. lalu berdiri dan disertai oleh
43
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
Sa'ad bin Ubadah, Mu'az bin Jabal, Ubai bin Ka'ab dan Zaid bin Tsabit dan beberapa orang lelaki lain radhiallahu 'anhum.
Anak kecil itu lalu disampaikan kepada Rasulullah s.a.w., kemudian diletakkannya di
atas pangkuannya sedang nafas anak itu terengah-engah. Kemudian melelehlah airmata dari
kedua mata beliau s.a.w. itu. Sa'ad berkata: "Hai Rasulullah, apakah itu?" Beliau s.a.w. menjawab: "Airmata ini adalah sebagai kesan dari kerahmatan Allah Ta'ala dalam hati para hambaNya."
Dalam riwayat lain disebutkan: "Dalam hati siapa saja yang disukai olehNya daripada
hambaNya. Hanya saja Allah itu merah-mati dari golongan hamba-hambaNya yakni orang-orang yang menaruh belas kasihan - pada sesamanya." (Muttafaq 'alaih)
Makna Taqa'qa'u ialah bergerak dan bergoncang keras (berdebar-debar).
30- ﻭﻋﻦ ﺻﻬﻴﺐ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: " ﻛﺎﻥ ﻣﻠﻚ ﻓﻴﻤﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻜﻢ، ﻭﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺳﺎﺣﺮ، ﻓﻠﻤﺎ ﻛﱪ ﻗﺎﻝ ﻟﻠﻤﻠﻚ : ﺇﱐ ﻗﺪ ﻛﱪﺕ ﻓﺎﺑﻌﺚ ﺇﱃ ﻏﻼﻣﺎﹰ ﺃﻋﻠﻤﻪ ﺍﻟﺴﺤﺮ؛ ﻓﺒﻌﺚ ﺇﻟﻴﻪ ﻏﻼﻣﺎﹰ ﻳﻌﻠﻤﻪ، ﻭﻛﺎﻥ ﰲ ﻃﺮﻳﻘﻪ ﺇﺫﺍ ﺳﻠﻚ ﺭﺍﻫﺐ، ﻓﻘﻌﺪ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﲰﻊ ﻛﻼﻣﻪ ﻓﺄﻋﺠﺒﻪ، ﻭﻛﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺃﺗﻰ ﺍﻟﺴﺎﺣﺮ ﻣﺮ ﺑﺎﻟﺮﺍﻫﺐ ﻭﻗﻌﺪ ﺇﻟﻴﻪ، ﻓﺈﺫﺍ ﺃﺗﻰ ﺍﻟﺴﺎﺣﺮ ﺿﺮﺑﻪ، ﻓﺸﻜﺎ ﺫﻟﻚ ﺇﱃ ﺍﻟﺮﺍﻫﺐ ﻓﻘﺎﻝ: ﺇﺫﺍ ﺧﺸﻴﺖ ﺍﻟﺴﺎﺣﺮ ﻓﻘﺎﻝ: ﺣﺒﺴﲏ ﺃﻫﻠﻲ، ﻭﺇﺫﺍ ﺧﺸﻴﺖ ﺃﻫﻠﻚ ﻓﻘﻞ: ﺣﺒﺴﲏ ﺍﻟﺴﺎﺣﺮ.
ﻓﺒﻴﻨﻤﺎ ﻫﻮ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺇﺫ ﺃﺗﻰ ﻋﻠﻰ ﺩﺍﺑﺔٍ ﻋﻈﻴﻤﺔٍ ﻗﺪ ﺣﺒﺴﺖ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻘﺎﻝ: ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺃﻋﻠﻢ ﺁﻟﺴﺎﺣﺮ
ﺃﻓﻀﻞ ﺃﻡ ﺍﻟﺮﺍﻫﺐ ﺃﻓﻀﻞ؟ ﻓﺂﺧﺬ ﺣﺠﺮﺍﹰ ﻓﻘﺎﻝ: ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﺮﺍﻫﺐ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻴﻚ ﻣﻦ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﺴﺎﺣﺮ ﻓﺎﻗﺘﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺪﺍﺑﺔ ﺣﱴ ﳝﻀﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻓﺮﻣﺎﻫﺎ ﻓﻘﺘﻠﻬﺎ ﻭﻣﻀﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻓﺄﺗﻰ ﺍﻟﺮﺍﻫﺐ ﻓﺄﺧﱪﻩ. ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺍﻟﺮﺍﻫﺐ: ﺃﻱ ﺑﲏ ﺃﻧﺖ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﲏ، ﻗﺪ ﺑﻠﻎ ﺃﻣﺮﻙ ﻣﺎ ﺃﺭﻯ، ﻭﺇﻧﻚ ﺳﺘﺒﺘﻠﻰ، ﻓﺈﻥ ﺍﺑﺘﻠﻴﺖ ﻓﻼ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻲ؛ ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻟﻐﻼﻡ ﻳﱪﺉ ﺍﻷﻛﻤﻪ ﻭﺍﻷﺑﺮﺹ، ﻭﻳﺪﺍﻭﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻷﺩﻭﺍﺀ. ﻓﺴﻤﻊ ﺟﻠﻴﺲ ﻟﻠﻤﻠﻚ ﻛﺎﻥ ﻗﺪ ﻋﻤﻲ، ﻓﺄﺗﺎﻩ ﺪﺍﻳﺎ ﻛﺜﲑﺓٍ ﻓﻘﺎﻝ: ﻣﺎ ﻫﺎﻫﻨﺎ ﻟﻚ ﺃﲨﻊ ﺇﻥ ﺃﻧﺖ ﺷﻔﻴﺘﲎ، ﻓﻘﺎﻝ: ﺇﱐ ﻻ ﺃﺷﻔﻲ ﺃﺣﺪﺍﹰ ﺇﳕﺎ ﻳﺸﻔﻰ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ، ﻓﺈﻥ ﺁﻣﻨﺖ ﺑﺎﷲ ﺩﻋﻮﺕ ﺍﷲ ﻓﺸﻔﺎﻙ، ﻓﺂﻣﻦ ﺑﺎﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻓﺸﻔﺎﻩ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ، ﻓﺄﺗﻰ ﺍﳌﻠﻚ ﻓﺠﻠﺲ ﺇﻟﻴﻪ ﻛﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﳚﻠﺲ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺍﳌﻠﻚ: ﻣﻦ ﺭﺩ ﻋﻠﻴﻚ ﺑﺼﺮﻙ؟ ﻓﻘﺎﻝ: ﺭﰊ ﻗﺎﻝ: ﻭﻟﻚ ﺭﺏ ﻏﲑﻱ
44
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
؟( ﻗﺎﻝ: ﺭﰊ ﻭﺭﺑﻚ ﺍﷲ، ﻓﺄﺧﺬﻩ ﻓﻠﻢ ﻳﺰﻝ ﻳﻌﺬﺑﻪ ﺣﱴ ﺩﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻐﻼﻡ، ﻓﺠﺊ ﺑﺎﻟﻐﻼﻡ ﻓﻘﺎﻝ
ﻟﻪ ﺍﳌﻠﻚ: ﺃﻯ ﺑﲏ ﻗﺪ ﺑﻠﻎ ﻣﻦ ﺳﺤﺮﻙ ﻣﺎ ﺗﱪﺉ ﺍﻷﻛﻤﻪ ﻭﺍﻷﺑﺮﺹ ﻭﺗﻔﻌﻞ ﻭﺗﻔﻌﻞ ﻓﻘﺎﻝ: ﺇﱐ
ﺃﺷﻔﻲ ﺃﺣﺪﺍﹰ، ﺇﳕﺎ ﻳﺸﻔﻲ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ، ﻓﺄﺧﺬﻩ ﻓﻠﻢ ﻳﺰﻝ ﻳﻌﺬﺑﻪ ﺣﱴ ﺩﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺍﻫﺐ؛ ﻓﺠﻲﺀ ﺑﺎﻟﺮﺍﻫﺐ ﻓﻘﻴﻞ ﻟﻪ: ﺍﺭﺟﻊ ﻋﻦ ﺩﻳﻨﻚ، ﻓﺄﰉ ، ﻓﺪﻋﺎ ﺑﺎﳌﻨﺸﺎﺭ ﻓﻮﺿﻊ ﺍﳌﻨﺸﺎﺭ ﰲ ﻣﻔﺮﻕ ﺭﺃﺳﻪ، ﻓﺸﻘﻪ ﺣﱴ ﻭﻗﻊ ﺷﻘﺎﻩ، ﰒ ﺟﻲﺀ ﲜﻠﻴﺲ ﺍﳌﻠﻚ ﻓﻘﻴﻞ ﻟﻪ: ﺍﺭﺟﻊ ﻋﻦ ﺩﻳﻨﻚ ﻓﺄﰉ، ﻓﻮﺿﻊ ﺍﳌﻨﺸﺎﺭ ﰲ ﻣﻔﺮﻕ ﺭﺃﺳﻪ، ﻓﺸﻘﻪ ﺑﻪ ﺣﱴ ﻭﻗﻊ ﺷﻘﺎﻩ، ﰒ ﺟﻲﺀ ﺑﺎﻟﻐﻼﻡ ﻓﻘﻴﻞ ﻟﻪ ﺍﺭﺟﻊ ﻋﻦ ﺩﻳﻨﻚ ﻓﺄﰉ، ﻓﺪﻓﻌﻪ ﺇﱃ ﻧﻔﺮ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻓﻘﺎﻝ: ﺍﺫﻫﺒﻮﺍ ﺑﻪ ﺇﱃ ﺟﺒﻞ ﻛﺬﺍ ﻭﻛﺬﺍ ﻓﺎﺻﻌﺪﻭﺍ ﺑﻪ ﺍﳉﺒﻞ ﻓﻘﺎﻝ: ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻛﻔﻨﻴﻬﻢ ﲟﺎ ﺷﺌﺖ، ﻓﺮﺟﻒ ﻢ ﺍﳉﺒﻞ ﻓﺴﻘﻄﻮﺍ، ﻭﺟﺎﺀ ﳝﺸﻲ ﺇﱃ ﺍﳌﻠﻚ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺍﳌﻠﻚ: ﻣﺎ ﻓﻌﻞ ﺃﺻﺤﺎﺑﻚ؟ ﻓﻘﺎﻝ: ﻛﻔﺎﻧﻴﻬﻢ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ، ﻓﺪﻓﻌﻪ ﺇﱃ ﻧﻔﺮ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻓﻘﺎﻝ : ﺍﺫﻫﺒﻮﺍ ﺑﻪ ﻓﺎﲪﻠﻮﻩ ﰲ ﻗﺮﻗﻮﺭ ﻭﺗﻮﺳﻄﻮﺍ ﺑﻪ ﺍﻟﺒﺤﺮ، ﻓﺈﻥ ﺭﺟﻊ ﻋﻦ ﺩﻳﻨﻪ ﻭﺇﻻ ﻓﺎﻗﺬﻓﻮﻩ، ﻓﺬﻫﺒﻮﺍ ﺑﻪ ﻓﻘﺎﻝ: ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻛﻔﻨﻴﻬﻢ ﲟﺎ ﺷﺌﺖ، ﻓﺎﻧﻜﻔﺄﺕ ﻢ ﺍﻟﺴﻔﻴﻨﺔ ﻓﻐﺮﻗﻮﺍ، ﻭﺟﺎﺀ ﳝﺸﻲ ﺇﱃ ﺍﳌﻠﻚ. ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺍﳌﻠﻚ : ﻣﺎ ﻓﻌﻞ ﺃﺻﺤﺎﺑﻚ؟ ﻓﻘﺎﻝ: ﻛﻔﺎﻧﻴﻬﻢ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ. ﻓﻘﺎﻝ ﺍﳌﻠﻚ ﺇﻧﻚ ﻟﺴﺖ ﺑﻘﺎﺗﻠﻲ ﺣﱴ ﺗﻔﻌﻞ ﻣﺎ ﺁﻣﺮﻙ ﺑﻪ . ﻗﺎﻝ : ﻣﺎ ﻫﻮ؟ ﻗﺎﻝ : ﲡﻤﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﰲ ﺻﻌﻴﺪ ﻭﺍﺣﺪ، ﻭﺗﺼﻠﺒﲏ ﻋﻠﻰ ﺟﺬﻉ ، ﰒ ﺧﺬ ﺳﻬﻤﺎﹰ ﻣﻦ ﻛﻨﺎﻧﱵ، ﰒ ﺿﻊ ﺍﻟﺴﻬﻢ ﰲ ﻛﺒﺪ ﺍﻟﻘﻮﺱ ﰒ ﻗﻞ: ﺑﺴﻢ ﺍﷲ ﺭﺏ ﺍﻟﻐﻼﻡ ﰒ ﺍﺭﻣﲏ، ﻓﺈﻧﻚ ﺇﻥ ﻓﻌﻠﺖ ﺫﻟﻚ ﻗﺘﻠﺘﲏ . ﻓﺠﻤﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﰲ ﺻﻌﻴﺪ ﻭﺍﺣﺪ، ﻭﺻﻠﺒﻪ ﻋﻠﻰ ﺟﺬﻉ، ﰒ ﺃﺧﺬ ﺳﻬﻤﺎ ﻣﻦ ﻛﻨﺎﻧﺘﻪ، ﰒ ﻭﺿﻊ ﺍﻟﺴﻬﻢ ﰲ ﻛﺒﺪ ﺍﻟﻘﻮﺱ، ﰒ ﻗﺎﻝ: ﺑﺴﻢ ﺍﷲ ﺭﺏ ﺍﻟﻐﻼﻡ، ﰒ ﺭﻣﺎﻩ ﻓﻮﻗﻊ ﺍﻟﺴﻬﻢ ﰲ ﺻﺪﻏﻪ، ﻓﻮﺿﻊ ﻳﺪﻩ ﰲ ﺻﺪﻏﻪ ﻓﻤﺎﺕ. ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺁﻣﻨﺎ ﺑﺮﺏ ﺍﻟﻐﻼﻡ، ﻓﺄﺗﻰ ﺍﳌﻠﻚ ﻓﻘﻴﻞ ﻟﻪ: ﺃﺭﺃﻳﺖ ﻣﺎ ﻛﻨﺖ ﲢﺬﺭ ﻗﺪ ﻭﺍﷲ ﻧﺰﻝ ﺑﻚ ﺣﺬﺭﻙ. ﻗﺪ ﺁﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ. ﻓﺄﻣﺮ ﺑﺎﻷﺧﺪﻭﺩ ﺑﺄﻓﻮﺍﻩ ﺍﻟﺴﻜﻚ ﻓﺨﺪﺕ ﻭﺃﺿﺮﻡ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻨﲑﺍﻥ ﻭﻗﺎﻝ: ﻣﻦ ﱂ ﻳﺮﺟﻊ ﻋﻦ ﺩﻳﻨﻪ ﻓﺄﻗﺤﻤﻮﻩ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﻗﻴﻞ ﻟﻪ : ﺍﻗﺘﺤﻢ ، ﻓﻔﻌﻠﻮﺍ ﺣﱴ ﺟﺎﺀﺕ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻭﻣﻌﻬﺎ ﺻﱮ ﳍﺎ، ﻓﺘﻘﺎﻋﺴﺖ ﺍﻥ ﺗﻘﻊ ﻓﻴﻬﺎ، ﻓﻘﺎﻝ ﳍﺎ ﺍﻟﻐﻼﻡ: ﻳﺎ ﺃﻣﺎﻩ ﺍﺻﱪﻱ ﻓﺈﻧﻚ ﻋﻠﻰ ﺍﳊﻖ" ((ﺭﻭﺍﻩ
ﻣﺴﻠﻢ)).
45
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
ﻦﻣ ﻉﻮﻧ : ﲔﻓﺎﻘﻟﺍ ﻢﻀﺑ ﺭﻮﻗﺮﻘﻟﺍ ﻭ ﺎﻬﻤﺿﻭ ﺔﻤﺠﻌﳌﺍ ﻝﺍﺬﻟﺍ ﺮﺴﻜﺑ ﻰﻫﻭ ،ﻩﻼﻋﺃ : ﻞﺒﳉﺍ ﺓﻭﺭﺫ
ﲑﻐﺼﻟﺍ ﺮﻬﻨﻟﺎﻛ ﺽﺭﻷﺍ ﰲ ﻕﻮﻘﺸﻟﺍ : ﺩﻭﺪﺧﻷﺍ ﻭ ﺓﺯﺭﺎﺒﻟﺍ ﺽﺭﻷﺍ : ﺎﻨﻫ ﺪﻴﻌﺼﻟﺍ ﻭ ﻦﻔﺴﻟﺍ ﺖﻨﺒﺟﻭ ﺖﻔﻗﻮﺗ : ﺖﺴﻋﺎﻘﺗﻭ ،ﺖﺒﻠﻘﻧﺍ : ﻱﺃ ﺕﺄﻔﻜﻧﺍﻭ ﺪﻗﻭﺃ ﻡﺮﺿﺃ
Dari Shuhaib r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Dahulu ada seorang raja dari golongan ummat yang sebelum engkau semua, ia mempunyai seorang ahli sihir. Setelah penyihir itu tua, ia berkata kepada raja: "Sesungguhnya saya ini telah tua, maka itu kirimkanlah padaku seorang anak yang akan saya beri pelajaran ilmu sihir."
Kemudian raja itu mengirimkan padanya seorang anak untuk diajarinya. Anak ini di tengah perjalanannya apabila seseorang rahib -pendeta Nasrani - berjalan di situ, iapun duduklah padanya dan mendengarkan ucapan-ucapannya. Apabila ia telah datang di tempat penyihir - yakni dari pelajarannya, iapun melalui tempat rahib tadi dan terus duduk di situ - untuk mendengarkan ajaran-ajaranTuhan yang disampaikan olehnya. Selanjutnya apabila dating di tempat penyihir, iapun dipukul olehnya - kerana kelambatandatangnya. Hal yang sedemikian itu diadukan oleh anak itu kepada rahib, lalu rahib berkata: "Jikalau engkau takut pada penyihir itu, katakanlah bahwa engkau ditahan oleh keluargamu dan jikalau engkau takut pada keluargamu, maka katakanlah bahwa engkau ditahan oleh penyihir."
Pada suatu ketika di waktu ia dalam keadaan yang sedemikian itu, lalu tibalah ia di suatu tempat dan di situ ada seekor binatang yang besar dan menghalang-halangi orang banyak - untuk berlalu di jalanan itu. Anak itu lalu berkata: "Pada hari ini saya akan mengetahui, apakah penyihir itu yang lebih baik ataukah pendeta itu yang lebih baik?" Iapun lalu mengambil sebuah batu kemudian berkata: "Ya Allah, apabila perkara pendeta itu lebih dicintai di sisiMu daripada perkara penyihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang banyak dapat berlalu." Selanjutnya binatang itu dilemparnya dengan batu tadi, kemudian dibunuhnya dan orang-orang pun berlalulah. Ia lalu mendatangi rahib dan memberitahukan hal tersebut. Rahib itupun berkata: "Hai anakku, engkau sekarang adalah lebih mulia daripadaku sendiri. Keadaanmu sudah sampai di suatu tingkat yang saya sendiri dapat memakluminya.Sesungguhnya engkau akan terkena cobaan, maka jikalau engkau terkena cobaan itu, janganlah menunjuk kepadaku."
Anak itu lalu dapat menyembuhkan orang buta dan berpenyakit lepra serta dapat mengobati orang banyak dari segala macam penyakit. Hal itu didengar oleh kawan seduduk
yakni sahabat karib - raja yang telah menjadi buta. Ia datang pada anak itu dengan membawa beberapa hadiah yang banyak jumlahnya, kemudian berkata: "Apa saja yang ada di sisimu ini adalah menjadi milikmu, apabila engkau dapat menyembuhkan aku." Anak itu berkata: "Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan siapapun, hanyasanya Allah Ta'ala yang dapat menyembuhkannya. Maka jikalau Tuan suka beriman kepada Allah Ta'ala, saya akan berdoa kepada Allah, semoga Dia suka menyembuhkan Tuan. Kawan raja itu lalu beriman kepada Allah Ta'ala, kemudian Allah menyembuhkannya. Ia lalu mendatangi raja terus duduk di dekatnya sebagaimana duduknya yang sudah-sudah. Raja kemudian bertanya: "Siapakah yang mengembalikan penglihatanmu itu?" Maksudnya: Siapakah yang menyembuhkan butamu itu? Kawannya itu menjawab: "Tuhanku." Raja bertanya: "Adakah engkau mempunyai Tuhan lain lagi selain dari diriku?" Ia menjawab: "Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah." Kawannya itu lalu ditindak oleh raja tadi dan terus-menerus diberikan siksaan padanya, sehingga kawannya itu menunjuk kepada anak yang menyebabkan kesembuhannya. Anak itupun didatangkan. Raja berkata padanya: "Hai
46
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
anakku, kiranya sihirmu sudah sampai ke tingkat dapat menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit lepra dan engkau dapat melakukan ini dan dapat pula melakukan itu." Anak itu berkata: "Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan seseorangpun, hanyasanya Allah Ta'ala jualah yang menyembuhkannya." Anak itupun ditindaknya, dan terus-menerus diberikan siksaan padanya, sehingga ia menunjuk kepada pendeta. Pendetapun didatangkan, kemudian kepadanya dikatakan: "Kembalilah dari agamamu!" Maksudnya supaya meninggalkan agama Nasrani dan beralih menyembah raja dan patung-patung. Pendeta itu enggan mengikuti perintahnya. Raja meminta supaya diberi gergaji, kemudian diletakkanlah gergaji itu di tengah kepalanya. Kepala itu dibelahnya sehingga jatuhlah kedua belahan kepala tersebut. Selanjutnya didatangkan pula kawan seduduk raja dahulu itu, lalu kepadanya dikatakan: "Kembalilah dari agamamu itu!" Iapun enggan menuruti perintahnya. Kemudian diletakkan pulalah gergaji itu di tengah kepalanya lalu dibelahnya, sehingga jatuhlah kedua belahannya itu. Seterusnya didatangkan pulalah anak itu. Kepadanya dikatakan: "Kembalilah dari agamamu." lapun menolak ajakannya. Kemudian anak itu diberikan kepada sekeIompok sahabatnya lalu berkata: "Pergilah membawa anak ini ke gunung ini atau itu, naiklah dengannya ke gunung itu. Jikalau engkau semua telah sampai di puncaknya, maka apabila anak ini kembali dari agamanya, bolehlah engkau lepaskan, tetapi jika tidak, maka lemparkanlah ia dari atas gunung itu." Sahabat-sahabatnya itu pergi membawanya, kemudian menaiki gunung, lalu anak itu berkata: "Ya Allah, lepaskanlah hamba dari orang-orang ini dengan kehendakMu." Kemudian gunung itupun bergerak keras dan orang-orang itu jatuhlah semuanya. Anak itu lalu berjalan menuju ke tempat raja. Raja berkata: "Apa yang dilakukan oleh kawan-kawanmu?" Ia menjawab: "Allah Ta'ala telah melepaskan aku dari tindakan mereka. Anak tersebut terus diberikan kepada sekelompok sahabat-sahabatnya yang lain lagi dan berkata: "Pergilah dengan membawa anak ini daiam sebuah tongkang dan berlayarlah sampai di tengah lautan. Jikalau ia kembali dari agamanya - maka lepaskanlah ia, tetapi jika tidak, maka lemparkanlah ke lautan itu." Orang-orang bersama-sama pergi membawanya, lalu anak itu berkata: "Ya Allah, lepaskanlah hamba dari orang-orang ini dengan kehendakMu." Tiba-tiba tongkang itu terbalik, maka tenggelamlah semuanya. Anak itu sekali lagi berjalan ke tempat raja. Rajapun berkatalah: "Apakah yang dikerjakan oleh kawan-kawanmu?" Ia menjawab: "Allah Ta'ala telah melepaskan aku dari tindakan mereka." Selanjutnya ia berkata pula pada raja: "Tuan tidak dapat membunuh saya, sehingga Tuan suka melakukan apa yang kuperintahkan." Raja bertanya: "Apakah itu?" Ia menjawab: "Tuan kumpulkan semua orang di lapangan menjadi satu dan Tuan salibkan saya di batang pohon, kemudian ambillah sebatang anak panah dari tempat panahku ini, lalu letakkanlah anak panah itu pada busurnya, lalu ucapkanlah: "Dengan nama Allah, Tuhan anak ini," terus lemparkanlah anak panah itu. Sesungguhnya apabila Tuan mengerjakan semua itu, tentu Tuan dapat membunuhku."
Raja mengumpulkan semua orang di suatu padang luas. Anak itu disalibkan pada sebatang pohon, kemudian mengambil sebuah anak panah dari tempat panahnya, lalu meletakkan anak panah di busur, terus mengucapkan: "Dengan nama Allah, Tuhan anak ini." Anak panah dilemparkan dan jatuhlah anak panah itu pada pelipis anak tersebut. Anak itu meletakkan tangannya di pelipisnya, kemudian meninggal dunia.
Orang-orang yang berkumpul itu sama berkata: "Kita semua beriman kepada Tuhannya anak ini." Raja didatangi dan kepadanya dikatakan: "Adakah Tuan mengetahui apa yang selama ini Tuan takutkan? Benar-benar, demi Allah, apa yang Tuan takutkan itu telah tiba - yakni tentang keimanan seluruh rakyatnya. Orang-orang semuanya telah beriman."
Raja memerintahkan supaya orang-orang itu digiring di celah-celah bumi - yang bertebing dua kanan-kiri - yaitu di pintu lorong jalan. Celah-celah itu dibelahkan dan
47
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
dinyalakan api di situ, Ia berkata: "Barangsiapa yang tidak kembali dari agamanya, maka lemparkanlah ke dalam celah-celah itu," atau dikatakan: "Supaya melemparkan dirinya sendiri ke dalamnya." Orang banyak melakukan yang sedemikian itu - sebab tidak ingin kembali menjadi kafir dan musyrik lagi, sehingga ada seorang wanita yang datang dengan membawa bayinya. Wanita ini agaknya ketakutan hendak menceburkan diri ke dalamnya. Bayinya itu lalu berkata: "Hai ibunda, bersabarlah, kerana sesungguhnya ibu adalah menetapi atas kebenaran." (Riwayat Muslim)
Dzirwatul jabal artinya puncaknya gunung. Ini boleh dibaca dengan kasrahnya dzal mu'jamah atau dhammahnya. Alqurquur dengan didhammahkannya kedua qafnya, adalah suatu macam dari golongan perahu. Ashsha'id di sini artinya bumi yang menonjol (bukit). Alukhduud ialah beberapa belahan di bumi seperti sungai kecil. Adhrama artinya menyalakan. Inkafa-at artinya berubah. Taqaa-'asat, artinya terhenti atau tidak berani maju dan pula merasa ketakutan.
: ﻝﺎﻘﻓ ﱪﻗ ﺪﻨﻋ ﻲﻜﺒﺗ ﺓﺃﺮﻣﺎﺑ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﱯﻨﻟﺍ ﺮﻣ : ﻝﺎﻗ ﻪﻨﻋ ﷲﺍ ﻲﺿﺭ ﺲﻧﺃ ﻦﻋﻭ 31-
ﱯﻨﻟﺍ ﻪﻧﺇ : ﺎﳍ ﻞﻴﻘﻓ ،ﻪﻓﺮﻌﺗ ﱂﻭ ) ﱵﺒﻴﺼﲟ ﺐﺼﺗ ﱂ ﻚﻧﺈﻓ ، ﲏﻋ ﻚﻴﻟﺇ : ﺖﻟﺎﻘﻓ "ﻱﱪﺻﺍﻭ ﷲﺍ ﻲﻘﺗﺍ"
:ﺖﻟﺎﻘﻓ ،ﲔﺑﺍﻮﺑ ﻩﺪﻨﻋ ﺪﲡ ﻢﻠﻓ ،ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﱯﻨﻟﺍ ﺏﺎﺑ ﺖﺗﺄﻓ ، ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﻲﻜﺒﺗ :((ﻢﻠﺴﳌ ﺔﻳﺍﻭﺭ ﰱﻭ)) . ((ﻪﻴﻠﻋ ﻖﻔﺘﻣ)) "ﱃﻭﻷﺍ ﺔﻣﺪﺼﻟﺍ ﺪﻨﻋ ﱪﺼﻟﺍ ﺎﳕﺇ" :ﻝﺎﻘﻓ ،ﻚﻓﺮﻋﺃ
. ﺎﳍ ﱯﺻ ﻰﻠﻋ
Dari Anas r.a., katanya: "Nabi s.a.w. berjalan melalui seorang wanita yang sedang menangis di atas sebuah kubur. Beliau bersabda: "Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah!" Wanita itu berkata: "Ah, menjauhlah daripadaku, kerana Tuan tidak terkena mushibah sebagaimana yang mengenai diriku dan Tuan tidak mengetahui mushibah apa itu." Wanita tersebut diberitahu – oleh sahabat beliau s.a.w. - bahwa yang diajak bicara tadi adalah Nabi s.a.w. Ia lalu mendatangi pintu rumah Nabi s.a.w. tetapi di mukanya itu tidak didapatinya penjaga-penjaga pintu. Wanita itu lalu berkata: "Saya memang tidak mengenai Tuan - maka itu maafkan pembicaraanku tadi." Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Hanyasanya bersabar - yang sangat terpuji - itu ialah di kala mendadaknya kedatangan mushibah yang pertama." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Wanita itu menangisi anak kecilnya - yang mati."
Keterangan:
Maksud "Mendadaknya kedatangan mushibah yang pertama," bukan berarti ketika mendapatkan mushibah yang pertama kali dialami sejak hidupnya, tetapi di saat baru terkena mushibah itu ia bersabar, baik mushibah itu yang pertama kalinya atau keduanya, ketiganya dan selanjutnya.
Jadi kalau sesudah sehari atau dua hari baru ia mengatakan: "Aku sekarang sudah berhati sabar tertimpa mushibah yang kemarin itu," maka ini bukannya sabar pada pertama kali, sebab sudah terlambat.
48
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
32- ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : " ﻳﻘﻮﻝ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ : ﻣﺎ ﻟﻌﺒﺪﻱ ﺍﳌﺆﻣﻦ ﻋﻨﺪﻱ ﺟﺰﺍﺀ ﺇﺫﺍ ﻗﺒﻀﺖ ﺻﻔﻴﻪ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﰒ ﺍﺣﺘﺴﺒﻪ ﺇﻻ ﺍﳉﻨﺔ" ((ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ)).
32. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasululiah s.a.w. bersabda: "Allah Ta'ala berfirman:
"Tidak ada balasan bagi seseorang hambaKu yang mu'min di sisiKu, di waktu Aku mengambil - mematikan - kekasihnya dari ahli dunia, kemudian ia mengharapkan keridhaan
Allah, melainkan orang itu akan mendapatkan syurga." (Riwayat Bukhari)
33- ﻭﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻬﺎ ﺃﺎ ﺳﺄﻟﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻦ ﺍﻟﻄﺎﻋﻮﻥ، ﻓﺄﺧﱪﻫﺎ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻋﺬﺍﺑﺎﹰ ﻳﺒﻌﺜﻪ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻳﺸﺎﺀ، ﻓﺠﻌﻠﻪ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﺭﲪﺔ ﻟﻠﻤﺆﻣﻨﲔ، ﻓﻠﻴﺲ ﻣﻦ ﻋﺒﺪ ﻳﻘﻊ
ﺍﻟﻄﺎﻋﻮﻥ ﻓﻴﻤﻜﺚ ﰲ ﺑﻠﺪﻩ ﺻﺎﺑﺮﺍﹰ ﳏﺘﺴﺒﺎﹰ ﻳﻌﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺼﻴﺒﻪ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻛﺘﺐ ﺍﷲ ﻟﻪ ﺇﻻ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻣﺜﻞ ﺃﺟﺮ ﺍﻟﺸﻬﻴﺪ" ((ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ)).
33. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, bahwasanya ia bertanya kepada Rasululiah s.a .w. perihal penyakit taun, lalu beliau memberi-tahukannya bahwa sesungguhnya taun itu adalah sebagai siksaan yang dikirimkan oleh Allah Ta'ala kepada siapa saja yang dikehendaki olehNya, tetapi juga sebagai kerahmatan yang dijadikan oleh Allah Ta'ala kepada kaum mu'minin. Maka tidak seorang hambapun yang tertimpa oleh taun, kemudian menetap di negerinya sambil bersabar dan mengharapkan keridhaan Allah serta mengetahui pula bahwa taun itu tidak akan mengenainya kecuali kerana telah ditetapkan oleh Allah untuknya,
kecuali ia akan memperoleh seperti pahala orang yang mati syahid." (Riwayat Bukhari)
34- ﻭﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﲰﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ : "ﺇﻥ ﷲ ﻋﺰﻭﺟﻞ
ﻗﺎﻝ: ﺇﺫﺍ ﺍﺑﺘﻠﻴﺖ ﻋﺒﺪﻱ ﲝﺒﻴﺒﺘﻴﻪ ﻓﺼﱪ ﻋﻮﺿﺘﻪ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺍﳉﻨﺔ" ﻳﺮﻳﺪ ﻋﻴﻨﻴﻪ ، ((ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ)).
34. Dari Anas r.a., katanya: "Saya mendengar Rasululiah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah 'Azzawajalla berfirman:
"Jikalau Aku memberi cobaan kepada hambaKu dengan melenyapkan kedua matanya - yakni menjadi buta, kemudian ia bersabar , maka untuknya akan Kuberi ganti syurga kerana
kehilangan keduanya yakni kedua matanya itu." (Riwayat Bukhari)
35- ﻭﻋﻦ ﻋﻄﺎﺀ ﺑﻦ ﺃﰊ ﺭﺑﺎﺡ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﱄ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻬﻤﺎ: ﺃﻻ ﺃﺭﻳﻚ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ
ﺍﳉﻨﺔ " ﻓﻘﻠﺖ: ﺑﻠﻰ، ﻗﺎﻝ: ﻫﺬﻩ ﺍﳌﺮﺃﺓ ﺍﻟﺴﻮﺩﺍﺀ ﺃﺗﺘﺖ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻟﺖ : ﺇﱐ ﺃﺻﺮﻉ،
ﻭ ﺇﱐ ﺃﺗﻜﺸﻒ، ﻓﺎﺩﻉ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﱄ ﻗﺎﻝ: "ﺇﻥ ﺷﺌﺖ ﺻﱪﺕ ﻭﻟﻚ ﺍﳉﻨﺔ، ﻭﺇﻥ ﺷﺌﺖ ﺩﻋﻮﺕ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ
49
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
ﺃﻥ ﻳﻌﺎﻓﻴﻚ" ﻓﻘﺎﻟﺖ: ﺃﺻﱪ، ﻓﻘﺎﻟﺖ: ﺇﱐ ﺃﺗﻜﺸﻒ ، ﻓﺎﺩ ﺍﷲ ﺃﻥ ﻻ ﺃﺗﺸﻜﻒ ، ﻓﺪﻣﻌﺎ ﳍﺎ. ((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)) .
35. Dari 'Atha' bin Abu Rabah, katanya: "Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma mengatakan padaku: "Apakah engkau suka saya tunjukkan seorang wanita yang tergolong ahli syurga?"
Saya berkata: "Baiklah." Ia berkata lagi: "Wanita hitam itu pernah datang kepada Nabi s.a.w. lalu berkata: "Sesungguhnya saya ini terserang oleh penyakit ayan dan oleh sebab itu lalu saya membuka aurat tubuhku. Oleh kerananya haraplah Tuan mendoakan untuk saya kepada Allah - agar saya sembuh." Beliau s.a.w. bersabda: "Jikalau engkau suka hendaklah bersabar saja dan untukmu adalah syurga, tetapi jikalau engkau suka maka saya akan mendoakan untukmu kepada Allah Ta'ala agar penyakitmu itu disembuhkan olehNya." Wanita itu lalu berkata: "Saya bersabar," lalu katanya pula: "Sesungguhnya kerana penyakit itu, saya membuka aurat tubuh saya. Kalau begitu sudilah Tuan mendoakan saja untuk saya kepada Allah agar saya tidak sampai membuka aurat tubuh itu." Nabi s.a.w. lalu mendoakan untuknya - sebagaimana yang dikehendakinya itu." (Muttafaq 'alaih)
36- ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﲪﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﷲ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﻛﺄﱐ ﺍﻧﻈﺮ ﺇﱃ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﳛﻜﻲ ﻧﺒﻴﺎﹰ ﻣﻦ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ، ﺻﻠﻮﺍﺕ ﺍﷲ ﻭﺳﻼﻣﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ، ﺿﺮﺑﻪ ﻗﻮﻣﻪ ﻓﺄﺩﻣﻮﻩ ﻭﻫﻮ ﳝﺴﺢ ﺍﻟﺪﻡ ﻋﻦ ﻭﺟﻬﻪ، ﻳﻘﻮﻝ : "ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻘﻮﻣﻰ ﻓﺈ ﻢ ﻻ ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ" ((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)) .
36. Dari Abu Abdur Rahman, yaitu Abdullah bin Mas 'ud r.a. katanya: "Seakan-akan
saya melihat kepada Rasulullah s.a.w. sedang menceriterakan tentang seorang Nabi dari sekian banyak Nabi-nabi shalawatuliah wa salamuhu 'alaihim. Beliau dipukuli oleh kaumnya, sehingga menyebabkan keluar darahnya dan Nabi tersebut mengusap darah dari wajahnya sambil mengucapkan: "Ya Allah ampunilah kaum hamba itu, sebab mereka itu memang tidak mengerti." (Muttafaq 'alaih)
37- ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﺳﻌﻴﺪ ﻭﺃﰊ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: "ﻣﺎ ﻳﺼﻴﺐ ﺍﳌﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﻧﺼﺐ ﻭﻻ ﻭﺻﺐ ﻭﻻ ﻫﻢ ﻭﻻ ﺣﺰﻥ ﻭﻻ ﺃﺫﻯ ﻭﻻ ﻏﻢ، ﺣﱴ ﺍﻟﺸﻮﻛﺔ ﻳﺸﺎﻛﻬﺎ ﺇﻻ ﻛﻔﺮ ﺍﷲ ﺎ ﻣﻦ ﺧﻄﺎﻳﺎﻩ" ((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)) . ﻭ ﺍﻟﻮﺻﺐ : ﺍﳌﺮﺽ
37. Dari Abu Said dan Abu Hurairah radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Tidak suatupun yang mengenai seseorang muslim - sebagai mushibah - baik dari
kelelahan, tidak pula sesuatu yang mengenainya yang berupa kesakitan, juga kesedihan yang akan datang ataupun yang lampau, tidak pula yang berupa hal yang menyakiti - yakni sesuatu yang tidak mencocoki kehendak hatinya, ataupun kesedihan - segala macam dan segala waktunya, sampaipun sebuah duri yang masuk dalam anggota tubuhnya, melainkan Allah menutupi kesalahan-kesalahannya dengan sebab apa-apa yang mengenainya-yakni sesuai dengan mushibah yang diperolehnya- itu." (Muttafaq 'alaih)
Keterangan:
50
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
Kesakitan apapun yang diderita oleh seseorang mu'min, ataupun bencana dalam
bentuk bagaimana yang ditemui olehnya itu dapat membersihkan dosa-dosanya dan berpahalalah ia dalam keadaan seperti itu, tetap bersabar dan tabah. Sebaliknya jikalau tidak sabar dan uring-uringan serta mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan, maka bukan pahala yang didapatkan, tetapi makin menambah besarnya dosa. Oleh sebab itu jikalau kita tertimpa oleh kesakitan atau malapetaka, jangan sampai malahan melenyapkan pahala yang semestinya kita peroleh.
38- ﻭﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﺩﺧﻠﺖ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻫﻮ ﻳﻮﻋﻚ ﻓﻘﻠﺖ: ﻳﺎﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺇﻧﻚ ﺗﻮﻋﻚ ﻭﻋﻜﺎﹰ ﺷﺪﻳﺪﺍﹰ ﻗﺎﻝ: "ﺃﺟﻞ ﺇﱐ ﺃﻭﻋﻚ ﻛﻤﺎ ﻳﻮﻋﻚ ﺭﺟﻼﻥ ﻣﻨﻜﻢ" ﻗﻠﺖ: ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻟﻚ ﺃﺟﺮﻳﻦ ؟ ﻗﺎﻝ: "ﺃﺟﻞ ﺫﻟﻚ ﻛﺬﻟﻚ ﻣﺎ ﻣﻦ ﻣﺴﻠﻢ ﻳﺼﻴﺒﻪ ﺃﺫﻯ؛ ﺷﻮﻛﺔ ﻓﻤﺎ ﻓﻮﻗﻬﺎ ﺇﻻ ﻛﻔﺮ ﺍﷲ ﺎ ﺳﻴﺌﺎﺗﻪ ، ﻭﺣﻄﺖ ﻋﻨﻪ ﺫﻧﻮﺑﻪ ﻛﻤﺎ ﲢﻂ ﺍﻟﺸﺠﺮﺓ ﻭﺭﻗﻬﺎ" ((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)) .ﻭﺍﻟﻮﻋﻚ : ﻣﻐﺚ ﺍﳊﻤﻰ، ﻭﻗﻴﻞ: ﺍﳊﻤﻰ
38. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: Saya memasuki tempat Nabi s.a.w. dan beliau
sedang dihinggapi penyakit panas. Saya lalu berkata: " Ya Rasulullah, sesungguhnya Tuan dihinggapi penyakit panas yang amat sangat." Beliau kemudian bersabda: "Benar, sesungguhnya saya terkena panas sebagaimana panas dua orang dari engkau semua yang menjadi satu." Saya berkata lagi: "Kalau demikian Tuan tentulah mendapatkan dua kali pahala." Beliau bersabda: "Benar, demikianlah memang keadaannya, tiada seorang Muslimpun yang terkena oleh sesuatu kesakitan, baik itu berupa duri ataupun sesuatu yang lebih dari itu, melainkan Allah pasti menutupi kesalahan-kesalahannya dengan sebab mushibah yang mengenainya tadi dan diturunkanlah dosa-dosanya sebagaimana sebuah pohon menurunkan daunnya - dan ini jikalau disertai kesabaran."
Alwa'ku yaitu sangatnya panas (dalam tubuh sebab sakit), tetapi ada yang mengatakan
panas ( biasa).
39- ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ " ﻣﻦ ﻳﺮﺩ ﺍﷲ ﺑﻪ ﺧﲑﺍﹰ
ﻳﺼﺐ ﻣﻨﻪ" : ((ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ)). ﻭﺿﺒﻄﻮﺍ ﻳﺼﺐ :ﺑﻔﺘﺢ ﺍﻟﺼﺎﺩ ﻭﻛﺴﺮﻫﺎ
39. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa oleh Allah dikehendaki akan memperoleh kebaikan, maka Allah akan memberikan mushibah padanya-baik yang mengenai tubuhnya, hartanya ataupun apa-apa
yang menjadi kekasihnya."(Riwayat Bukhari)
Para ulama mencatat: Yushab, boleh dibaca fathah shadnya dan boleh pula
dikasrahkan, (lalu dibaca yushib).
51
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
40- ﻭﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : " ﻻ ﻳﺘﻤﻨﲔ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺍﳌﻮﺕ ﻟﻀﺮ ﺃﺻﺎﺑﻪ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻻﺑﺪ ﻓﺎﻋﻼﹰ ﻓﻠﻴﻘﻞ: ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺃﺣﻴﲏ ﻣﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﳊﻴﺎﺓ ﺧﲑﺍﹰ ﱄ ﻭﺗﻮﻓﲏ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻮﻓﺎﺓ ﺧﲑﺍﹰ ﱄ" ((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)) .
40. Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Janganlah seseorang dari engkau semua itu mengharap-harapkan tibanya kematian dengan sebab adanya sesuatu bahaya yang mengenainya. Tetapi jikalau ia terpaksa harus berbuat demikian maka hendaklah mengatakan: "Ya Allah, tetapkanlah aku hidup selama kehidupanku itu masih merupakan kebaikan untukku dan matikanlah aku apabila kematian
itu merupakan kebaikan untukku." (Muttafaq 'alaih)
41- ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﻋﺒﺪ ﺍﷲ ﺧﺒﺎﺏ ﺑﻦ ﺍﻷﺭﺕ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﺷﻜﻮﻧﺎ ﺇﱃ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻫﻮ ﻣﺘﻮﺳﺪ ﺑﺮﺩﺓ ﻟﻪ ﰲ ﻇﻞ ﺍﻟﻜﻌﺒﺔ، ﻓﻘﻠﻨﺎ : ﺃﻻ ﺗﺴﺘﻨﺼﺮ ﻟﻨﺎ ﺃﻻ ﺗﺪﻋﻮ ﻟﻨﺎ؟ ﻓﻘﺎﻝ: ﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻗﺒﻠﻜﻢ ﻳﺆﺧﺬ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻓﻴﺤﻔﺮ ﻟﻪ ﰲ ﺍﻷﺭﺽ ﻓﻴﺠﻌﻞ ﻓﻴﻬﺎ ﰒ ﻳﺆﺗﻰ ﺑﺎﳌﻨﺸﺎﺭ ﻓﻴﻮﺿﻊ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺳﻪ ﻓﻴﺠﻌﻞ ﻧﺼﻔﲔ، ﻭﳝﺸﻂ ﺑﺄﻣﺸﺎﻁ ﻣﻦ ﺍﳊﺪﻳﺪ ﻣﺎ ﺩﻭﻥ ﳊﻤﻪ ﻭﻋﻈﻤﻪ، ﻣﺎ ﻳﺼﺪﻩ ﺫﻟﻚ ﻋﻦ ﺩﻳﻨﻪ، ﻭﺍﷲ ﻟﻴﺘﻤﻦ ﺍﷲ ﻫﺬﺍ ﺍﻷﻣﺮ ﺣﱴ ﻳﺴﲑ ﺍﻟﺮﺍﻛﺐ ﻣﻦ ﺻﻨﻌﺎﺀ ﺇﱃ ﺣﻀﺮﻣﻮﺕ ﻻ ﳜﺎﻑ ﺇﻻ ﺍﷲ ﻭﺍﻟﺬﺋﺐ ﻋﻠﻰ ﻏﻨﻤﻪ، ﻭﻟﻜﻨﻜﻢ ﺗﺴﺘﻌﺠﻠﻮﻥ" ((ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ)). ﻭﰲ ﺭﻭﺍﻳﺔ: ﻭﻫﻮ ﻣﺘﻮﺳﺪ ﺑﺮﺩﺓ ﻭﻗﺪ ﻟﻘﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﺍﳌﺸﺮﻛﲔ ﺷﺪﺓ
41. Dari Abu Abdullah, yaitu Khabbab bin Aratti r.a., katanya: "Kita mengadu kepada Rasulullah s.a.w. dan beliau ketika itu meletakkan pakaian burdahnya di bawah kepalanya sebagai bantal dan berada di naungan Ka'bah, kita berkata: Mengapa Tuan tidak memohonkan pertolongan - kepada Allah - untuk kita, sehingga kita menang? Mengapa
Tuan tidak berdoa sedemikian itu untuk kita?" Beliau lalu bersabda:
"Pernah terjadi terhadap orang-orang sebelummu - yakni zaman Nabi-nabi yang lalu, yaitu ada seorang yang diambil - oleh musuhnya, kerana ia beriman, kemudian digalikanlah tanah untuknya dan ia diletakkan di dalam tanah tadi, selanjutnya didatangkanlah sebuah
gergaji dan ini diletakkan di atas kepalanya, seterusnya kepalanya itu dibelah menjadi dua. Selain itu iapun disisir dengan sisir yang terbuat dari besi yang dikenakan di bawah daging dan tulangnya, semua siksaan itu tidak memalingkan ia dari agamanya -yakni ia tetap beriman kepada Allah. Demi Allah niscayalah Allah sungguh akan menyempurnakan perkara ini - yakni Agama Islam, sehingga seseorang yang berkendaraan yang berjalan dari Shan'a ke Hadhramaut tidak ada yang ditakuti melainkan Allah atau kerana takut pada serigala atas kambingnya - sebab takut sedemikian ini lumrah saja. Tetapi engkau semua itu hendak bercepat-cepat saja." (Riwayat Bukhari)
Dalam riwayat lain diterangkan: "Beliau saat itu sedang berbantal burdahnya, padahal kita telah memperoleh kesukaran yang amat sangat dari kaum musyrikin."
52
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
42- ﻭﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ﳌﺎ ﻛﺎﻥ ﻳﻮﻡ ﺣﻨﲔ ﺁﺛﺮ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻧﺎﺳﺎﹰ ﰲ ﺍﻟﻘﺴﻤﺔ، ﻓﺄﻋﻄﻰ ﺍﻷﻗﺮﻉ ﺑﻦ ﺣﺎﺑﺲ ﻣﺎﺋﺔ ﻣﻦ ﺍﻹﺑﻞ، ﻭﺃﻋﻄﻰ ﻋﻴﻴﻨﺔ ﺑﻦ ﺣﺼﻦ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ، ﻭﺃﻋﻄﻰ ﻧﺎﺳﺎﹰ ﻣﻦ ﺃﺷﺮﺍﻑ ﺍﻟﻌﺮﺏ ﻭﺁﺛﺮﻫﻢ ﻳﻮﻣﺌﺬ ﰲ ﺍﻟﻘﺴﻤﺔ. ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺟﻞ: ﻭﺍﷲ ﺇﻥ ﻫﺬﻩ ﻗﺴﻤﺔ ﻣﺎ ﻋﺪﻝ ﻓﻴﻬﺎ، ﻭﻣﺎ ﺃﺭﻳﺪ ﻓﻴﻬﺎ ﻭﺟﻪ ﺍﷲ، ﻓﻘﻠﺖ : ﻭﺍﷲ ﻷﺧﱪﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻓﺄﺗﻴﺘﻪ ﻓﺄﺧﱪﺗﻪ ﲟﺎ ﻗﺎﻝ: ﻓﺘﻐﲑ ﻭﺟﻬﻬﻪ ﺣﱴ ﻛﺎﻥ ﻛﺎﻟﺼﺮﻑ . ﰒ ﻗﺎﻝ " ﻓﻤﻦ ﻳﻌﺪﻝ ﺇﺫﺍ ﱂ ﻳﻌﺪﻝ ﺍﷲ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ؟ ﰒ ﻗﺎﻝ: ﻳﺮﺣﻢ ﺍﷲ ﻣﻮﺳﻰ ﻗﺪ ﺃﻭﺫﻱ ﺑﺄﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﻓﺼﱪ ". ﻓﻘﻠﺖ: ﻻ ﺟﺮﻡ ﻻ ﺃﺭﻓﻊ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﻌﺪﻫﺎ ﺣﺪﻳﺜﺎﹰ. ((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)) ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻛﺎﻟﺼﺮﻑ ﻫﻮ ﺑﻜﺴﺮ ﺍﻟﺼﺎﺩ ﺍﳌﻬﻤﻠﺔ : ﻭﻫﻮ ﺻﺒﻎ ﺃﲪﺮ .
42. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Ketika hari peperangan Hunain, Rasulullah s.a.w. melebihkan - mengutamakan - beberapa orang dalam pemberian pembagian - harta rampasan, lalu mem-berikan kepada al-Aqra' bin Habis seratus ekor unta dan memberikan kepada 'Uyainah bin Hishn seperti itu pula - seratus ekor unta, juga memberikan kepada orang-orang yang termasuk bangsawan Arab dan mengutamakan dalam cara pembagian kepada mereka tadi. Kemudian ada seoranglelaki berkata: "Demi Allah, pembagian secara ini, sama sekali tidak ada keadilannya dan agaknya tidak dikehendaki untuk mencari keridhaan Allah." Saya lalu berkata: "Demi Allah, hal ini akan saya beritahukan kepada Rasulullah s.a.w." Saya pun mendatanginya terus memberitahukan kepadanya tentang apa-apa yang dikatakan oleh orang itu. Maka berubahlah warna wajah beliau sehingga menjadi semacam
sumba merah - merah padam kerana marah - lalu bersabda:
"Siapakah yang dapat dinamakan adil, jikalau Allah dan RasulNya dianggap tidak adil juga." Selanjutnya beliau bersabda: "Allah merahmati Nabt Musa. Ia telah disakiti dengan cara yang lebih sangat dari ini, tetapi ia tetap sabar." Saya sendiri berkata: "Ah, semestinya saya tidak memberitahukan dan saya tidak akan mengadukan lagi sesuatu pembicaraanpun
setelah peristiwa itu kepada beliau lagi." (Muttafaq 'alaih) Sabda Nabi s.a.w. Kashshirfi dengan kasrahnya shad muhmalah, artinya sumba merah.
43- ﻭﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :"ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﷲ ﺑﻌﺒﺪﻩ ﺧﲑﺍﹰ ﻋﺠﻞ ﻟﻪ ﺍﻟﻌﻘﻮﺑﺔ ﰲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ، ﻭﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﷲ ﺑﻌﺒﺪﻩ ﺍﻟﺸﺮ ﺃﻣﺴﻚ ﻋﻨﻪ ﺑﺬﻧﺒﻪ ﺣﱴ ﻳﻮﺍﰲ ﺑﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ".
ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : "ﺇﻥ ﻋﻈﻢ ﺍﳉﺰﺍﺀ ﻣﻊ ﻋﻈﻢ ﺍﻟﺒﻼﺀ، ﻭﺇﻥ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﺇﺫﺍ ﺃﺣﺐ ﻗﻮﻣﺎﹰ
ﺍﺑﺘﻼﻫﻢ، ﻓﻤﻦ ﺭﺿﻲ ﻓﻠﻪ ﺍﻟﺮﺿﻰ، ﻭﻣﻦ ﺳﺨﻂ ﻓﻠﻪ ﺍﻟﺴﺨﻂ" ((ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﻗﺎﻝ : ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ)).
43. Dari Anas r.a., berkata: "Rasulullah s.a.w. bersabda: " Jikalau Allah menghendaki
kebaikan pada seseorang hambaNya, maka ia mempercepatkan suatu siksaan - penderitaan sewaktu dunia, tetapi jikalau Allah menghendaki keburukan pada se-seorang hambaNya,
53
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
maka orang itu dibiarkan sajalah dengan dosanya, sehingga nanti akan dipenuhkan balasan - siksaannya - hari kiamat."
Dan Nabi s.a.w. bersabda - juga riwayat Anas r.a.: "Sesungguhnya besarnya balasan pahala - itu menilik besarnya bala' yang menimpa dan sesungguhnya Allah itu apabila mencintai sesuatu kaum, maka mereka itu diberi cobaan. Oleh sebab itu barangsiapa yang rela - menerima bala' tadi, ia akan memperoleh keridhaan dari Allah dan barangsiapa yang
uring-uringan maka ia memperoleh kemurkaan Allah pula." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini Hadis hasan.
44- ﻭﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﻛﺎﻥ ﺍﺑﻦ ﻷﰊ ﻃﻠﺤﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻳﺸﺘﻜﻲ، ﻓﺨﺮﺝ ﺃﺑﻮ ﻃﻠﺤﺔ، ﻓﻘﺒﺾ ﺍﻟﺼﱯ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺟﻊ ﺃﺑﻮ ﻃﻠﺤﺔ ﻗﺎﻝ: ﻣﺎ ﻓﻌﻞ ﺍﺑﲏ؟ ﻗﺎﻟﺖ ﺃﻡ ﺳﻠﻴﻢ ﻭﻫﻰ ﺃﻡ ﺍﻟﺼﱯ : ﻫﻮ ﺃﺳﻜﻦ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ، ﻓﻘﺮﺑﺖ ﺇﻟﻴﻪ ﺍﻟﻌﺸﺎﺀ ﻓﺘﻌﺸﻰ، ﰒ ﺃﺻﺎﺏ ﻣﻨﻬﺎ، ﻓﻠﻤﺎ ﻓﺮﻍ ﻗﺎﻟﺖ : ﻭﺍﺭﻭﺍ ﺍﻟﺼﱯ، ﻓﻠﻤﺎ ﺃﺻﺒﺢ ﺃﺑﻮ ﻃﻠﺤﺔ ﺃﺗﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺄﺧﱪﻩ، ﻓﻘﺎﻝ: "ﺃﻋﺮﺳﺘﻢ ﺍﻟﻠﻴﻠﺔ ؟" ﻗﺎﻝ: ﻧﻌﻢ ، ﻗﺎﻝ: "ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﳍﻤﺎ، ﻓﻮﻟﺪﺕ ﻏﻼﻣﺎﹰ، ﻓﻘﺎﻝ ﱄ ﺃﺑﻮ ﻃﻠﺤﺔ : ﺍﲪﻠﻪ ﺣﱴ ﺗﺄﺗﻰ ﺑﻪ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﺑﻌﺚ ﻣﻌﻪ ﺑﺘﻤﺮﺍﺕ، ﻓﻘﺎﻝ : "ﺃﻣﻌﻪ ﺷﻲﺀ؟" ﻗﺎﻝ: ﻧﻌﻢ، ﲤﺮﺍﺕ ﻓﺄﺧﺬﻫﺎ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻤﻀﻐﻬﺎ ، ﰒ ﺃﺧﺬﻫﺎ ﻣﻦ ﻓﻴﻪ ﻓﺠﻌﻠﻬﺎ ﰲ ﰲﹼ ﺍﻟﺼﱯ ، ﰒ ﺣﻨﻜﻪ ﻭﲰﺎﻩ ﻋﺒﺪ ﺍﷲ. ((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)) . ﻭﰱ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﻟﻠﺒﺨﺎﺭﻱ: ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﻴﻴﻨﺔ : ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺟﻞ ﻣﻦ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭ : ﻓﺮﺃﻳﺖ ﺗﺴﻌﺔ ﺃﻭﻻﺩ ﻛﻠﻬﻢ ﻗﺪ
ﻗﺮﺅﻭﺍ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ، ﻳﻌﲎ ﻣﻦ ﺃﻭﻻ ﻋﺒﺪ ﺍﷲ ﺍﳌﻮﻟﻮﺩ
ﻭﰱ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﳌﺴﻠﻢ: ﻣﺎﺕ ﺍﺑﻦ ﻷﰊ ﻃﻠﺤﺔ ﺑﻦ ﺃﻡ ﺳﻠﻴﻢ ، ﻓﻘﺎﻟﺖ ﻷﻫﻠﻬﺎ ﻻ ﲢﺪﺛﻮﺍ ﺃﺑﺎ ﻃﻠﺤﺔ ﺑﺎﺑﻨﻪ ﺣﱴ
ﺃﻛﻮﻥ ﺃﻧﺎ ﺃﺣﺪﺛﻪ، ﻓﺠﺎﺀ ﻓﻘﺮﺑﺖ ﺇﻟﻴﻪ ﻋﺸﺎﺀً ﻓﺄﻛﻞ ﻭﺷﺮﺏ، ﰒ ﺗﺼﻨﻌﺖ ﻟﻪ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﺼﻨﻊ ﻗﺒﻞ ﺫﻟﻚ، ﻓﻮﻗﻊ ﺎ، ﻓﻠﻤﺎ ﺃﻥ ﺭﺃﺕ ﺃﻧﻪ ﻗﺪ ﺷﺒﻊ ﻭﺃﺻﺎﺏ ﻣﻨﻬﺎ ﻗﺎﻟﺖ : ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﻃﻠﺤﺔ، ﺃﺭﺃﻳﺖ ﻟﻮ ﺃﻥ ﻗﻮﻣﺎﹰ ﺃﻋﺎﺭﻭﺍ ﻋﺎﺭﻳﺘﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺖ ﻓﻄﻠﺒﻮﺍ ﻋﺎﺭﻳﺘﻬﻢ، ﺃﳍﻢ ﺃﻥ ﳝﻨﻌﻮﻫﻢ؟ ﻗﺎﻝ: ﻻ، ﻓﻘﺎﻟﺖ : ﻓﺎﺣﺘﺴﺐ ﺍﺑﻨﻚ. ﻗﺎﻝ: ﻓﻐﻀﺐ، ﰒ ﻗﺎﻝ: ﺗﺮﻛﺘﲏ ﺣﱴ ﺇﺫﺍ ﺗﻠﻄﺨﺖ ﺃﺧﱪﺗﲏ ﺑﺎﺑﲏ؟! ﻓﺎﻧﻄﻠﻖ ﺣﱴ ﺃﺗﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺄﺧﱪﻩ ﲟﺎ ﻛﺎﻥ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ. "ﺑﺎﺭﻙ ﺍﷲ ﰲ ﻟﻴﻠﺘﻜﻤﺎ" ﻗﺎﻝ: ﻓﺤﻤﻠﺖ، ﻗﺎﻝ ﻭﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﰲ ﺳﻔﺮ ﻭﻫﻲ ﻣﻌﻪ، ﻭﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫﺍ ﺃﺗﻰ ﺍﳌﺪﻳﻨﺔ ﻣﻦ ﺳﻔﺮ ﻻ ﻳﻄﺮﻗﻬﺎ ﻃﺮﻭﻗﺎﹰ ﻓﺪﻧﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﳌﺪﻳﻨﺔ، ﻓﻀﺮ ﺎ ﺍﳌﺨﺎﺽ، ﻓﺎﺣﺘﺒﺲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﺑﻮ ﻃﻠﺤﺔ، ﻭﺍﻧﻄﻠﻖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: ﻳﻘﻮﻝ ﺃﺑﻮ ﻃﻠﺤﺔ: ﺇﻧﻚ ﻟﺘﻌﻠﻢ ﻳﺎﺭﺏ ﺃﻧﻪ ﻳﻌﺠﺒﲏ ﺃﻥ ﺃﺧﺮﺝ ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫﺍ ﺧﺮﺝ،
54
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
ﺖﻨﻛ ﻯﺬﻟﺍ ﺪﺟﺃ ﺎﻣ ﺔﺤﻠﻃ ﺎﺑﺃ ﺎﻳ :ﻢﻴﻠﺳ ﻡﺃ ﻝﻮﻘﺗ ،ﻯﺮﺗ ﺎﲟ ﺖﺴﺒﺘﺣﺍ ﺪﻗﻭ ،ﻞﺧﺩ ﺍﺫﺇ ﻪﻌﻣ ﻞﺧﺩﺃﻭ
ﺲﻧﺃ ﺎﻳ : ﻲﻣﺃ ﱄ ﺖﻟﺎﻘﻓ .ﺎﻣﻼﻏﹰ ﺕﺪﻟﻮﻓ ﺎﻣﺪﻗ ﲔﺣ ﺽﺎﺨﳌﺍ ﺎ ﺮﺿﻭ ،ﺎﻨﻘﻠﻄﻧﺎﻓ ،ﻖﻠﻄﻧﺍ ،ﺪﺟﺃ ﻪﺑ ﺖﻘﻠﻄﻧﺎﻓ ﻪﺘﻠﻤﺘﺣﺍ ﺢﺒﺻﺃ ﺎﻤﻠﻓ ،ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻰﻠﻋ ﻪﺑ ﻭﺪﻐﺗ ﱴﺣ ﺪﺣﺃ ﻪﻌﺿﺮﻳ
.ﺚﻳﺪﳊﺍ ﻡﺎﲤ ﺮﻛﺫﻭ .ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﱃﺇ
Dari Anas r.a., katanya: "Abu Thalhah itu mempunyai seorang putera yang sedang menderita sakit. Abu Thalhah keluar pergi - menghadap Nabi s.a.w., kemudian anaknya itu dicabutlah ruhnya - yakni meninggal dunia. Ketika Abu Thalhah kembali -waktu itu ia sedang berpuasa, ia berkata: "Bagaimanakah keadaan anakku?" Ummu Sulaim, yaitu ibu anak tersebut - jadi isterinya Abu Thalhah - menjawab: "Ia dalam keadaan yang setenang-tenangnya." Isterinya itu lalu menyiapkan makanan malam untuknya kemudian Abu Thalhah pun makan malamlah, selanjutnya ia menyetubuhinya isterinya itu. Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata: "Makamkanlah anak itu." Setelah menjelang pagi harinya Abu Thalhah mendatangi Rasulullah s.a.w., lalu memberitahukan hal tersebut - kematiannya anaknya yang ia baru mengerti setelah selesai tidur bersama isterinya. Kemudian Nabi bersabda: "Adakah engkau berdua bersetubuh tadi malam?" Abu Thalhah menjawab: "Ya." Beliau lalu bersabda pula: "Ya Allah, berikanlah keberkahan pada kedua orang ini -yakni Abu Thalhah dan isterinya. Selanjutnya Ummu Suiaim itu melahirkan seorang anak lelaki lagi. Abu Thalhah lalu berkata padaku - aku di sini ialah Anas r.a. yang meriwayatkan Hadis ini: "Bawalah ia sehingga engkau datang di tempat Nabi s.a.w. dan besertanya kirimkanlah beberapa biji buah kurma. Nabi s.a.w. bersabda: "Adakah besertanya sesuatu benda?" Ia - Anas- menjawab: "Ya.ada beberapa biji buah kurma." Buah kurma itu diambil oleh Nabi s.a.w. lalu dikunyahnya kemudian diambillah dari mulutnya, selanjutnya dimasukkanlah dalam mulut anak tersebut. Setelah itu digosokkan di langit-langit mulutnya dan memberinya nama Abdullah." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat Bukhari disebutkan demikian:
Ibnu 'Uyainah berkata: "Kemudian ada seorang dari golongan sahabat Anshar berkata: "Lalu saya melihat sembilan orang anak lelaki yang semuanya dapat membaca dengan baik dan hafal akan al-Quran, yaitu semuanya dari anak-anak Abdullah yang dilahirkan hasil peristiwa malam dahulu itu. Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia, lalu isterinya itu berkata kepada seluruh keluarganya: "Janganlah engkau semua memberitahukan hal kematian anak itu kepada Abu Thalhah, sehingga aku sendirilah yang hendak memberitahukannya nanti." Abu Thalhah - yang saat itu bepergian - lalu datanglah, kemudian isterinya menyiapkan makan malam untuknya dan iapun makan dan minumlah. Selanjutnya isterinya itu memperhias diri dengan sebaik-baik hiasan yang ada padanya dan bahkan belum pernah berhias semacam itu sebelum peristiwa tersebut. Seterusnya Abu Thalhah menyetubuhi isterinya. Sewaktu isterinya telah mengetahui bahwa suaminya telah kenyang dan selesai menyetubuhinya, iapun berkatalah pada Abu Thalhah: "Bagaimanakah pendapat kanda, jikalau sesuatu kaum meminjamkan sesuatu yang dipinjamkannya kepada salah satu keluarga, kemudian mereka meminta kembalinya apa yang dipinjamkannya. Patutkah keluarga yang meminjamnya itu menolak untuk mengembalikannya benda tersebut kepada yang meminjaminya?" Abu Thalhah menjawab: "Tidak boleh menolaknya - yakni harus menyerahkannya." Kemudian berkata pula isterinya: "Nah, perhitungkanlah bagaimana pinjaman itu jikalau berupa anakmu sendiri?" Abu Thalhah lalu marah-marah kemudian berkata: "Engkau biarkan aku tidak
55
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
mengetahui - kematian anakku itu, sehingga setelah aku terkena kotoran - maksudnya kotoran bekas bersetubuh, lalu engkau beritahukan hal anakku itu padaku."
Iapun lalu berangkat sehingga datang di tempat Rasulullah s.a.w. lalu memberitahukan segala sesuatu yang telah terjadi, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu berdua dalam malammu itu."
Anas r.a. berkata: "Kemudian isterinya hamil." Anas r.a. melanjutkan katanya: "Rasulullah s.a.w. sedang dalam bepergian dan Ummu Sulaim itu menyertainya pula - bersama suaminya juga. Rasulullah s.a.w. apabila datang di Madinah di waktu malam dari bepergian, tidak pernah mendatangi rumah keluarganya malam-malam. Ummu Sulaim tiba-tiba merasa sakit kerana hendak melahirkan, maka oleh kerana Abu Thalhah tertahan - yakni tidak dapat terus mengikuti Nabi s.a.w. Rasulullah s.a.w. terus berangkat."
Anas berkata: "Setelah itu Abu Thalhah berkata: "Sesungguhnya Engkau tentulah Maha Mengetahui, ya Tuhanku, bahwa saya ini amat tertarik sekali untuk keluar bepergian bersama-sama Rasulullah s.a.w. di waktu beliau keluar bepergian dan untuk masuk -tetap di negerinya - bersama-sama dengan beliau di waktu beliau masuk. Sesungguhnya saya telah tertahan pada saat ini dengan sebab sebagaimana yang Engkau ketahui."
Ummu Sulaim ialu berkata: "Hai Abu Thalhah, saya tidak menemukan sakitnya hendak melahirkan sebagaimana yang biasanya saya dapatkan - jikaiau hendak melahirkan anak. Maka itu berangkatlah. Kitapun - maksudnya Rasulullah s.a.w., Abu Thalhah dan isterinya - berangkatlah, Ummu Sulaim sebenarnya memang merasakan sakit hendak melahirkan, ketika keduanya itu datang, lalu melahirkan seorang anak lelaki. Ibuku - yakni ibu Anas r.a. - berkata padaku - pada Anas r.a.: "Hai Anas, janganlah anak itu disusui oleh siapapun sehingga engkau pergi pagi-pagi besok dengan membawa anak itu kepada Rasulullah s.a.w."
Ketika waktu pagi menjelma, saya - Anas r.a. - membawa anak tadi kemudian pergi dengannya kepada Rasulullah s.a.w. Ia lalu meneruskan ceritera Hadis ini sampai selesainya.
Keterangan:
Hadis di atas itu memberikan kesimpulan tentang sunnahnya melipur orang yang sedang dalam kedukaan agar berkurang kesedihan hatinya, juga bolehnya memalingkan sesuatu persoalan kepada persoalan yang lain lebih dulu, untuk ditujukan kepada hal yang dianggap penting, sebagaimana perilaku isteri Abu Thalhah kepada suaminya. Ini tentu saja bila amat diperlukan untuk berbuat sedemikian itu.
Sementara itu Hadis di atas juga menjelaskan akan sunnahnya seseorang isteri berhias seelok-eloknya agar suaminya tertarik padanya dan tidak sampai terpesona oleh wanita lain, sehingga menyebabkan terjerumusnya suami itu dalam kemesuman yang diharamkan oleh agama. Demikian pula isteri dianjurkan sekali untuk berbuat segala hal yang dapat menggembirakan suami dan melayaninya dengan hati penuh kelapangan serta wajah berseri-seri, baik dalam menyiapkan makanan dan hidangan sehari-hari ataupun dalam seketiduran.
Jadi salah sekali, apabila seseorang wanita itu malahan berpakaian serba kusut ketika di rumah, tetapi di saat keluar rumah lalu bersolek seindah-indahnya.Juga salah pula apabila seorang isteri itu kurang memperhatikan keadaan dan selera suaminya dalam hal makan minumnya, ataupun dalam cara melayaninya dalam persetubuhan.
56
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
45- ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: "ﻟﻴﺲ ﺍﻟﺸﺪﻳﺪ ﺑﺎﻟﺼﺮﻋﺔ، ﺇﳕﺎ ﺍﻟﺸﺪﻳﺪ ﺍﻟﺬﻯ ﳝﻠﻚ ﻧﻔﺴﻪ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻐﻀﺐ" ((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)) . ﻭﺍﻟﺼﺮﻋﺔ ﺑﻀﻢ ﺍﻟﺼﺎﺩ ﻭﻓﺘﺢ ﺍﻟﺮﺍﺀ. ﻭﺃﺻﻠﻪ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻌﺮﺏ ﻣﻦ ﻳﺼﺮﻉ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻛﺜﲑﺍﹰ
45. Dari Abu Hurariah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bukanlah orang
yang keras - kuat - itu dengan banyaknya berkelahi, hanyasanya orang-orang yang keras kuat - ialah orang yang dapat menguasai dirinya di waktu sedang marah-marah."
(Muttafaq 'alaih)
Ashshura-ah dengan dhammahnya shad dan fathahnya ra', menurut asalnya bagi bangsa Arab, artinya ialah orang yang suka sekali menyerang atau membanting orang
banyak (sampai terbaring atau tidak sadarkan diri).
46- ﻭﻋﻦ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﺻﺮﺩ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﻛﻨﺖ ﺟﺎﻟﺴﺎﹰ ﻣﻊ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﺭﺟﻼﻥ ﻳﺴﺘﺒﺎﻥ، ﻭﺃﺣﺪﳘﺎ ﻗﺪ ﺍﲪﺮ ﻭﺟﻬﻪ، ﻭﺍﻧﺘﻔﺨﺖ ﺃﻭﺩﺍﺟﻪ. ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " ﺇﱐ ﻷﻋﻠﻢ ﻛﻠﻤﺔ ﻟﻮ ﻗﺎﳍﺎ ﻟﺬﻫﺐ ﻋﻨﻪ ﻣﺎ ﳚﺪ، ﻟﻮ ﻗﺎﻝ : ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﷲ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ ﺫﻫﺐ ﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﳚﺪ". ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ : ﺇﻥ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: " ﺗﻌﻮﺫ ﺑﺎﷲ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ" ((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ )) .
46. Dari Sulaiman bin Shurad r.a., katanya: "Saya duduk bersama Nabi s.a.w. dan di
situ ada dua orang yang saling bermaki-makian antara seorang dengan kawannya. Salah seorang dari keduanya itu telah merah padam mukanya dan membesarlah urat lehernya, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya saja niscayalah mengetahui suatu kalimat yang apabila diucapkannya, tentulah hilang apa yang ditemuinya -kemarahannya, yaitu andaikata ia mengucapkan: "A'udzu billahi minasy syaithanir rajim," tentulah lenyap apa yang ditemuinya itu . Orang-orang lalu berkata padanya - orang yang merah padam mukanya tadi: "Sesungguhnya Nabi s.a.w. bersabda: "Mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaitan yang direjam."
(Muttafaq 'alaih)
47- ﻭﻋﻦ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺃﻧﺲ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: " ﻣﻦ ﻛﻈﻢ ﻏﻴﻈﺎﹰ ، ﻭﻫﻮ ﻗﺎﺩﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻳﻨﻔﺬﻩ، ﺩﻋﺎﻩ ﺍﷲ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﱃ ﻋﻠﻰ ﺭﺅﻭﺱ ﺍﳋﻼﺋﻖ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺣﱴ ﳜﲑﻩ ﻣﻦ ﺍﳊﻮﺭ ﺍﻟﻌﲔ ﻣﺎ ﺷﺎﺀ" ((ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ، ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﻗﺎﻝ: ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ)).
47. Dari Mu'az bin Anas r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang menahan marahnya padahal ia kuasa untuk meneruskannya - melaksanakannya - maka Allah Subhanahu wa Ta'ala mengundangnya di hadapan kepala - yakni disaksikan -sekalian makhluk pada hari kiamat, sehingga disuruhnya orang itu memilih bidadari-bidadari yang
membelalak matanya dengan sesuka hatinya."
57
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan.
48- ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ، ﺃﻥ ﺭﺟﻼﹰ ﻗﺎﻝ ﻟﻠﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ﺃﻭﺻﲏ، ﻗﺎﻝ: "ﻻ
ﺗﻐﻀﺐ" ﻓﺮﺩﺩ ﻣﺮﺍﺭﺍﹰ، ﻗﺎﻝ: " ﻻﺗﻐﻀﺐ" ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ.
48. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ada seorang lelaki berkata kepada Nabi s.a.w.: "Berilah wasiat padaku." Beliau s.a.w. bersabda: "Jangan marah." Orang itu mengutanginya berkali-kali tetapi beliau s.a.w. tetap bersabda: "janganlah marah."
(Riwayat Bukhari)
Keterangan:
Yang perlu dijelaskan sehubungan dengan Hadis ini ialah:
(a) Orang yang bertanya itu menurut riwayat ada yang mengatakan dia itu ialah Ibnu Umar, ada yang mengatakan Haritsah atau Abuddarda'. Mungkin juga memang banyak
yang bertanya demikian itu.
(b) Kita dilarang marah ini apabila berhubungan dengan sesuatu yang hanya mengenai hak diri kita sendiri atau hawa nafsu. Tetapi kalau berhubungan dengan hak-hak Allah, maka wajib kita pertahankan sekeras-kerasnya, misalnya agama Allah dihina orang,
al-Quran diinjak-injak atau dikencingi, alim ulama diolok-olok padahal tidak bersalah dan lain-lain sebagainya.
(c) Yang bertanya itu mengulangi berkali-kali seolah-olah meminta wasiat yang
lebih penting, namun beliau tidak menambah apa-apa. Hal ini kerana menahan marah itu sangat besar manfaat dan faedahnya. Cobalah kalau kita ingat-ingat, bahwa timbulnya semua kerusakan di dunia ini sebagian besar ialah kerana manusia ini tidak dapat mengekang hawa nafsu dan syahwatnya, tidak suka menahan marah, sehingga menimbulkan darah mendidih dan akhirnya ingin menghantam dan membalas dendam.
49- ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : " ﻣﺎ ﻳﺰﺍﻝ ﺍﻟﺒﻼﺀ ﺑﺎﳌﺆﻣﻦ ﻭﺍﳌﺆﻣﻨﺔ ﰲ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﻭﻟﺪﻩ ﺓ ﻭﻣﺎﻟﻪ ﺣﱴ ﻳﻠﻘﻰ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻭﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺧﻄﻴﺌﺔ" ((ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﻗﺎﻝ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ)) .
49. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda : "Tidak henti-hentinya bencana - bala ' - itu mengenai seseorang mu'min, lelaki atau perempuan, baik dalam dirinya sendiri, anaknya ataupun hartanya, sehingga ia menemui Allah Ta'ala dan di atasnya tidak
ada lagi sesuatu kesalahanpun."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan
shahih.
50- ﻭﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻗﺎﻝ: ﻗﺪﻡ ﻋﻴﻴﻨﺔ ﺑﻦ ﺣﺼﻦ ﻓﱰﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﺑﻦ ﺃﺧﻴﻪ ﺍﳊﺮ ﺑﻦ ﻗﻴﺲ، ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻔﺮ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺪﻧﻴﻬﻢ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ، ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﳎﻠﺲ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ
58
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
ﻭﻣﺸﺎﻭﺭﺗﻪ ﻛﻬﻮﻻﹰ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﺃﻭ ﺷﺒﺎﻧﺎﹰ، ﻓﻘﺎﻝ ﻋﻴﻴﻨﺔ ﻻﺑﻦ ﺃﺧﻴﻪ : ﻳﺎ ﺍﺑﻦ ﺃﺧﻲ ﻟﻚ ﻭﺟﻪ ﻋﻨﺪ ﻫﺬﺍ ﺍﻷﻣﲑ
ﻓﺎﺳﺘﺄﺫﻥ ﱄ ﻋﻠﻴﻪ، ﻓﺎﺳﺘﺄﺫﻥ ﻓﺄﺫﻥ ﻋﻤﺮ. ﻓﻠﻤﺎ ﺩﺧﻞ ﻗﺎﻝ: ﻫِﻰ ﻳﺎ ﺍﺑﻦ ﺍﳋﻄﺎﺏ، ﻓﻮﺍﷲ ﻣﺎ ﺗﻌﻄﻴﻨﺎ ﺍﳉﺰﻝ
ﻭﻻ ﲢﻜﻢ ﻓﻴﻨﺎ ﺑﺎﻟﻌﺪﻝ، ﻓﻐﻀﺐ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﺣﱴ ﻫﻢ ﺃﻥ ﻳﻮﻗﻊ ﺑﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺍﳊﺮ: ﻳﺎ ﺃﻣﲑ
ﺍﳌﺆﻣﻨﲔ ﺇﻥ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻗﺎﻝ ﻟﻨﺒﻴﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: { ﺧﺬ ﺍﻟﻌﻔﻮ ﻭﺃﻣﺮ ﺑﺎﻟﻌﺮﻑ ﻭﺃﻋﺮﺽ ﻋﻦ ﺍﳉﺎﻫﻠﲔ} ((ﺍﻷﻋﺮﺍﻑ .((198: ﻭﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﳉﺎﻫﻠﲔ، ﻭﺍﷲ ﻣﺎ ﺟﺎﻭﺯﻫﺎ ﻋﻤﺮ ﺣﲔ ﺗﻼﻫﺎ، ﻭﻛﺎﻥ ﻭﻗﺎﻓﺎﹰ ﻋﻨﺪ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ. ((ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ)) .
50. Dari ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma , katanya: 'Uyainah bin Hishn datang - di Madinah, kemudian turun - sebagai tamu - pada anak saudaranya - sepupunya - yaitu Alhur bin Qais. Alhur 'Adalah salah seorang dari sekian banyak orang-orang yang didekat-kan oleh Umar r.a. - yakni dianggap sebagai orang dekat dan sering diajak bermusyawarah, kerana para ahli baca al-Quran - yang pandai maknanya - adalah menjadi sahabat-sahabat yang menetap di majlis Umar r.a. serta orang-orang yang diajak bermusyawarah olehnya, baik
orang-orang tua maupun yang masih muda-muda usianya.
'Uyainah berkata kepada sepupunya: "Hai anak saudaraku engkau mempunyai wajah - banyak diperhatikan - di sisi Amirul mu'minin ini. Cobalah meminta izin padanya supaya aku dapat menemuinya. Saudaranya itu memintakan izin untuk 'Uyainah lalu Umarpun mengizinkannya. Setelah 'Uyainah masuk, lalu ia berkata: "Hati-hatilah,hai putera
Alkhaththab - yaitu Umar, demi Allah, tuan tidak memberikan banyak pemberian kelapangan hidup - pada kita dan tidak pula tuan memerintah di kalangan kita dengan keadilan." Umar r.a. marah sehingga hampir-hampir saja akan menjatuhkan hukuman padanya. Alhur kemudian berkata: "Ya Amirul mu'minin, sesungguhnya Allah Ta'ala
berfirman kepada NabiNya s.a.w. - yang artinya:
"Berilah maaf, perintahlah kebaikan dan berpalinglah - jangan menghiraukan - pada orang-orang yang bodoh."
Dan ini - yakni 'Uyainah - adalah termasuk golongan orang-orang yang bodoh.
Demi Allah, Umar tidak pernah melaluinya - melanggarnya - di waktu Alhur
membacakan itu. Umar adalah seorang yang banyak berhentinya - amat mematuhi - di sisi Kitabullah Ta'ala. (Riwayat Bukhari)
51- ﻭﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: " ﺇﺎ ﺳﺘﻜﻮﻥ ﺑﻌﺪﻱ
ﺃﺛﺮﺓ ﻭﺃﻣﻮﺭ ﺗﻨﻜﺮﻭﺎ ! ﻗﺎﻟﻮﺍ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﻓﻤﺎ ﺗﺄﻣﺮﻧﺎ؟ ﻗﺎﻝ: ﺗﺆﺩﻭﻥ ﺍﳊﻖ ﺍﻟﺬﻯ ﻋﻠﻴﻜﻢ ، ﻭﺗﺴﺄﻟﻮﻥ
ﺍﷲ ﺍﻟﺬﻯ ﻟﻜﻢ" ((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)) . ﻭﺍﻷﺛﺮﺓ : ﺍﻷﻧﻔﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﺸﺊ ﻋﻤﻦ ﻟﻪ ﻓﻴﻪ ﺣﻖ
51. Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya saja akan terjadi sesudahku nanti cara mementingkan diri sendiri -
sedang orang lain lebih berhak untuk memperolehnya - dan juga beberapa perkara yang engkau semua akan mengingkarinya. Orang-orang semua berkata: "Ya Rasulullah, maka apakah yang akan Tuan perintahkan pada kita - kaum Muslimin. Beliau s.a .w. bersabda:
59
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
"Supaya engkau semua menunaikan hak yang menjadi kewajibanmu untuk dilaksanakan dan mohonlah kepada Allah akan hak yang memang menjadi milikmu semua."
(Muttafaq 'alaih)
52- ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﳛﲕ ﺃﺳﻴﺪ ﺑﻦ ﺣﻀﲑ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺭﺟﻼﹰ ﻣﻦ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭ ﻗﺎﻝ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺃﻻ ﺗﺴﺘﻌﻤﻠﲏ ﻛﻤﺎ ﺍﺳﺘﻌﻤﻠﺖ ﻓﻼﻧﺎﹰ ﻓﻘﺎﻝ: "ﺇﻧﻜﻢ ﺳﺘﻠﻘﻮﻥ ﺑﻌﺪﻱ ﺃﺛﺮﺓ، ﻓﺎﺻﱪﻭﺍ ﺣﱴ ﺗﻠﻘﻮﱐ ﻋﻠﻰ ﺍﳊﻮﺽ" )(ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)) . ﻭﺃﺳﻴﺪ ﺑﻀﻢ ﺍﳍﻤﺰﺓ. ﻭﺣﻀﲑ : ﲝﺎﺀٍ ﻣﻬﻤﻠﺔ ﻣﻀﻤﻮﻣﺔٍ ﻭﺿﺎﺩٍ ﻣﻌﺠﻤﺔٍ ﻣﻔﺘﻮﺣﺔٍ، ﻭﺍﷲ ﺃﻋﻠﻢ
52. Dari Abu Yahya yaitu Usaid bin Hudhair r.a . bahwasanya ada seorang lelaki dari kaum Anshar berkata: "Ya Rasulullah, mengapakah tuan tidak menggunakan saya sebagai pegawai, sebagaimana tuan juga menggunakan si Fulan dan Fulan itu?" Beliau s.a.w. lalu
bersabda:
"Sesungguhnya engkau semua akan menemui sesudahku nanti suatu cara
mementingkan diri sendiri - sedang orang lain lebih berhak untuk memperolehnya, maka dari itu bersabarlah, sehingga engkau semua menemui aku di telaga - pada hari kiamat." (Muttafaq 'alaih)
53- ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻋﺒﺪ ﺍﷲ ﺑﻦ ﺃﰊ ﺃﻭﰱ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﰲ ﺑﻌﺾ ﺃﻳﺎﻣﻪ ﺍﻟﱵ ﻟﻘﻲ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻌﺪﻭ، ﺍﻧﺘﻈﺮ ﺣﱴ ﺇﺫﺍ ﻣﺎﻟﺖ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻗﺎﻡ ﻓﻴﻬﻢ ﻓﻘﺎﻝ: " ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻻ ﺗﺘﻤﻨﻮﺍ ﻟﻘﺎﺀ ﺍﻟﻌﺪﻭ، ﻭﺍﺳﺄﻟﻮﺍ ﺍﷲ ﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ، ﻓﺈﺫﺍ ﻟﻘﻴﺘﻤﻮﻫﻢ ﻓﺎﺻﱪﻭﺍ، ﻭﺍﻋﻠﻤﻮﺍ ﺃﻥ ﺍﳉﻨﺔ ﲢﺖ ﻇﻼﻝ ﺍﻟﺴﻴﻮﻑ" ﰒ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : " ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻣﱰﻝ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﳎﺮﻱ ﺍﻟﺴﺤﺎﺏ ، ﻭﻫﺎﺯﻡ ﺍﻷﺣﺰﺍﺏ، ﺍﻫﺰﻣﻬﻢ ﻭﺍﻧﺼﺮﻧﺎ ﻋﻠﻴﻬﻢ" ((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ )) ﻭﺑﺎﷲ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ.
53. Dari Abu Ibrahim, yaitu Abdullah bin Abu Aufa radhiallahu 'anhuma bahwa Rasulullah s.a.w. pada suatu hari di waktu beliau itu bertemu dengan musuh, beliau menantikan sehingga matahari condong - hendak terbenam - beliau lalu berdiri di muka
orang banyak kemudian bersabda:
"Hai sekalian manusia, janganlah engkau semua mengharap-harapkan bertemu musuh dan mohonlah kepada Allah akan keselamatan. Tetapi jikalau engkau semua menemui musuh itu, maka bersabarlah . Ketahuilah olehmu semua bahwasanya syurga itu
ada di bawah naungan pedang."
Selanjutnya Nabi s.a.w. bersabda:
"Ya Allah yang menurunkan kitab, yang menjalankan awan,
Yang menghancur-leburkan gabungan pasukan musuh. Hancur leburkanlah mereka itu dan berilah kita semua kemenangan atas mereka." (Muttafaq 'alaih)
Wabillahittaufiq (Dan dengan Allah itulah adanya pertolongan).
Keterangan:
Dalam mengulas sabda Rasulullah s.a.w. yang berbunyi:
60
Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
"Syurga itu ada di bawah naungan pedang." Imam al-Qurthubi berkata:
"Ucapan itu adalah suatu pertanda betapa indahnya susunan kalimat yang digunakan oleh Rasulullah s.a.w. Sedikit kata-katanya, tetapi luas pengertiannya. Maksudnya iaiah bahwa letak syurga itu dengan memberikan perlawanan kepada musuh, manakala mereka telah memulai menyerang kedudukan kita. Jika sudah dalam keadaan terjepit dan musuh sudah menyerbu dekat sekali dengan tempat pertahanan kita, maka tiada jalan lain, kecuali dengan beradu kekuatan, yakni pedanglah yang wajib digunakan untuk penyelesaian, menang atau kalah. Jika pedang kaum Muslimin sudah beradu dengan pedang musuh, masing-masing pihak menangkis serangan musuhnya, pedang meninggi dan merendah, sampai-sampai bayangannya tampak jelas. Naungan pedang itulah yang menyebabkan kaum Muslimin akan memperoleh kebahagiaan dalam dua keadaan:
Jika kalah dan mati, gugurlah sebagai pejuang syahid dan pasti masuk syurga tanpa dihisab. Di kalangan ummatpun menjadi harum namanya.
Jika menang dan selamat sampai dapat kembali ke rumah ia juga akan merasakan kenikmatan syurga dunia, hidup dalam keluhuran dan kejayaan.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan