ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ
Taubat
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ: ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ ﻭﺍﺟﺒﺔ ﻣﻦ ﻛﻞ
ﺫﻧﺐ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﳌﻌﺼﻴﺔ ﺑﲔ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻭﺑﲔ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻻ ﺗﺘﻌﻠﻖ ﲝﻖ ﺁﺩﻣﻰ، ﻓﻠﻬﺎ ﺛﻼﺛﺔ ﺷﺮﻭﻁ:
ﺃﺣﺪﻫﺎ
: ﺃﻥ ﻳﻘﻠﻊ ﻋﻦ ﺍﳌﻌﺼﻴﺔ.
ﻭﺍﻟﺜﺎﱏ:
ﺃﻥ ﻳﻨﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﻓﻌﻠﻬﺎ.
ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺚ:
ﺃﻥ ﻳﻌﺰﻡ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻌﻮﺩ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺃﺑﺪﺍﹰ. ﻓﺈﻥ ﻓﹸﻘﺪ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﱂ ﺗﺼﺢ ﺗﻮﺑﺘﻪ.ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﳌﻌﺼﻴﺔ
ﺗﺘﻌﻠﻖ ﺑﺂﺩﻣﻰ ﻓﺸﺮﻭﻃﻬﺎ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﻫﺬﻩ
ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ، ﻭﺃﻥ ﻳﱪﺃ ﻣﻦ ﺣﻖ ﺻﺎﺣﺒﻬﺎ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﺎﻻﹰ ﺃﻭ ﳓﻮﻩ ﺭﺩﻩ ﺇﻟﻴﻪ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺣﺪ ﻗﺬﻑ
ﻭﳓﻮﻩ ﻣﻜﻨﻪ ﻣﻨﻪ ﺃﻭ ﻃﻠﺐ ﻋﻔﻮﻩ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻏﻴﺒﺔ ﺍﺳﺘﺤﻠﻪ ﻣﻨﻬﺎ . ﻭﳚﺐ ﺃﻥ ﻳﺘﻮﺏ ﻣﻦ ﲨﻴﻊ
ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ، ﻓﺈﻥ ﺗﺎﺏ ﻣﻦ ﺑﻌﻀﻬﺎ ﺻﺤﺖ ﺗﻮﺑﺘﻪ ﻋﻨﺪ ﺃﻫﻞ ﺍﳊﻖ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺬﻧﺐ، ﻭﺑﻘﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺒﺎﻗﻰ.
ﻭﻗﺪ ﺗﻈﺎﻫﺮﺕ ﺩﻻﺋﻞ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ، ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ، ﻭﺇﲨﺎﻉ ﺍﻷﻣﺔ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ:
ﻗﺎﻝ
ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ: {ﻭﺗﻮﺑﻮﺍ
ﺇﱃ ﺍﷲ ﲨﻴﻌﺎﹰ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﳌﺆﻣﻨﻮﻥ ﻟﻌﻠﻜﻢ ﺗﻔﻠﺤﻮﻥ } ((ﺍﻟﻨﻮﺭ: (( 31 ﻭﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﱃ:
{ﺍﺳﺘﻐﻔﺮﻭﺍ ﺭﺑﻜﻢ ﰒ ﺗﻮﺑﻮﺍ ﺇﻟﻴﻪ} ((ﻫﻮﺩ: ((3
ﻭﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﱃ:{
ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﺗﻮﺑﻮﺍ ﺇﱃ ﺍﷲ ﺗﻮﺑﺔ
ﻧﺼﻮﺣﺎﹰ} ((ﺍﻟﺘﺤﺮﱘ: .((8
Para alim-ulama berkata:
"Mengerjakan taubat itu hukumnya wajib dari segala macam dosa. Jikalau
kemaksiatan itu terjadi antara
seseorang hamba dan antara Allah Ta'ala saja, yakni tidak ada hubungannya
dengan hak seseorang manusia yang lain, maka untuk bertaubat itu harus menetapi
tiga macam syarat, yaitu: Pertama hendaklah menghentikan sama sekali-seketika itu
juga -dari kemaksiatan yang dilakukan, kedua ialah supaya merasa menyesal
kerana telah melakukan kemaksiatan tadi dan ketiga supaya berniat tidak akan
kembali mengulangi
perbuatan
maksiat itu untuk selama-lamanya. Jikalau salah satu dari tiga syarat tersebut
di atas itu ada yang ketinggalan maka tidak sahlah taubatnya.
Apabila kemaksiatan
itu ada hubungannya dengan sesama manusia, maka syarat-syaratnya itu ada empat
macam, yaitu tiga syarat yang tersebut di atas dan keempatnya ialah supaya
melepas-kan tanggungan itu dari hak kawannya. Maka jikalau tanggungan itu
berupa harta atau yang semisal dengan itu, maka wajiblah mengembalikannya
kepada yang berhak tadi, jikalau berupa dakwaan zina atau yang semisal dengan
itu, maka hendaklah mencabut dakwaan tadi dari orang yang didakwakan atau
meminta saja pengampunan daripada kawannya dan jikalau merupakan pengumpatan,
maka hendaklah meminta penghalalan yakni pemaafan dari umpatannya itu kepada
orang yang diumpat olehnya.
Seseorang itu
wajiblah bertaubat dari segala macam dosa, tetapi jikalau seseorang itu
bertaubat dari sebagian dosanya, maka taubatnya itupun sah dari dosa yang
dimaksudkan itu, demikian pendapat para alim-ulama yang termasuk golongan
ahlulhaq, namun saja dosa-dosa yang lain-lainnya masih tetap ada dan tertinggal
- yakni belum lagi ditaubati.
Sudah jelaslah dalil-dalil yang tercantum
dalam Kitabullah, Sunnah Rasulullah s.a.w.
serta ijma' seluruh ummat perihal wajibnya mengerjakan taubat
itu.
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan bertaubatlah engkau semua kepada Allah, hai sekalian
orang Mu'min, supaya engkau semua memperoleh kebahagiaan." (an-Nur: 31)
Surah An-Nuur - سورة النور
Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya.
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Mohon
ampunlah kepada Tuhanmu semua dan bertaubatlah kepadaNya." (Hud: 3)
Surah Hud - سورة هود
Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhan kamu (dari perbuatan syirik), kemudian hendaklah kamu rujuk kembali taat kepadaNya; supaya Ia memberi kamu nikmat kesenangan hidup yang baik (di dunia) hingga ke suatu masa yang tertentu, dan (di akhirat pula) Ia akan memberi kepada tiap-tiap seorang yang mempunyai kelebihan (dalam sebarang amal yang soleh) akan pahala kelebihannya itu; dan jika kamu berpaling (membelakangkan tiga perkara itu), maka sesungguhnya aku bimbang kamu akan beroleh azab hari kiamat yang besar (huru-haranya).
Dan lagi firmanNya:
"Hai sekalian orang yang beriman, bertaubatlah kepada
Allah dengan taubat yang nashuha - yakni yang sebenar-benarnya." (at-Tahrim: 8)
Surah At-Tahriim - سورة التحريم
Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kamu kepada Allah dengan " Taubat Nasuha", mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, pada hari Allah tidak akan menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya; cahaya (iman dan amal soleh) mereka, bergerak cepat di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka (semasa mereka berjalan); mereka berkata (ketika orang-orang munafik meraba-raba dalam gelap-gelita): "Wahai Tuhan kami! Sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan limpahkanlah keampunan kepada kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu".
Keterangan:
Taubat nashuha
itu wajib dilakukan dengan memenuhi tiga macam syarat sebagaimana di bawah ini,
yaitu:
Semua hal-hal yang mengakibatkan diterapi siksa, kerana berupa
perbuatan yang dosa jika dikerjakan, wajib ditinggalkan secara sekaligus dan
tidak diulangi lagi.
Bertekad bulat dan teguh untuk memurnikan serta membersihkan
diri sendiri dari semua perkara dosa tadi tanpa bimbang dan ragu-ragu.
Segala perbuatannya jangan dicampuri apa-apa yang mungkin dapat
mengotori atau sebab-sebab yang menjurus ke arah dapat merusakkan taubatnya
itu.
ﱐﺇ ﷲﺍﻭ" :ﻝﻮﻘﻳ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﺖﻌﲰ :ﻝﺎﻗ
ﻪﻨﻋ ﷲﺍ ﻲﺿﺭ ﺓﺮﻳﺮﻫ ﰊﺃ ﻦﻋﻭ 13-.((ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ
ﻩﺍﻭﺭ)) " ﺓﺮﻣ ﲔﻌﺒﺳ ﻦﻣ ﺮﺜﻛﺃ ﻡﻮﻴﻟﺍ ﰲ ﻪﻴﻟﺇ ﺏﻮﺗﺃﻭ ﷲﺍ ﺮﻔﻐﺘﺳﻷ
13. Dari Abu Hurairah r.a. berkata:
Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Demi
Allah, sesungguhnya saya itu niscayalah memohonkan pengampunan kepada Allah
serta bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali."
(Riwayat Bukhari)
14-
ﻭﻋﻦ ﺍﻷﻏﺮ ﺑﻦ ﻳﺴﺎﺭ ﺍﳌﺰﱏ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: "
ﻳﺎﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺗﻮﺑﻮﺍ ﺇﱃ ﺍﷲ ﻭﺍﺳﺘﻐﻔﺮﻭﻩ ﻓﺈﱏ ﺃﺗﻮﺏ ﰲ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻣﺎﺋﻪ ﻣﺮﺓ" ((ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ)).
14. Dari Aghar bin Yasar al-Muzani r.a.
katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Hai sekalian manusia,
bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah pengampunan
daripadaNya,
kerana sesungguhnya saya ini bertaubat dalam sehari seratus kali." (Riwayat
Muslim)
15-
ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﲪﺰﺓ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭﻯ ﺧﺎﺩﻡ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ:
ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : " ﷲ ﺃﻓﺮﺡ ﺑﺘﻮﺑﺔ ﻋﺒﺪﻩ ﻣﻦ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺳﻘﻂ ﻋﻠﻰ ﺑﻌﲑﻩ
ﻭﻗﺪ ﺃﺿﻠﻪ ﰲ ﺃﺭﺽ ﻓﻼﺓ " ((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)).
ﻭﰱ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﳌﺴﻠﻢ: ﷲ ﺃﺷﺪ ﻓﺮﺣﺎ ﺑﺘﻮﺑﺔ ﻋﺒﺪﻩ ﺣﲔ ﻳﺘﻮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ
ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺭﺍﺣﻠﺘﻪ ﺑﺄﺭﺽ ﻓﻼﺓ، ﻓﺎﻧﻔﻠﺘﺖ ﻣﻨﻪ ﻭﻋﻠﻴﻬﺎ ﻃﻌﺎﻣﻪ ﻭﺷﺮﺍﺑﻪ ﻓﺄﻳﺲ ﻣﻨﻬﺎ، ﻓﺄﺗﻰ
ﺷﺠﺮﺓ ﻓﺎﺿﻄﺠﻊ ﰲ ﻇﻠﻬﺎ، ﻭﻗﺪ ﺃﻳﺲ ﻣﻦ ﺭﺍﺣﻠﺘﻪ، ﻓﺒﻴﻨﻤﺎ ﻫﻮ ﻛﺬﻟﻚ ﺇﺫﺍ ﻫﻮ ﺎ، ﻗﺎﺋﻤﺔ ﻋﻨﺪﻩ ،
ﻓﺄﺧﺬ ﲞﻄﺎﻣﻬﺎ ﰒ ﻗﺎﻝ ﻣﻦ ﺷﺪﺓ ﺍﻟﻔﺮﺡ: ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺃﻧﺖ ﻋﺒﺪﻱ ﻭﺃﻧﺎ ﺭﺑﻚ، ﺃﺧﻄﺄ ﻣﻦ ﺷﺪﺓ ﺍﻟﻔﺮﺡ".
15.
Dari Abu Hamzah yaitu Anas bin Malik al-Anshari r.a., pelayan Rasulullah
s.a.w., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Niscayalah Allah itu lebih gembira dengan taubat hambaNya
daripada gembiranya
seseorang
dari engkau semua yang jatuh di atas untanya dan oleh Allah ia disesatkan di suatu
tanah yang luas." (Muttafaq ' alaih)
Dalam riwayat
Muslim disebutkan demikian: "Niscayalah Allah itu lebih gembira dengan
taubat hambaNya ketika ia bertaubat
kepadaNya daripada gembiranya seseorang
dari engkau semua yang berada di atas kendaraannya - yang dimaksud ialah
untanya - dan berada di suatu tanah yang luas, kemudian menyingkirkan kendaraannya
itu dari dirinya, sedangkan di situ ada makanan dan minumannya. Orang tadi lalu
berputus-asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon terus tidur berbaring di
bawah naungannya, sedang hatinya sudah berputus asa sama sekali dari
kendaraannya tersebut. Tiba-tiba di kala ia berkeadaan sebagaimana di atas itu,
kendaraannya itu tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Oleh
sebab sangat
gembiranya
maka ia berkata: "Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah
TuhanMu". Ia menjadi salah ucapannya kerana amat gembiranya."
Keterangan:
Jadi kegembiraan Allah Ta'ala di kala mengetahui ada hambaNya
yang bertaubat itu
adalah lebih sangat dari kegembiraan
orang yang tersebut dalam ceritera di atas itu.
16- ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﻣﻮﺳﻰ ﻋﺒﺪ ﺍﷲ ﺑﻦ ﻗﻴﺲ ﺍﻷﺷﻌﺮﻯ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ
ﻋﻨﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ:
ﺇﻥ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻳﺒﺴﻂ ﻳﺪﻩ ﺑﺎﻟﻠﻴﻞ ﻟﻴﺘﻮﺏ
ﻣﺴﻲﺀ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ، ﻭﻳﺒﺴﻂ ﻳﺪﻩ ﺑﺎﻟﻨﻬﺎﺭ ﻟﻴﺘﻮﺏ ﻣﺴﻲﺀ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺣﱴ ﺗﻄﻠﻊ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻣﻦ ﻣﻐﺮ ﺎ" ((ﺭﻭﺍﻩ
ﻣﺴﻠﻢ)).
16. Dari Abu Musa Abdullah bin Qais
al-Asy'ari r.a., dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Sesungguhnya Allah Ta'ala itu
membeberkan tanganNya - yakni kerahmatanNya -di
waktu malam untuk menerima taubatnya
orang yang berbuat kesalahan di waktu siang dan juga membeberkan tanganNya di
waktu siang untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu
malam. Demikian ini terus menerus sampai terbitnya matahari dari arah barat -
yakni di saat hamper tibanya hari kiamat, kerana setelah ini terjadi, tidak diterima
lagi taubatnya seseorang." (Riwayat Muslim)
17-
ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : " ﻣﻦ ﺗﺎﺏ ﻗﺒﻞ
ﺃﻥ ﺗﻄﻠﻊ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻣﻦ ﻣﻐﺮ ﺎ ﺗﺎﺏ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ " ((ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ)).
17. Dari Abu
Hurairah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa bertaubat
sebelum matahari terbit dari arah barat, maka Allah menerima taubatnya orang
itu." (Riwayat
Muslim)
Keterangan:
Uraian
dalam Hadis di atas sesuai dengan firman Allah dalam al-Quran al-Karim, surat
Nisa', ayat 18 yang berbunyi:
"Taubat itu tidaklah diterima bagi orang -orang yang
mengerjakan kejahatan, sehingga di kala
salah seorang dari mereka itu telah
didatangi kematian - sudah dekat ajalnya dan ruhnya sudah di kerongkongan -
tiba-tiba ia mengatakan: "Aku sekarang
bertaubat."
Surah An-Nisaa' - سورة النساء
[4:18] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]
Dan tidak ada gunanya taubat itu kepada orang-orang yang selalu melakukan kejahatan, hingga apabila salah seorang dari mereka hampir mati, berkatalah ia: "Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ini," (sedang taubatnya itu sudah terlambat), dan (demikian juga halnya) orang-orang yang mati sedang mereka tetap kafir. Orang-orang yang demikian, Kami telah sediakan bagi mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnya.
(An-Nisaa' 4:18) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark
18-
ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﲪﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﷲ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﳋﻄﺎﺏ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﻗﺎﻝ: " ﺇﻥ ﺍﷲ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻳﻘﺒﻞ ﺗﻮﺑﺔ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻣﺎ ﱂ ﻳﻐﺮﻏﺮ" ((ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﻗﺎﻝ:
ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ)).
18.
Dari Abu Abdur Rahman yaitu Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallahu 'anhuma
dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Sesungguhnya
Allah 'Azzawajalla itu menerima taubatnya seseorang hamba selama ruhnya belum
sampai di kerongkongannya - yakni ketika akan meninggal dunia."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
19- ﻭﻋﻦ ﺯﺭ ﺑﻦ ﺣﺒﻴﺶ ﻗﺎﻝ: ﺃﺗﻴﺖ ﺻﻔﻮﺍﻥ ﺑﻦ ﻋﺴﺎﻝ ﺭﺿﻲ
ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﺃﺳﺄﻟﻪ ﻋﻦ ﺍﳌﺴﺢ ﻋﻠﻰ ﺍﳋﻔﲔ
ﻓﻘﺎﻝ: ﻣﺎ ﺟﺎﺀ ﺑﻚ ﻳﺎﺯﺭ؟ ﻓﻘﻠﺖ: ﺍﺑﺘﻐﺎﺀ
ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻓﻘﺎﻝ: ﺇﻥ ﺍﳌﻼﺋﻜﺔ ﺗﻀﻊ ﺃﺟﻨﺤﺘﻬﺎ ﻟﻄﺎﻟﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺭﺿﻲ
ﲟﺎ ﻳﻄﻠﺐ، ﻓﻘﻠﺖ: ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻓﺠﺌﺖ
ﺃﺳﺄﻟﻚ: ﻫﻞ ﲰﻌﺘﻪ ﻳﺬﻛﺮ ﰲ
ﺫﻟﻚ ﺷﻴﺌﺎﹰ؟ ﻗﺎﻝ: ﻧﻌﻢ، ﻛﺎﻥ ﻳﺄﻣﺮﻧﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﻨﺎ ﺳﻔﺮﺍﹰ- ﺃﻭ ﻣﺴﺎﻓﺮﻳﻦ-
ﺃﻥ ﻻ ﻧﱰﻉ ﺧﻔﺎﻓﻨﺎﹰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ
ﻭﻟﻴﺎﻟﻴﻬﻦ ﺇﻻ ﻣﻦ ﺟﻨﺎﺑﺔ، ﻭﻟﻜﻦ ﻣﻦ ﻏﺎﺋﻂ ﻭﺑﻮﻝ ﻭﻧﻮﻡ. ﻓﻘﻠﺖ: ﺳﻔﺮ،
ﻓﺒﻴﻨﺎ ﳓﻦ ﻋﻨﺪﻩ ﺇﺫ ﻧﺎﺩﺍﻩ ﺃﻋﺮﺍﰉ
ﺑﺼﻮﺕ ﻟﻪ ﺟﻬﻮﺭﻯ: ﻳﺎ ﳏﻤﺪ، ﻓﺄﺟﺎﺑﻪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﳓﻮﺍﹰ ﻣﻦ ﺻﻮﺗﻪ: "ﻫﺎﺅﻡ"
ﻓﻘﻠﺖ ﻟﻪ: ﻭﳛﻚ ﺍﻏﻀﺾ ﻣﻦ ﺻﻮﺗﻚ ﻓﺈﻧﻚ ﻋﻨﺪ
ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻭﻗﺪ ﻴﺖ
ﻋﻦ ﻫﺬﺍ!
ﻓﻘﺎﻝ: ﻭﺍﷲ ﻻ ﺃﻏﻀﺾ . ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻋﺮﺍﰉ: ﺍﳌﺮﺀ
ﳛﺐ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﻭﳌﺎ ﻳﻠﺤﻖ ﻢ؟
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ: " ﺍﳌﺮﺀ ﻣﻊ ﻣﻦ ﺃﺣﺐ ﻳﻮﻡ
ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ " ﻓﻤﺎ ﺯﺍﻝ ﳛﺪﺛﻨﺎ ﺣﱴ ﺫﻛﺮ ﺑﺎﺑﺎﹰ ﻣﻦ ﺍﳌﻐﺮﺏ ﻣﺴﲑﺓ ﻋﺮﺿﻪ ﺃﻭ ﻳﺴﲑ ﺍﻟﺮﺍﻛﺐ ﰲ
ﻋﺮﺿﻪ ﺃﺭﺑﻌﲔ ﺃﻭ ﺳﺒﻌﲔ ﻋﺎﻣﺎﹰ. ﻗﺎﻝ ﺳﻘﻴﺎﻥ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺮﻭﺍﺓ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺸﺎﻡ ﺧﻠﻘﻪ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻳﻮﻡ ﺧﻠﻖ
ﺍﻟﺴﺸﻤﺎﻭﺍﺕ ﻭﺍﻷﺭﺽ ﻣﻔﺘﻮﺣﺎﹰ ﻟﻠﺘﻮﺑﺔ ﻻ ﻳﻐﻠﻖ ﺣﱴ ﺗﻄﻠﻊ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻣﻨﻪ" ((ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ
ﻭﻏﲑﻩ ﻭﻗﺎﻝ : ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ)).
19. Dari Zir bin Hubaisy, katanya:
"Saya mendatangi Shafwan bin 'Assal r.a. perlu
menanyakan soal mengusap dua buah
sepatu khuf (but). Shafwan berkata: "Apakah yang menyebabkan engkau datang
ini, hai Zir?" Saya menjawab: "Kerana ingin mencari ilmu pengetahuan."
Ia berkata lagi: "Sesungguhnya para malaikat itu sama meletakkan
sayap-sayapnya - yakni berhenti terbang dan ingin pula mendengarkan ilmu atau
kerana tunduk menghormat - kepada Orang yang menuntut ilmu, kerana ridha dengan
apa yang dicarinya."
Saya berkata: "Sebenarnya saya
sudah tergerak dalam hatiku akan mengusap di atas
dua buah sepatu khuf itu sehabis buang
air besar atau kecil. Engkau adalah termasuk salah seorang sahabat Nabi s.a.w.,
maka dari itu saya datang ini untuk menanyakannya kepadamu. Apakah engkau
pernah mendengar beliau s.a.w. menyebutkan persoalan mengusap sepatu khuf itu
daripadanya?" Shafwan menjawab: "Ia pernah. Rasulullah s.a.w.
menyuruh kita semua, jikalau kita sedang dalam bepergian,supaya kita jangan
melepaskan sepatu khuf kita selama tiga hari dengan malamnya sekali, kecuali
jikalau kita terkena janabah, tetapi kalau hanya kerana membuang air besar atau
kecil atau kerana sehabis tidur, bolehlah tidak usah dilepaskan."
Saya berkata
lagi: "Apakah engkau pernah mendengar beliau s. a.w. menyebutkan persoalan
cinta?" Dia menjawab: "Ya pernah. Pada suatu ketika kita bersama
dengan Rasulullah s. a.w. dalam bepergian. Di kala kita berada di sisinya itu,
tiba-tiba ada seorang a'rab (orang Arab dari pegunungan) memanggil beliau itu
dengan suara yang keras sekali, katanya: "Hai Muhammad." Rasulullah
s.a.w. menjawabnya dengan suara yang sekeras suaranya itu pula: " Mari
kemari". Saya berkata pada orang a'rab tadi: " Celaka engkau ini, perlahankanlah
suaramu, sebab engkau ini benar-benar ada di sisi Nabi s.a.w.,sedangkan aku dilarang
semacam ini - yakni bersuara keras-keras di hadapannya-. "Orang a'rab itu
berkata: "Demi Allah, saya tidak akan memperlahankan suaraku."
Kemudian ia berkata kepada Nabi
s.a.w.:
"Ada orang mencintai sesuatu golongan, tetapi ia tidak dapat menyamai
mereka dalam hal amal perbuatannya serta cara mencari kesempurnaan kehidupan
dunia dan akhiratnya. Nabi s.a.w. menjawab: "Seseorang itu dapat menyertai
orang yang dicintai olehnya besok pada hari kiamat." Tidak henti-hentinya
beliau memberitahukan apa saja kepada kita, sehingga akhirnya menyebutkan bahwa
di arah barat itu ada sebuah pintu yang
perjalanan luasnya yakni
sekiranya seseorang yang
berkendaraan berjalan hendak menempuh jarak luasnya itu, maka jarak
antara dua ujung pintu tadi adalah sejauh empat puluh atau tujuh puluh
tahun."
Salah seorang yang meriwayatkan Hadis
ini yaitu Sufyan mengatakan: "Di arah Syam pintu itu dijadikan oleh Allah
Ta'ala sejak hari Dia menciptakan semua langit dan bumi, senantiasa terbuka
untuk taubat, tidak pernah ditutup sehingga terbitlah matahari dari
sebelah barat yakni dari dalam pintu
tadi."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan lain-lainnya dan Imam
Termidzi mengatakan
bahwa Hadis ini adalah hasan shahih.
20-
ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﺳﻌﻴﺪ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺑﻦ ﺳﻨﺎﻥ ﺍﳋﺪﺭﻱ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﻧﱯ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ:
" ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻤﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻜﻢ ﺭﺟﻞ ﻗﺘﻞ ﺗﺴﻌﺔ ﻭﺗﺴﻌﲔ ﻧﻔﺴﺎﹰ، ﻓﺴﺄﻝ ﻋﻦ ﺃﻋﻠﻢ ﺃﻫﻞ ﺍﻷﺭﺽ، ﻓﺪﻝ
ﻋﻠﻰ ﺭﺍﻫﺐ، ﻓﺄﺗﺎﻩ ﻓﻘﺎﻝ: ﺇﻧﻪ ﻗﺘﻞ ﺗﺴﻌﻪ ﻭﺗﺴﻌﲔ ﻧﻔﺴﺎﹰ، ﻓﻬﻞ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺗﻮﺑﺔ؟ ﻓﻘﺎﻝ: ﻻ، ﻓﻘﺘﻠﻪ
ﻓﻜﻤﻞ ﺑﻪ ﻣﺎﺋﺔﹰ، ﰒ ﺳﺄﻝ ﻋﻦ ﺃﻋﻠﻢ ﺃﻫﻞ ﺍﻷﺭﺽ، ﻓﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺭﺟﻞ ﻋﺎﱂ ﻓﻘﺎﻝ: ﺇﻧﻪ ﻗﺘﻞ ﻣﺎﺋﺔ ﻧﻔﺲ
ﻓﻬﻞ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺗﻮﺑﺔ؟ ﻓﻘﺎﻝ: ﻧﻌﻢ، ﻭﻣﻦ ﳛﻮﻝ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﲔ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ؟ ﺍﻧﻄﻠﻖ ﺇﱃ ﺃﺭﺽ ﻛﺬﺍ ﻭﻛﺬﺍ، ﻓﺈﻥ
ﺎ ﺃﻧﺎﺳﺎﹰ ﻳﻌﺒﺪﻭﻥ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻓﺎﻋﺒﺪ ﺍﷲ ﻣﻌﻬﻢ، ﻭﻻ ﺗﺮﺟﻊ ﺇﱃ ﺃﺭﺿﻚ ﻓﺈ ﺎ ﺃﺭﺽ ﺳﻮﺀٍ، ﻓﺎﻧﻄﻠﻖ ﺣﱴ
ﺇﺫﺍ ﻧﺼﻒ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﺃﺗﺎﻩ ﺍﳌﻮﺕ، ﻓﺎﺧﺘﺼﻤﺖ ﻓﻴﻪ ﻣﻼﺋﻜﺔ ﺍﻟﺮﲪﺔ ﻭﻣﻼﺋﻜﺔ ﺍﻟﻌﺬﺍﺏ. ﻓﻘﺎﻟﺖ ﻣﻼﺋﻜﺔ
ﺍﻟﺮﲪﺔ: ﺟﺎﺀ ﺗﺎﺋﺒﺎ ﻣﻘﺒﻼ ﺑﻘﻠﺒﻪ ﺇﱃ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ، ﻭﻗﺎﻟﺖ ﻣﻼﺋﻜﺔ ﺍﻟﻌﺬﺍﺏ: ﺇﻧﻪ ﱂ ﻳﻌﻤﻞ ﺧﲑﺍ ﻗﻂ،
ﻓﺄﺗﺎﻫﻢ ﻣﻠﻚ ﰲ ﺻﻮﺭﺓ ﺁﺩﻣﻲ ﻓﺠﻌﻠﻮﻩ ﺑﻴﻨﻬﻢ- ﺃﻱ ﺣﻜﻤﺎﹰ- ﻓﻘﺎﻝ: ﻗﻴﺴﻮﺍ ﻣﺎ ﺑﲔ ﺍﻷﺭﺿﲔ ﻓﺈﱃ
ﺃﻳﺘﻬﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﺩﱏ ﻓﻬﻮ ﻟﻪ، ﻓﻘﺎﺳﻮﺍ ﻓﻮﺟﺪﻭﻩ ﺃﺩﱏ ﺇﱃ ﺍﻷﺭﺽ ﺍﻟﱵ ﺃﺭﺍﺩ، ﻓﻘﺒﻀﺘﻪ ﻣﻼﺋﻜﺔ ﺍﻟﺮﲪﺔ"
((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)).
ﻭﰲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﰲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ: ﻓﻜﺎﻥ ﺇﱃ ﺍﻟﻘﺮﻳﺔ ﺍﻟﺼﺎﳊﺔ
ﺑﺸﱪ، ﻓﺠﻌﻞ ﻣﻦ ﺃﻫﻠﻬﺎ ﻭﰲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﰲ
ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ: ﻓﺄﻭﺣﻰ
ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﺇﱃ ﻫﺬﻩ ﺃﻥ ﺗﺒﺎﻋﺪﻱ، ﻭﺇﱃ ﻫﺬﻩ ﺃﻥ ﺗﻘﺮﰊ، ﻭﻗﺎﻝ: ﻗﻴﺴﻮﺍ ﻣﺎ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ،
ﻓﻮﺟﺪﻭﻩ
ﺇﱃ ﻫﺬﻩ ﺃﻗﺮﺏ ﺑﺸﱪٍ ﻓﻐﻔﺮ ﻟﻪ ﻭﰲ ﺭﻭﺍﻳﺔ: ﻓﻨﺄﻯ
ﺑﺼﺪﺭﻩ ﳓﻮﻫﺎ
20.
Dari Abu Said, yaitu Sa'ad bin Sinan al-Khudri r.a . bahwasanya Nabiullah s.a
.w. bersabda:
"Ada seorang lelaki
dari golongan ummat
yang sebelummu telah
membunuh
sembilanpuluh
sembilan manusia, kemudian ia menanyakan tentang orang yang teralim dari penduduk
bumi, ialu ia ditunjukkan pada seorang pendeta. lapun mendatanginya dan selanjutnya
berkata bahwa sesungguhnya ia telah membunuh sembilanpuluh sembilan manusia,
apakah masih diterima untuk bertaubat. Pendeta itu menjawab: "Tidak
dapat." Kemudian pendeta itu dibunuhnya sekali dan dengan demikian ia
telah menyempurnakan jumlah seratus dengan ditambah seorang lagi itu. Lalu ia
bertanya lagi tentang orang yang teralim dari penduduk bumi, kemudian
ditunjukkan pada seorang yang alim, selanjutnya ia mengatakan bahwa
sesungguhnya ia telah membunuh seratus manusia,
apakah masi'h
diterima taubatnya. Orang alim itu menjawab: "Ya, masih dapat. Siapa yang
dapat menghalang-halangi antara dirinya dengan taubat itu. Pergilah engkau ke
tanah begini-begini, sebab di situ ada beberapa kelompok manusia yang sama
menyembah Allah Ta'ala, maka menyembahlah engkau kepada Allah itu bersama-sama
dengan mereka dan janganlah engkau kembali ke tanahmu sendiri, sebab tanahmu
adalah negeri yang buruk." Orang itu terus pergi sehingga di waktu ia telah
sampai separuh perjalanan, tiba-tiba ia didatangi oleh kematian.
Kemudian
bertengkarlah untuk mempersoalkan diri orang tadi malaikat kerahmatan dan
malaikat siksaan - yakni yang bertugas memberikan kerahmatan dan bertugas
memberikan siksa, malaikat kerahmatan berkata: "Orang ini telah datang
untuk bertaubat sambil menghadapkan hatinya kepada Allah Ta'ala." Malaikat
siksaan berkata: "Bahwasanya orang ini samasekali belum pernah melakukan
kebaikan sedikitpun."
Selanjutnya ada
seorang malaikat yang mendatangi mereka dalam bentuk seorang manusia, lalu ia
dijadikan sebagai pemisah antara malaikat-malaikat yang berselisih tadi, yakni
dijadikan hakim pemutusnya - untuk menetapkan mana yang benar. Ia berkata:
"Ukurlah olehmu semua antara dua tempat di bumi itu, ke mana ia lebih
dekat letaknya, maka orang ini adalah untuknya - maksudnya jikalau lebih dekat
ke arah bumi yang dituju untuk melaksanakan taubatnya, maka ia adalah milik
malaikat kerahmatan dan jikalau lebih dekat dengan bumi asalnya maka ia adalah
milik malaikat siksaan." Malaikat-malaikat itu mengukur, kemudian
didapatinya bahwa orang tersebut adalah lebih dekat kepada bumi yang
dikehendaki -yakni yang dituju untuk melaksanakan taubatnya. Oleh sebab itu
maka ia dijemputlah oleh malaikat kerahmatan." (Muttafaq 'alaih)
Dalam sebuah
riwayat yang shahih disebutkan demikian: "Orang tersebut lebih dekat
sejauh sejengkal saja pada pedesaan yang baik itu - yakni yang hendak
didatangi, maka dijadikanlah ia termasuk golongan penduduknya."
Dalam riwayat
lain yang shahih pula disebutkan: Allah Ta'ala lalu mewahyukan kepada tanah
yang ini - tempat asalnya - supaya engkau menjauh dan kepada tanah yang ini
tempat yang hendak dituju - supaya engkau mendekat - maksudnya
supaya tanah asalnya itu memanjang sehingga kalau diukur akan menjadi jauh,
sedang tanah yang dituju itu menyusut sehingga kalau diukur menjadi dekat
jaraknya. Kemudian firmanNya: "Ukurlah antara keduanya."
Malaikat-malaikat itu mendapatkannya bahwa kepada yang ini -yang dituju -
adalah lebih dekat sejauh sejengkal saja jaraknva. Maka orang itupun
diampunilah dosa-dosanya."
Dalam riwayat
lain lagi disebutkan: "Orang tersebut bergerak - amat susah payah kerana
hendak mati - dengan dadanya ke arah tempat yang dituju itu."
Keterangan:
Uraian Hadis ini
menjelaskan perihal lebih utamanya berilmu pengetahuan dalam selok-belok agama,
apabila dibandingkan dengan terus beribadat tanpa mengetahui bagaimana yang
semestinya dilakukan. Juga menjelaskan perihal keutamaan 'uzlah atau
mengasingkan diri di saat keadaan zaman sudah boleh dikatakan rusak binasa dan
kemaksiatan serta kemungkaran merajalela di mana-mana.
:ﻝﺎﻗ ﻲﻤﻋ ﲔﺣ ﻪﻴﻨﺑ ﻦﻣ ﻪﻨﻋ ﷲﺍ ﻲﺿﺭ ﺐﻌﻛ ﺪﺋﺎﻗ ﻥﺎﻛﻭ ،ﻚﻟﺎﻣ ﻦﺑ
ﺐﻌﻛ ﻦﺑ ﷲﺍ ﺪﺒﻋ ﻦﻋﻭ 21-ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ
ﻰﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻦﻋ ﻒﻠﲣ ﲔﺣ ﻪﺜﻳﺪﲝ ﺙﺪﳛ ﻪﻨﻋ ﷲﺍ ﻲﺿﺭ ﻚﻟﺎﻣ ﻦﺑ ﺐﻌﻛ ﺖﻌﲰ
26
ﻭﺳﻠﻢ ﰲ ﻏﺰﻭﺓ ﺗﺒﻮﻙ. ﻗﺎﻝ ﻛﻌﺐ: ﱂ ﺍﲣﻠﻒ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ، ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ ، ﰲ ﻏﺰﻭﺓ ﻏﺰﺍﻫﺎ ﻗﻂ ﺇﻻ ﰲ ﻏﺰﻭﺓ ﺗﺒﻮﻙ، ﻏﲑ ﺃﱐ ﻗﺪ ﲣﻠﻔﺖ ﰲ ﻏﺰﻭﺓ ﺑﺪﺭ، ﻭﱂ ﻳﻌﺎﺗﺐ ﺃﺣﺪ
ﲣﻠﻒ ﻋﻨﻪ، ﺇﳕﺎ ﺧﺮﺝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺍﳌﺴﻠﻤﻮﻥ ﻳﺮﻳﺪﻭﻥ ﻋﲑ ﻗﺮﻳﺶ ﺣﱴ ﲨﻊ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ
ﺑﻴﻨﻬﻢ ﻭﺑﲔ ﻋﺪﻭﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﻏﲑ ﻣﻴﻌﺎﺩ. ﻭﻟﻘﺪ ﺷﻬﺪﺕ ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻌﻘﺒﺔ
ﺣﲔ ﺗﻮﺍﺛﻘﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ، ﻭﻣﺎ ﺃﺣﺐ ﺃﻥ ﱄ ﺎ ﻣﺸﻬﺪ ﺑﺪﺭٍ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺑﺪﺭ ﺃﺫﻛﺮ ﰲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻨﻬﺎ.
ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺧﱪﻱ ﺣﲔ ﲣﻠﻒ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ، ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﰲ ﻏﺰﻭﺓ
ﺗﺒﻮﻙ ﺃﱐ ﱂ ﺃﻛﻦ ﻗﻂ ﺃﻗﻮﻯ ﻭﻻ ﺃﻳﺴﺮ ﻣﲏ ﺣﲔ ﲣﻠﻔﺖ ﻋﻨﻪ ﰲ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻐﺰﻭﺓ، ﻭﺍﷲ ﻣﺎ ﲨﻌﺖ ﻗﺒﻠﻬﺎ
ﺭﺍﺣﻠﺘﲔ ﻗﻂ ﺣﱴ ﲨﻌﺘﻬﻤﺎ ﰲ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻐﺰﻭﺓ، ﻭﱂ ﻳﻜﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺮﻳﺪ ﻏﺰﻭﺓ ﺇﻻ
ﻭﺭﻯ ﺑﻐﲑﻫﺎ ﺣﱴ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻐﺰﻭﺓ، ﻓﻐﺰﺍﻫﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﰲ ﺣﺮ ﺷﺪﻳﺪ،
ﻭﺍﺳﺘﻘﺒﻞ ﺳﻔﺮﺍﹰ ﺑﻌﻴﺪﺍﹰ ﻭﻣﻔﺎﺯﺍﹰ، ﻭﺍﺳﺘﻘﺒﻞ ﻋﺪﺩﺍﹰ ﻛﺜﲑﺍﹰ، ﻓﺠﻠﻰ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﲔ ﺃﻣﺮﻫﻢ ﻟﻴﺘﺄﻫﺒﻮﺍ
ﺃﻫﺒﺔ ﻏﺰﻭﻫﻢ ﻓﺄﺧﱪﻫﻢ ﺑﻮﺟﻬﻬﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺮﻳﺪ، ﻭﺍﳌﺴﻠﻤﻮﻥ ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﻛﺜﲑ ﻭﻻ ﳚﻤﻌﻬﻢ ﻛﺘﺎﺏ ﺣﺎﻓﻆ "ﻳﺮﻳﺪ
ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻟﺪﻳﻮﺍﻥ" ﻗﺎﻝ ﻛﻌﺐ: ﻓﻘﻞ ﺭﺟﻞ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻳﺘﻐﻴﺐ ﺇﻻ ﻇﻦ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﺳﻴﺨﻔﻰ ﺑﻪ ﻣﺎﱂ ﻳﱰﻝ
ﻓﻴﻪ ﻭﺣﻲ ﻣﻦ ﺍﷲ، ﻭﻏﺰﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻐﺰﻭﺓ ﺣﲔ ﻃﺎﺑﺖ ﺍﻟﺜﻤﺎﺭ ﻭﺍﻟﻈﻼﻝ
ﻓﺄﻧﺎ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺃﺻﻌﺮ ﻓﺘﺠﻬﺰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺍﳌﺴﻠﻤﻮﻥ ﻣﻌﻪ، ﻭﻃﻔﻘﺖ ﺃﻏﺪﻭ ﻟﻜﻲ
ﺃﲡﻬﺰ ﻣﻌﻪ، ﻓﺄﺭﺟﻊ ﻭﱂ ﺃﻗﺾ ﺷﻴﺌﺎﹰ، ﻭﺃﻗﻮﻝ ﰲ ﻧﻔﺴﻲ: ﺃﻧﺎ ﻗﺎﺩﺭ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺩﺕ، ﻓﻠﻢ ﻳﺰﻝ
ﻳﺘﻤﺎﺩﻯ ﰊ ﺣﱴ ﺍﺳﺘﻤﺮ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺍﳉﺪ، ﻓﺄﺻﺒﺢ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻏﺎﺩﻳﺎﹰ ﻭﺍﳌﺴﻠﻤﻮﻥ
ﻣﻌﻪ، ﻭﱂ ﺃﻗﺾ ﻣﻦ ﺟﻬﺎﺯﻱ ﺷﻴﺌﺎﹰ، ﰒ ﻏﺪﻭﺕ ﻓﺮﺟﻌﺖ ﻭﱂ ﺃﻗﺾ ﺷﻴﺌﺎﹰ، ﻓﻠﻢ ﻳﺰﻝ ﻳﺘﻤﺎﺩﻯ ﰊ ﺣﱴ
ﺃﺳﺮﻋﻮﺍ ﻭﺗﻔﺎﺭﻁ ﺍﻟﻐﺮﻭ، ﻓﻬﻤﻤﺖ ﺃﻥ ﺃﺭﲢﻞ ﻓﺄﺩﺭﻛﻬﻢ، ﻓﻴﺎﻟﻴﺘﲏ ﻓﻌﻠﺖ، ﰒ ﱂ ﻳﻘﺪﺭ ﺫﻟﻚ ﱄ، ﻓﻄﻔﻘﺖ
ﺇﺫﺍ ﺧﺮﺟﺖ ﰲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﻌﺪ ﺧﺮﻭﺝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﳛﺰﻧﲏ ﺃﱐ ﺃﺭﻯ ﱄ ﺃﺳﻮﺓ، ﺇﻻ ﺭﺟﻼﹰ
ﻣﻐﻤﻮﺻﺎﹰ ﻋﻠﻴﻪ ﰲ ﺍﻟﻨﻔﺎﻕ، ﺃﻭ ﺭﺟﻼﹰ ﳑﻦ ﻋﺬﺭ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻣﻦ ﺃﺳﻮﺓ، ﺇﻻ ﺭﺟﻼﹰ ﻣﻐﻤﻮﺻﺎﹰ ﻋﻠﻴﻪ ﰲ
ﺍﻟﻨﻔﺎﻕ، ﺃﻭ ﺭﺟﻼﹰ ﳑﻦ ﻋﺬﺭ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻣﻦ ﺍﻟﻀﻌﻔﺎﺀ، ﻭﱂ ﻳﺬﻛﺮﱐ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺣﱴ
ﺑﻠﻎ ﺗﺒﻮﻙ، ﻓﻘﺎﻝ ﻭﻫﻮ ﺟﺎﻟﺲ ﰲ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﺑﺘﺒﻮﻙ: ﻣﺎ ﻓﻌﻞ ﻛﻌﺐ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ؟ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺟﺒﻞ
ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﺑﺌﺲ ﻣﺎ ﻗﻠﺖ! ﻭﺍﷲ ﻳﺎﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﻣﺎ ﻋﻠﻤﻨﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺇﻻ ﺧﲑﺍﹰ ، ﻓﺴﻜﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ
ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺒﻴﻨﺎ ﻫﻮ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺭﺃﻯ ﺭﺟﻼ ﻣﺒﻴﻀﺎ ﻳﺰﻭﻝ ﺑﻪ ﺍﻟﺴﺮﺍﺏ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ﻛﻦ
ﺃﺑﺎ ﺧﻴﺜﻤﺔ، ﻓﺈﺫﺍ ﺃﺑﻮ ﺧﻴﺜﻤﺔ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭﻱ
ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﺼﺪﻕ ﺑﺼﺎﻉ ﺍﻟﺘﻤﺮ ﺣﲔ ﳌﺰﻩ ﺍﳌﻨﺎﻓﻘﻮﻥ، ﻗﺎﻝ ﻛﻌﺐ: ﻓﻠﻤﺎ ﺑﻠﻐﲏ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﺗﻮﺟﻪ ﻗﺎﻓﻼﹰ ﻣﻦ ﺗﺒﻮﻙ ﺣﻀﺮﱐ ﺑﺜﻲ، ﻓﻄﻔﻘﺖ ﺃﺗﺬﻛﺮ ﺍﻟﻜﺬﺏ ﻭﺃﻗﻮﻝ: ﰈ ﺃﺧﺮﺝ ﻣﻦ
ﺳﺨﻄﻪ ﻏﺪﺍﹰ ﻭﺃﺳﺘﻌﲔ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺑﻜﻞ ﺫﻱ ﺭﺃﻯ ﻣﻦ ﺃﻫﻠﻲ، ﻓﻠﻤﺎ ﻗﻴﻞ: ﺇﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﺃﻇﻞ ﻗﺎﺩﻣﺎﹰ ﺯﺍﺡ ﻋﲏ ﺍﻟﺒﺎﻃﻞ ﺣﱴ ﻋﺮﻓﺖ ﺃﱐ ﱂ ﺃﻧﺞ ﻣﻨﻪ ﺑﺸﻲﺀ ﺃﺑﺪﺍﹰ، ﻓﺄﲨﻌﺖ ﺻﺪﻗﻪ،
ﻭﺃﺻﺒﺢ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﺩﻣﺎﹰ، ﻭﻛﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﻗﺪﻡ ﻣﻦ ﺳﻔﺮ ﺑﺪﺃ ﺑﺎﳌﺴﺠﺪ ﻓﺮﻛﻊ ﻓﻴﻪ
ﺭﻛﻌﺘﲔ ﰒ ﺟﻠﺲ ﻟﻠﻨﺎﺱ، ﻓﻠﻤﺎ ﻓﻌﻞ ﻓﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﺟﺎﺀﻩ ﺍﳌﺨﻠﻔﻮﻥ ﻳﻌﺘﺬﺭﻭﻥ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﳛﻠﻔﻮﻥ ﻟﻪ، ﻭﻛﺎﻧﻮﺍ
ﺑﻀﻌﺎ ﻭﲦﺎﻧﲔ ﺭﺟﻼﹰ ﻓﻘﺒﻞ ﻣﻨﻬﻢ ﻋﻼﻧﻴﺘﻬﻢ ﻭﺑﺎﻳﻌﻬﻢ ﻭﺍﺳﺘﻐﻔﺮ ﳍﻢ ﻭﻭﻛﻞ ﺳﺮﺍﺋﺮﻫﻢ ﺇﱃ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﺣﱴ
ﺟﺌﺖ. ﻓﻠﻤﺎ ﺳﻠﻤﺖ ﺗﺒﺴﻢ ﺗﺒﺴﻢ ﺍﳌﻐﻀﺐ ﰒ ﻗﺎﻝ: ﺗﻌﺎﻝ، ﻓﺠﺌﺖ ﺃﻣﺸﻲ ﺣﱴ ﺟﻠﺴﺖ ﺑﲔ ﻳﺪﻳﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﱄ:
ﻣﺎ ﺧﻠﻔﻚ؟ ﺃﱂ ﺗﻜﻦ ﻗﺪ ﺍﺑﺘﻌﺖ ﻇﻬﺮﻙ! ﻗﺎﻝ ﻗﻠﺖ: ﻳﺎﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺇﱐ ﻭﺍﷲ ﻟﻮ ﺟﻠﺴﺖ ﻋﻨﺪ ﻏﲑﻙ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ
ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻟﺮﺃﻳﺖ ﺃﱐ ﺳﺄﺧﺮﺝ ﻣﻦ ﺳﺨﻄﻪ ﺑﻌﺬﺭ، ﻟﻘﺪ ﺃﻋﻄﻴﺖ ﺟﺪﻻﹰ، ﻭﻟﻜﻨﲏ ﻭﺍﷲ ﻟﻘﺪ ﻋﻠﻤﺖ ﻟﺌﻦ
ﺣﺪﺛﺘﻚ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺣﺪﻳﺚ ﻛﺬﺏ ﺗﺮﺿﻲ ﺑﻪ ﻟﻴﻮﺷﻜﻦ ﺍﷲ ﻳﺴﺨﻄﻚ ﻋﻠﻲ، ﻭﺇﻥ ﺣﺪﺛﺘﻚ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺪﻕ ﲡﺪ ﻋﻠﻲ ﻓﻴﻪ
ﺇﱐ ﻷﺭﺟﻮ ﻓﻴﻪ ﻋﻘﱮ ﺍﷲ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ، ﻭﺍﷲ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﱄ ﻣﻦ ﻋﺬﺭ، ﻭﺍﷲ ﻣﺎ ﻛﻨﺖ ﻗﻂ ﺃﻗﻮﻯ ﻭﻻ ﺃﻳﺴﺮ ﻣﲏ
ﺣﲔ ﲣﻠﻔﺖ ﻋﻨﻚ. ﻗﺎﻝ: ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ " ﺃﻣﺎ ﻫﺬﺍ ﻓﻘﺪ ﺻﺪﻕ، ﻓﻘﻢ ﺣﱴ
ﻳﻘﻀﻲ ﺍﷲ ﻓﻴﻚ" ﻭﺳﺎﺭ ﺭﺟﺎﻝ ﻣﻦ ﺑﲏ ﺳﻠﻤﺔ ﻓﺎﺗﺒﻌﻮﱐ، ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ ﱄ: ﻭﺍﷲ ﻣﺎ ﻋﻠﻤﻨﺎﻙ ﺃﺫﻧﺒﺖ
ﺫﻧﺒﺎ ﻗﺒﻞ ﻫﺬﺍ، ﻟﻘﺪ ﻋﺠﺰﺕ ﰲ ﺃﻥ
ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻋﺘﺬﺭﺕ ﺇﱃ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ ﲟﺎ ﺍﻋﺘﺬﺭ ﺇﻟﻴﻪ ﺍﳌﺨﻠﻔﻮﻥ ﻓﻘﺪ ﻛﺎﻥ ﻛﺎﻓﻴﻚ ﺫﻧﺒﻚ ﺍﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﻟﻚ. ﻗﺎﻝ: ﻓﻮﺍﷲ ﻣﺎ ﺯﺍﻟﻮﺍ ﻳﺆﻧﺒﻮﻧﲏ ﺣﱴ ﺃﺭﺩﺕ ﺃﻥ ﺃﺭﺟﻊ ﺇﱃ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﻓﺄﻛﺬﺏ ﻧﻔﺴﻲ، ﰒ ﻗﻠﺖ ﳍﻢ: ﻫﻞ ﻟﻘﻲ ﻫﺬﺍ ﻣﻌﻲ ﻣﻦ ﺃﺣﺪ؟ ﻗﺎﻟﻮﺍ: ﻧﻌﻢ ﻟﻘﻴﻪ ﻣﻌﻚ ﺭﺟﻼﻥ ﻗﺎﻻ ﻣﺜﻞ
ﻣﺎ ﻗﻠﺖ، ﻭﻗﻴﻞ ﳍﻤﺎ ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻗﻴﻞ ﻟﻚ، ﻗﺎﻝ ﻗﻠﺖ : ﻣﻦ ﳘﺎ؟ ﻗﺎﻟﻮﺍ: ﻣﺮﺍﺭﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺮﺑﻴﻊ ﺍﻟﻌﻤﺮﻱ،
ﻭﻫﻼﻝ ﺑﻦ ﺃﻣﻴﺔ ﺍﻟﻮﺍﻗﻔﻲ؟ ﻗﺎﻝ: ﻓﺬﻛﺮﻭﺍ ﱄ ﺭﺟﻠﲔ ﺻﺎﳊﲔ ﻗﺪ ﺷﻬﺪﺍ ﺑﺪﺭﺍﹰ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﺃﺳﻮﺓ. ﻗﺎﻝ:
ﻓﻤﻀﻴﺖ ﺣﲔ ﺫﻛﺮﻭﳘﺎ ﱄ. ﻭ ﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻦ ﻛﻼﻣﻨﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﻣﻦ ﺑﲔ ﻣﻦ ﲣﻠﻒ
ﻋﻨﻪ، ﻗﺎﻝ: ﻓﺎﺟﺘﻨﺒﻨﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ- ﺃﻭ ﻗﺎﻝ: ﺗﻐﲑﻭﺍ ﻟﻨﺎ -ﺣﱴ ﺗﻨﻜﺮﺕ ﱄ ﰲ ﻧﻔﺲ ﺍﻷﺭﺽ، ﻓﻤﺎ ﻫﻲ ﺑﺎﻷﺭﺽ
ﺍﻟﱵ ﺃﻋﺮﻑ، ﻓﻠﺒﺜﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﲬﺴﲔ ﻟﻴﻠﺔ. ﻓﺄﻣﺎ ﺻﺎﺣﺒﺎﻱ ﻓﺎﺳﺘﻜﺎﻧﺎ ﻭﻗﻌﺪﺍ ﰲ ﺑﻴﻮ ﻤﺎ ﻳﺒﻜﻴﺎﻥ،
ﻭﺃﻣﺎ ﺃﻧﺎ ﻓﻜﻨﺖ ﺃﺷﺐ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﻭﺃﺟﻠﺪﻫﻢ، ﻓﻜﻨﺖ ﺃﺧﺮﺝ ﻓﺄﺷﻬﺪ
ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻣﻊ ﺍﳌﺴﻠﻤﲔ، ﻭﺃﻃﻮﻑ ﰲ ﺍﻷﺳﻮﺍﻕ ﻭﻻ
ﻳﻜﻠﻤﲏ ﺃﺣﺪ، ﻭﺁﰐ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺄﺳﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻫﻮ ﰲ ﳎﻠﺴﻪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺼﻼﺓ، ﻓﺄﻗﻮﻝ
ﰲ ﻧﻔﺴﻲ : ﻫﻞ ﺣﺮﻙ ﺷﻔﺘﻴﻪ ﺑﺮﺩ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﺃﻡ ؟ ﰒ ﺃﺻﻠﻲ ﻗﺮﻳﺒﺎﹰ ﻣﻨﻪ ﻭﺃﺳﺎﺭﻗﻪ ﺍﻟﻨﻈﺮ، ﻓﺈﺫﺍ
ﺃﻗﺒﻠﺖ ﻋﻠﻰ ﺻﻼﰐ ﻧﻈﺮ ﺇﱄ، ﻭﺇﺫﺍ ﺍﻟﺘﻔﺖ ﳓﻮﻩ ﺃﻋﺮﺽ ﻋﲏ، ﺣﱴ ﺇﺫﺍ ﻃﺎﻝ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻲ ﻣﻦ ﺟﻔﻮﺓ ﺍﳌﺴﻠﻤﲔ
ﻣﺸﻴﺖ ﺣﱴ ﺗﺴﻮﺭﺕ ﺟﺪﺍﺭ ﺣﺎﺋﻂ ﺃﰊ ﻗﺘﺎﺩﺓ ﻭﻫﻮ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﻲ ﻭﺃﺣﺐ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﱄ، ﻓﺴﻠﻤﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻮﺍﷲ ﻣﺎ
ﺭﺩ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻼﻡ، ﻓﻘﻠﺖ ﻟﻪ : ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﻗﺘﺎﺩﺓ ﺃﻧﺸﺪﻙ ﺑﺎﷲ ﻫﻞ ﺗﻌﻠﻤﲏ ﺃﹸﺣﺐ ﺍﷲ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ؟ ﻓﺴﻜﺖ، ﻓﻌﺪﺕ ﻓﻨﺎﺷﺪﺗﻪ ﻓﺴﻜﺖ، ﻓﻌﺪﺕ ﻓﻨﺎﺷﺪﺗﻪ ﻓﻘﺎﻝ: ﺍﷲ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﺃﻋﻠﻢ. ﻓﻔﺎﺿﺖ
ﻋﻴﻨﺎﻱ، ﻭﺗﻮﻟﻴﺖ ﺣﱴ ﺗﺴﻮﺭﺕ ﺍﳉﺪﺍﺭ، ﻓﺒﻴﻨﻤﺎ ﺃﻧﺎ ﺃﻣﺸﻰ
ﺳﻮﻕ ﺍﳌﺪﻳﻨﺔ ﺇﺫﺍ ﻧﺒﻄﻰ ﻣﻦ ﻧﺒﻂ ﺃﻫﻞ
ﺍﻟﺸﺎﻡ ﳑﻦ ﻗﺪﻡ ﺑﺎﻟﻄﻌﺎﻡ ﺑﺒﻴﻌﻪ ﺑﺎﳌﺪﻳﻨﺔ ﻳﻘﻮﻝ: ﻣﻦ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﻛﻌﺐ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ؟ ﻓﻄﻔﻖ ﺍﻟﻨﺎﺱ
ﻳﺸﲑﻭﻥ ﻟﻪ ﺇﱄ ﺣﱴ ﺟﺎﺀﱏ ﻓﺪﻓﻊ ﺇﱄ ﻛﺘﺎﺏ ﻣﻦ ﻣﻠﻚ ﻏﺴﺎﻥ، ﻭﻛﻨﺖ ﻛﺎﺗﺒﺎﹰ. ﻓﻘﺮﺃﺗﻪ ﻓﺈﺫﺍ ﻓﻴﻪ: ﺃﻣﺎ
ﺑﻌﺪ ﻓﺈﻧﻪ ﻗﺪ ﺑﻠﻐﻨﺎ ﺃﻥ ﺻﺎﺣﺒﻚ ﻗﺪ ﺟﻔﺎﻙ، ﻭﱂ ﳚﻌﻠﻚ ﺍﷲ ﺑﺪﺍﺭ ﻫﻮﺍﻥ ﻭﻻ ﻣﻀﻴﻌﺔ، ﻓﺎﳊﻖ ﺑﻨﺎ
ﻧﻮﺍﺳﻚ، ﻓﻘﻠﺖ ﺣﲔ ﻗﺮﺃ ﺎ، ﻭﻫﺬﻩ ﺃﻳﻀﺎﹰ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﻼﺀ ﻓﺘﻴﻤﻤﺖ ﺎ ﺍﻟﺘﻨﻮﺭ ﻓﺴﺠﺮ ﺎ، ﺣﱴ ﺇﺫﺍ ﻣﻀﺖ
ﺃﺭﺑﻌﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﳋﻤﺴﲔ ﻭﺍﺳﺘﻠﺒﺚ ﺍﻟﻮﺣﻰ ﺇﺫﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺄﺗﻴﲎ، ﻓﻘﺎﻝ: ﺇﻥ
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺄﻣﺮﻙ ﺃﻥ ﺗﻌﺘﺰﻝ ﺍﻣﺮﺃﺗﻚ، ﻓﻘﻠﺖ: ﺃﻃﻠﻘﻬﺎ، ﺃﻡ ﻣﺎﺫﺍ ﺃﻓﻌﻞ؟ ﻗﺎﻝ:
ﻻ، ﺑﻞ ﺍﻋﺘﺰﳍﺎ ﻓﻼ ﺗﻘﺮﺑﻨﻬﺎ، ﻭﺃﺭﺳﻞ ﺇﱃ ﺻﺎﺣﱯ ﲟﺜﻞ ﺫﻟﻚ. ﻓﻘﻠﺖ ﻻﻣﺮﺃﰐ: ﺃﳊﻘﻲ ﺑﺄﻫﻠﻚ ﻓﻜﻮﱐ
ﻋﻨﺪﻫﻢ ﺣﱴ ﻳﻘﻀﻲ ﺍﷲ ﰲ ﻫﺬﺍ ﺍﻷﻣﺮ، ﻓﺠﺎﺀﺕ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻫﻼﻝ ﺑﻦ ﺃﻣﻴﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﻓﻘﺎﻟﺖ ﻟﻪ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺇﻥ ﻫﻼﻝ ﺑﻦ ﺃﻣﻴﺔ ﺷﻴﺦ ﺿﺎﺋﻊ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺧﺎﺩﻡ، ﻓﻬﻞ ﺗﻜﺮﻩ ﺃﻥ ﺃﺧﺪﻣﻪ؟
ﻗﺎﻝ : ﻻ، ﻭﻟﻜﻦ ﻻ ﻳﻘﺮﺑﻨﻚ. ﻓﻘﺎﻟﺖ: ﺇﻧﻪ ﻭﺍﷲ ﻣﺎ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺣﺮﻛﺔ ﺇﱃ ﺷﻲﺀ، ﻭﻭﺍﷲ ﻣﺎ ﺯﺍﻝ ﻳﺒﻜﻲ
ﻣﻨﺬ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺃﻣﺮﻩ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺇﱃ ﻳﻮﻣﻪ ﻫﺬﺍ . ﻓﻘﺎﻝ ﱄ ﺑﻌﺾ ﺃﻫﻠﻲ: ﻟﻮ ﺍﺳﺘﺄﺫﻧﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﰲ ﺍﻣﺮﺃﺗﻚ، ﻓﻘﺪ ﺃﺫﻥ ﻻﻣﺮﺃﺓ ﻫﻼﻝ ﺑﻦ ﺃﻣﻴﺔ ﺃﻥ ﲣﺪﻣﻪ؟ ﻓﻘﻠﺖ: ﻻ ﺃﺳﺘﺄﺫﻥ ﻓﻴﻬﺎ ﺭﺳﻮﻝ
ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﻣﺎ ﻳﺪﺭﻳﲏ ﻣﺎﺫﺍ ﻳﻘﻮﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﺇﺫﺍ ﺍﺳﺘﺄﺫﻧﺘﻪ
ﻓﻴﻬﺎ ﻭﺃﻧﺎ ﺭﺟﻞ ﺷﺎﺏ! ﻓﻠﺒﺜﺖ ﺑﺬﻟﻚ ﻋﺸﺮ ﻟﻴﺎﻝٍ، ﻓﻜﻤﻞ ﻟﻨﺎ ﲬﺴﻮﻥ ﻟﻴﻠﺔ ﻣﻦ ﺣﲔ ﻰ ﻋﻦ ﻛﻼﻣﻨﺎ .
ﰒ ﺻﻠﻴﺖ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﺻﺒﺎﺡ ﲬﺴﲔ ﻟﻴﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﻇﻬﺮ ﺑﻴﺖ ﻣﻦ ﺑﻴﻮﺗﻨﺎ، ﻓﺒﻴﻨﻤﺎ ﺃﻧﺎ ﺟﺎﻟﺲ ﻋﻠﻰ ﺍﳊﺎﻝ
ﺍﻟﱴ ﺫﻛﺮ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻣﻨﺎ، ﻗﺪ ﺿﺎﻓﺖ ﻋﻠﻲ ﻧﻔﺴﻲ ﻭﺿﺎﻗﺖ ﻋﻠﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﲟﺎ ﺭﺣﺒﺖ، ﲰﻌﺖ ﺻﻮﺕ ﺻﺎﺭﺥ ﺃﻭﰱ
ﻋﻠﻰ ﺳﻠﻊ ﻳﻘﻮﻝ ﺑﺄﻋﻠﻰ ﺻﻮﺗﻪ: ﻳﺎ ﻛﻌﺐ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺃﺑﺸﺮ ﻓﺨﺮﺭﺕ ﺳﺎﺟﺪﺍﹰ، ﻭﻋﺮﻓﺖ ﺃﻧﻪ ﻗﺪ ﺟﺎﺀ
ﻓﺮﺝ. ﻓﺂﺫﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﺘﻮﺑﺔ ﺍﷲ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺣﲔ ﺻﻠﻰ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﻓﺬﻫﺐ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﺒﺸﺮﻭﻧﻨﺎ، ﻓﺬﻫﺐ ﻗﺒﻞ ﺻﺎﺣﱯ
ﻣﺒﺸﺮﻭﻥ، ﻭﺭﻛﺾ ﺭﺟﻞ ﺇﱄ ﻓﺮﺳﺎﹰ ﻭﺳﻌﻰ ﺳﺎﻉ ﻣﻦ ﺃﺳﻠﻢ ﻗﺒﻠﻲ ﻭﺃﻭﰱ ﻋﻠﻰ ﺍﳉﺒﻞ، ﻓﻜﺎﻥ ﺍﻟﺼﻮﺕ ﺃﺳﺮﻉ
ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺮﺱ، ﻓﻠﻤﺎ ﺟﺎﺀﱐ ﺍﻟﺬﻯ ﲰﻌﺖ ﺻﻮﺗﻪ ﻳﺒﺸﺮﱐ ﻧﺰﻋﺖ ﻟﻪ ﺛﻮﰊ ﻓﻜﺴﻮ ﻤﺎ ﺇﻳﺎﻩ ﺑﺒﺸﺮﺍﻩ، ﻭﺍﷲ ﻣﺎ
ﺃﻣﻠﻚ ﻏﲑﳘﺎ ﻳﻮﻣﺌﺬ، ﻭﺍﺳﺘﻌﺮﺕ ﺛﻮﺑﲔ ﻓﻠﺒﺴﺘﻬﻤﺎ ﻭﺍﻧﻄﻠﻘﺖ ﺃﺗﺄﻣﻢ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﻳﺘﻠﻘﺎﱏ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻮﺟﺎﹰ ﻓﻮﺟﺎﹰ ﻳﻬﻨﺌﻮﱐ ﺑﺎﻟﺘﻮﺑﺔ ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﱄ: ﻟﺘﻬﻨﻚ ﺗﻮﺑﺔ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻚ، ﺣﱴ ﺩﺧﻠﺖ
ﺍﳌﺴﺠﺪ ﻓﺈﺫﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺟﺎﻟﺲ ﺣﻮﻟﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻓﻘﺎﻡ ﻃﻠﺤﺔ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﷲ ﺭﺿﻲ
ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﻳﻬﺮﻭﻝ ﺣﱴ ﺻﺎﻓﺤﲏ ﻭﻫﻨﺄﱐ، ﻭﺍﷲ ﻣﺎ ﻗﺎﻡ ﺭﺟﻞ ﻣﻦ ﺍﳌﻬﺎﺟﺮﻳﻦ ﻏﲑﻩ، ﻓﻜﺎﻥ ﻛﻌﺐ ﻻ ﻳﻨﺴﺎﻫﺎ
ﻟﻄﻠﺤﺔ. ﻗﺎﻝ ﻛﻌﺐ: ﻓﻠﻤﺎ ﺳﻠﻤﺖ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: ﻭﻫﻮ ﻳﱪﻕ ﻭﺟﻬﻪ ﻣﻦ
ﺍﻟﺴﺮﻭﺭ : ﺃﺑﺸﺮ ﲞﲑ ﻳﻮﻡ ﻣﺮ ﻋﻠﻴﻚ ﻣﺬ ﻭﻟﺪﺗﻚ ﺃﻣﻚ، ﻓﻘﻠﺖ : ﺃﻣﻦ ﻋﻨﺪﻙ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺃﻡ ﻣﻦ ﻋﻨﺪ
ﺍﷲ؟ ﻗﺎﻝ : ﻻ ، ﺑﻞ ﻣﻦ ﻋﻨﺪ ﺍﷲ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ، ﻭﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫﺍ ﺳﺮ ﺍﺳﺘﻨﺎﺭ
ﻭﺟﻬﻪ ﺣﱴ ﻛﺄﻥ ﻭﺟﻬﻪ ﻗﻄﻌﺔ ﻗﻤﺮ، ﻭﻛﻨﺎ ﻧﻌﺮﻑ ﺫﻟﻚ ﻣﻨﻪ، ﻓﻠﻤﺎ ﺟﻠﺴﺖ ﺑﲔ ﻳﺪﻳﻪ ﻗﻠﺖ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ
ﺇﻥ ﻣﻦ ﺗﻮﺑﱵ ﺃﻥ ﺃﳔﻠﻊ ﻣﻦ ﻣﺎﱄ ﺻﺪﻗﺔ ﺇﱃ ﺍﷲ ﻭﺇﱃ ﺭﺳﻮﻟﻪ. ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
ﺃﻣﺴﻚ ﻋﻠﻴﻚ ﺑﻌﺾ ﻣﺎﻟﻚ ﻓﻬﻮ ﺧﲑ ﻟﻚ، ﻓﻘﻠﺖ : ﺇﱐ ﺃﻣﺴﻚ ﺳﻬﻤﻲ ﺍﻟﺬﻯ ﲞﻴﱪ. ﻭﻗﻠﺖ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺇﻥ
ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﺇﳕﺎ ﺃﳒﺎﱐ ﺑﺎﻟﺼﺪﻕ، ﻭﺇﻥ ﻣﻦ ﺗﻮﺑﱵ ﺃﻥ ﻻ ﺃﺣﺪﺙﹶ ﺇﻻ ﺻﺪﻗﺎﹰ ﻣﺎ ﺑﻘﻴﺖ ، ﻓﻮ ﺍﷲ ﻣﺎ
ﻋﻠﻤﺖ ﺃﺣﺪﺍﹰ ﻣﻦ ﺍﳌﺴﻠﻤﲔ ﺃﺑﻼﻩ ﺍﷲ ﰲ ﺻﺪﻕ ﺍﳊﺪﻳﺚ ﻣﻨﺬ ﺫﻛﺮﺕ ﺫﻟﻚ ﻟﺮﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﺃﺣﺴﻦ ﳑﺎ ﺃﺑﻼﱐ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ، ﻭﺍﷲ ﻣﺎ ﺗﻌﻤﺪﺕ ﻛﺬﺑﺔ ﻣﻨﺬ ﻗﻠﺖ ﺫﻟﻚ ﻟﺮﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﺇﱃ ﻳﻮﻣﻲ ﻫﺬﺍ، ﻭﺇﱐ ﻷﺭﺟﻮ ﺃﻥ ﳛﻔﻈﲏ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻘﻲ، ﻗﺎﻝ: ﻓﺄﻧﺰﻝ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ: }ﻟﻘﺪ ﺗﺎﺏ ﺍﷲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﱯ ﻭﺍﳌﻬﺎﺟﺮﻳﻦ ﻭﺍﻷﻧﺼﺎﺭ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺍﺗﺒﻌﻮﻩ ﰲ ﺳﺎﻋﺔ
ﺍﻟﻌﺴﺮﺓ) ﺣﱴ ﺑﻠﻎ: }ﺇﻧﻪ ﻢ ﺭﺅﻭﻑ ﺭﺣﻴﻢ . ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﺍﻟﺬﻳﻦ
ﺧﻠﻔﻮﺍ ﺣﱴ ﺇﺫﺍ ﺿﺎﻗﺖ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻷﺭﺽ ﲟﺎ ﺭﺣﺒﺖ{ ﺣﱴ ﺑﻠﻎ : {
ﺍﺗﻘﻮﺍ ﺍﷲ ﻭﻛﻮﻧﻮﺍ ﻣﻊ ﺍﻟﺼﺎﺩﻗﲔ} ((ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ 117، ((119
ﻗﺎﻝ ﻛﻌﺐ : ﻭﺍﷲ ﻣﺎ ﺃﻧﻌﻢ ﺍﷲ ﻋﻠﻲ ﻣﻦ ﻧﻌﻤﺔ ﻗﻂ ﺑﻌﺪ ﺇﺫ ﻫﺪﺍﱐ ﺍﷲ ﻟﻺﺳﻼﻡ ﺃﻋﻈﻢ
ﰲ ﻧﻔﺴﻲ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻲ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻥ ﻻ ﺃﻛﻮﻥ ﻛﺬﺑﺘﻪ، ﻓﺄﻫﻠﻚ ﻛﻤﺎ ﻫﻠﻚ ﺍﻟﺬﻳﻦ
ﻛﺬﺑﻮﺍ، ﺇﻥ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻗﺎﻝ ﻟﻠﺬﻳﻦ ﻛﺬﺑﻮﺍ ﺣﲔ ﺃﻧﺰﻝ ﺍﻟﻮﺣﻲ ﺷﺮ ﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﻷﺣﺪ، ﻓﻘﺎﻝ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ : }ﺳﻴﺤﻠﻔﻮﻥ ﺑﺎﷲ ﻟﻜﻢ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﻘﻠﺒﺘﻢ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﻟﺘﻌﺮﺿﻮﺍ ﻋﻨﻬﻢ ﻓﺄﻋﺮﺿﻮﺍ
ﻋﻨﻬﻢ ﺇ ﻢ ﺭﺟﺲ ﻭﻣﺄﻭﺍﻫﻢ ﺟﻬﻨﻢ
ﺟﺰﺍﺀ ﲟﺎ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻜﺴﺒﻮﻥ ﳛﻠﻔﻮﻥ ﻟﻜﻢ
ﻟﺘﺮﺿﻮﺍ ﻋﻨﻬﻢ ﻓﺈﻥ ﺗﺮﺿﻮﺍ ﻋﻨﻬﻢ ﻓﺈﻥ ﺍﷲ ﻻ ﻳﺮﺿﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﺍﻟﻔﺎﺳﻘﲔ{
((ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ: 96،. ((
95
Surah At-Taubah - سورة التوبة
[9:95] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]
Mereka akan bersumpah dengan nama Allah kepada kamu apabila kamu kembali kepada mereka (dari medan perang), supaya kamu berpaling dari mereka (tidak menempelak mereka); oleh itu berpalinglah dari mereka kerana sesungguhnya mereka itu kotor (disebabkan mereka telah sebati dengan kufur); dan tempat kembali mereka pula ialah neraka Jahannam, sebagai balasan bagi apa yang mereka telah usahakan.
(At-Taubah 9:95) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark
Mereka bersumpah kepada kamu supaya kamu reda akan mereka; oleh itu jika kamu reda akan mereka, maka sesungguhnya Allah tidak reda akan kaum yang fasik.
(At-Taubah 9:96) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark
ﻗﺎﻝ ﻛﻌﺐ : ﻛﻨﺎ ﺧﻠﻔﻨﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﻋﻦ
ﺃﻣﺮ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻗﺒﻞ ﻣﻨﻬﻢ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺣﲔ ﺣﻠﻔﻮﺍ ﻟﻪ ، ﻓﺒﺎﻳﻌﻬﻢ ﻭﺍﺳﺘﻐﻔﺮ
ﳍﻢ، ﻭﺃﺭﺟﺄ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﺣﱴ ﻗﻀﻰ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻓﻴﻪ ﺑﺬﻟﻚ، ﻗﺎﻝ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ :
{ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺧﻠﻔﻮﺍ}
ﻭﻟﻴﺲ ﺍﻟﺬﻱ ﺫﻛﺮ ﳑﺎ ﺧﻠﻔﻨﺎ ﲣﻠﻔﻨﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻐﺰﻭ، ﻭﺇﳕﺎ ﻫﻮ ﲣﻠﻴﻔﻪ ﺇﻳﺎﻧﺎ ﻭﺇﺭﺟﺎﺅﻩ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻋﻤﻦ
ﺣﻠﻒ ﻟﻪ ﻭﺍﻋﺘﺬﺭ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻘﺒﻞ ﻣﻨﻪ.
ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ.
ﻭﰱ ﺭﻭﺍﻳﺔ "ﺃﻥ ﺍﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ ﺧﺮﺝ ﰲ ﻏﺰﻭﺓ ﺗﺒﻮﻙ ﻳﻮﻡ ﺍﳋﻤﻴﺲ، ﻭﻛﺎﻥ ﳛﺐ ﺃﻥ ﳜﺮﺝ ﻳﻮﻡ ﺍﳋﻤﻴﺲ"
ﻭﰱ ﺭﻭﺍﻳﺔ: "ﻭﻛﺎﻥ ﻻ ﻳﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺳﻔﺮ
ﺇﻻ ﺎﺭﺍﹰ ﰲ ﺍﻟﻀﺤﻰ، ﻓﺈﺫﺍ ﻗﺪﻡ ﺑﺪﺃ ﺑﺎﳌﺴﺠﺪ
ﻓﺼﻠﻰ ﻓﻴﻪ ﺭﻛﻌﺘﲔ ﰒ ﺟﻠﺲ ﻓﻴﻪ" .
21. Dari
Abdullah bin Ka'ab bin Malik dan ia - yakni Abdullah -adalah pembimbing Ka'ab
r.a. dari golongan anak-anaknya ketika Ka 'ab - yakni ayahnya itu - sudah buta
matanya, katanya: "Saya mendengar Ka'ab bin Malik r.a. menceriterakan
perihal peristiwanya sendiri
ketika membelakang - artinya tidak
mengikuti - Rasulullah s.a.w. dalam peperangan Tabuk."
Ka'ab
berkata: "Saya tidak pernah membelakang - tidak mengikuti - Rasulullah
s.a.w. dalam suatu peperanganpun kecuali dalam peperangan Tabuk. Hanya saja
saya juga pernah tidak mengikuti dalam peperangan Badar, tetapi beliau s.a.w.
tidak mengolok-olokkan
seseorangpun
yang tidak mengikutinya itu - yakni Badar. Hanyasanya Rasulullah s.a.w. keluar
bersama kaum Muslimin menghendaki kafilahnya kaum Quraisy, sehingga Allah Ta'ala
mengumpulkan antara mereka itu dengan musuhnya dalam waktu yang tidak tertentukan.
Saya juga ikut menyaksikan bersama Rasulullah s.a.w . di malam 'aqabah di waktu
kita berjanji saling memperkokohkan Islam dan saya tidak senang andaikata tidak
mengikuti malam 'aqabah itu sekalipun umpamanya saya ikut menyaksikan
peperangan Badar dan sekalipun pula bahwa peperangan Badar itu lebih termasyhur
sebutannya di kalangan para manusia daripada malam ' aqabah tadi. Perihal
keadaanku ketika saya tidak mengikuti Rasulullah s.a.w. dalam peperangan Tabuk
ialah bahwa saya sama-sekali tidak lebih kuat dan tidak pula lebih ringan dalam
perasaanku sewaktu saya tidak mengikuti peperangan tersebut. Demi Allah saya
belum pernah mengumpulkan dua buah kendaraan sebelum adanya peperangan Tabuk
itu, sedang untuk peperangan ini saya dapat mengumpulkan keduanya. Tidak pula
Rasulullah s.a.w. itu menghendaki suatu peperangan, melainkan tentu beliau
berniat pula dengan peperangan yang berikutnya sehingga sampai terjadinya
peperangan Tabuk. Rasulullah s.a.w. berangkat dalam peperangan Tabuk itu dalam
keadaan panas yang sangat dan menghadapi suatu perjalanan yang jauh lagi harus menempuh
daerah yang sukar memperoleh air dan tentulah pula akan menghadapi musuh yang
jumlahnya amat besar sekali. Beliau s.a.w. kemudian menguraikan maksudnya itu
kepada
seluruh kaum Muslimin dan menjelaskan persoalan mereka, supaya mereka dapat
bersiap untuk menyediakan perbekalan peperangan mereka. Beliau s.a.w.
memberitahukan pada mereka dengan tujuan yang dikehendaki. Kaum Muslimin yang
menyertai Rasulullah s.a.w. itu banyak sekali, tetapi mereka itu tidak
terdaftarkan dalam sebuah buku yang terpelihara." Yang dimaksud oleh Ka'ab
ialah adanya buku catatan yang berisi daftar mereka itu.
Ka'ab berkata: "Maka sedikit sekali orang yang ingin untuk
tidak menyertai peperangan tadi, melainkan ia juga menyangka bahwa dirinya akan
tersamarkan,selama tidak ada wahyu yang turun dari Allah Ta'ala - maksudnya
kerana banyaknya orang yang mengikuti, maka orang yang berniat tidak mengikuti
tentu tidak akan diketahui oleh siapapun sebab catatannyapun tidak ada.
Rasulullah s.a.w. berangkat dalam
peperangan Tabuk itu di kala buah-buahan sedang enak-enaknya dan
naungan-naungan di bawahnya sedang nyaman-nyamannya. Saya amat senang sekali
pada buah-buahan serta naungan itu. Rasulullah s.a.w. bersiap-siap dan sekalian
kaum Muslimin juga demikian. Saya mulai pergi untuk ikut bersiap-siap pula
dengan beliau, tetapi saya lalu mundur lagi dan tidak ada sesuatu urusanpun yang
saya selesaikan, hanya dalam hati saya berkata bahwa saya dapat sewaktu-waktu
berangkat jikalau saya menginginkan. Hal yang sedemikian itu selalu saja
mengulur-ulurkan waktu persiapanku, sehingga orang-orang giat sekali untuk
mengadakan perbekalan mereka, sedangkan saya sendiri belum ada persiapan
sedikitpun. Kemudian saya pergi lagi lalu kembali pula dan tidak pula ada
sesuatu urusan yang dapat saya selesaikan. Keadaan sedemikian ini terus-menerus
menyebabkan saya mengulur-ulurkan waktu keberangkatanku, sehingga orang-orang
banyak telah bergegas-gegas dan majulah mereka yang hendak mengikuti peperangan
itu. Saya bermaksud akan berangkat kemudian dan selanjutnya tentu dapat
menyusul mereka yang berangkat Tebih dulu. Alangkah baiknya sekiranya maksud
itu saya laksanakan, tetapi kiranya yang sedemikian tadi tidak ditakdirkan
untuk dapat saya kerjakan. Dengan begitu maka setiap saya keluar bertemu dengan
orang-orang banyak setelah berangkatnya Rasulullah s.a.w. itu, keadaan
sekelilingku itu selalu menyedihkan hatiku, kerana saya mengetahui bahwa diriku
itu hanyalah sebagai suatu tuntunan yang dapat dituduh melakukan kemunafikan
atau hanya sebagai seseorang yang dianggap beruzur oleh Allah Ta'ala kerana
termasuk golongan kaum yang lemah - tidak kuasa mengikuti peperangan.
Rasulullah s.a.w. kiranya tidak mengingat akan diriku sehingga
beliau datang di Tabuk, maka sewaktu beliau duduk di kalangan kaumnya di Tabuk,
tiba-tiba bertanya: "Apa yang dilakukan oleh Ka'ab bin Malik?"
Seorang dari golongan Bani Salimah menjawab: "Ya Rasulullah, ia ditahan
oleh pakaian indahnya dan oleh keadaan sekelilingnya yang permai
pandangannya." Kemudian Mu'az bin Jabal r.a. berkata: "Buruk sekali
yang kau katakan itu. Demi Allah ya Rasulullah, kita tidak pernah melihat
keadaan Ka'ab itu kecuali yang baik-baik saja." Rasulullah s.a.w. berdiam
diri. Ketika beliau s.a.w. dalam keadaan seperti itu lalu melihat ada seorang
yang mengenakan pakaian serba putih yang digerak-gerakkan oleh fatamorgana -
sesuatu yang tampak semacam air dalam keadaan yang panas terik di padang pasir
- Rasulullah s.a.w. bersabda: "Engkaukah Abu Khaitsamah?"Memang orang
ituadalah Abu Khaitsamah al-Anshari dan ia adalah yang pernah bersedekah dengan
sesha' kurma ketika dicaci oleh kaum munafikin.
Ka'ab berkata selanjutnya: "Setelah ada berita yang sampai
di telingaku bahwa Rasulullah s.a.w. telah menuju kembali dengan kafilahnya
dari Tabuk, maka datanglah kesedihanku lalu saya mulai mengingat-ingat
bagaimana sekiranya saya berdusta - untuk mengada-adakan alasan tidak mengikuti
peperangan. Saya berkata pada diriku, bagaimana
caranya supaya
dapat terkeluar - terhindar dari kemurkaannya besok sekiranya beliau telah
tiba. Sayapun meminta bantuan untuk menemukan jalan keluar dari kesulitan ini
dengan setiap orang yang banyak mempunyai pendapat dari golongan keluargaku.
Setelah diberitahukan bahwa Rasulullah s.a.w. telah tiba maka lenyaplah
kebathilan dari jiwaku - yakni keinginan akan berdusta itu - sehingga saya
mengetahui bahwa saya tidak dapat menyelamatkan diriku dari kemurkaannya itu
dengan sesuatu apapun untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu saya menyatukan
pendapat hendak mengatakan secara sebenarnya belaka.
Rasulullah
s.a.w. itu apabila datang dari perjalanan, tentu memulai dengan memasuki
masjid, kemudian bersembahyang dua rakaat, kemudian duduk di hadapan orang
banyak. Setelah beliau melakukan yang sedemikian itu, maka datanglah padanya
orang-orang yang membelakang - tidak mengikuti peperangan - untuk mengemukakan alasan
mereka dan mereka pun bersumpah dalam mengemukakan alasan-alasannya itu. Jumlah
yang tidak mengikuti itu ada delapan puluh lebih - tiga sampai sembilan. Beliau
s.a.w. menerima alasan-alasan yang mereka kemukakan secara terus terang itu,
juga membai'at - meminta janji setia - mereka serta memohonkan pengampunan
untuk mereka pula, sedang apa yang tersimpan dalam hati mereka bulat-bulat
diserahkan kepada Allah Ta'ala. Demikianlah sehingga sayapun datanglah
menghadap beliau s.a.w. itu. Setelah saya mengucapkan salam padanya, beliau
tersenyum bagaikan senyumnya orang yang murka, kemudian bersabda:
"Kemarilah!" Saya mendatanginya sambil berjalan sehingga saya duduk
di hadapannya, kemudian beliau s.a.w. bertanya padaku: "Apakah yang
menyebabkan engkau tertinggal bukankah engkau telah membeli unta untuk
kendaraanmu?"
Ka'ab berkata:
"Saya lalu menjawab: Ya Rasulullah, sesungguhnya saya, demi Allah,
andaikata saya duduk di sisi selain Tuan dari golongan ahli dunia, niscayalah
saya berpendapat bahwa saya akan dapat keluar dari kemurkaannya dengan
mengemukakan suatu alasan. Sebenarnya saya telah dikaruniai kepandaian dalam
bercakap-cakap. Tetapi saya ini, demi Allah, pasti dapat mengerti bahwa andai
kata saya memberitahukan kepada Tuan dengan suatu ceritera bohong pada hari ini
yang Tuan akan merasa rela dengan ucapanku itu, namun sesungguhnya Allah
hampir-hampir akan memurkai Tuan kerana perbuatanku itu. Sebaliknya jikalau
saya memberitahukan kepada Tuan dengan ceritera yang sebenarnya yang dengan
demikian itu Tuan akan murka atas diriku dalam hal ini, sesungguhnya saya
hanyalah menginginkan keakhiran yang baik dari Allah 'Azzawajalla. Demi Allah,
saya tidak beruzur sedikitpun - sehingga tidak mengikuti peperangan itu. Demi
Allah, sama sekali saya belum merasakan bahwa saya lebih kuat dan lebih ringan
untuk mengikutinya itu, yakni di waktu saya membelakang daripada Tuan -sehingga
jadi tidak ikut berangkat."
Ka'ab berkata:
"Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: Tentang orang ini, maka pembicaraannya
memang benar - tidak berdusta. Oleh sebab itu bolehlah engkau berdiri sehingga
Allah akan memberikan keputusannya tentang dirimu."
Ada beberapa
orang dari golongan Bani Salimah yang berjalan mengikuti jejakku, mereka
berkata: "Demi Allah, kita tidak menganggap bahwa engkau telah pernah
bersalah dengan melakukan sesuatu dosapun sebelum saat ini. Engkau agaknya
tidak kuasa, mengapa engkau tidak mengemukakan keuzuranmu saja kepada
Rasulullah s.a.w. sebagaimana keuzuran yang dikemukakan oleh orang-orang yang
tertinggal yang lain-lain. Sebenarnya bukankah telah mencukupi untuk
menghilangkan dosamu itu jikalau Rasulullah s.a.w. suka memohonkan mengampunan
kepada Allah untukmu.
Ka'ab berkata:
"Demi Allah, tidak henti-hentinya orang-orang itu mengolok-olokkan diriku
- kerana menggunakan cara yang dilakukan sebagaimana di atas yang telah terjadi
itu
sehingga saya sekali hendak kembali saja kepada Rasulullah
s.a.w. – untuk mengikuti cara orang-orang Bani Salimah itu, agar saya mendustakan
diriku sendiri. Kemudian saya berkata kepada orang-orang itu: "Apakah ada
orang lain yang menemui peristiwa sebagaimana hal yang saya temui itu?"
Orang-orang itu menjawab: "Ya, ada dua orang yang menemui keadaan seperti
itu. Keduanya berkata sebagaimana yang engkau katakan lalu terhadap keduanya
itupun diucapkan - oleh Rasulullah s.a.w. - sebagaimana kata-kata yang
diucapkan padamu."
Ka'ab berkata:
"Siapakah kedua orang itu?" Orang-orang menjawab: "Mereka itu
ialah Murarah bin Rabi'ah al-'Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi."
Ka'ab berkata:
"Orang-orang itu menyebut-nyebutkan di mukaku bahwa kedua orang itu adalah
orang-orang shahih dan juga benar-benar ikut menyaksikan peperangan Badar dan
keduanya dapat dijadikan sebagai contoh - dalam keberanian dan lain-lain."
Ka'ab berkata:
"Saya pun lalu terus pergi di kala mereka telah selesai menyebut-nyebutkan
tentang kedua orang tersebut di atas di mukaku.
Rasulullah
s.a.w. melarang kita - kaum Muslimin - untuk bercakap-cakap dengan ketiga orang
di antara orang-orang yang sama membelakang - tidak mengikuti perjalanan -
beliau itu."
Ka'ab berkata:
"Orang-orang sama menjauhi kita," dalam riwayat lain ia berkata:
"Orang-orang sama berubah sikap terhadap kita bertiga, sehingga dalam
jiwaku seolah-olah bumi ini tidak mengenal lagi akan diriku, maka seolah-olah
bumi ini adalah bukan bumi yang saya kenal sebelumnya. Kita bertiga berhal
demikian itu selama lima puluh malam - dengan harinya. Adapun dua kawan saya,
maka keduanya itu menetap saja dan selalu duduk-duduk di rumahnya sambil
menangis. Tentang saya sendiri, maka saya adalah yang termuda di kalangan kita
bertiga dan lebih tahan - mendapat-kan ujian. Oleh sebab itu sayapun keluar
serta menyaksikan shalat jamaah bersama kaum Muslimin lain-lain dan juga suka berkeliling
di pasar-pasar, tetapi tidak seorangpun yang mengajak bicara padaku. Saya
pernah mendatangi Rasulullah s.a.w. dan mengucapkan salam padanya dan beliau
ada di majlisnya sehabis shalat, kemudian saya berkata dalam hatiku, apakah
beliau menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku itu ataukah tidak.
Selanjutnya saya bersembahyang dekat sekali pada tempatnya itu dan saya
mengamat-amatinya dengan pandanganku. Jikalau saya mulai mengerjakan shalat,
beliau melihat padaku, tetapi jikalau saya menoleh padanya, beliaupun lalu
memalingkan mukanya dari pandanganku.
Demikian halnya,
sehingga setelah terasa amat lama sekali penyeteruan kaum Muslimin itu terhadap
diriku, lalu saya berjalan sehingga saya menaiki dinding muka dari rumah Abu
Qatadah. Ia adalah anak pamanku - jadi sepupunya - dan ia adalah orang yang
tercinta bagiku di antara semua orang. Saya memberikan salam padanya, tetapi
demi Allah, ia tidak menjawab salamku itu. Kemudian saya berkata kepadanya:
"Hai Abu Qatadah, saya hendak bertanya padamu kerana Allah, apakah engkau
mengetahui bahwa saya ini mencintai Allah dan RasulNya s.a.w.?" Ia diam
saja, lalu saya ulangi lagi dan bertanya sekali iagi padanya, iapun masih diam
saja. Akhirnya saya ulangi lagi dan saya menanyakannya sekali lagi, lalu ia berkata:
"Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui tentang itu." Oleh sebab
jawabnya ini, maka mengalirlah air mataku dan saya meninggalkannya sehingga
saya menaiki dinding rumah tadi.
Di kala saya
berjalan di pasar kota, tiba-tiba ada seorang petani dari golongan petani
negeri Syam (Palestina), yaitu dari golongan orang-orang yang datang dengan
membawa makanan yang hendak dijualnya di Madinah, lalu orang itu berkata:
"Siapakah yang suka menunjukkan, manakah yang bernama Ka'ab bin
Malik." Orang-orang lain sama menunjukkannya kearahku, sehingga orang
itupun mendatangi tempatku, kemudian
34
menyerahkan
sepucuk surat dari raja Ghassan - yang beragama Kristen. Saya memang orang yang
dapat menulis, maka surat itupun saya baca, tiba-tiba isinya adalah sebagai
berikut:
"Amma ba'd.
Sebenarnya telah sampai berita pada kami bahwa sahabatmu - yakni Muhammad
s.a.w. - telah menyeterumu. Allah tidaklah menjadikan engkau untuk menjadi
orang hina di dunia ataupun orang yang dihilangkan hak-haknya. Maka dari itu
susullah kami - maksudnya datanglah di tempat kami - maka kami akan
menggembirakan hatimu."
Kemudian saya
berkata setelah selesai membacanya itu: "Ah, inipun juga termasuk bencana
pula," lalu saya menuju ke dapur dengan membawa surat tadi kemudian saya
membakarnya. Selanjutnya setelah lepas waktu selama empatpuluh hari dari jumlah
limapuluh hari, sedang waktu agak terlambat datangnya tiba-tiba datanglah di
tempatku seorang utusan dari Rasulullah s.a.w., terus berkata: "Sesungguhnya
Rasulullah s.a.w. memerintahkan padamu supaya engkau menyendirikan
isterimu." Saya bertanya: "Apakah saya harus menceraikannya ataukah
apa yang harus saya lakukan?" Ia berkata: "Tidak usah menceraikan,
tetapi menyendirilah daripadanya, jadi jangan sekali-kali engkau
mendekatinya." Rasulullah s.a.w. juga mengirimkan utusan kepada kedua
sahabat saya - yang senasib di atas - sebagaimana yang dikirimkannya padaku.
Oleh sebab itu lalu saya berkata pada isteriku: "Susullah dulu keluargamu
- maksudnya pergilah ke tempat kedua orang tuamu. Beradalah di sisi mereka
sehingga Allah akan menentukan bagaimana kelanjutan peristiwa ini."
Isteri Hilal bin
Umayyah mendatangi Rasulullah s.a.w., lalu berkata pada beliau: "Ya
Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah itu seorang yang amat tua dan hanya
sebatang kara, tidak mempunyai pelayan juga. Apakah Tuan juga tidak senang
andaikata saya tetap melayaninya?" Beliau s.a.w. menjawab: "Tidak,
tetapi jangan sekali-kali ia mendekatimu - jangan berkumpul seketiduran denganmu."
Isterinya berkata lagi: "Sesungguhnya Hilal itu demi Allah, sudah tidak
mempunyai gerak samasekali pada sesuatupun dan demi Allah, ia senantiasa
menangis sejak terjadinya peristiwa itu sampai pada hari ini."
Sebagian
keluargaku berkata padaku: "Alangkah baiknya sekiranya engkau meminta izin
kepada Rasulullah s.a.w. dalam persoalan isterimu itu. Rasulullah s.a.w. juga
telah mengizinkan kepada isteri Hilal bin Umayyah untuk tetap
melayaninya." Saya berkata: "Saya tidak akan meminta izin untuk isteriku
itu kepada Rasulullah s.a.w., saya pun tidak tahu bagaimana nanti yang akan
diucapkan oleh Rasulullah s.a.w. sekiranya saya meminta izin pada beliau
perihal isteriku itu - yakni supaya boleh tetap melayani diriku? Saya adalah
seorang yang masih muda." Saya tetap berkeadaan sebagaimana di atas itu -
tanpa isteri - selama sepuluh malam dengan harinya sekali maka telah genaplah
jumlahnya menjadi lima puluh hari sejak kaum Muslimin dilarang bercakap-cakap
dengan kita.
Selanjutnya saya
bersembahyang Subuh pada pagi hari kelima puluh itu di muka rumah dari salah
satu rumah keluarga kami. Kemudian di kala saya sedang duduk dalam keadaan yang
disebutkan oleh Allah Ta'ala perihal diri kita itu - yakni ketika kami bertiga
sedang dikucilkan, jiwaku terasa amat sempit sedang bumi yang luas terasa amat
kecil, tiba-tiba saya mendengar suara teriakan seseorang yang berada di atas
gunung Sala' - sebuah gunung di Madinah, ia berkata dengan suaranya yang amat
keras: "Hai Ka'ab bin Malik, bergembiralah." Segera setelah mendengar
itu, sayapun bersujud - syukur - dan saya meyakinkan bahwa telah ada kelapangan
yang datang untukku. Rasulullah s.a.w. telah memberitahukan pada orang-orang
banyak bahwa taubat kita bertiga telah diterima oleh Allah 'Azzawajalla, yaitu
di waktu beliau bersembahyang Subuh. Maka orang-orangpun menyampaikan berita
gembira itu pada kita dan ada pula pembawa-pembawa kegembiraan itu yang
mendatangi kedua sahabatku - yang senasib. Ada seorang yang dengan cepat-cepat
melarikan kudanya serta bergegas-gegas menuju ke tempatku dari golongan Aslam -
35
namanya Hamzah
bin Umar al-Aslami. Ia menaiki gunung dan suaranya itu kiranya lebih cepat
terdengar olehku daripada datangnya kuda itu sendiri. Setelah dia datang padaku
yakni orang yang kudengar suaranya tadi, iapun memberikan berita gembira
padaku, kemudian saya melepaskan kedua bajuku dan saya berikan kepadanya untuk
dipakai, sebagai hadiah dari berita gembira yang disampaikannya itu. Demi
Allah, saya tidak mempunyai pakaian selain keduanya tadi pada hari itu. Maka
sayapun meminjam dua buah baju - dari orang lain - dan saya kenakan lalu
berangkat menuju ke tempat Rasulullah s.a.w. Orang-orang sama menyambut
kedatanganku itu sekelompok demi sekelompok menyatakan ikut gembira padaku
sebab taubatku yang telah diterima. Mereka berkata: "Semogagembiralah
hatimu kerana Allah telah menerima taubatmu itu." Demikian akhirnya saya
memasuki masjid, di situ Rasulullah s.a.w. sedang duduk dan di sekelilingnya
ada beberapa orang. Thalhah bin Ubaidullah r.a. lalu berdiri cepat-cepat
kemudian menjabat tanganku dan menyatakan ikut gembira atas diriku. Demi Allah
tidak ada seorangpun dari golongan kaum Muhajirin yang berdiri selain Thalhah
itu. Oleh sebab itu Ka'ab tidak akan melupakan peristiwa itu untuk Thalhah.
Ka'ab berkata:
"Ketika saya mengucapkan salam kepada Rasulullah s.a.w. beliau tampak
berseri-seri wajahnya kerana gembiranya lalu bersabda: "Bergembiralah
dengan datangnya suatu hari baik yang pernah engkau alami sejak engkau
dilahirkan oleh ibumu. "Saya bertanya: "Apakah itu datangnya dari
sisi Tuan sendiri ya Rasulullah, ataukah dari sisi Allah?" Beliau s.a.w.
menjawab: "Tidak dari aku sendiri, tetapi memang dari Allah
'Azzawajalla". Rasulullah s.a.w. itu apabila gembira hatinya, maka
wajahnya pun bersinar indah,seolah-olah wajahnya itu adalah sepenuh bulan, kita
semua mengetahui hal itu.
Setelah saya
duduk di hadapannya, saya lalu berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya untuk
menyatakan taubatku itu ialah saya hendak melepaskan sebagian hartaku sebagai
sedekah kepada Allah dan RasulNya." Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tahanlah untukmu sendiri sebagian dari harta-hartamu itu, sebab yang
sedemikian itu adalah lebih baik." Saya menjawab: "Sebenarnya saya
telah menahan bagianku yang ada di tanah Khaibar." Selanjutnya saya
meneruskan: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkan diriku
dengan jalan berkata benar, maka sebagai tanda taubatku pula ialah bahwa saya
tidak akan berkata kecuali yang sebenarnya saja selama kehidupanku yang masih
tertinggal." Demi Allah, belum pernah saya melihat seseorangpun dari
kalangan kaum Muslimin yang diberi cobaan oleh Allah Ta'ala dengan sebab
kebenaran kata-kata yang diucapkan, sejak saya menyebutkan hal itu kepada
Rasulullah s.a.w. yang jadinya lebih baik dari yang telah dicobakan oleh Allah
Ta'ala pada diriku sendiri. Demi Allah, saya tidak bermaksud akan berdusta
sedikitpun sejak saya mengatakan itu kepada Rasulullah s.a.w. sampai pada
hariku ini dan sesungguhnya sayapun mengharapkan agar Allah Ta'ala senantiasa
melindungi diriku dari kedustaan itu dalam kehidupan yang masih tertinggal
untukku."
Ka'ab berkata; "Kemudian Allah
Ta'ala menurunkan wahyu yang artinya:
"Sesungguhnya Allah telah menerima taubatnya Nabi, kaum
Muhajirin dan Anshar yang mengikutinya - ikut berperang – dalam masa kesulitan - sampai di
firmanNya yang berarti 6; Sesungguhnya Allah itu
adalah Maha Penyantun lagi Penyayang kepada mereka.
Lengkapnya ayat-ayat 117, 118 dan 119
dari surat at-Taubah itu artinya adalah sebagai berikut:
Sesungguhnya Allah tefah menerima
taubat Nabi, kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa
kesulitan. yaitu setelah hati sebagian dari mereka hampir menyimpang, kemudian
Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengasih Lagi
Penyayang kepada mereka.
Allah juga menerima taubatnya tiga
orang yang ditinggalkan di belakang sehingga bumi yang luas terbentang ini
terasa sempit oleh mereka dan mereka rasakan nafas mereka menjadi sesak. Mereka
mengetahui bahwa tidak ada tempat berlindung dari siksa Allah melainkan kepada
Allah. Kemudian Allah
Juga Allah telah menerima taubat tiga orang yang ditinggalkan
di belakang, sehingga terasa sempitlah bagi mereka bumi yang terbentang luas
ini - sampai di firmanNya yang berarti - Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah engkau semua bersama
orang-orang yang benar." (at-Taubah: 117-119)



Surah At-Taubah - سورة التوبة
[9:117] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]
Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi dan orang-orang Muhajirin dan Ansar yang mengikutnya (berjuang) dalam masa kesukaran, sesudah hampir-hampir terpesong hati segolongan dari mereka (daripada menurut Nabi untuk berjuang); kemudian Allah menerima taubat mereka; sesungguhnya Allah Amat belas, lagi Maha Mengasihani terhadap mereka.
(At-Taubah 9:117) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark
Dan (Allah menerima pula taubat) tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat mereka) hingga apabila bumi yang luas ini (terasa) sempit kepada mereka (kerana mereka dipulaukan), dan hati mereka pula menjadi sempit (kerana menanggung dukacita), serta mereka yakin bahawa tidak ada tempat untuk mereka lari dari (kemurkaan) Allah melainkan (kembali bertaubat) kepadaNya; kemudian Allah (memberi taufiq serta) menerima taubat mereka supaya mereka kekal bertaubat. Sesungguhnya Allah Dia lah Penerima taubat lagi Maha Mengasihani.
(At-Taubah 9:118) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark
Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu berada bersama-sama orang-orang yang benar.
(At-Taubah 9:119) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | BookmarkKa'ab berkata: "Demi Allah, belum pernah Allah mengaruniakan kenikmatan padaku sama sekali setelah saya memperoleh petunjuk dari Allah untuk memeluk Agama Islam ini, yang kenikmatan itu lebih besar dalam perasaan jiwaku, melebihi perkataan benarku yang saya sampaikan kepada Rasulullah s.a.w., sebab saya tidak mendustainya, sehingga andaikata demikian tentulah saya akan rusak sebagaimana kerusakan yang dialami oleh orang-orang yang berdusta - maksudnya ialah kerusakan agama bagi dirinya, akhlak dan lain-lain. Sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman kepada orang-orang yang berdusta ketika diturunkannya wahyu, yaitu suatu kata-kata terburuk yang pernah diucapkan kepada seseorang. Allah Ta'ala berfirman yang artinya:
"Mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, ketika
engkau kembali kepada mereka, supaya engkau dapat membiarkan mereka. Sebab itu
berpalinglah dari mereka itu, sesungguhnya mereka itu kotor dan tempatnya
adalah neraka Jahanam, sebagai pembalasan dari apa yang mereka lakukan.
Mereka bersumpah kepadamu supaya engkau merasa senang kepada
mereka, tetapi biarpun engkau merasa senang kepada mereka, namun Allah tidak
senang kepada kaum yang fasik itu." (at-Taubah: 95-96)

Surah At-Taubah - سورة التوبة
[9:95] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]
Mereka akan bersumpah dengan nama Allah kepada kamu apabila kamu kembali kepada mereka (dari medan perang), supaya kamu berpaling dari mereka (tidak menempelak mereka); oleh itu berpalinglah dari mereka kerana sesungguhnya mereka itu kotor (disebabkan mereka telah sebati dengan kufur); dan tempat kembali mereka pula ialah neraka Jahannam, sebagai balasan bagi apa yang mereka telah usahakan.
(At-Taubah 9:95) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark
Mereka bersumpah kepada kamu supaya kamu reda akan mereka; oleh itu jika kamu reda akan mereka, maka sesungguhnya Allah tidak reda akan kaum yang fasik.
(At-Taubah 9:96) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark
Ka'ab berkata:
"Kita semua bertiga ditinggalkan, sehingga tidak termasuk dalam urusan
golongan orang-orang yang diterima oleh Rasulullah s.a.w. perihal alasan-alasan
mereka itu, yaitu ketika mereka juga bersumpah padanya, lalu memberikan
janji-janji kepada mereka supaya setia dan memohonkan pengampunan untuk mereka
pula. Rasulullah s.a.w. telah mengakhirkan urusan kita bertiga itu sehingga
Allah memberikan keputusan dalam peristiwa tersebut." Allah Ta'ala
berfirman: "Dan juga kepada tiga orang yang ditinggalkan."
Bukannya yang
disebutkan di situ yaitu dengan firmanNya "Tiga orang yang ditinggalkan
dimaksudkan kita membelakang dari peperangan, tetapi Rasulullah s.a.w. yang
meninggalkan kita bertiga tadi dan menunda urusan kita, dengan tujuan untuk
memisahkan dari orang-orang yang bersumpah dan mengemukakan alasan-alasan
padanya, kemudian menyarmpikan masing-masing keuzurannya dan selanjutnya beliau
s.a.w., menerima alasan-alasan mereka tersebut." (Muttafaq 'alaih)
Dalam sebuah
riwayat disebutkan: "Bahwasanya Rasulullah s.a.w. keluar untuk berangkat
ke peperangan Tabuk pada hari Khamis dan memang beliau s.a.w. suka sekali kalau
keluar pada hari Kamis itu."
Dalam riwayat lain
disebutkan pula: "Beliau s.a.w. tidak datang dari sesuatu perjalanan
melainkan di waktu siang di dalam saat dhuhadan jikalau beliau s.a.w. telah
datang, maka lebih dulu masuk ke dalam masjid, kemudian bersembahyang dua
rakaat lalu duduk di dalamnya."
Keterangan:
menerima
taubat mereka supaya mereka kembali - ke jalan yang benar -. Sesungguhnya Allah
adalah Maha Penerima taubat lagi Penyayang.
Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu semua itu bersama-sama orang-orang
yang benar - kata-kata serta perbuatannya.
37
Secara jelasnya makna Khullifuu
dalam ayat di atas itu ialah: ditangguhkannya tiga orang itu perihal
dimaafkannya dan ditundanya untuk diterima taubatnya sehingga limapuluh hari
limapuluh malam lamanya.
Jadi Khullifuu bukan
bermaksud ditinggalkannya orang tiga di atas oleh Rasulullah s.a.w. dan
sahabat-sahabatnya ketika tidak mengikuti perang Tabuk.
Oleh sebab itu orang lain yang tidak mengikuti perang Tabuk dan
berani bersumpah serta mengemukakan alasan-alasan yang beraneka macamnya, lalu
dimaafkan oleh Nabi s.a.w. dan tidak ikut dikucilkan, tidak dapat dimasukkan
dalam golongan "Tiga orang yang ditinggalkan" tersebut. Jadi diterima
atau tidaknya alasan yang mereka kemukakan itu belum dapat dipastikan
kebenarannya, sebab yang Maha Mengetahui hanyalah Allah Ta'ala sendiri.
)elasnya kalau benar alasannya, tentulah dimaafkan oleh Allah, sedang kalau
tidak, tentu saja ada siksanya bagi orang yang berdusta itu, apabila Allah
tidak mengampuninya.
Adapun tiga orang di atas sudah pasti
dimaafkan dan juga telah diterima taubatnya.
ﻥﺃ ﺎﻤﻬﻨﻋ ﷲﺍ ﻲﺿﺭ ﻰﻋﺍﺰﳋﺍ ﲔﺼﳊﺍ ﻦﺑ
ﻥﺍﺮﻤﻋ - ﻢﻴﳉﺍ ﺢﺘﻓﻭ ﻥﻮﻨﻟﺍ ﻢﺿ -ﺪﻴﳒ ﰊﺃ ﻦﻋﻭ 22-ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﺎﻳ :ﺖﻟﺎﻘﻓ ،ﱏﺰﻟﺍ ﻦﻣ ﻰﻠﺒﺣ ﻰﻫﻭ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ
ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﺖﺗﺃ ﺔﻨﻴﻬﺟ ﻦﻣ ﺓﺃﺮﻣﺍ ﺖﻌﺿﻭ ﺍﺫﺈﻓ ،ﺎﻬﻴﻟﺇ ﻦﺴﺣﺃ :ﻝﺎﻘﻓ ﺎﻬﻴﻟﻭ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﷲﺍ
ﱯﻧ ﺎﻋﺪﻓ ،ﻲﻠﻋ ﻪﻤﻗﺄﻓ ﺍﺪﺣﹰ ﺖﺒﺻﺃ ﻰﻠﺻ ﰒ ،ﺖﲨﺮﻓ ﺎ
ﺮﻣﺃ ﰒ ،ﺎ ﺎﻴﺛ ﺎﻬﻴﻠﻋ ﺕﺪﺸﻓ ،ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﷲﺍ ﱯﻧ ﺎ ﺮﻣﺄﻓ ﻞﻌﻔﻓ ،ﲏﺗﺄﻓ ﺖﺑﺎﺗ ﺪﻘﻟ :ﻝﺎﻗ ،ﺖﻧﺯ ﺪﻗﻭ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ
ﺎﻳ ﺎﻬﻴﻠﻋ ﻰﻠﺼﺗ :ﺮﻤﻋ ﻪﻟ ﻝﺎﻘﻓ .ﺎﻬﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﺎﻬﺴﻔﻨﺑ ﺕﺩﺎﺟ ﻥﺃ ﻦﻣ ﻞﻀﻓﺃ ﺕﺪﺟﻭ
ﻞﻫﻭ ،ﻢﻬﺘﻌﺘﺳﻮﻟ ﺔﻨﻳﺪﳌﺍ ﻞﻫﺃ ﻦﻣ ﲔﻌﺒﺳ ﲔﺑ ﺖﺴﻤﻗ ﻮﻟ ﺔﺑﻮﺗ .ﻢﻠﺴﻣ ﻩﺍﻭﺭ " !؟ ﻞﺟﻭ ﺰﻋ ﷲ
Dari Abu Nujaid (dengan dhammahnya nun dan fathahnya jim) yaitu
lmranbin Hushain al-Khuza'i radhiallahu 'anhuma bahwasanya ada seorang wanita dari
suku Juhainah mendatangi Rasulullah s.a.w. dan ia sedang dalam keadaan hamil
kerana perbuatan zina. Kemudian ia berkata: "Ya Rasulullah, saya telah
melakukan sesuatu perbuatan yang harus dikenakan had - hukuman - maka
tegakkanlah had itu atas diriku." Nabiullah s.a.w. lalu memanggil wali
wanita itu lalu bersabda: "Berbuat baiklah kepada wanita ini dan apabila
telah melahirkan - kandungannya, maka datanglah padaku dengan membawanya."
Wali tersebut melakukan apa yang diperintahkan. Setelah bayinya lahir - lalu
beliau s.a.w. memerintahkan untuk memberi hukuman, wanita itu diikatlah pada
pakaiannya, kemudian dirajamlah. Selanjutnya beliau s.a.w. menyembahyangi
jenazahnya.
Umar berkata
pada beliau: "Apakah Tuan menyembahyangi jenazahnya, ya Rasulullah, sedangkan
ia telah berzina?" Beliau s.a.w. bersabda: "Ia telah bertaubat
benar-benar, andaikata taubatnya itu dibagikan kepada tujuhpuluh orang dari
penduduk Madinah, pasti masih mencukupi. Adakah pernah engkau menemukan
seseorang yang lebih utama dari orang yang suka mendermakan jiwanya semata-mata
kerana mencari keridhaan Allah 'Azzawajalla." (Riwayat Muslim)
38
23-
ﻭﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: " ﻟﻮ ﺃﻥ ﻻﺑﻦ ﺁﺩﻡ
ﻭﺍﺩﻳﺎﹰ ﻣﻦ ﺫﻫﺐ ﺃﺣﺐ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻪ ﻭﺍﺩﻳﺎﻥ، ﻭﻟﻦ ﳝﻸ ﻓﺎﻩ ﺇﻻ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ، ﻭﻳﺘﻮﺏ ﺍﷲ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺗﺎﺏ"
((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)) .
23.
Dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik radhiallahu 'anhum bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Andaikata seorang anak Adam -
yakni manusia - itu memiliki selembah emas, ia tentu menginginkan memiliki dua
lembah dan samasekali tidak akan memenuhi mulutnya kecuali tanah – yaitu
setelah mati - dan Allah menerima taubat kepada orang yang
bertaubat." (Muttafaq 'alaih)
24-
ﻭﻋﻦ ﺃﰊ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: "ﻳﻀﺤﻚ ﺍﷲ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ
ﻭﺗﻌﺎﱃ ﺇﱃ ﺭﺟﻠﲔ ﻳﻘﺘﻞ ﺃﺣﺪﳘﺎ ﺍﻵﺧﺮ ﻳﺪﺧﻼﻥ ﺍﳉﻨﺔ، ﻳﻘﺎﺗﻞ ﻫﺬﺍ ﰲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﷲ ﻓﻴﻘﺘﻞ، ﰒ ﻳﺘﻮﺏ ﺍﷲ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺎﺗﻞ ﻓﻴﺴﻠﻢ ﻓﻴﺴﺘﺸﻬﺪ" ((ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ)) .
24. Dan dari Abu Hurairah r.a.
bahwasanya Rasulullah s.a. w. bersabda:
"Allah Subhanahu wa Ta'ala tertawa - merasa senang -
kepada dua orang yang
seorang membunuh pada lainnya, kemudian keduanya dapat memasuki
syurga. Yang seorang itu berperang fisabilillah kemudian ia dibunuh,
selanjutnya Allah menerima taubat atas orang yang membunuhnya tadi, kemudian ia
masuk Islam dan selanjutnya dibunuh pula sebagai seorang syahid."
(Muttafaq 'alaih)
Tiada ulasan:
Catat Ulasan