Bab
11
Bersungguh-sungguh
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan orang-orang yang berjihad dalam membela agama Kami, maka pasti akan Kami tunjukkan mereka
itu akan jalan Kami dan sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang berbuat
kebagusan." (al-Ankabut: 69)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datanglah keyakinan - kematian - itu
padamu." (al-Hijr:
99)
Lagi Allah Ta'ala berfirman:
"Dan ingatlah akan nama Tuhanmu serta beribadatlah
kepada-Nya dengan sepenuh hati," yakni hentikanlah segala pemikiran, untuk
semata-mata menghadap kepadaNya." (al-Muzzammil: 8)
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat
timbangan debu, iapun pasti akan mengetahuinya." (az-Zalzalah: 7)
Juga Allah Ta'ala berfirman:
"Dan apa saja - perbuatan baik - yang engkau sekalian
berikan untuk dirimu sendiri, nanti pasti akan engkau sekalian dapati di sisi
Allah, keadaannya adalah lebih baik dan lebih besar pahalanya dan mohonlah
pengampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi
Penyayang." (al-Muzzammil: 20)
Lagi firman Allah Ta'ala:
"Dan apa saja kebaikan yang engkau sekalian kerjakan, maka
sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui." (al-Baqarah:
215)
Ayat-ayat dalam bab ini banyak sekali
dan dapat dimaklumi. Adapun Hadis-hadisnya
ialah:
95. Pertama: Dari Abu Hurairah r.a.,
katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya
Allah Ta'ala berfirman - dalam Hadis qudsi : "Barangsiapa memusuhi
kekasihKu, maka Aku memberitahu-kan padanya bahwa ia akan Kuperangi - Kumusuhi.
Dan tidaklah
seseorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan sesuatu yang amat Kucintai lebih
daripada apabila ia melakukan apa-apa yang telah Kuwajibkan padanya. Dan
tidaklah seseorang hambaKu itu mendekatkan padaKu dan melakukan hal-hal yang
sunnah sehingga akhirnya Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya,
Akulah yang sebagai telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, Akulah matanya
yang ia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang ia gunakan untuk mengambil
dan Akulah kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Andaikata ia meminta sesuatu
padaKu, pastilah Kuberi dan andaikata memohonkan perlindungan padaKu, pastilah
Kulindungi." (Riwayat Bukhari)
Makna lafaz Aadzantuhu, artinya: "Aku (Tuhan) memberitahu-kan
kepadanya (yakni orang yang mengganggu kekasihKu itu) bahwa Aku memerangi atau
memusuhinya, sedang lafaz Ista'aadzanii,
artinya "Ia memohonkan perlindungan padaKu. Ada yang meriwayatkan
93
dengan ba', lalu berbunyi Ista'aadza bii dan ada yang meriwayatkan
dengan nun, lalu berbunyi Ista'aadzanii.
Keterangan:
Yang perlu kita resapkan dalam Hadis
ini ialah:
Di
atas itu, Hadis Qudsi namanya.
Kekasih Allah ialah orang yang amat taqwa kepadaNya dan orang
yang memusuhi kekasih Allah ini pasti akan rusak binasa sebab dimusuhi oleh
Allah.
Jadi bila hendak mendekat pada Allah, lebih dulu penuhilah
kewajiban-kewajiban yang telah dipikulkan oleh Allah pada kita itu,
Maka kalau orang itu sudah benar-benar dekat pada Allah semua
pendengarannya, penglihatannya,pengambilannya dan perjalanannya selalu diberi
petunjuk oleh Allah sehingga cahaya Tuhan selalu ada di kanan kirinya.
Kedua: Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w. dalam sesuatu yang
diriwayatkan dari Tuhannya 'Azzawajalla, firmanNya - ini juga Hadis Qudsi :
"Jikalau
seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya
sehasta dan jikalau ia mendekal padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya
sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku
mendatanginya dengan bergegas-gegas." (Riwayat Bukhari)
Keterangan:
Hadis yang
tercantum di atas itu adalah sebagai perumpamaan belaka, baik bagi Allah atau
bagi hambaNya. Jadi maksudnya ialah barangsiapa yang mengerjakan ketaatan kepada
Allah sekalipun sedikit, maka Allah akan menerima serta memperlipat-gandakan
pahalanya, juga pelakunya itu diberi kemuliaan olehNya selama di dunia sampai
di akhirat. Makin besar dan banyak ketaalannya, makin pula besar dan
bertambah-tambah pahalanya. Manakala cara melakukan ketaatan itu dengan
perlahan-lahan, Allah bukannya memperlahan atau memperlambatkan pahalanya,
tetapi bahkan dengan segera dinilai pahalanya itu dengan penilaian yang
luarbiasa tingginya.
Demikianlah
tujuan dan makna yang tersirat dalam isi Hadis tersebut. Wallahu A'lam
bish-shawaab.
97. Ketiga: Dari Ibnu Abbas radhiallahu
'anhuma, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Ada dua
macam kenikmatan yang keduanya itu disia-siakan oleh sebagian besar manusia
yaitu kesihatan dan kelapangan waktu." (Riwayat Bukhari)
Keterangan:
Lafaz Maghbuun dalam Hadis di atas itu,
asalnya dari kata Zhaban, yaitu
membeli sesuatu dengan harga yang melebihi batas dari harga yang semestinya dan
berlipat-lipat dari yang seharusnya dibayarkan, jadi yang sepatutnya dibeli
seratus rupiah, tiba-tiba dibeli dengan harga seribu rupiah. Juga Ghaban itu dapat berarti menjual sesuatu
dengan harga yang terlampau sangat rendahnya, misalnya sesuatu itu dapat dijual
dengan harga limapuluh rupiah, tetapi hanya dijual dengan harga lima rupiah
saja.
Orang mukallaf
yakni manusia yang sudah baligh lagi berakal oleh Rasulullah s.a.w. diumpamakan
sebagai seorang pedagang. Kesihatan tubuh dan kelapangan waktu yakni waktu
tidak ada pekerjaan apa-apa yang diumpamakan sebagai pokok harta atau kapital
94
untuk
berdagang itu, sedang ketaatan kepada Allah Ta'ala sebagai benda-benda yang
diperdagangkan.
Namun demikian sebagian besar ummat manusia tidak mengerti
betapa pentingnya memiliki dua macam kapital dan bingung untuk memilih apa yang
hendak diperdagangkan itu, padahal sudah jelas pokok kapitalnya ialah kesihatan
dan kelapangan waktu dan yang semestinya dikejar untuk mendapatkan keuntungan
ialah membeli dagangan yang akan dapat memberi keuntungan sebanyak-banyaknya.
Bukankah ketaatan kepada Allah itu akan menguntungkan sekali, baik di dunia
atau di akhirat. Bukankah itu pula yang menyebabkan akan dapat memperoleh laba
yang besar sekali di sisi Allah dan yang menjurus ke arah mendapat kebahagiaan.
Tetapi semua itu disia-siakan oleh sebagian besar ummat manusia sewaktu mereka
hidup di dunia ini.
Baharu orang itu mengerti besarnya kenikmatan sihat dan lapang
waktu itu,apabila telah sakit dan banyak kesibukan, sehingga banyak kewajiban-kewajiban
terhadap agama menjadi kocar-kacir dan terbengkalai atau samasekali
ditinggalkan. Semoga kita semua dilindungi oleh Allah dari hal-hal yang
sedemikian itu.
Keempat: Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Rasulullah
s.a.w. berdiri untuk beribadat dari sebagian waktu malam sehingga
pecah-pecahlah kedua tapak kakinya. Saya (Aisyah) lalu berkata padanya:
"Mengapa Tuan berbuat demikian, ya Rasulullah, sedangkan Allah telah
mengampuni untuk Tuan dosa-dosa Tuan yang telah lalu dan yang kemudian?"
Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Adakah aku
tidak senang untuk menjadi seorang hamba yang banyak bersyukurnya?" (Muttafaq
'alaih)
Ini adalah menurut lafaz Bukhari dan yang seperti itu terdapat
pula dalam kedua kitab shahih - Bukhari dan Muslim - dari riwayat Mughirah bin
Syu'bah.
Keterangan:
Dalam mengulas apa yang dikatakan oleh Sayidah Aisyah
radhiallahu 'anha bahwa Rasuiullah s.a.w. itu sudah diampuni semua dosanya oleh
Allah, baik yang dilakukan dahulu atau belakangan, maka al-lmam Ibnu Abi Jamrah
r.a. memberikan uraiannya sebagai berikut:
"Sebenarnya tiada seorangpun yang dalam hatinya terlintas
suatu persangkaan bahwa dosa-dosa yang diberitahukan oleh Allah Ta'ala yang
telah diampuni yakni mengenai diri Nabi s.a.w. itu adalah dosa yang kita
maklumi dan yang biasa kita jalankan ini, baik yang dengan sengaja atau cara
apapun. Itu sama sekali tidak, sebab Rasulullah s.a.w., juga semua nabiullah
'alaihimus shalatu wassalam itu adalah terpelihara dan terjaga dari semua
kemaksiatan dan dengan sendirinya tidak ada dosanya samasekali (ma'shum
minadz-dzunub). Semoga kita semua dilindungi oleh Allah dari memiliki
persangkaan yang jelas salahnya sebagaimana di atas.
Jadi tujuannya
hanyalah sebagai mempertunjukkan kepada seluruh ummat, betapa besarnya
kewajiban setiap manusia, yang di dalamnya termasuk pula Nabi Muhammad s.a.w.
untuk memaha agungkan, memaha besarkan kepadaNya serta senantiasa mensyukuri
kenikmatan-kenikmatanNya. Oleh sebab apa yang dilakukan oleh manusia,
bagaimanapun juga besar dan tingginya nilai apa yang diamalkannya itu, masih
belum memadai sekiranya dibandingkan dengan kenikmatan yang dilimpahkan oleh
Nya kepada manusia tersebut. Maka dari itu hak-hak Allah yang wajib kita penuhi
sebagai imbalan karuniaNya itu, masih belum sesuai dengan amalan baik yang kita
lakukan, sekalipun dalam anggapan kita sudah
95
amat
banyak sekali. Jadi lemahlah kita untuk mengimbanginya dan itulah sebabnya,
maka memerlukan adanya pengampunan sekalipun tiada dosa yang dilakukan
sebagaimana halnya Rasulullah Muhammad serta sekalian para nabiNya 'alaihimus
shalatu wassalam itu."
Kelima: Dari Aisyah radhiallahu 'anha juga bahwasanya ia
berkata: "Rasulullah itu apabila masuk hari sepuluh, maka ia
menghidup-hidupkan malamnya dan membangunkan isterinya dan bersungguh-sungguh
serta mengeraskan ikat pinggangnya." Yang dimaksudkan ialah:
Hari sepuluh artinya sepuluh hari yang terakhir dari bulan
Ramadhan - jadi antara tanggal 21 Ramadhan sampai habisnya bulan itu. Mi'zar
atau izar dikeraskan ikatannya maksudnya sebagai sindiran menyendiri dari kaum
wanita - yakni tidak berkumpul dengan isteri-isterinya, ada pula yang memberi
pengertian bahwa maksudnya itu ialah amat giat untuk beribadat. Dikatakan: Saya
rnengeraskan ikat pinggangku untuk perkara ini, artinya: Saya
bersungguh-sungguh melakukannya dan menghabiskan segala Waktu untuk
merampungkannya.
100. Keenam: Dari Abu Hurairah r.a.
katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Orang mu'min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai
oleh Allah daripada orang mu'min yang lemah. Namun keduanya itupun sama
memperoleh kebaikan.
Berlombalah
untuk memperoleh apa saja yang memberikan kemanfaatan padamu dan mohonlah
pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah. Jikalau engkau terkena
oleh sesuatu mushibah, maka janganlah engkau berkata: "Andaikata saya
mengerjakan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu." Tetapi
berkatalah: "Ini adalah takdir Allah dan apa saja yang dikehendaki olehNya
tentu Dia melaksanakannya," sebab sesungguhnya ucapan
"andaikata" itu membuka pintu godaan syaitan." (Riwayat Muslim)
101. Ketujuh: Dan" Abu Hurairah
r.a. pula bahwasanya RasuluHah s.a.w. bersabda:
"Ditutupilah neraka dengan berbagai kesyahwatan -
keinginan -dan ditutupilah syurga itu dengan berbagai hal yang tidak
disenangi." (Muttafaq 'alaih)
Dalam sebuah riwayat, dari Muslim disebutkan dengan mengjunakan
kata huffat sebagai ganti kata hujibat, sedang artinya adalah sama,
yaitu bahwa antara seseorang dengan neraka (atau syurga) itu ada tabirnya, maka
jikalau tabir ini dilakukannya, tentulah ia masuk ke dalamnya.
Kedelapan: Dari Abu Abdillah, yaitu Hudzaifah bin al-Yaman
al-Anshari yang terkenal sebagai penyimpan rahasia Rasullah s.a.w., radhiallahu
'anhuma, katanya: "Saya bersembahyang beserta Nabi s.a.w. pada suatu malam
maka beliau membuka - dalam rakaat pertama - dengan surat al-Baqarah. Saya
berkata: "Beliau ruku' pada ayat keseratus, kemudian berlalulah."
Saya berkata: "Beliau bersembahyang dengan bacaan tadi itu dalam satu
rakaat, kemudian berlalu."
Selanjutnya saya berkata: "Beliau ruku' dengan bacaan di
atas itu, kemudian membuka - dalam rakaat kedua - dengan surat an-Nisa'lalu
membacanya,kemudian membuka lagi - sebagai lanjutan-nya - surat ali Imran,
kemudian membacanya.
Beliau s.a.w. membacanya itu dengan rapi sekali -tidak
tergesa-gesa - jikalau melalui ayat yang di dalamnya mengandung pentasbihan -
memahasucikan -beliaupun
96
mengucapkan
tasbih,jikalau melalui ayat yang mengandung suatu permohonan, beliaupun
memohon, jikalau melalui ayat yang menyatakan berta'awwudz -mohon perlindungan
kepada Allah dari sesuatu yang tidak baik, beliaupun berta'awwudz - mohon
perlindungan.
Kemudian beliau
s.a.w. ruku' dan di situ beliau mengucapkan: Subhana rabbtal 'azhim. Ruku'nya adalah seumpama saja dengan
berdirinya - yakni perihal lamanya hampir persamaan belaka -selanjutnya beliau
mengucapkan: Sami'allahu iiman hamidah.
Rabbana lakal hamd," lalu
berdiri dengan berdiri yang lama mendekati ruku'nya tadi. Seterusnya beliau bersujud lalu mengucapkan: Subhana rabbial a'la, maka sujudnya itu
mendekati pula akan berdirinya - tentang lama waktunya." (Riwayat Muslim)
Kesembilan: Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Saya
bersembahyang beserta Rasulullah s.a.w. pada suatu malam, maka beliau
memperpanjangkan berdirinya, sehingga saya bersengaja untuk melakukan sesuatu
yang tidak baik."
Ia ditanya: "Dan apakah hal yang
tidak baik yang engkau sengajakan itu?"
Ibnu Mas'ud r.a.
menjawab: "Saya bersengaja hendak duduk saja dan meninggalkan beliau -
tidak terus berma'mum padanya." (Muttafaq 'alaih)
104. Kesepuluh: Dari Anas r.a. dari
Rasulullah s.a.w., sabdanya:
"Mengikuti
kepada seseorang mayit itu tiga hal, yaitu keluarganya, hartanya serta amalnya.
Kemudian kembalilah yang dua macam dan tertinggallah yang satu. Kembalilah
keluarga serta hartanya dan tertinggallah amalnya." (Muttafaq 'alaih)
Kesebelas: Dari Ibnu Mas'ud r.a. katanya: "Nabi s.a.w.
bersabda: "Syurga itu lebih dekat pada seseorang di antara engkau sekalian
daripada ikat terumpahnya, nerakapun demikian pula." (Riwayat Bukhari)
Keterangan:
Maksud Hadis di
atas itu ialah bahwa untuk mencapai syurga atau neraka itu mudah sekali. Jika
seseorang ingin mendapatkan syurga tentulah wajib mempunyai kesengajaan yang
benar, melakukan ketaatan dan kebaktian kepada Tuhan, melaksanakan semua
perintah dan menjauht semua laranganNya, tetapi jika ingin memasuki neraka -
semoga kita dilindungi Allah dari siksa neraka itu, tentulah dengan jalan
mengikuti apa saja yang menjadi kehendak hawanafsu, menuruti kemauan syaitan
dan melakukan apa saja yang berupa kemaksiatan dan kemungkaran.
106. Keduabelas:
Dari Abu Firas
yaitu Rabi'ah bin
Ka'ab al-Aslami, pelayan
Rasulullah
s.a.w. dan ia termasuk pula dalam golongan ahlussuffah - yakni kaum fakir
miskin - r.a. katanya: "Saya bermalam beserta Rasulullah s.a.w., kemudian
saya mendatangkan untuknya dengan air wudhu'nya serta hajatnya - maksudnya
pakaian dan lain-lain. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Memintalah padaku!"
Saya berkata: "Saya meminta kepada Tuan untuk menjadi kawan Tuan di dalam
syurga." Beliau s.a.w. bersabda lagi: "Apakah tidak ada yang selain
itu?" Saya menjawab: "Sudah, itu sajalah." Beliau lalu bersabda:
"Kalau begitu tolonglah aku - untuk melaksanakan permintaanmu itu - dengan
memaksa dirimu sendiri untuk memperbanyak bersujud - maksudnya engkaupun harus
pula berusaha untuk terlaksananya permtntaan tersebut dengan jalan memperbanyak
menyembah Allah." (Riwayat Muslim)
97
Ketigabelas: Dari Abu Abdillah, juga dikatakan dengan nama Abu
Abdir Rahman yaitu Tsauban, hamba sahaya Rasulullah s.a.w. r.a., katanya:
"Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Hendaklah
engkau memperbanyak bersujud, sebab sesungguhnya engkau tidaklah bersujud
kepada Allah sekali sujudan. melainkan dengannya itu Allah mengangkatmu
sederajat dan dengannya pula Allah menghapuskan satu kesalahan dari
dirimu." (Riwayat Muslim)
Keempatbelas: Dari Abu Shafwan yaitu Abdullah bin Busr al-Aslami
r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sebaik-baik
manusia ialah orang yang panjang usianya dan baik kelakuannya."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
109. Kelimabelas: Dari Anas r.a.,
katanya:
"Pamanku,
yaitu Anas bin an-Nadhr r.a. tidak mengikuti peperangan Badar, kemudian ia
berkata: "Ya Rasulullah, saya tidak mengikuti pertama-tama peperangan yang
Tuan lakukan untuk memerangi kaum musyrikin. Jikalau Allah mempersaksikan saya
- menakdirkan saya ikut menyaksikan - dalam memerangi kaum musyrikin - pada
waktu yang akan datang, niscayalah Allah akan memperlihatkan apa yang akan saya
perbuat.
Ketika pada hari
peperangan Uhud, kaum Muslimin menderita kekalahan, lalu Anas - bin an-Nadhr -
itu berkata: "Ya Allah, saya mohon keuzuran - pengampunan - padaMu
daripada apa yang dilakukan oleh mereka itu - yang dimaksudkan ialah
kawan-kawannya karena meninggalkan tempat-tempat yang sudah ditentukan oleh
Nabi s.a.w. - juga saya berlepas diri - maksudnya tidak ikut campurtangan -
padaMu daripada apa yang dilakukan oleh mereka - yang dimaksudkan ialah kaum
musyrikin yang memerangi kaum Muslimin.
Selanjutnya
iapun majulah, lalu Sa'ad bin Mu'az menemuinya. Anas bin an-Nadhr berkata:
"Hai Sa'ad bin Mu'az, marilah menuju syurga. Demi Tuhan yang menguasai
Ka'bah (Baitullah), sesungguhnya saya dapat menemukan bau harum syurga itu dari
tempat di dekat Uhud."
Sa'ad berkata:
"Saya sendiri tidak sanggup melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Anas
itu, ya Rasulullah."
Anas - yang
merawikan Hadis ini yakni Anas bin Malik kemanakan Anas bin an-Nadhr - berkata;
"Maka kami dapat menemukan dalam tubuh Anas bin an-Nadhr itu delapanpuluh
buah lebih pukulan pedang ataupun tusukan tombak ataupun lemparan panah. Kita
menemukannya telah terbunuh dan kaum musyrikin telah pula mencabik-cabiknya.
Oleh sebab itu seorangpun tidak dapat mengenalnya lagi, melainkan saudara
perempuannya saja, karena mengenal jari-jarinya."
Anas - perawi
Hadis ini - berkata: "Kita sekalian mengira atau menyangka bahwasanya ayat
ini turun untuk menguraikan hal Anas bin an-Nadhr itu atau orang-orang yang
seperti dirinya, yaitu ayat -yang artinya:
"Di antara kaum mu'minin itu ada beberapa orang yang
menempati apa yang dijanjikan olehnya kepada Allah," sampai
seterusnya ayat tersebut. (Muttafaq 'alaih)
98
Lafaz Layuriannallah, diriwayatkan dengan
dhammahnya ya' dan kasrahnya ra', artinya: Niscayalah Allah akan memperlihatkan
yang sedemikian itu - apa-apa yang dilakukannya - kepada orang banyak.
Diriwayatkan pula dengan fathah keduanya - ya' dan ra'nya -dan maknanya sudah
jelas - yaitu: Niscayalah Allah akan melihat apa-apa yang dilakukan olehnya.
Jadi membacanya ialah: Layara-yannallah.
Wallahu aiam.
Keterangan:
Anas bin
an-Nadhr r.a. mengatakan kepada Rasulullah s.a.w. bahwa dalam peperangan yang
pertama yakni perang Badar tidak ikut, kemudian dalam peperangan kedua, yakni
perang Uhud ikut menyertai pasukan ummat Islam melawan kaum kafirin dan
musyrikin. Kemudian ia berkata di hadapan Rasulullah s.a.w. sebagai janjinya,
andaikata ia mengikuti, niscaya Allah akan menampakkan apa yang hendak
dilakukan olehnya atau Allah pasti mengetahui apa yang hendak diperbuatnya.
Ia mengatakan
sebagaimana di atas itu setelah selesai perang Badar dan belum lagi terjadi
perang Uhud. Yang hendak diperbincangkan di sini ialah mengenai kata-kata Anas
tersebut berbunyi Maa ashna-'u,
artinya: Apa-apa yang akan saya lakukan. Mengapa ia tidak berkata saja: Aku
akan bertempur mati-matian sampai titik darah yang penghabisan, sebagaimana
yang biasa dikatakan oleh orang-orang di zaman kita sekarang ini. Nah, inilah
yang perlu kita bahas sekedarnya.
Al-lmam
al-Qurthubi dalam mengupas kata-kata Anas r.a. yaitu Maa ashna-'u itu menjelaskan demikian:
Ucapan Sayidina
Anas r.a., juga sekalian para sahabat Rasulullah s.a.w. selalu mengandung makna
yang dalam. Anas r.a. misalnya, dalam menyatakan janjinya akan mengikuti
peperangan bila nanti terjadi peperangan lagi dengan hanya mengatakan: Maa ashna-'u,
itu mempunyai kandungan bermacam-macam, umpamanya:
Ia tidak memiliki sifat kesombongan dan ketakaburan dan oleh
sebab itu tidak mengatakan bahwa ia akan berjuang mati-matian sampai hilangnya
jiwa yang dimilikinya dan amat berharga itu. Orang yang sombong itu umumnya
tidak menepati janji yang diucapkan. Kadang-kadang baru melihat musuh sudah
lari terbirit-birit atau sebelum melihatnya saja sudah tidak tampak hidungnya.
Anas r.a. sengaja memperkokohkan ucapannya sendiri dan
benar-benar dipenuhi. Diri dan jiwanya akan betul-betul dikurbankan untuk
meluhurkan kalimat Allah yakni agama Islam dengan jalan melawan musuh yang
sengaja menyerbu negara dan hendak melenyapkan agama yang diyakini kebenarannya
itu.
Ia hendak berusaha keras memenangkan peperangan dan mencurahkan
segala daya dan kekuatannya tanpa ada ketakutan sedikitpun akan tibanya ajal,
sebab setiap manusia pasti mengalami kematian, hanya jatannya yang
berbeda-beda.
Ia
takut kalau-kalau apa yang hendak dilakukan nanti itu belum memadai apa
|
yang diucapkan, sebab
|
mengingat bahwa segala
|
gerakan hati
|
dapat
saja diubah-ubah
|
|
|
oleh Allah
|
Ta'ala.
Mungkin hari ini putih,tetapi besoknya sudah menjadi hitam. Itulah yang
|
|||
|
dikuatirkan
|
olehnya,
|
sehingga semangatnya
|
yang
asalnya
|
menyala-nyala,
tiba-tiba
|
mengendur tanpa disadari.
Selanjutnya
setelah terjadi perang Uhud ia menunjukkan perjuangan yang sebenar-benarnya,
sampai-sampai terciumlah olehnya bau-bauan dari syurga dan akhirnya ia gugur
sebagai pahlawan syahid fi-sabilillah. Untuk menegaskan janji Anas r.a. inilah
Allah Ta'ala berfirman dalam al-Quran:
Artinya:
99
"Di kalangan kaum mu'minin itu ada beberapa orang (seperti sahabat Anas) yang menepati apa
yang mereka janjikan kepada Allah dan sungguh-sungguh memenuhi janjinya itu.
Diantara mereka ada yang menemui ajalnya - sebagai pahlawan syahid - dan ada
juga yang masih menanti-nantikan - yakni ingin mendapatkan kematian syahid dan
oleh sebab itu tidak mundur setapakpun menghadapi musuh. Itulah orang-orang
mu'min yang tidak berubah pendiriannya sedikitpun." (al-Ahzab: 23)
Keenambelas:
Dari Abu Mas'ud yaitu 'Uqbah bin 'Amr al-Anshari al-Badri r.a.,
katanya:
"Ketika ayat sedekah turun, maka kita semua mengangkat sesuatu di atas
punggung-punggung kita -untuk memperoleh upah dari hasil mengangkatnya itu
untuk disedekahkan. Kemudian datanglah seseorang lalu bersedekah dengan sesuatu
yang banyak benar jumlahnya. Orang-orang sama berkata: "Orang itu adalah
sengaja berpamer saja - memperlihatkan amalannya kepada sesama manusia dan
tidak karena Allah Ta'ala melakukannya. Ada pula orang lain yang datang
kemudian bersedekah dengan barang sesha'
dari kurma. Orang-orang sama berkata: "Sebenarnya Allah
pastilah tidak memerlukan makanan sesha'nya orang ini." Selanjutnya turun
pulalah ayat - yang artinya:
"Orang-orang
yang mencela kaum mu'minin yang memberikan sedekah dengan sukarela dan pula
mencela orang-orang yang tidak mendapatkan melainkan menurut kadar kekuatan
dirinya," dan seterusnya ayat itu - yakni firmanNya: "Lalu mereka
memperolok-olokkan mereka. Allah akan memperolok-olokkan para pencela itu dan
mereka yang berbuat sedemikian itu akan memperoleh siksa yang pedih."
(at-Taubah: 79) (Muttafaq 'alaih)
Nuhamilu dengan dhammahnya nun dan menggunakan ha' muhmalah, artinya
ialah setiap orang dari kita sekalian
mengangkat di atas punggung masing-masing dengan memperoleh upah dan upah
itulah yang disedekahkannya.
Ketujuhbelas: Dari Said bin Abdul Aziz dari Rabi'ah bin Yazid
dari Abu Idris al-Khawlani dari Abu Zar, yaitu Jundub bin Junadah r.a. dari
Nabi s.a.w., dalam sesuatu yang diriwayatkan dari Allah Tabaraka wa Ta'ala,
bahwasanya Allah berfirman - ini adalah Hadis Qudsi:
"Hai
hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku mengharamkan pada diriku sendiri akan
menganiaya dan menganiaya itu Kujadikan haram di antara engkau sekalian. Maka
dari itu, janganlah engkau sekalian saling menganiaya.
Wahai
hamba-hambaKu, engkau semua itu tersesat, kecuali orang yang Kuberi petunjuk.
Maka itu mohonlah petunjuk padaKu, engkau semua tentu Kuberi petunjuk itu.
Wahai hamba-hambaKu, engkau semua itu
lapar, kecuali orang yang Kuberi makan.
Maka mohonlah makan padaKu, engkau semua tentu Kuberi makanan
itu.
Wahai
hamba-hambaKu, engkau semua itu telanjang, kecuali orang yang Kuberi pakaian.
Maka mohonlah pakaian padaKu, engkau semua tentu Kuberi pakaian itu.
Wahai
hamba-hambaKu, sesungguhnya engkau semua itu berbuat kesalahan pada malam dan
siang hari dan Aku inilah yang mengampunkan segala dosa. Maka mohon ampunlah
padaKu, pasti engkau semua Kuampuni.
Wahai
hamba-hambaKu, sesungguhnya engkau semua itu tidak dapat membahayakan Aku. Maka
andaikata dapat, tentu engkau semua akan membahayakan Aku. Lagi pula engkau
semua itu tidak dapat memberikan kemanfaatan padaKu. Maka andaikata dapat,
tentu engkau semua akan memberikan kemanfaatan itu padaKu.
100
Wahai hamba-hambaKu, andaikata orang yang paling mula-mula -
awal - hingga yang paling akhir, juga semua golongan manusia dan semua golongan
jin, sama bersatu padu seperti hati seseorang yang paling taqwa dari antara
engkau semua, hal itu tidak akan menambah keagungan sedikitpun pada kerajaanKu.
Wahai hamba-hambaKu, andaikata orang yang paling mula-mula -
awal - hingga yang paling akhir, juga semua golongan manusia dan semua golongan
jin, sama bersatu padu seperti hati seseorang yang paling curang dari antara
engkau semua, hal itu tidak akan dapat mengurangi keagungan sedikitpun pada
kerajaanKu.
Wahai hamba-hambaKu, andaikata orang yang paling mula-mula -
awal - hingga yang paling akhir, juga semua golongan manusia dan semua golongan
jin, sama berdiri di suatu tempat yang tinggi di atas bumi, lalu tiap seseorang
memintasesuatu padaKu dan tiap-tiap satu Kuberi menurut permintaannya
masing-masing, hal itu tidak akan mengurangi apa yang menjadi milikKu,
melainkan hanya seperti jarum bila dimasukkan ke dalam laut - jadi berkurangnya
hanyalah seperti air yang melekat pada jarum tadi.
Wahai hamba-hambaKu, hanyasanya semua itu adalah
amalan-amalanmu sendiri. Aku menghitungnya bagimu lalu Aku memberikan
balasannya. Maka barangsiapa mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji kepada
Allah dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, hendaklah jangan menyesali
kecuali pada dirinya sendiri."
Said berkata: "Abu Idris itu apabila menceriterakan Hadis
ini, ia duduk di atas kedua lututnya." (Riwayat Muslim)
Kami juga meriwayatkannya dari Imam Ahmad bin Hanbal
rahimahullah dan ia berkata: "Tidak sebuahpun Hadis bagi ahli Syam yang
lebih mulia dari Hadis ini."
Keterangan:
Hadis yang
diriwayatkan oleh Nabi s.a.w. dan berasal dari Allah semacam Hadis di atas ini
juga Hadis no. 11 dan no. 95 disebut Hadis Qudsi (suci). Bedanya dengan
al-Quran ialah kalau al-Quran merupakan mu'jizat sedang Hadis Qudsi tidak. Lagi
pula hanya melulu membaca saja pada al-Quran itu sudah merupakan ibadat. Yang
penting kita perhatikan ialah:
Menganiaya itu adalah benar-benar besar dosanya dan doanya
orang yang dianiaya itu tidak akan ditolak oleh Allah yakni pasti dikabulkan
sebagaimana sabda Nabi s.a.w.:
"Takutlah pada doanya orang yang dianiaya, sekalipun ia
itu kaf'ir karena sesungguhnya saja tidak ada tabir yang menutup antara doa orang itu dengan Allah."
Semua dosa itu dapat diampuni oleh Allah asal kita mohon ampun
serta bertaubat kecuali syirik (menyekutukan Allah), sebagaimana dalam al-Quran
disebutkan:
"Sesungguhnya Allah tidak suka mengampuni katau Dia
disekutukan dengan lainNya dan Dia suka mengampuni yang selain itu pada orang
yang dikehendaki olehNya."
Kalau kita taat pada Allah, melakukan semua perintahNya, ini
bukan berarti bahwa Allah butuh kita taati. Kita taat atau tidak bagi Allah
tetap saja. Maka bukannya kalau kita taat, Allah tambah mulia atau kalau kita
ingkar lalu Allah kurang kemuliaanNya. Itu tidak sama sekali. Hanya saja Allah
menyediakan tempat kesenangan (syurga) bagi orang yang taat dan tempat siksa
(neraka) bagi orang yang ingkar.
Orang yang amat taqwa yang dimaksudkan dalam Hadis ini ialah
Nabi Muhammad s.a.w. dan yang paling curang itu ialah syaitan (setan) sebab syaitan
itu dahulunya bernama Izazil dan termasuk dalam golongan jin.
101
(e) Begitu
banyaknya air laut, kalau isinya hanya dikurangi oleh jarum yang melekat di
situ, maka kekurangan itu tidak berarti samasekali. Begitulah perumpamaannya
andaikata Allah mengabulkan semua permohonan makhlukNya.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan