Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab
40
Berbakti Kepada Kedua Orangtua Dan
Mempererat Keluarga
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
sembahlah Allah serta jangan menyekutukan sesuatu denganNya. juga berbuat
baiklah kepada kedua orangtua, kerabat, anak- anak yatim, orang-orang miskin,
tetangga yang menjadi kerabat, tetangga yang bukan kerabat, teman seperjalanan,
orang yang dalam perjalanan dan bambasahaya yang menjadi milik tangan
kananmu." (an-Nisa': 36)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Dan
bertaqwalah kepada Allah yang dengan namaNya engkau semua saling menuntut hak
dan peliharalah kekeluargaan." (an-Nisa': 1)
"Orang-orang
yang berakal ialah mereka yang memperhubungkan apa yang diperintahkan untuk
diperhubungkan oleh Tuhan - yakni shilatur
rahmi." (ar-Ra'ad: 21)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan Kami -
Allah - berwasiat kepada manusia supaya
berbuat baik kepada kedua orangtuanya." (al-Ankabut: 8)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Dan Tuhanmu telah menentukan supaya engkau semua jangan
menyembah melainkan Dia dan supaya engkau semua berbuat baik kepada kedua
orangtua. Dan kalau salah seorang di antara keduanya atau keduanya ada di
sisimu sampai usia tua, maka janganlah engkau berkata kepada keduanya dengan
ucapan "cis", dan jangan pula engkau menggertak keduanya, tetapi
ucapkanlah kepada keduanya itu ucapan yang mulia - penuh kehormatan.
"Dan
turunkanlah sayap kerendahan - maksudnya: Rendahkanlah dirimu - terhadap kedua
orangtuamu itu
dengan kasih-sayang dan katakanlah: "Ya Tuhanku, kasihanilah kedua orang
tuaku
itu sebagaimana
keduanya mengasihi aku di kala aku masih kecil." (al-lsra': 23-24)
Juga Allah Ta'ala berfirman:
"Dan Kami -
Allah - berwasiat kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orangtuanya.
Ibunya telah mengandungnya dengan menderita kelemahan di atas kelemahan - yakni terus -menerus - dan
ceraian susuannya dalam dua tahun. Hendaknya engkau bersyukur kepadaKu dan
kepada kedua orangtuamu." (Luqman: 14)
Dari Abu Abdirrahman yaitu Abdullah bin Mas'ud r.a., katanya:
Saya bertanya kepada Nabi s.a.w.: "Manakah amalan yang lebih tercinta
disisi Allah?" Beliau menjawab: "Yaitu shalat menurut waktunya."
Saya bertanya pula: "Kemudian apakah?" Beliau menjawab:
"Berbakti kepada orang tua." Saya bertanya pula: "Kemudian
apakah?" Beliau menjawab: "Yaitu berjihad fisabilillah."
(Muttafaq 'alaih)
Dari
Abu Hurairah r.a. katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
202
"Tidak
cukuplah seseorang anak terhadap orangtuanya - sebagaimana imbangan
jasa,kecuali apabila anak itu menemui orangtuanya sebagai hambasahaya, lalu
membelinya kemudian memerdekakannya." (Riwayat Muslim)
314. Dari Abu Hurairah r.a. pula
bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tamunya.
Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah menghubungi
- mempereratkan - kekeluargaannya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir, maka berkatalah yang baik atau - jikalau tidak dapat - berdiam
sajalah." (Muttafaq 'alaih)
Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah
bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala menciptakan seluruh makhluk, kemudian
setelah selesai dari semuanya itu lalu rahim
kekeluargaan
- itu berdiri terus berkata: "Ini adalah tempat orang yang bermohon
kepadaMu - Tuhan - daripada perpisahan." Allah berfirman: "Ya, apakah
engkau rela jikalau Aku perhubungkan orang yang menghubungimu - kekeluargaan -
dan Aku memutuskan orang yang memutuskanmu?" Rahim menjawab:
"Ya." Allah berfirman lagi: "Jadi keadaan yang sedemikian itu
tetap untukmu - yang meng hubungi atau yang memutuskan."
Selanjutnya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Bacalah
jikalau engkau semua menghendaki - firman Allah yang artinya: "Apakah
barangkali andaikata engkau semua berkuasa, engkau semua akan membuat kerusakan
di bumi dan memutuskan ikatan kekeluargaan? Orang-orang yang sedemikian itulah
yang dilaknat oleh Allah, kemudian ditulikan pendengarannya oleh Allah serta
dibutakan penglihatannya." - Surah Muhammad: 22-23. (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat
Imam Bukhari disebutkan demikian: "Kemudian Allah Ta'ala berfirman:
"Barangsiapa
yang menghubungimu - kekeluargaan - maka Aku menghubungkannya dan barangsiapa
memutuskan kamu, maka Aku juga memutuskannya."
Dari Abu Hurairah r.a. lagi, katanya: "Ada seorang lelaki
datang kepada Rasulullah s.a.w. lalu berkata: "Ya Rasulullah, siapakah
orang yang paling berhak untuk saya persahabati dengan sebaik-baiknya - yakni
siapakah yang lebih utama untuk dihubungi secara sebaik-baiknya?" Beliau
menjawab: "Ibumu." Ia bertanya lagi: "Lalu siapakah?" Beliau
menjawab: "Ibumu." Orang itu sekali lagi bertanya: "Kemudian
siapakah?" Beliau menjawab lagi: "Ibumu." Orang tadi bertanya
pula: "Kemudian siapa lagi." Beliau menjawab: "Ayahmu."
(Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan:
"Ya
Rasulullah. Siapakah orang yang lebih berhak untuk dipersahabati - dihubungi -
secara sebaik-baiknya?" Beliau menjawab: "Ibumu, lalu ibumu, lalu
ibumu, lalu ayahmu, lalu orang yang terdekat denganmu, yang terdekat sekali
denganmu."
Ashshahabah artinya persahabatannya. Sabdanya tsumma abaka, demikian ini dimanshubkan dengan fi'il yang dibuang,
jelasnya birra abaka yakni
berbaktilah kepada ayahmu. Dalam riwayat lain disebutkan tsumma abuka dan ini jelas artinya.
203
Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w. sabdanya:
"Melekat pada tanahlah hidungnya, melekat pada tanahlah hidungnya, sekali
lagi melekat pada tanahlah hidungnya - maksudnya memperoleh kehinaan besarlah -
orang yang sempat menemui kedua orangtuanya di kala usia tua, baik salah satu
atau keduanya, tetapi orang tadi tidak dapat masuk syurga - sebab tidak
berbakti kepada orangtuanya." (Riwayat Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya ada seorang lelaki
berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya saya itu mempunyai beberapa orang
kerabat, mereka saya hubungi - yakni saya pereratkan ikatan kekeluargaannya,
tetapi mereka memutuskannya, saya berbuat baik kepada mereka itu, tetapi mereka
berbuat buruk pada saya, saya bersikap sabar kepada mereka itu, tetapi mereka
menganggap bodoh mengenai sikap saya itu." Kemudian beliau s.a.w.
bersabda: "Jikalau benar sebagaimana yang engkau katakan itu, maka
seolah-olah mereka itu engkau beri makanan abu panas -yakni mereka mendapat
dosa yang besar sekali. Dan engkau senantiasa disertai penolong dari Allah dalam
menghadapi mereka itu selama engkau benar dalam keadaan yang sedemikian
itu." (Riwayat Muslim)
Tusiffuhum
dengan
dhammahnya ta' dan kasrahnya sin muhmalah serta syaddahnya
fa'.
Almallu dengan fathahnya mim dan syaddahnya lam yaitu abu panas. Jadi
maksudnya seolah-olah engkau memberi
makanan abu panas kepada mereka itu. Ini adalah kata perumpamaan bahwa kaum
kerabat yang bersikap seperti di atas itu tentu mendapatkan dosa sebagaimana
seorang yang makan abu panas mendapatkan sakit karena makan itu. Terhadap orang
yang berbuat baik ini tidak ada dosanya samasekali, tetapi orang-orang yang
tidak membalas dengan sikap baik itulah yang mendapatkan dosa besar karena
mereka melalaikan hak saudaranya dan memberikan kesakitan - hati dan perasaan -
padanya.
Wallahu a'lam.
Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang ingin supaya diluaskan rezekinya dan diakhirkan ajalnya,
maka hendaklah mempereratkan ikatan kekeluargaannya." (Muttafaq 'alaih)
Makna Yunsa-alahu fi atsarihi yaitu
diakhirkan ajalnya yakni diperpanjangkan usianya.
Dari Anas r.a. pula, katanya: "Abu Thalhah adalah seorang
dari golongan kaum Anshar di Madinah yang banyak hartanya, terdiri dari kebun
kurma. Di antara harta-hartanya itu yang paling dicintai olehnya ialah kebun
kurma Bairuha'. Kebun ini letaknya menghadap masjid - Nabawi di Madinah.
Rasulullah s.a.w. suka memasukinya dan minum dari airnya yang nyaman. Ketika
ayat ini turun, yang artinya: "Engkau semua tidak akan memperoleh
kebajikan sehingga engkau semua suka menafkahkan dari sesuatu yang engkau semua
cintai," maka Abu Thalhah berdiri menuju ke tempat Rasulullah s.a.w., lalu
berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman:
ﻥﻮﹶﺒِﺤﺗ ﺎﻤِﻣ ﺍﻮﹸﻘِﻔﻨﹾﺗ ﻰﺘﺣ ﺮِﺒﹾﻟﺍ ﺍﹾﻮﹸﻟﺎﻨﺗ ﻦﹶﻟ
(ali-lmran: 92)
artinya sebagaimana di atas. Padahal hartaku yang paling saya
cintai ialah kebun kurma Bairuha', maka sesungguhnya kebunku itu saya
sedekahkan untuk kepentingan agama Allah Ta'ala. Saya mengharapkan kebajikan
serta sebagai simpanan - di akhirat - di sisi Allah. Maka dari itu gunakanlah
kebun itu ya Rasulullah, sebagaimana yang Allah memberitahukan
204
kepada Tuan.
Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Aduh, yang sedemikian itu adalah
merupakan harta yang banyak keuntungannya - berlipat ganda pahalanya bagi yang
bersedekah, yang sedemikian itu adalah merupakan harta yang banyak
keuntungannya."Saya telah mendengar apa yang engkau ucapkan dan
sesungguhnya saya berpendapat supaya kebun itu engkau berikan kepada kaum
keluargamu - sebagai sedekah."
Abu Thalhah
berkata: "Saya akan melaksanakan itu, ya Rasulullah." Selanjutnya Abu
Thalhah membagi-bagikan kebun Bairuha' itu kepada keluarga serta anak-anak
pamannya." (Muttafaq 'alaih)
Perihal
lafaz-lafaznya sudah dijelaskan di muka dalam bab "infak dari apa-apa yang
dicintai" - harap diperiksa dalam Hadis no. 298.
Dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma, katanya:
"Ada seorang lelaki menghadap Nabi s.a.w. lalu berkata: "Saya
berbai'at kepada Tuan untuk ikut berhijrah serta berjihad yang saya tujukan
untuk mencari pahala dari Allah Ta'ala." Beliau bertanya: "Apakah
salah seorang dari kedua orangtuamu itu masih ada yang hidup?" Orang itu
menjawab: "Ya, bahkan keduanya masih hidup." Beliau bersabda:
"Apakah maksudmu hendak mencari pahala dari Allah Ta'ala?" Ia
menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Kalau begitu kembali sajalah
ke tempat kedua orangtuamu, lalu berbuat baiklah dalam mengawani keduanya
itu."(Muttafaq 'alaih)
Ini adalah
lafaznya Imam Muslim. Dalam riwayat Imam-imam Bukhari dan Muslim lainnya
disebutkan pula demikian:
"Ada
seorang lelaki datang kepada Nabi s.a.w. lalu memohon izin kepada beliau untuk
ikut berjihad, lalu beliau bersabda: "Adakah kedua orangtuamu masih
hidup?" Ia menjawab: "Ya." Lalu beliau s.a.w. bersabda:
"Kalau begitu, berjihadlah dalam kedua orangtuamu itu - dengan berbuat
baik dan memuliakan keduanya itu."
322. Dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash
r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Bukannya
orang yang menghubungi - mempererat kekeluargaan - itu dengan orang yang
mencukupi - yakni yang sama-sama menghubunginya, tetapi orang yang menghubungi
itu ialah orang yang apabila keluarganya itu memutuskan ikatan kekeluargaannya,
lalu ia suka menghubunginya - menyambungnya kembali." (Riwayat Bukhari)
Dari Aisyah radhiallahu 'anha dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Rahim - kekeluargaan - itu tergantung pada 'Arasy sambil berkata:
"Barangsiapa yang menghubungi aku - mempererat kekeluargaan, maka Allah
menghubunginya dan barangsiapa memutuskan aku, maka Allah memutuskannya."
(Muttafaq 'alaih)
Dari Ummul mu'minin iaitu Maimunah binti al-Harits radhiallahu
'anha, bahawasanya dia memerdekakan seorang hamba sahayanya - perempuan - dan
tidak meminta izin lebih dulu kepada Nabi s.a.w. Ketika datang hari gilirannya
yang waktu itu beliau berputar untuknya, maka Maimunah berkata: "Adakah
Tuan mengetahui, ya Rasulullah, bahwa saya telah memerdekakan
hamba-sahayaku?" Beliau s.a.w. bersabda: "Adakah itu sudah engkau
kerjakan." Ia menjawab: "Ya, sudah." Beliau bersabda:
"Alangkah baiknya kalau hamba sahaya itu engkau berikan saja kepada
pamanmu dari jurusan ibu, kerana yang sedemikian itu adalah lebih besar
pahalanya untukmu." (Muttafaq 'alaih)
205
Dari Asma' binti Abu Bakar as-Shiddiq radhiallahu 'anhuma,
katanya: "Ibuku datang ke tempatku sedang dia adalah seorang musyrik di
zaman Rasulullah s.a.w. - Iaitu di saat berlangsungnya perjanjian Hudaibiyah
antara Nabi s.a.w. dan kaum musyrikin.
Kemudian saya meminta fatwa kepada Rasulullah s.a.w., saya
berkata: "Ibuku datang padaku dan ia ingin meminta sesuatu, apakah boleh
saya hubungi ibuku itu, padahal ia musyrik?" Beliau s.a.w. bersabda:
"Ya, hubungilah ibumu." (Muttafaq 'alaih)
Ucapan Asma': Raghibah ertinya
ialah ingin sekali meminta sesuatu yang ada padaku. Ada yang mengatakan bahwa
yang dating itu benar-benar ibunya sendiri dari nasabnya, tetapi ada puia yang
mengatakan bahwa itu adalah ibunya dari susuan yakni yang pernah menyusuinya
waktu kecil. Yang shahih ialah pendapat yang pertama yakni ibunya sendiri.
Dari Zainab as-Tsaqafiyah iaitu isteri Abdullah bin Mas'ud
radhiallahu 'anhu wa'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Bersedekahlah engkau semua, hai kaum wanita dari
perhiasan-perhiasanmu." Zainab berkata: "Saya lalu kembali ke tempat
Abdullah bin Mas'ud, lalu saya berkata: "Sesungguhnya engkau ini seorang
lelaki yang ringan tangannya - maksudnya dalam keadaan kurang harta, dan
sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah memerintahkan kita untuk memberikan sedekah.
Maka datanglah engkau kepada beliau dan tanyakanlah, jikalau sekiranya yang
sedemikian itu mencukupi daripadaku, maka akan saya berikan saja padamu
maksudnya ialah jikalau hartaku sendiri ini boleh diberikan kepada sesama
keluarga, tentu lebih baik untuk kepentingan keluarga saja. Tetapi jikalau
tidak mencukupi yang sedemikian itu - yakni tidak boleh kepada keluarga
sendiri, maka akan saya berikan kepada orang lain."
Abdullah - suaminya - berkata:
"Bahkan engkau saja yang datang pada beliau."
Kemudian saya - Zainab - berangkat, tiba-tiba ada seorang
wanita dari kaum Anshar yang sudah ada di pintu Rasulullah s.a.w., sedang
keperluanku sama benar dengan keperluannya.
Rasulullah
s.a.w. itu besar sekali kewibawaan yang ada padanya. Kemudian Bilal keluar
menemui kita, lalu kita berkata: "Datanglah kepada Rasulullah s.a.w.,
kemudian beritahukanlah bahawasanya ada dua orang wanita sedang menanti di
pintu untuk bertanya kepada Tuan: "Apakah sedekah itu mencukupi, jikalau
diberikan saja kepada suami-suaminya serta anak-anak yatim yang ada dalam
tanggungannya? Tetapi janganlah diberitahukan siapa kita yang datang ini!"
Bilal lalu masuk kepada Rasulullah s.a.w., kemudian menanyakan soal di atas
itu. Rasulullah s.a.w. bertanya: "Siapakah kedua orang itu?" Bilal
menjawab: "Seorang wanita dari kaum Anshar dan yang seorang Zainab."
Rasulullah s.a.w. bertanya: "Zainab yang mana - sebab nama Zainab
banyak." Bilal menjawab: "Zainab isteri Abdullah." Kemudian
Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Kedua
wanita itu mendapatkan dua pahala -jikalau diberikan kepada keluarganya
sendiri, yaitu pahala karena kekeluargaan dan pahala sedekahnya."
(Muttafaq 'alaih)
Dari Abu Sufyan yaitu Shakhr bin Harb r.a. dalam Hadisnya yang
panjang perihal kisahnya Hercules, bahawasanya Hercules berkata kepada Abu
Sufyan: "Dia menyuruh apakah kepadamu semua?" - yang dimaksudkan
ialah Nabi s.a.w. Abu Sufyan menjawab: Saya lalu berkata: "Nabi itu
mengucapkan demikian: "Sembahlah Allah yang Maha Esa dan jangan
menyekutukan sesuatu denganNya.Juga tinggalkanlah apa-apa yang diucapkan oleh
nenek moyangmu - tentang i'tikad yang salah-salah.Dia menyuruh pula kepada kita
supaya kita melakukan shalat, berkata benar, menahan diri dari menjalankan
keharaman serta mempererat kekeluargaan."(Muttafaq 'alaih)
206
Dari Abu Zar r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Engkau semua akan membebaskan suatu tanah yang di situ digunakan sebutan qirath - untuk mata wangnya." Dalam
sebuah riwayat lagi disebutkan: "Engkau semua akan membebaskan Mesir,
yaitu tanah yang di situ digunakanlah nama qirath,
maka berwasiatlah kepada penduduk di situ dengan baik-baik, sebab sesungguhnya
mereka itu mempunyai hak kehormatan serta kekeluargaan."
Dalam riwayat
lain disebutkan: "Jikalau engkau telah membebaskannya, maka berbuat
baiklah kepada penduduknya, sebab sesungguhnya mereka itu mempunyai hak
kehormatan dan kekeluargaan," atau dalam riwayat lain disebutkan:
"Mereka mempunyai hak kehormatan dan periparan - dari kata ipar."
(Riwayat Muslim)
Para ulama
berkata: "Rahim yang dimiliki oleh penduduk Mesir ialah karena Hajar,
ibunya Nabi Ismail adalah dari bangsa mereka sedang "shihr" atau ipar
ialah karena Mariah, ibunya Ibrahim, putera Rasulullah s.a.w. juga dari bangsa
Mesir itu.
Dari Abu Hurairah r.a. katanya: "Ketika ayat ini turun
iaitu yang ertinya: Dan berilah peringatan kepada kaum keluarga-mu yang
dekat-dekat - as-Syu'ara' 214, lalu Rasulullah s.a.w. mengundang kaum Quraisy,
kemudian merekapun berkumpullah, undangan itu ada yang secara umum dan ada lagi
yang khusus, lalu beliau bersabda: "Hai Bani Ka'ab bin Luay, selamatkanlah
dirimu semua dari neraka. Hai Bani Murrah bin Ka'ab, selamatkanlah dirimu semua
dari neraka. Hai Bani Abdu Syams, selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai
Bani Abdu Manaf, selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai Bani Hasyim,
selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai Bani Abdul Muththalib,
selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai Fathimah - puteri Rasulullah
s.a.w., selamatkanlah dirimu dari neraka, karena sesungguhnya saya tidak dapat
memiliki sesuatu untukmu semua dari Allah - maksudnya saya tidak dapat menolak
siksa yang akan diberikan oleh Allah padamu, jikalau engkau tidak berusaha
menyelamatkan diri sendiri dari neraka. Hanya saja engkau semua itu mempunyai
hubungan kekeluargaan belaka - tetapi ini jangan diandal-andalkan untuk dapat
selamat di akhirat. Saya akan membasahinya dengan airnya." (Riwayat
Muslim)
Sabdanya
Rasulullah: Bibalaliha, itu dengan
fathahnya ba' kedua dan boleh pula dengan dikasrahkan. Albalal artinya air. Makna Hadis: Saya akan membasahinya dengan
airnya ialah saya akan menghubungi kekeluargaan itu. Beliau s.a.w. menyerupakan
terputusnya kekeluargaan itu sebagai sesuatu yang panas yang dapat dipadamkan
dengan air dan yang panas ini dapat didinginkan dengan mempereratkan
kekeluargaan itu.
Dari Abu Abdillah, iaitu 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma,
katanya: "Saya mendengar Nabi s.a.w. bersabda secara terang-terangan tidak
dirahsiakan lagi, iaitu: "Sesungguhnya keluarga Abu Fulan itu bukannya
kekasihku. Hanyasanya kekasihku ialah Allah dan kaum mu'minin yang shalih.
Tetapi mereka itu ada hubungan kekeluargaan denganku yang saya akan membasahi
dengan airnya - yakni saya pereratkan ikatan kekeluargaan dengan mereka."
Muttafaq 'alaih, sedang lafaznya adalah dari Imam Bukhari.
Dari
Abu Ayyub, iaitu Khalid bin Zaidal-Anshari r.a. bahawa ada seorang lelaki
berkata: "Ya Rasulullah, beritahukanlah kepada saya suatu
amalan yang dapat memasukkan
saya ke dalam syurga." Kemudian Nabi s.a.w. bersabda:
"Engkau supaya menyembah kepada
207
Allah dan janganlah engkau menyekutukan
sesuatu denganNya, juga supaya engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat dan
mempererat ikatan kekeluargaan." (Muttafaq 'alaih)
332. Dari Salman bin 'Amir r.a. dari
Nabi s.a.w., sabdanya:
"Jikalau seseorang dari engkau semua itu berbuka, maka
berbukalah atas kurma, sebab sesungguhnya kurma itu ada berkahnya, tetapi
jikalau tidak menemukan kurma, maka hendaklah berbuka atas air, sebab
sesungguhnya air itu suci."
Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda:
"Bersedekah kepada orang miskin adalah memperoleh satu
pahala sedekah saja, tetapi kepada - orang miskin - yang masih ada hubungan
kekeluargaan, maka memperoleh dua kali, iaitu pahala sedekah dan pahala
mempereratkan kekeluargaan." Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Imam
Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya: "Di bawah
saya ada seorang wanita - maksudnya: Saya mempunyai seorang isteri - dan saya
mencintainya, sedangkan Umar - ayahnya membencinya, lalu Umar berkata kepadaku:
"Ceraikanlah isterimu itu!" sedang saya enggan melakukannya. Umar
lalu mendatangi Nabi s.a.w. kemudian menyebutkan keadaan yang sedemikian itu,
maka Nabi s.a.w. bersabda: "Ceraikanlah wanita itu." Diriwayatkan
oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Imam Termidzi mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan shahih.
Dari Abuddarda' r.a. bahwasanya ada seorang lelaki datang
kepadanya: "Sesungguhnya saya mempunyai seorang isteri dan sesungguhnya
ibuku menyuruh kepadaku supaya aku menceraikannya." Kemudian Abuddarda'
berkata: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Orangtua adalah pintu yang paling tengah di antara
pintu-pintu syurga." Maka jikalau engkau suka, buanglah pintu itu - tidak
perlu mengikuti perintahnya atau tidak berbakti padanya, tetapi ini adalah dosa
besar, atau jagalah pintu tadi - dengan mengikuti perintah dan berbakti dan ini
besar pahalanya." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa
ini adalah Hadis shahih.
Dari Albara' bin 'Azib radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w.,
sabdanya: "Bibi adalah sebagai gantinya ibu."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis shahih.
Dalam bab ini terdapatlah beberapa Hadis yang masyhur-masyhur
dalam kitab Hadis yang shahih. Di antaranya adalah Hadis orang-orang yang
tertahan dalam gua - lihat Hadis no. 12 - dan Hadis Juraij - lihat Hadis no.
260. Keduanya sudah disebutkan lebih dulu. Masih banyak lagi Hadis-hadis yang
masyhur dalam kitab shahih, tetapi saya hilangkan untuk meringkaskannya.
Di antara Hadis-hadis itu yang terpenting ialah Hadisnya 'Amr
bin'Abasah r.a.,sebuah Hadis panjang yang mengandung beberapa huraian yang
banyak sekali darihal kaedah-kaedah Islam dan adab-adabnya. Hadis itu akan saya
uraikan dengan selengkapnya Insya Allah dalam bab Raja' (Mengharapkan), Di
dalam Hadis itu disebutkan di antaranya:
"Saya - yakni 'Amr bin 'Abasah - masuk kepada Nabi s.a.w.
di Makkah - yakni pada waktu permulaan nubuwat atau diangkatnya sebagai Nabi,
lalu saya berkata padanya:
208
"Siapakah Tuan itu?" Beliau menjawab:
"Nabi." Saya bertanya: "Apakah Nabi itu?" Beliau
menjawab: "Saya diutus oleh Allah."
Saya bertanya lagi: "Dengan apakah Tuan diutus oleh Allah?" Beliau
menjawab: "Allah mengutus saya dengan perintah mempereratkan ikatan
kekeluargaan, mematahkan semua berhala dan supaya Allah itu di Maha Esakan,
iaitu tidak ada sesuatu apapun yang dipersekutukan denganNya," dan ia
menyebutkan kelengkapan Hadis itu selanjutnya.
Wallahu Ta'ala a'lam.
Wa bihil'aunu
walquwwah (Dengan Allah kita dapat memperoleh pertolongan dan kekuatan).
Tiada ulasan:
Catat Ulasan