Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab
51
Mengharapkan
Allah Ta'ala berfirman:
"Katakantah,
hai hamba-hambaKu yang melampaui batas dalam menceiakakan dirinya sendiri -
yang berlebih -lebihan daiam melakukan kemaksiatan, janganlah engkau semua
berputus asa dari rahmat Allah - yakni dari pengampunanNya, sesungguhnya Allah
itu dapat mengampuni segala macam dosa, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun
lagi Penyayang." (az-Zumar: 53)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Dan Kami
tidak akan memberikan pembalasan, melainkan kepada orang yang sangat keras
kepala." (Saba': 17)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Sesungguhnya
telah diwahyukan kepada kami bahawa siksaan itu adalah untuk orang yang mendustakan
dan membelakang tidak suka menerima petunjuk Allah." (Thaha: 48)
Juga Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
rahmatKu melebar - meliputi - segala sesuatu." (al-A'raf: 156)
Keterangan:
Judul dalam bab
ini ialah "Mengharapkan", maksudnya mengharapkan agar supaya kita
mendapatkan keridhaan, kerahmatan, kasih sayang serta pengampunan dari Allah
Ta'ala.
Seseorang yang mengharapkan sebagaimana di atas itu dari Allah
Ta'ala ada kalanya disertai dengan amal perbuatan yang menyebabkan dapat
dikabulkan permohonannya itu oleh Allah,tetapi ada pula yang tidak disertai
apa-apa. Jadi hanya mengharapkan saja tanpa berbuat sesuatu yang menyebabkan
terkabulnya. Mengharapkan sebagaimana yang tersebut pertama itu disebut Raja' sedang yang kedua disebut Tamanni.
Secara ringkasnya,
apabila kita mengharapkan keselamatan di dunia dan akhirat dan kita sertai amal
perbuatan yang nyata, memenuhi apa-apa yang diperintahkan oleh Allah,
meninggalkan apa-apa yang dilarang olehNya, segala kewajipan yang dibebankan
kepada kita, baik terhadap Allah, maupun terhadap masyarakat kita penuhi maka
insya Allah terkabullah harapan kita dan di akhirat akan kita temui pula
pahalanya yakni masuk dalam syurga. Sebaliknya kalau semua itu tidak kita
laksanakan, apalagi jika ditambah dengan mengerjakan kemungkaran dan
kemaksiatan, kemudian mengharapkan pengampunan Allah, maka jangan diharap akan
dikabulkan bahkan sebaliknya, iaitu di dunia hati kita tidak tenang dan selalu
gelisah, sedang azab Allah di akhirat sudah menanti-nantikan iaitu dilemparkan
ke dalam api neraka.
Jadi yang wajib kita lakukan ialah Raja' dan bukannya Tamanni.
411. Dari 'Ubadah bin ash-Shamit r.a.,
katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang menyaksikan bahawasanya tiada Tuhan
melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya,dan bahawasanya Muhammad
adalah hambaNya serta RasulNya, dan bahawasanya Isa adalah hamba Allah dan
RasulNya serta kalimatNya diberikan kepada Maryam - kerana wujudnya itu tanpa
ayah, juga sebagai ruh daripadaNya - kerana dapat menghidupkan orang yang mati
dengan izin Allah, menyaksikan pula bahwa
243
syurga dan
neraka itu benar adanya, maka orang yang sedemikian itu akan dimasukkan oleh
Allah ke dalam syurga sesuai dengan amalan yang dilakukan
olehnya."(Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat
Muslim disebutkan: "Barangsiapa yang menyaksikan bahawasanya tiada Tuhan
melainkan Allah dan bahawasanya Muhammad adalah Rasulullah maka Allah
mengharamkan ia masuk neraka."
Dari Abu Zar r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda:
"Allah Azzawajalla berfirman - dalam Hadis Qudsi: "Barangsiapa yang
datang - mengerjakan - kebaikan, maka baginya adalah pahala sepuluh kali
lipatnya atau Aku tambahkan dan barangsiapa yang datang - melakukan - kejelekan
balasannya kejelekan ialah kejelekan yang seperti itu atau Aku ampunkan
dosanya. Barangsiapa yang mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya
sehasta, barangsiapa yang mendekat padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya
sedepa. Barangsiapa yang datang di tempatKu dengan berjalan, maka Aku akan
mendatanginya dengan bergegas-gegas. Barangsiapa yang menemui Aku dengan
membawa kesalahan hampir sepenuh bumi, maka asalkan ia tidak menyekutukan
sesuatu denganKu, tentu Aku akan menemuinya dengan pengampunan sebanyak kesalahan
yang dilakukan olehnya." (Riwayat Muslim)
Makna Hadis di
atas ialah barangsiapa yang mendekat kepadaKu dengan melakukan ketaatan, maka
Aku akan mendekatinya dengan memberikan kerahmatanKu, jikalau itu ditambah oleh
orang itu, maka kerahmatan itu pun Kutambahkan. Jikalau seseorang itu datang
padaKu dengan berjalan dan bergegas-gegas dalam melakukan ketaatan padaKu, maka
Aku akan mendatanginya dengan bergegas-gegas pula yakni bahawa Aku akan
menuangkan padanya kerahmatan yang berlimpah-ruah dan Aku mendahuluinya untuk
melakukan itu dan Aku tidak memerlukan supaya ia berjalan terlalu banyak untuk
dapat sampai kepada yang dimaksudkan itu.
Qurabul ardhi dengan dhammahnya qaf dan ada yang
mengatakan dengan kasrahnya, tetapi
dengan dhammah adalah lebih shahih dan lebih tersohor, sedang maknanya ialah
sesuatu yang hampir sepenuh bumi. Wallahu a'lam.
Dari Jabir r.a., katanya: "Ada seorang A'rab - orang Arab
dari pedalaman - datang kepada Nabi s.a.w., lalu berkata: "Ya Rasulullah,
apakah dua hal yang mewajibkan itu?" Beliau s.a.w. menjawab:
"Barangsiapa yang mati tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka
masuklah ia dalam syurga - jadi ini yang mewajibkan ia masuk syurga. Sebaliknya
barangsiapa yang mati dan menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka masuklah ia dalam
neraka - jadi ini yang mewajibkan ia masuk neraka." (Riwayat Muslim)
Dari Anas r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. dan Mu'az ada di
belakangnya sama-sama menaiki suatu kendaraan. Beliau s.a.w. bersabda:
"Hai Mu'az. Mu'az menjawab: "Labbaik, ya Rasulullah, wa
sa'daik," - ini adalah kata-kata mengiyakan bagi orang Arab yang amat
sopan sekali.
Beliau s.a.w.
bersabda lagi: "Hai Mu'az. Mu'az menjawab: "Labbaik, ya Rasulullah wa
sa'daik." Beliau s.a.w. bersabda lagi: "Hai Mu'az. Mu'az menjawab:
"Labbaik, ya Rasulullah wa sa'daik." Tiga kali banyaknya. Selanjutnya
beliau s.a.w. bersabda: "Tiada seorang hamba pun yang menyaksikan
bahawasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawasanya Muhammad adalah hamba
Allah dan RasulNya, dengan penuh keyakinan dalam hatinya, melainkan Allah akan
mengharamkan orang itu masuk ke dalam neraka." Mu'az berkata: "Ya
Rasulullah, bukankah lebih baik jikalau berita ini saya kabarkan kepada seluruh
manusia,
244
supaya mereka
itu ikut bergembira." Beliau s.a.w. menjawab: "Kalau itu
diberitahukan tentu orang-orang akan hanya bertawakal saja - yakni tanpa
beramal ibadat dan merasa akan selamat dengan ucapan syahadat belaka dan yang
sedemikian tentulah salah jadinya. Oleh sebab itu Mu'az memberitahukan sabda
beliau s.a.w. ini sewaktu hendak matinya saja karena takut berdosa."
(Muttafaq 'alaih)
Perkataan Anas
r.a.: Ta-atstsuman iaitu takut
berdosa kerana menyimpan ilmu ini - yakni apa-apa yang diterima dari Nabi
s.a.w. itu.
Dari
Abu Hurairah r.a. atau dari Abu Said al-Khudri radhiallahu 'anhuma - yang
merawikan Hadis ini ragu-ragu apakah dari Abu Hurairah atau dari Abu Said,
tetapi keragu-raguan semacam ini tidak membahayakan shahihnya Hadis dalam diri
sahabat, sebab semua itu adalah orang-orang adil, katanya: "Ketika terjadi
perang Tabuk, maka orang-orang sama menderita kelaparan, lalu mereka berkata:
"Ya Rasulullah bagaimana andaikata Tuan izinkan saja kita menyembelih
unta-unta kita, kemudian kita dapat bersama-sama makan dan berminyak - dengan
lemaknya. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Lakukanlah itu - yakni
sembelihlah." Kemudian datanglah Umar r.a. lalu berkata: "Ya
Rasulullah, jikalau Tuan membolehkan itu dilaksanakan, maka berkuranglah
kendaraan yang dapat dinaiki, tetapi panggillah orang-orang itu dengan membawa
sisa-sisa bekalnya sendiri, kemudian berdoalah kepada Allah untuk mereka agar
mendapatkan keberkahan, barangkali Allah akan memberikan keberkahan dalam
makanan mereka." Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Ya." Beliau
s.a.w. meminta didatangkan selembar kulit kering kemudian dibeberkannya, lalu
menyuruh orang-orang itu meletakkan sisa-sisa bekalnya. Di situ ada seorang
yang datang dengan membawa segenggam gandum, yang lainnya datang dengan
segenggam kurma, yang lainnya pula dengan sekerat roti, sehingga berkumpullah
di atas kulit tadi sekadar makanan yang amat sedikit. Selanjutnya Rasulullah
mendoakan agar makanan itu mendapatkan keberkahan Allah, lalu beliau s.a.w.
bersabda: "Ambillah itu di masing-masing wadahmu." Orang-orang sama mengambilnya
di wadahnya sendiri-sendiri sehingga tidak sebuah wadah pun yang mereka
tinggalkan di kalangan tentera itu melainkan sudah diisi penuh-penuh. Mereka
dapat makan sampai kenyang dan masih ada sisa kelebihannya. Seterusnya
Rasulullah s.a.w. bersabda: "Saya menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan
Allah dan bahawasanya saya adalah Rasulullah. Tiada seseorang hamba pun yang
menemui kedua kalimat syahadat itu - setelah matinya nanti, sedangkan ia tidak
ragu-ragu, lalu ditolak dari masuk syurga - maksudnya orang yang diketahui
mempunyai keyakinan yang mantap mengenai dua kalimat syahadat itu, pasti tidak
terhalang untuk masuk syurga." (Riwayat Muslim)
Dari 'Itban bin Malik r.a., ia adalah salah seorang yang ikut
menyaksikan perang Badar, katanya: "Saya bersembahyang sebagai imam untuk
kaumku iaitu Bani Salim. Antara tempatku dengan tempat mereka itu
dihalang-halangi oleh sebuah lembah yang jikalau banyak turun hujan, maka sukar
saya melaluinya untuk menuju ke masjid mereka itu. Oleh sebab itu saya datang
kepada Rasulullah s.a.w., lalu saya berkata kepadanya: "Sesungguhnya saya
ini sudah kurang terang penglihatanku dan sesungguhnya lembah yang ada di
antara tempatku dengan tempat kaumku itu mengalir airnya jikalau banyak hujan
datang, maka sukarlah bagiku untuk melaluinya. Jadi saya ingin sekali jikalau
Tuan mendatangi tempatku lalu bersembahyang di suatu tempat di rumahku, yang
seterusnya akan saya gunakan sebagai tempat bersembahyang." Rasulullah
s.a.w. bersabda: "Akan saya lakukan permintaanmu itu." Maka besoknya
datanglah Rasulullah s.a.w. di tempatku.bersama Abu Bakar r.a. sesudah tinggi
hari - yakni tengah siang. Rasulullah s.a.w. meminta izin masuk lalu
245
saya izinkan, tetapi beliau tidak suka
duduk sehingga akhirnya berkata: "Di manakah tempat yang engkau inginkan
supaya saya bersembahyang dirumahmu ini?" Saya menunjukkan pada suatu
tempat yang saya inginkan supaya beliau bersembahyang di rumahmu ini?"
Saya menunjukkan pada suatu tempat yang saya inginkan supaya beliau
bersembahyang di situ. Rasulullah s.a.w. lalu berdiri, kemudian bertakbir dan
kita berbaris di belakangnya. Beliau s.a.w. bersembahyang dua rakaat kemudian
bersalam dan kitapun bersalam pula ketika beliau bersalam. Seterusnya beliau s.a.w.
saya tahan untuk makan hidangan berupa khazirah yang sengaja dibuat untuk
menghormatinya. Penduduk desa itu sama mendengar bahawasanya Rasulullah ada di
rumahku, Lalu banyaklah orang-orang yang berkumpul dari para penduduknya itu
sehingga banyaklah kaum lelaki di rumahku itu. Kemudian ada seorang lelaki
berkata: "Apakah yang dikerjakan Malik itu, saya tidak
mengetahuinya." Orang lelaki lain berkata: "Ia memang seorang munafik
yang tidak cinta kepada Allah dan RasulNya." Rasulullah s.a.w. lalu
bersabda: "Janganlah berkata sedemikian itu. Tidakkah engkau ketahui bahwa
ia mengucapkan La ilaha illallah, yang dengan itu semata-mata mencari keridhaan
Allah Ta'ala?" Orang itu berkata: "Allah dan RasulNya adalah lebih
mengetahui. Adapun kita, maka demi Allah, tidak pernah kita mengetahui akan
kecintaannya dan tidak pula pembicaraannya melainkan condong kepada kaum
munafik saja."Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya Allah
mengharamkan untuk masuk neraka orang yang mengucapkan La ilaha illallah yang
dengannya itu ia mencari semata-mata keridhaan Allah." (Muttafaq 'alaih)
'Itban dengan kasrahnya 'ain muhmalah dan sukunnya ta' mutsannat,
yakni bertitik dua di atas dan
sesudahnya itu ada ba' muwahhadah.
Khazirah dengan kha' mu'jamah dan zai ialah tepung yang dimasak dengan
lemak. Adapun tsaba rijalun dengan tsa' mutsallatsah ertinya ialah datang dan
berkumpul semua orang-orang lelaki itu.
Dari Umar bin Alkhaththab r.a., katanya: "Kepada
Rasulullah s.a.w. disampaikanlah tawanan perang. Tiba-tiba ada seorang wanita
dari golongan kaum tawanan itu berjalan ketika menemukan seorang anak yang juga
termasuk dalam kelompok tawanan tadi. Wanita itu lalu mengambil anak tersebut
lalu diletakkannya pada perutnya, kemudian disusuinya. Rasulullah s.a.w. lalu
bersabda: "Adakah engkau semua dapat mengira-ngirakan bahawa wanita ini
akan sampai hati meletakkan anaknya dalam api?" Kita - yakni para sahabat
- menjawab: "Tidak, demi Allah - maksudnya wanita yang begitu sayang pada
anaknya, tidak mungkin akan sampai meletakkan anaknya dalam api."
Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda: "Niscayalah Allah itu lebih kasih
sayang kepada sekalian hamba-hambaNya daripada kasih sayangnya wanita ini
kepada anaknya." (Muttafaq 'alaih)
Dari
Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Ketika
Allah menciptakan semua makhluk, maka ditulislah olehNya dalam suatu kitab,
maka kitab itu ada di sisiNya di atas 'arasy, yang isinya: Bahawasanya
kerahmatanKu itu dapat mengalahkan kemurkaanKu." Dalam riwayat lain
disebutkan: "Telah mengalahkan kemurkaanKu" dan dalam riwayat lainnya
lagi disebutkan: "Telah mendahului kemurkaanKu." - maksudnya bahwa
kerahmatan itu jauh lebih besar daripada kemurkaanNya. (Muttafaq 'alaih)
Keterangan:
Maksudnya
"KerahmatanKu itu mengalahkan atau mendahului kemurkaanKu" itu ialah
bahwa kemurkaan Allah Ta'ala ataupun keridhaanNya itu kembali kepada pengertian
246
iradah
yakni kehendak Allah sendiri. Jadi sudah menjadi kehendak Allah bahawa pahala
itu tentulah diberikan kepada orang yang mentaatiNya, sedangkan seseorang hamba
Allah yang memperoleh kemuliaan dari Allah itu bererti mendapatkan keridhaan
serta kerahmatanNya. Sebaliknya jika Allah berkehendak menyiksa orang yang
melakukan kemaksiatan itupun sudah sepatutnya, sedang kehinaan yang diterima
oleh manusia semacam itulah yang dinamakan kemurkaan Allah. Jadi pengertian
mendahului dan mengalahkan di sini ialah kerana banyaknya kerahmatan dan apa
saja yang terkandung dalam makna rahmat atau kasih sayang Allah itu.
419. Dari Abu Hurairah r.a. pula,
katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Allah menjadikan kerahmatan itu sebanyak seratus bagian,
olehNya ditahanlah yang sembilanpuluh sembilan dan diturunkanlah ke bumi yang
satu bagian saja. Maka dari kerahmatan yang satu bagian itu sekalian makhluk
dapat saling sayang-menyayangi, sehingga seekor binatangpun pasti mengangkat
kakinya dari anaknya karena takut kalau akan mengenai - menginjak - anaknya
itu."
Dalam riwayat lain disebutkan:
Sesungguhnya
Allah Ta'ala memiliki sebanyak seratus kerahmatan dan olehNya diturunkanlah
satu bagian dari seratus kerahmatan itu untuk diberikan kepada golongan jin,
manusia, binatang dan segala yang merayap. Maka dengan satu kerahmatan itu
mereka dapat saling kasih-mengasihi, dengannya pula dapat sayang menyayangi,
bahkan dengannya pula binatang buas itu menaruh iba hati kepada anaknya. Allah
mengakhirkan yang sembilanpuluh sembilan kerahmatan itu yang dengannya Allah
akan merahmati hamba-hambaNya pada hari kiamat." (Muttafaq 'alaih)
Juga diriwayatkan Hadis seperti itu dari riwayat Salman
al-Farisi r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya Allah itu memiliki seratus kerahmatan, maka
di antara seratus itu ada satu bagian kerahmatan yang dengannya sekalian makhluk
dapat saling kasih-mengasihi antara sesamanya, sedang yang sembilanpuluh
sembilan untuk hari kiamat nanti."
Dalam riwayat lain disebutkan:
"Sesungguhnya Allah itu di waktu menciptakan semua langit
dan bumi, diciptakan pula olehNya seratus kerahmatan, setiap kerahmatan itu
dapat merupakan tutup yang memenuhi alam di antara langit dan bumi. 43 Kemudian dari
seratus tadi yang satu kerahmatan dijadikan untuk diletakkan di bumi, maka
dengan satu kerahmatan inilah seseorang ibu dapat mengasihi anaknya, binatang
buas dan burung, sebagian kepada setengah yang lainnya. Selanjutnya apabila
telah tiba hari kiamat, Allah akan menyempurnakan dengan kerahmatan ini - yakni
dilengkapkan menjadi seratus penuh."
Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w. dalam suatu
riwayat yang diceritakannya dari Tuhannya yakni Allah Ta'ala sabdanya:
"Jikalau seseorang hamba itu melakukan sesuatu dosa lalu
ia berkata: "Ya Allah, ampunilah dosaku," maka berfirmanlah Allah
Tabaraka wa Ta'ala: "HambaKu melakukan sesuatu yang berdosa, lalu ia
mengerti bahwa ia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula
memberikan hukuman sebab adanya dosa itu." Kemudian apabila hamba itu
mengulangi untuk berbuat dosa lagi, lalu ia berkata: "Ya Tuhanku,
ampunilah dosaku," maka Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: "HambaKu
melakukan sesuatu yang berdosa lagi, tetapi ia tetap mengetahui bahwa ia
mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman
sebab
Ini andaikata diperagakan menjadi suatu
yang berbentuk sebagai benda, maka karena banyaknya kerahmatan itu, sehingga
dapat memenuhi antara langit dan bumi karena amat besar dan agungnya.
247
adanya
dosa itu." Seterusnya apabila hamba mengulangi dosa lagi lalu berkata:
"Ya Tuhanku, ampunilah dosaku," maka Allah Tabaraka wa Ta'ala
berfirman: "HambaKu berbuat dosa lagi, tetapi ia mengetahui bahwa ia
mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman
sebab adanya dosa itu. Aku telah mengampuni dosa hambaKu itu, maka hendaklah ia
berbuat sekehendak hatinya." (Muttafaq 'alaih)
Firman Allah
Ta'ala: Falyaf'al ma-sya'a yakni
bolehlah ia mengerjakan sekehendak hatinya itu maksudnya ialah selama melakukan
yang sedemikian itu yakni melakukan dosa lalu segera bertaubat, maka Aku -
Allah - mengampuninya, sebab sesungguhnya taubat itu dapat melenyapkan
dosa-dosa yang sebelumnya.
Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w.
bersabda: "Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, andaikata
engkau semua tidak ada yang melakukan dosa, niscayalah Allah akan melenyapkan
engkau semua, lalu mendatangkan suatu kaum lain yang melakukan dosa kemudian
mereka meminta pengampunan kepada Allah Ta'ala, lalu Allah mengampuni mereka
itu." (Muttafaq 'alaih)
Dari
Abu Ayyub, yaitu Khalid bin Zaid r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah
s.a.w.
bersabda:
"Andaikata engkau semua tidak ada yang melakukan dosa,
niscayalah Allah akan menciptakan suatu makhluk baru yang melakukan dosa, lalu
mereka memohonkan pengampunan padaNya, kemudian Allah mengampuni mereka
itu." (Riwayat Imam Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Kita semua pada suatu
ketika duduk-duduk bersama-sama Rasulullah s.a.w., juga menyertai kita Abu
Bakar dan Umar radhiallahu 'anhuma dalam suatu kelompok - antara tiga sampai
sembilan orang. Kemudian berdirilah Rasulullah s.a.w. meninggalkan kita semua,
tetapi agak lambat datangnya kembali. Kita semua takut kalau-kalau akan
terputuskan dari kita - maksudnya kalau memperoleh bahaya, maka dari itu kita
semua menjadi takut dan kitapun berdiri. Saya - yakni Abu Hurairah r.a. -
adalah pertama-tama orang yang merasa takut itu. Maka keluarlah saya untuk
mencari Rasulullah s.a.w., sehingga sampailah saya di suatu dinding milik orang
Anshar - Abu Hurairah lalu menceriterakan Hadis ini yang agak panjang, sehingga
pada sabda Nabi s.a.w., yaitu Rasulullah s.a.w. bersabda: "Pergilah, maka
setiap orang yang engkau temui di balik dinding ini, asalkan ia menyaksikan
bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dengan hatinya yang benar-benar meyakinkan
sedemikian itu, maka berilah kabar gembira bahwa ia akan masuk syurga."
(Riwayat Muslim)
Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma
bahwasanya Nabi s.a.w. membaca firman Allah Azzawajalla mengenai riwayat Nabi
Ibrahim a.s., yaitu - yang artinya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya
berhala-berhala itu menyesatkan sebagian besar manusia, maka barangsiapa yang
mengikuti aku, maka sesungguhnya ia adalah termasuk dalam golonganku,"
sampai akhirnya ayat. 44 Nabi Isa a.s. - juga diceriterakan dalam firman Allah yang
artinya: "Jikalau Engkau - ya Tuhan
menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu adalah
hamba-hambaMu sendiri dan jikalau Engkau memberi pengampunan kepada mereka,
maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Mulia lagi Bijaksana. 45 Beliau s.a.w.
lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa: "Ya Allah, ummatku,
ummatku," dan terus menangis. Kemudian Allah Azzawajalla berfirman:
"Hai Jibril, pergilah ke
Lengkapnya ayat di atas ialah:
"Dan barangsiapa yang tidak mengikuti aku, maka sesungguhnya Engkau adalah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Surat Ibrahim 36.
Surah al-Maidah, 118.
248
Muhammad - dan
Tuhanmu sebenarnya adalah lebih mengetahui sebabnya - lalu tanyakan-lah
padanya, apa yang menyebabkan ia menangis?" Nabi s.a.w. didatangioleh
Jibril lalu Rasulullah s.a.w. memberitahukan apa yangj telah diucapkannya,
sedangkan Allah adalah lebih Maha Mengetahui. Kemudian Allah Ta'ala berfirman:
"Hai Jibril, pergilah ke Muhammad dan katakanlah: "Sesungguhnya Kami
akan memberikan keridhaan pada ummatmu dan Kami tidak akan membuat keburukan
padamu - yakni membuat engkau menjadi susah." (Riwayat Muslim)
Dari Mu'az bin Jabal r.a., katanya: "Saya ada di belakang
Nabi s.a.w. ketika menaiki seekor keledai, lalu beliau s.a.w. bertanya:
"Hai Mu'az, adakah engkau tahu, apakah haknya Allah atas sekalian hambaNya
dan apakah haknya hamba-hamba itu atas Allah?" Saya menjawab: "Allah
dan RasulNya adalah lebih mengetahui." Beliau lalu bersabda:
"Sesungguhnya haknya Allah atas semua hamba-hambaNya ialah supaya mereka
itu menyembahNya dan tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, sedang haknya
hamba-hamba atas Allah ialah Allah tidak akan menyiksa siapa saja yang tidak
menyekutukan sesuatu dengan Allah itu." Saya lalu berkata: "Bukankah
baik sekali jikalau berita gembira ini saya beritahukan kepada seluruh
manusia?" Beliau s.a.w. bersabda: "Janganlah engkau mem-beritakan ini
kepada mereka sebab mereka nantinya akan menyerah bulat-bulat - tanpa suka
beramal." (Muttafaq 'alaih)
Dari
Albara'bin 'Azib radhiallahu'anhumadari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Seorang
Muslim itu apabila ditanya dalam kubur, maka ia akan menyaksikan bahwasanya
tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa-sanya Muhammad adalah Rasulullah. Yang
sedemikian itu adalah sesuai dengan firmannya Allah Ta'ala - yang artinya:
"Allah mem-bertkan ketetapan kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan
yang mantap, baik di dalam kehidupan dunia ini, maupun dalam akhirat."
(Muttafaq 'alaih)
Dari Anas r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya:
"Sesungguhnya orang kafir itu apabila melakukan sesuatu amal kebaikan,
maka dengannya itu ditujukan untuk didapatkannya sesuatu makanan di dunia -
yakni tujuannya semata untuk memperoleh rezeki di dunia saja, sedangkan orang
mu'min, maka sesungguhnya Allah Ta'ala memberikan simpanan untuknya berupa
beberapa kebajikan di akhirat dan diikutkan pula dengan memperoleh rezeki di
dunia dengan sebab ketaatannya."
Dalam riwayat lain disebutkan:
"Sesungguhnya
Allah tidak menganiaya seseorang mu'min akan kebaikannya, dengannya itu akan
diberikan rezeki di dunia dan dengannya pula akan diberi balasan baik di
akhirat. Adapun orang kafir, maka ia akan diberi makan - yakni rezeki - dengan
kebaikan-kebaikan yang merupakan hasil amalannya karena Allah Ta'ala di dunia,
sehingga apabila ia telah menjadi - yakni memasuki - ke akhirat, maka sama
sekali tidak ada lagi kebaikan baginya yang dapat diberikan balasannya."
(Riwayat Muslim)
Dari Jabir r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Perumpamaan shalat-shalat lima waktu itu adalah seperti sungai yang
mengalir secara melimpah-ruah pada pintu rumah seseorang dari engkau semua. Ia
mandi di situ setiap hari lima kali." (Riwayat Muslim)
Dari
Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Tiada
seorang muslimpun yang meninggal dunia, kemudian berdiri untuk menyembahyangi
jenazahnya itu sebanyak empat puluh orang yang semuanya tidak menyekutukan
sesuatu dengan Allah, melainkan Allah akan mengaruniakan syafaat kepada orang
yang mati tadi." (Riwayat Muslim)
249
Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Kita semua berada
bersama-sama Rasulullah s.a.w. dalam sebuah kemah, kira-kira ada empatpuluh
orang, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Relakah engkau semua jikalau engkau
semua - ummat Muhammad semuanya ini - menjadi seperempatnya ahli syurga?"
Kita semua menjawab: "Ya." Beliau s.a.w. bersabda pula: "Relakah
engkau semua kalau menjadi sepertigaahli syurga." Kita semua menjawab:
"Ya." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Demi Zat yang jiwa Muhammad
ada di dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya saya mengharapkan kalau
engkau semua itu akan menjadi setengahnya ahli syurga. Yang sedemikian itu
karena sesungguhnya syurga itu tidak dapat dimasuki melainkan oleh seseorang
yang Muslim, sedangkan engkau semua bukanlah ahli kemusyrikan, melainkan
seperti rambut putih dalam kulit lembu yang hitam atau seperti rambut hitam
dalam kulit lembu yang merah." (Muttafaq 'alaih)
Dari
Abu Musa al-Asy'ari r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Jikalau telah tiba hari kiamat, maka Allah menyerahkan
kepada setiap orang Islam akan seorang Yahudi atau Nasrani, lalu Allah
berfirman: "Inilah hari kelepasanmu dari neraka."
Dalam riwayat lain disebutkan dari Abu
Musa r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Pada hari kiamat datanglah beberapa orang dari kaum
Muslimin dengan membawa dosa sebesar gunung-gunung, lalu diampunkanlah oleh
Allah untuk mereka itu." (Riwayat Muslim)
Sabda Nabi s.a.w.: "Allah menyerahkan kepada setiap orang
Islam akan seorang Yahudi atau Nasrani, lalu Allah berfirman: "Ini hari
kelepasanmu dari neraka,"artinya itu dijelaskan oleh Hadis Abu Hurairah
r.a. yaitu:
"Setiap orang itu mempunyai sebuah tempat di syurga dan
sebuah tempat lagi di neraka. Orang mu'min itu apabila telah masuk syurga, maka
akan diikuti oleh orang kafir untuk masuk dalam neraka sebab sebenarnya orang
kafir itu memang berhak sekali untuk menempati tempat di neraka itu sebab
kekafirannya."Adapun arti fakakuka,
ialah bahwasanya engkau itu sudah ditampakkan untuk masuk neraka, tetapi hari
inilah kelepasanmu dari neraka itu, sebab Allah Ta'ala telah menentukan untuk
neraka itu sejumlah isi yang akan menemuinya, maka jikalau kaum kafirin telah
memasuki neraka dengan sebab dosa-dosa serta kekafirannya, maka berartilah
bahwa peristiwa itu menjadi hari kelepasan kaum Muslimin dari siksa neraka
tadi.
Wallahu a'lam.
Dari
Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w.,
bersabda:
"Di dekatkanlah orang mu'min itu pada hari kiamat dari
Tuhannya, 46 sehingga Allah meletakkan tutupNya atas orang mu'min tadi,
kemudian Allah menetapkan semua dosanya, tetapi Allah lalu berfirman:
"Adakah engkau mengerti tentang dosanya demikian? Tahukah engkau dosanya
sedemikian ini?" Orang itu menjawab: "Ya Tuhanku, saya tahu."
Allah lalu berfirman: "Sesungguhnya dosa-dosa itu telah Kututupi untukmu
di dunia dan pada hari ini Kuampuni semuanya itu bagimu, kemudian diberikanlah
catatan amalan kebaikannya." (Muttafaq 'alaih)
Kanafuhu
artinya tutup
serta rahmatNya.
Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya ada seorang lelaki memberikan
ciuman pada seseorang wanita - bukan isterinya, lalu ia mendatangi Nabi s.a.w.
kemudian memberitahukan padanya akan halnya. Allah Ta'ala lalu menurunkan ayat
- yang artinya: "Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang hari dan
sebagian dari waktu malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu dapat melenyapkan
keburukan-keburukan." Orang itu lalu bertanya: "Apakah ayat itu untukku
saja,ya Rasulullah?" Beliau s.a.w. bersabda: "Untuk semua
ummatku." (Muttafaq 'alaih)
Didekatkan di sini maksudnya ialah
dalam hal dekat memperoleh kemuliaan, kerahmatan dan kebaikan Allah. Jadi bukan
dekat jarak atau perihal tempatnya, sebab Allah memang tidak membutuhkan
tempat.
250
Dari Anas r.a., katanya: "Ada seorang datang kepada Nabi
s.a.w., lalu berkata: "Ya Rasulullah, saya telah melakukan sesuatu yang
wajib dikenakan had - hukuman, maka laksanakanlah itu untukku." Waktu itu
sudah tiba saatnya shalat, lalu ia bersembahyang bersama Rasuluilah s.a.w.
Selanjutnya setelah selesai shalatnya, orang itu berkata lagi: "Ya
Rasulullah, saya telah melakukan perbuatan yang wajib dikenakan had, maka
laksanakanlah itu untukku sesuai dengan kitabullah." Beliau s.a.w.
bertanya: "Apakah engkau telah melakukan shalat bersama kita tadi?"
Ia menjawab: "Ya." Beliau s.a.w. bersabda: "Telah diampunkan
dosa itu untukmu." (Muttafaq 'alaih)
Ucapan orang yang berbunyi Ashabtu
haddan itu artinya ialah bahwa orang tadi telah melakukan suatu kemaksiatan
yang mewajibkan ia dita'zir. Jadi bukan maksudnya itu merupakan had syar'i yang
sebenar-benarnya seperti hadnya orang berzina, minum arak atau selainnya itu,
sebab had-had semacam ini tidak dapat gugur hanya dengan melakukan shalat saja,
juga bagi seseorang imam pemegang kekuasaan negara - tidak boleh meninggalkan
atau mengabaikannya.
435. Dari Anas r.a. pula, katanya:
"Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya Allah itu niscayalah ridha pada seseorang
hambaNya, jikalau ia makan sesuatu makanan lalu memuji kepada Allah karena
adanya makanan itu, atau minum suatu minuman lalu memuji padanya karena adanya
minuman itu." (Riwayat Muslim)
Al-aklatu dengan fathahnya
hamzah, ialah sekali makanan yang dilakukan seperti makan siang atau makan malam.
Wallahu a'lam.
Dari Abu Musa r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Sesungguhnya Allah itu membeberkan tanganNya - yakni kerahmatanNya - di
waktu malam hari, supaya bertaubatlah orang yang melakukan keburukan pada siang
harinya,serta membeberkan tanganNya - kerahmatanNya - di siang hari, supaya
bertaubatlah orang yang melakukan keburukan pada malam harinya. Hal in terus
sampai matahari terbit dari arah barat - maksudnya sampai dekat tibanya hari
kiamat." (Riwayat Muslim)
Dari
Abu Najih yaitu 'Amr bin 'Abasah - dengan menggunakan 'ain dan ba' - Assulami
r.a., katanya: "Dahulu semasih saya berada di zaman Jahiliyah mengira
bahwa para manusia itu dalam kesesatan dan bahwasanya mereka itu tidak
memperoleh kemanfaatan apa-apa dalam hal mereka menyembah berhala-berhala itu.
Kemudian saya mendengar ada seseorang lelaki di Makkah yang memberitahukan
berbagai berita luarbiasa dan agung, lalu saya duduk di atas kendaraanku untuk
bepergian, kemudian datanglah saya pada orang itu. Tiba-tiba di kala itu
Rasulullah s.a.w. sedang bersembunyi - dari kaum kafirin dan musyrikin. Keadaan
kaumnya adalah berani-berani padanya - maksudnya: bukannya serba ke-takutan
semacam menghadapi raja. Kemudian saya beramah-tamah - dengan seorang Quraisy,
sehingga saya memasuki kota Makkah. Kepada orang itu - yakni Rasulullah s.a.w.
- saya bertanya: "Siapakah anda?" Jawabnya: "Saya seorang
Nabi." Saya bertanya lagi: "Apakah Nabi itu." Jawabnya:
"Saya diutus oleh Allah." Saya bertanya lagi: "Dengan membawa
ajaran apakah anda diutus?" Jawabnya: "Allah mengutus saya dengan
ajaran supaya mempereratkan kekeluargaan, mematahkan semua berhala dan supaya
hanya Allah jualah yang dimahaesakan serta tidak disekutukanlah sesuatu denganNya."
Saya bertanya pula: "Siapakah yang sudah menjadi peserta anda?"
Jawabnya: "Seorang merdeka dan seorang lagi hambasahaya." Pada saat
itu yang telah menjadi pengikutnya ialah Abu Bakar dan Bilal radhiallahu
'anhuma. Kemudian saya berkata: "Saya ingin menjadi pengikut anda."
Jawabnya: "Sesungguhnya anda tidak kuat untuk menjadi pengikutku pada saat
sekarang ini. Tidak anda ketahuikah bagaimana hal-ihwalku dan hal-ihwal para
manusia ini - yakni bahwa beliau s.a.w. selalu dikejar-kejar untuk disakiti.
Tetapi sekarang kembalilah ke tempat keluarga anda. Nanti jikalau anda telah
mendengar tentang diriku bahwa aku telah muncul - memperoleh kemenangan, maka
datanglah padaku."
251
Abu Najih berkata: "Saya lalu pergi menemui keluargaku
lagi. Rasulullah s.a.w. datang di Madinah - setelah agak lama dari terjadinya
peristiwa di atas. Saya masih berada di kalangan keluargaku, lalu mulailah saya
mencari-cari beberapa berita dan saya bertanya kepada orang banyak ketika
datangnya di Madinah, sehingga datanglah kepadanya itu sekelompok dari penduduk
Madinah. Saya bertanya kepada orang Madinah: "Apakah yang dilakukan oleh
lelaki - yakni Nabi s.a.w. - yang datang di Madinah itu?" Orang-orang
menjawab: "Orang-orang sama bergegas-gegas menyambutnya. Kaumnya sendiri
sudah menginginkan akan membunuhnya, tetapi mereka tidak dapat melakukan yang
sedemikian itu."
Selanjutnya
datanglah saya di Madinah dan saya masuk menghadap padanya. Kemudian saya
berkata: "Ya Rasulullah, adakah anda mengenal saya?" Beliau menjawab:
"Ya, engkau yang menemui saya dahulu di Makkah?" Saya berkata lagi:
"Ya Rasulullah beritahukanlah padaku tentang apa-apa yang dipelajarkan
oleh Allah pada anda dan yang saya tidak mengetahuinya. Beritahukanlah kepadaku
perihal shalat." Jawabnya: "Shalatlah shalat Subuh, lalu berhentilah
melakukan shalat sehingga matahari terbit sampai berada di atas setinggi batang
galah, sebab sesungguhnya matahari itu terbit di antara kedua ujung tanduk
syaitan dan di saat itu bersujudlah orang-orang kafir pada matahari tadi.
Kemudian bersembahyanglah - sesuka hatimu dari shalat-shalat sunnah, sebab
sesungguhnya shalat itu disaksikan dan dihadiri oleh para malaikat. Demikian
itu sehingga menyedikitlah bayangan galah tadi - jikalau ditanam tegak.
Selanjutnya berhentilah melakukan shalat, sebab di kala itu sesungguhnya neraka
Jahanam sedang menyala hebat-hebatnya. Jikalau bayangan telah lalu - ke arah
timur, maka bersembahyanglah - yakni Zuhur, sebab sesungguhnya shatat itu
disaksikan dan dihadiri oleh para malaikat, sehingga anda bersembahyang 'Ashar,
kemudian berhenti pulalah melakukan shalat itu, sehingga matahari terbenam,
sebab sesungguhnya matahari itu terbenam di antara kedua ujung tanduk syaitan
dan di kala itu bersujudlah orang-orang kafir kepada matahari tadi."
Abu Najih berkata selanjutnya: "Saya terus berkata lagi:
"Ya Nabiullah, tentang wudhu' beritahukanlah itu kepadaku!" Beliau
s.a.w. bersabda: "Tiada seorangpun dari engkau semua yang menyediakan air
wudhu'nya, kemudian ia berkumur-kumur lalu mengisap air dalam hidung lalu
mengeluarkannya lagi dari hidungnya itu melainkan jatuhlah semua kesalahan
wajahnya, mulutnya dan pangkal hidungnya. Kemudian apabila ia membasuh mukanya
sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, maka jatuhlah kesalahan-kesalahan
wajahnya dari ujung-ujung janggutnya beserta air, kemudian membasuh kedua
tangannya, maka jatuhlah kesalahan-kesalahan kedua tangannya dari jari-jarinya
beserta air, kemudian mengusap kepalanya, maka jatuhlah kesalahan-kesalahan
kepalanya dari ujung-ujung rambutnya beserta air, kemudian membasuh kedua
kakinya sampai kedua tumitnya, maka jatuhlah kesalahan-kesalahan kakinya dari
jari-jarinya beserta air. Seterusnya jikalau orang itu berdiri lalu
bersembahyang, bertahmid serta memuji dan memaha agungkan Allah yang memang
Allah itu belaka yang ahli - memiliki puji-pujian dan keagungan - tadi, juga
mengosongkan hatinya untuk semata-mata ditujukan kepada Allah Ta'ala, maka
setelah ia selesai semuanya, ia akan terlepas dari kesalahan-kesalahannya
sebagaimana keadaannya ketika pada hari dilahirkan oleh ibunya - yakni bersih
sama sekali dari segala macam kesalahan dan dosa."
'Amr bin 'Abasah memberitahukan Hadis ini kepada Abu Umamah,
yakni sahabat Rasulullah s.a.w. lalu Abu Umamah berkata padanya: "Hai'Amr,
lihatlah apa yang engkau katakan itu,seseorang dapat diberi pahala sebanyak itu
hanya dalam satu tempat saja, patutkah sedemikian itu." Abu Umamah
bertanya demikian karena agaknya masih sangsi akan kebenaran Hadis yang dibawa
oleh 'Amr tadi. 'Amr lalu menjawab: "Hai Abu Umamah, usiaku ini sudah tua,
tulang-tulangku pun sudah lemah, bahkan ajalku juga sudah hampir sampai. Saya
merasa tidak akan ada gunanya untuk membuat kedustaan atas nama Allah atau atas
diri Rasulullah s.a.w. Andaikata saya tidak mendengar sendiri dari Rasulullah
s.a.w., melainkan sekali, atau dua kali, tiga kali - sampai dihitung-hitungnya
sebanyak tujuh kali, pasti saya tidak akan memberitahukan Hadis ini
selama-lamanya. Tetapi saya mendengar Hadis itu bahkan lebih banyak lagi dari
sekian kali itu." (Riwayat Muslim)
Jura-a-u 'alaihi
qaumuhu dengan jim yang didhammahkan dan dimadkan menurut wazan 'ulama-u, yakni berani, tidak
takut-takut serta tidak ada keseganan. Ini adalah riwayat yang masyhur.
Alhumaidi dan lain-lain ahli Hadis meriwayatkan hira-un dengan kasrahnya ha' muhmalah dan berkata: "Maknanya
ialah pemarah, banyak menderita kesusahan dan kesedihan, telah dialahkan
252
kesabarannya
sehingga membekaslah pada tubuh mereka. Hiraun
ini berasal dari kata-kata: hara jismuhu yahri, maknanya jikalau telah
susut karena terkena penyakit, kesedihan atau lain-lainnya. Yang shahih ialah dengan jim - yakni juraau.
Sabda Nabi
s.a.w. baina qarnai syaithan
maksudnya dari kedua tepi kepala syaitan. Murad sedemikian ini adalah sebagai
per-umpamaan yang maksudnya bahwa syaitan itu pada ketika terbit atau
terbenamnya matahari, selalu bergerak dengan semua pem-bantu-pembantunya, juga
sama memberikan pengaruh kekuasaan buruk.
Sabda beliau
s.a.w.: yuqarribu wadhu-ahu maknanya
ialah mendatangkan air yang akan digunakan untuk berwudhu'. Kharrat khathayahu dengan menggunakan
kha' mu'jamah, artinya jatuh. Sebagian ulama meriwayatkan dengan kata: jarat dengan jim, artinya mengalir. Yang
shahih ialah dengan kha' dan inilah yang merupakan riwayat Jumhur. Yastantsiru artinya mengeluarkan
kotoran-kotoran yang ada dalam hidungnya. Annatsrah
ialah ujung hidung.
Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a. dari Nabi s.a.w., katanya:
"Jikalau Allah menghendaki kerahmatan kepada sesuatu ummat, maka
diambillah - dimanfaatkanlah - Nabipun dahulu sebelum ummat itu, lalu
dijadikanlah Nabi tadi sebagai orang yang dahulu - dalam menyiapkan
kemaslahatan-kemaslahatan ummat itu serta yang terkemuka - yakni merupakan
penarik pahala yang akan dibalas dengan adanya kesabaran atas kematiannya itu.
Tapi jikalau
Allah
menghendaki kerusakan untuk sesuatu ummat, maka disiksalah ummat itu selagi
Nabi mereka masih hidup. Jadi Allah merusakkan ummat itu dan Nabi mereka
melihat keadaannya, maka Nabi tadi menetapkan sendiri tentang penglihatan
matanya bahwasanya ummatnya itu telah menjadi rusak binasa, ketika mereka
mendusta-kan serta bermaksiat padanya." (Riwayat Muslim)
Tiada ulasan:
Catat Ulasan