Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab 55
Keutamaan
Zuhud Di Dunia Dan Anjuran Untuk Mempersedikit Keduniaan Dan Keutamaan
Kefakiran
Allah Ta'ala berfirman:
"Hanyasanya perumpamaan kehidupan dunia ini adalah seperti
air yang Kami turunkan dari langit, kemudian tumbuhlah karenanya itu
tumbuh-tumbuhan di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan ternak.
Sehingga setelah bumi itu mengenakan pakaian hiasannya dan menjadi indah permai
dan penduduknya mengira, bahwa mereka akan dapat menguasainya, maka datanglah
perintah Kami di waktu malam atau siang - untuk merusakkan semua itu sebagai
siksa, lalu Kami jadikanlah bumi itu sebagai ladang padi yang telah dituai,
seolah-olah kelmarinnya tidak terjadi sesuatu apapun. Demikianlah Kami jelaskan
ayat-ayat Kami kepada orang-orang yang berfikir." (Yunus: 24)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Dan buatlah untuk mereka perumpamaan kehidupan dunia,
sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit dan karenanya lalu tumbuhlah
tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian setelah subur lalu menjadi kering yang dapat
diterbangkan oleh angin dan Allah itu adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Hartabenda dan anak-anak itu adalah perhiasan kehidupan dunia dan amalan-amalan
yang baik yang kekal pahalanya adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan
lebih bagus pula harapannya." (al-Kahf: 45-46)
Juga Allah Ta'afa berfirman:
"Ketahuilah olehmu semua, bahwasanya kehidupan dunia itu
hanyalah permainan dan senda-gurau, perhiasan dan bermegah-megah antara
sesamamu, berlomba banyak kekayaan dan anak-anak. Perumpamaannya adalah seperti
hujan yang mengherankan orang -orang kafir - yang menjadi petani - melihat
tumbuh tanamannya, kemudian menjadi kering lalu engkau lihat menjadi kuning
warnanya, kemudian menjadi hancur binasa. Dan di akhirat siksa yang amat sangat
untuk mereka itu - yang berbuat kesalahan, juga pengampunan dari Allah serta
keridhaan - bagi orang-orang yang berbuat kebaikan - dan tidaklah kehidupan
dunia ini melainkan hanyalah kesenangan tipuan belaka." (al-Hadid: 20)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Diperhiaskanlah untuk para manusia itu - yakni diberi
perasaan bernafsu - untuk mencintai kesyahwatan-kesyahwatan dari para wanita,
anak-anak, kekayaan yang berlimpah-limpah dari emas dan perak, kuda yang bagus,
binatang ternak dan sawah ladang. Demikian itulah kesenangan kehidupan dunia
dan di sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya." (ali-Imran: 14)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Hai sekalian manusia, sesungguhnya janji Allah itu adalah
benar. Maka dari itu, janganlah engkau semua tertipu oleh kehidupan dunia ini
dan janganlah sekali-kali kepercayaanmu kepada Allah itu tertipu oleh sesuatu
yang amat pandai menipu." (Fathir: 5)
Juga Allah Ta'ala berfirman:
"Engkau semua dilalaikan oleh perlombaan mencari kekayaan,
sehingga engkau semua mengunjungi kubur - yakni sampai mati. jangan begitu,
nanti engkau semua akan mengetahui, kemudian sekali lagi jangan begitu, nanti
engkau semua akan mengetahui - mana yang sebenarnya salah dan mana yang tidak.
jangan begitu, andaikata engkau semua dapat mengetahui dengan ilmu yakin, tentu
engkau semua tidak berbuat seperti di atas itu." (at-Takatsur:
1-5)
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda-gurau
dan permainan belaka dan sesungguhnya perumahan akhirat adalah kehidupan yang
sebenarnya, jikalau mereka mengetahui." (al-Ankabut: 64)
Ayat-ayat dalam bab ini amat banyak
sekali dan sudah masyhur.
Keterangan:
260
Ada sementara
orang yang berpendapat bahwa yang dinamakan zuhud itu ialah dengan menyiksa
diri sendiri, makan dan minum harus dikurangi sesangat-sangatnya, demikian pula
tidur dan istirahatnya, pakaian cukup yang jelek-jelek, rambut biarkan
kusut-masai tanpa disisir, mandi pun harus jarang-jarang, berjalan harus selalu
menundukkan muka, tidak perlu bekerja keras-keras dan cukuplah dengan menerima
belas kasihan orang lain, bertasbih sepanjang hari dan malam dan lain-lain
kelakuan yang bukan-bukan. Jelaslah bahwa bukan yang sedemikian ini yang
dikehendaki oleh Rasulullah s.a.w. dalam pengertian zuhud sebagaimana yang
tercantum dalam Hadis di atas.
Memang zuhud itu
apabila kita lakukan, pasti kita akan dicintai oleh Allah dan seluruh manusia.
Nabi s.a.w. bersabda: "Berlaku zuhudlah di dunia, pasti dicintai Allah dan
berlaku zuhudlah terhadap milik orang lain, pasti dicintai oleh sesama
manusia."
Maka dari itu
yang sekarang perlu kita sadari sebaik-baiknya ialah, apakah yang dinamakan
zuhud itu?
Zuhud ialah
meninggalkan ketamakan dalam urusan keduniawiyahan sehingga lupa ketaatan
kepada Allah, lengah untuk mencari bekal hidup di akhirat nanti. Inilah artinya
zuhud di dunia. Ringkas saja, bukan. Kalau ini dilakukan, pasti Allah mencintai
kita.
Selain zuhud
sebagaimana pengertiannya di atas itu, hendaknya pula kita jangan ingin
memiliki sesuatu yang bukan kepunyaan kita, sehingga timbul hasrat ingin
merebut yang bukan hak kita itu. Boleh saja kita ingin mempunyai yang seperti
milik orang lain, tetapi carilah yang lain dan jangan yang sudah menjadi milik
orang lain itu dirampas. Inilah yang diartikan zuhud dengan apa yang ada pada
para manusia. Kalau ini kita lakukan sudah pasti tidak seseorangpun yang membenci
kita. Kita tentu disukai sebab kita pandai bergaul dan menghormati milik orang.
Demikianlah dua
pengertian zuhud dalam Agama Islam. Maka apabila diartikan lebih dari ini, maka
teranglah bahwa itu bukan berasal dari ajaran Allah Ta'ala dan RasulNya, tetapi
buat-buatan manusia biasa atau mungkin penjiplakan dari agama lain atau dari
ilmu yang tidak diridhai oleh Allah semacam klenik dan sebagainya.
Lihatlah sejarah
Rasulullah s.a.w. Beliau adalah sezuhud-zuhudnya manusia di dunia ini, tetapi
beliau s.a.w. pula yang bersabda:
"Badanmu itu wajib kamu penuhi
haknya."
Jadi makan minumnya, pakaiannya,
kesenangannya dan Iain-lain sebagainya. Beliau s.a.w.
juga tidur dan beristirahat, kawin, bersenda-gurau, berkumpul
dengan keluarganya dan lain-lain lagi.
Singkatnya
asalkan kita sudah berzuhud sebagaimana dua pengertian dalam Hadis di atas dan
menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-laranganNya, Insya Allah
selamatlah hidup kita di dunia sampai di akhirat.
Adapun
Hadis-hadisnya, maka lebih banyak lagi untuk dapat diringkaskan, oleh sebab itu
kami peringatkan sebagian saja dengan meninggalkan yang lainnya.
Dari 'Amr bin 'Auf al-Anshari r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
mengirimkan Abu 'Ubaidah al-Jarrah r.a. ke daerah Bahrain -sebuah daerah yang
masuk wilayah Irak - dan kedatangannya ke situ ialah untuk mengambil pajak.
Kemudian setelah selesai tugasnya, datanglah ia dengan membawa harta dari
Bahrain itu. Kaum Anshar sama mendengar akan kedatangan Abu Ubaidah, mereka
lalu menunaikan shalat fajar - yakni subuh - bersama Rasulullah s.a.w. Setelah
Rasulullah s.a.w. selesai bersembahyang, beliaupun lalu kembali, kemudian
mereka menuju kepadanya untuk menemuinya. Rasulullah s.a.w. lalu tersenyum
ketika melihat mereka itu terus bersabda: "Saya kira engkau semua sudah
mendengar bahwasanya Abu Ubaidah tiba dari Bahrain dengan membawa sesuatu
harta." Mereka menjawab: "Benar, ya Rasulullah." Beliau
selanjutnya bersabda: "Bergembiralah engkau semua dan bolehlah
mengharapkan sesuatu yang akan menyenangkan engkau semua. Demi Allah, bukannya
kekafiran itu yang saya takutkan mengenai engkau semua, tetapi saya takut
jikalau harta dunia ini diluaskan untukmu semua - yakni engkau semua menjadi
kaya raya, sebagaimana telah diluaskan untuk orang-orang yang sebelummu, kemudian
engkau semua itu saling berlomba-lomba untuk mencarinya sebagaimana mereka juga
261
berlomba-lomba untuk mengejarnya, lalu
harta dunia itu akan merusakkan agamamu semua sebagaimana ia telah me-rusakkan agama
mereka. (Muttafaq 'alaih)
Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w.
duduk di atas mimbar dan kita duduk di sekitarnya, lalu beliau s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya
salah satu yang saya takutkan atasmu semua sepeninggalku nanti ialah apa yang
akan dibukakan untukmu semua itu dari keindahan harta dunia serta
hiasan-hiasannya - yakni bahwa meluapnya kekayaan pada ummat Muhammad inilah
yang amat ditakutkan, sebab dapat merusakkan agama jikalau tidak waspada
mengendalikannya." (Muttafaq'alaih)
457. Dari Abu Said r.a. pula bahwasanya
Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya
dunia adalah manis dan hijau - yakni menyenangkan sekali - dan sesungguhnya
Allah menjadikan engkau semua sebagai pengganti di bumi itu - untuk mengolah
dan memakmurkan. Maka Allah akan melihat bagaimana yang engkau semua lakukan
-untuk dibalas menurut masing-masing amalannya. Oleh sebab itu, bertaqwalah
dalam mengemudikan harta dunia dan bertaqwalah dalam urusan kaum wanita."
(Riwayat Muslim)
Dari Anas r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Ya Allah.
Tidak ada kehidupan yang kekal melainkan kehidupan di akhirat." (Muttafaq
'alaih)
Dari Anas r.a. pula dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: "Ada
tiga macam mengikuti mayat itu- ketika di bawa ke kubur, yaitu keluarganya, hartanya
dan amalnya. Yang dua kembali dan satu tetap tinggal menyertainya. Keluarga dan
hartanya kembali sedang amalnya tetap mengikutinya." (Muttafaq 'alaih)
Dari Anas r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Akan didatangkanlah orang yang terenak kehidupannya di dunia dan ia
termasuk golongan ahli neraka pada hari kiamat nanti, lalu diceburkan dalam
neraka sekali ceburan, lalu dikatakan: "Hai anak Adam - yakni manusia,
adakah engkau dapat merasakan sesuatu kebaikan - keenakan sekalipun sedikit? Adakah
suatu kenikmatan yang pernah menghampirimu sekalipun sedikit?" Ia berkata:
"Tidak.demi Allah, ya Tuhanku"- yakni setelah merasakan pedihnya
siksa neraka, maka kenikmatan-kenikmatan dan keenakan-keenakan di dunia itu
seolah-olah lenyap sama sekali.
Juga akan
didatangkanlah orang yang paling menderita kesengsaraan di dunia dan ia
termasuk ahli syurga, lalu ia dimasukkan sekali masuk dalam syurga, lalu
dikatakan padanya: "Hai anak Adam, adakah engkau dapat merasakan sesuatu
kesengsaraan, sekalipun sedikit? Adakah suatu kesukaran yang pernah
menghampirimu sekalipun sedikit?" Ia menjawab: "Tidak, demi Allah,
tidak pernah ada kesukaranpun yang menghampiri diriku dan tidak pernah saya
melihat suatu kesengsaraan pun sama sekali," - yakni setelah merasakan kenikmatan
syurga, maka kesengsaraan dan kesukaran yang pernah diderita di dunia itu
seolah-olah lenyap sekaligus. (Riwayat Muslim)
461. Dari al-Mustaurid bin Syaddad
r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tidaklah
dunia ini kalau dibandingkan dengan akhirat, melainkan seperti sesuatu yang
seseorang di antara engkau semua menjadikan jarinya masuk dalam air lautan,
maka cobalah lihat dengan apa ia kembali - yakni, seberapa banyak air yang
melekat di jarinya itu. Jadi dunia itu sangat kecil nilainya dan hanya seperti
air yang melekat di jari tadi banyaknya." (Riwayat Muslim)
Dari Jabir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. berjalan melalui
pasar, sedang orang-orang ada di sebelahnya kiri kanan. Kemudian melalui seekor
anak kambing kecil telinganya dan telah mati.
262
Beliau s.a.w.
menyentuhnya lalu mengambil telinganya, terus bertanya: "Siapakah di
antara engkau semua yang suka membeli ini dengan wang sedirham?"
Orang-orang menjawab: "Kita semua tidak suka menukarnya dengan sesuatu
apapun dan akan kita gunakan untuk apa itu?" Beliau bertanya lagi:
"Sukakah engkau semua kalau ini diberikan saja padamu." Orang-orang
menjawab: "Demi Allah, andaikata kambing itu hidup, tentunya juga cacat
karena ia kecil telinganya. Jadi apa harganya lagi setelah kambing itu
mati?" Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Demi Allah, niscayalah dunia
ini lebih hina di sisi Allah daripada kambing ini bagimu semua." (Riwayat
Muslim)
Kanafaihi
artinya ada di
sebelahnya kanan kiri dan asakku artinya
kecil telinganya.
Dari Abu Zar r.a., katanya: "Saya berjalan bersama Nabi
s.a.w. di suatu tempat yang berbatu hitam di Madinah, lalu berhadap-hadapanlah
gunung Uhud dengan kita, kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Hai Abu
Zar." Saya berkata: "Labbaik, ya Rasulullah." Beliau bersabda
lagi: "Tidak menyenangkan padaku andaikata saya mempunyai emas sebanyak
gunung Uhud ini, sampai berlalu tiga hari lamanya, di antaranya ada sedinar
saja yang saya simpan untuk memenuhi hutang, kecuali saya akan mengucapkan
dengan memberikan harta itu untuk para hamba Allah demikian demikian
demikian." Beliau menunjuk ke sebelah kanan, kiri dan belakangnya -
maksudnya bahwa kalau beliau s.a.w. mempunyai harta sebanyak Uhud dan berupa
emas, apalagi lainnya, tentu akan disedekahkan kepada hamba-hamba Allah
semuanya, kecuali sedinar saja yang akan disimpan jikalau ada hutang yang belum
ditunaikannya dan harta sebanyak itu akan dihabiskan membelanjakannya dalam
tiga hari saja.
Kemudian beliau s.a.w. berjalan, lalu bersabda lagi:
"Sesungguhnya orang-orang yang kayaraya dengan harta dunia itulah yang
tersedikit pahala akhiratnya pada hari kiamat nanti, melainkan orang yang
berkata demikian, demikian dan demikian - yakni membelanjakan hartanya itu
untuk kebaikan." Beliau s.a.w. menunjuk ke kanan, kiri dan belakangnya.
Sabdanya lagi: "Tetapi sedikit sekali orang yang suka melakukan demikian
tadi." Seterusnya beliau bersabda padaku: "Tetaplah engkau di
tempatmu ini. Jangan berpindah - yakni meninggalkan tempat itu, sampai saya
datang padamu nanti." Beliau s.a.w. berangkat dalam malam yang kelam itu
sampai tertutup dari pandangan. Kemudian saya mendengar suara yang keras
sekali, lalu saya merasa takut barangkali ada seseorang yang hendak berbuat
jahat pada Nabi s.a.w. Saya ingin hendak mendatanginya, tetapi saya ingat akan
sabdanya: "Janganlah engkau meninggalkan tempat ini sampai saya datang
padamu." Oleh karena itu saya tidak meninggalkan tempat itu sehingga
beliau s.a.w. datang padaku. Kemudian saya berkata: "Saya telah mendengar
suatu suara yang saya merasa ketakutan padanya," lalu saya ingatkan bunyi
suara itu pada beliau. Selanjutnya beliau bersabda: "Adakah engkau
mendengarnya?" Saya menjawab: "Ya." Beliau lalu bersabda:
"Itu tadi adalah suara Jibril yang datang padaku, lalu ia berkata:
"Barangsiapa yang meninggal dunia dari ummatmu, yang tidak menyekutukan
sesuatu dengan Allah, maka ia akan masuk syurga." Saya bertanya:
"Sekalipun ia berzina dan sekalipun ia mencuri?" Beliau menjawab:
"Sekalipun ia berzina dan sekalipun ia mencuri." (Muttafaq 'alaih)
Hadis ini adalah lafaznya Imam Bukhari.
Dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah s.a.w., sabdanya:
"Andaikata saya memiliki emas sebanyak gunung Uhud, niscaya saya tidak
senang kalau berjalan sampai lebih dari tiga hari, sedangkan disisiku masih ada
emas itu sekalipun sedikit,kecuali kalau yang sedikit tadi saya sediakan untuk
memenuhi hutang - yang menjadi tanggunganku. (Muttafaq 'alaih)
Dari
Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Lihatlah kepada orang yang tarafnya ada di bawahmu semua
dan janganlah melihat orang yang tarafnya ada di atasmu semua - dalam hal
keduniaan. Sebab yang sedemikian itu lebih nyata bahwa engkau semua tidak akan
menghinakan kenikmatan yang dilimpahkan atasmu semua itu." (Muttafaq 'alaih)
Ini adalah lafaznya Imam Muslim.
263
Adapun dalam riwayat Bukhari ialah:
Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Jikalau
seseorang dari engkau semua melihat pada orang yang dilebihkan daripada dirinya
sendiri - oleh Allah - dalam hal keduniaan dan keindahan rupa, maka hendaklah
memperhatikan saja kepada orang yang keadaannya lebih bawah daripadanya."
Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Binasalah - yakni celakalah - orang yang menjadi hambanya dinar - emas -
dan dirham - perak, beludru sutera serta pakaian.
Jikalau ia
diberi itu relalah hatinya dan jikalau tidak diberi, maka tidaklah rela -
maksudnya ialah amat sangat tamaknya. (Riwayat Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a. pula katanya: "Saya benar-benar
telah melihat tujuh puluh orang dari ahlus-shuffah - orang-orang Islam yang
fakir-miskin, 48 tidak seorangpun dari mereka yang mengenakan selendang, ada
kalanya bersarung dan ada kalanya berbaju. Mereka mengikatkan pada lehernya
masing-masing. Di antaranya ada pakaiannya itu hanya sampai pada setengah dari
kedua betisnya dan di antaranya ada pula yang sampai di kedua mata kakinya,
lalu dikumpulkannyalah dengan tangannya karena tidak suka terlihat
auratnya." (Riwayat Bukhari)
Dari
Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Dunia ini
adalah penjara bagi orang mu'min - kalau dibandingkan dengan kenikmatan yang
disediakan di syurga - dan syurga bagi orang kafir - kalau dibandingkan dengan
pedihnya. siksa di neraka." (Riwayat Muslim)
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma.katanya: "Rasulullah
s.a.w. menepuk kedua belikatku, lalu bersabda:
"Jadilah
engkau di dunia ini seolah-olah engkau orang gharib -yakni orang yang sedang
berada di negeri orang dan tentu akan kembali ke negeri asalnya - atau sebagai
orang yang menyeberangi jalan - yakni amat sebentar sekali di dunia ini."
Ibnu Umar
berkata: "Jikalau engkau di waktu sore, maka janganlah menantikan waktu
pagi dan jikalau engkau di waktu pagi, maka janganlah menantikan waktu sore - untuk
beramal baik itu, ambillah kesempatan sewaktu engkau sihat untuk masa sakitmu,
sewaktu engkau masih hidup untuk masa matimu." (Riwayat Bukhari)
Para alim-ulama
mengatakan dalam syarahnya Hadis ini: "Arti-nya ialah: Janganlah engkau
terlampau cinta pada dunia, jangan pula dunia itu dianggap sebagai tanahair,
juga janganlah engkau mengucapkan dalam hatimu sendiri bahwa engkau akan lama
kekalmu di dunia itu. Selain itu janganlah pula amat besar perhatianmu padanya,
jangan tergantung padanya, sebagaimana orang yang bukan di negerinya tidak akan
menggantungkan diri pada negeri orang yakni yang bukan tanahairnya sendiri.
Juga janganlah bekerja di dunia itu, sebagaimana orang yang bukan di negerinya
tidak akan berbuat sesuatu di negeri orang tadi - yakni yang diperbuat
hendaklah yang baik-baik saja supaya meninggalkan nama harum di negeri orang,
karena pasti ingin kembali ke tempat keluarganya semula. Wa billahit taufiq.
Keterangan:
Seorang asing
atau seorang perantau itu, sekalipun berapa saja lamanya di negeri orang, ia
tetap tidak bertanahair di tempat yang didiami itu. Kalau orang itu bijaksana,
tentu kegiatan bekerjanya ditujukan untuk mencari bekal yang akan dibawa ke
tanahairnya
Di zaman Nabi s.a.w. mereka itu sama
berkumpul dan berdiam di serambi belakang masjid Madinah.
264
kembali,
sehingga hidupnya di negeri asalnya itu tidak mengalami kekecewaan dan tidak
mengalami kekurangan sesuatu apapun, sebab telah dipersiapkan seluruhnya.
Nabi Muhammad s.a.w.
menasihati kita manusia yang masih hidup di dunia sekarang ini, hendaknya
beranggapan sebagai orang asing atau perantau yang bijaksana tadi. Dengan
demikian tidak hanya sekadar untuk makan minum saja yang giat kita usahakan,
tetapi bekal untuk kembali ke kampung akhirat itulah yang wajib lebih
diutamakan. Bekal untuk bepergian yang jauh ke tanahair akhirat itu tidak ada
lain kecuali memperbanyak amalan yang shalih, menjalankan semua perintah Allah
dan menjauhi semua laranganNya.
Adapun maksud
ucapan Ibnu Umar anhuma itu ialah supaya segera-segeralah kita melakukan
amal-amal yang baik, jangan ditunda-tunda waktunya. Kalau waktu pagi, jangan
menunggu sampai sore hari dan kalau waktu sore jangan menunggu sampai pagi
hari, sebab kematian itu datangnya dapat sekonyong-konyong. Demikian pula di
saat badan sihat, jangan memperlambat-lambatkan untuk beramal shalih, sebab
sakit itu dapat mendatangi kita sewaktu-waktu. Juga selagi masih hidup ini
segeralah giat-giat berbuat kebajikan, sebab mati itupun dapat juga mendadak,
tanpa memberikan tanda-tanda apapun.
Kini yang perlu kita perhatikan ialah:
Dunia fana ini jangan sampai dianggap sebagai tempat kediaman
yang abadi, agar kita tidak lengah untuk mencari bekal guna kebahagiaan kita di
akhirat.
Ini tidak berarti bahwa untuk kebahagiaan kita di dunia harus
diabaikan, tetapi antara dua kepentingan itu wajib kita laksanakan bersamaan.
Masing-masing sama dikejar menurut waktunya sendiri-sendiri. Jadi di waktu
datang kewajiban ibadat jangan sekali-kali digunakan mengejar duit atau
sebaliknya.
Mencintai hartabenda duniawiyah jangan melampaui batas, hingga
menjadi kikir untuk melakukan kesosialan. Ingatlah bahwa semua yang kita cintai
itu pada suatu ketika pasti akan kita tinggalkan, sedangkan hartabenda itu
nantinya menjadi milik orang lain dan tidak mustahil akan dibuat bentrokan di
kalangan anak dan cucu. Perbanyaklah amal shalih sedapat mungkin dengan harta
yang kita miliki itu.
Dari Abu Abbas, yaitu Sahal bin Sa'ad as-Sa'idi r.a., katanya:
"Ada seorang lelaki datang kepada Nabi s.a.w., lalu berkata: "Ya
Rasulullah, tunjukkanlah padaku sesuatu amalan yang apabila amalan itu saya
lakukan, maka saya akan dicintai oleh Allah dan juga dicintai oleh seluruh
manusia." Beliau s.a.w. bersabda: "Berzuhudlah di dunia, tentu engkau
dicintai oleh Allah dan berzuhudlah dari apa yang dimiliki oleh para manusia,
tentu engkau akan dicintai oleh para manusia."
Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Ibnu
Majah dan lain-lainnya dengan isnad-isnad yang
baik.
Dari an-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma, katanya:
"Umar bin Alkhaththab r.a. menyebut-nyebutkan apa yang telah didapatkan
oleh orang banyak dari hal dunia, lalu katanya: "Sungguh saya melihat
Rasulullah s.a.w. mengkerut pada hari ini, beliau tidak mendapatkan kurma yang
bermutu rendahpun untuk mengisi perutnya." (Riwayat Muslim)
Addaqal
dengan fathahnya
dal muhmalah dan qaf, artinya ialah kurma yang bermutu rendah.
Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w.
wafat, sedang di rumahku tidak ada sesuatu apapun yang dapat dimakan oleh
seseorang yang berhati - maksudnya oleh manusia yang hidup, melainkan sedikit
gandum yang ada di rakku. Kemudian saya makan daripadanya sampai lama halku
sedemikian itu, kemudian saya takarlah itu lalu habislah." (Muttafaq 'alaih)
265
Ucapannya: Syathru sya'irin itu artinya sedikit
sekali dari gandum itu, demikianlah yang ditafsirkan oleh Imam Termidzi.
Dari 'Amr bin al-Harits, yaitu saudaranya Juwairiyah binti
al-Harits Ummul mu'minin radhiallahu'anhuma-jadi isterinya Nabi s.a.w.,
katanya: "Rasulullah s.a.w. tidak meninggalkan dirham, tidak pula dinar,
hambasahaya lelaki ataupun perempuan, atau apapun juga ketika wafatnya,
melainkan hanyalah keledai putihnya yang dahulu dinaikinya, juga senjatanya,
serta sebidang tanah yang dijadikan sebagai sedekah kepada ibnussabil - orang
yang dalam perjalanan." (Riwayat Bukhari)
Dari Khabab bin al-Aratti r.a., katanya: "Kita semua
berhijrah bersama Rasulullah s.a.w. untuk mencari keridhaan Allah Ta'ala, maka
jatuhlah pahala kita itu atas Allah Ta'ala. Lalu di antara kita ada yang mati
dan tidak pernah memperoleh sesuatupun dari pahalanya itu - tetaptah - yakni
tidak pernah sampai memperoleh harta rampasan. Di antara mereka itu ialah
Mus'ab bin Umair r.a. yang dibunuh pada hari perang Uhud dan meninggalkan
selembar baju lurik - seperti singa. Apabila bajunya itu kita tutupkan pada
kepalanya, maka tampaklah kedua kakinya, dan apabila kita tutupkan pada kedua
kakinya, maka tampak kepalanya. Kemudian Rasulullah s.a.w. menyuruh kita,
supaya kita tutupkan saja pada kepalanya, sedang di kedua kakinya kita letakkan
saja sedikit tumbuh-tumbuhan idzkhir -
semacam tumbuh-tumbuhan harum baunya. Di antara kita lagi ada yang sudah masak
buahnya, maka dapatlah ia memetik hasilnya itu - maksudnya dapat menjadi baik
nasibnya karena kaum Muslimin mendapatkan kejayaan di mana-mana (Muttafaq
'alaih)
Annamirah ialah pakaian
yang berwarna, terbuat dari bulu, Aina'at
artinya sudah matang dan masak. Yahdibuha dengan fathahnya ya' dan
dhammahnya dal atau boleh juga dal itu dikasrahkan -jadi ada dua lughat untuk
ini, artinya memetik dan menuainya. Ini adalah kata pinjaman bahwa Allah
mengaruniakan kaum Muslimin itu dapat memperoleh kelapangan dari hal keduniaan
dan menetaplah kenikmatan mereka itu di dunia.
475. Dari Sahal bin Sa'ad as-Sa'idi
r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Andaikata dunia ini di sisi Allah dianggap menyamai -
nilainya - dengan selembar sayap nyamuk, niscayalah Allah tidak akan memberi
minum seteguk airpun kepada orang kafir daripadanya."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis shahih.
Maksudnya: Andaikata dunia ini bagi Allah dianggap masih ada
nilainya sekalipun amat rendah, tentu orang kafir tidak akan diberi kenikmatan
yang sekecil-kecilnya pun di dunia ini. Tetapi oleh sebab dianggap oleh Allah
tidak berharga sama sekali, maka banyak saja orang kafir yang berlebih-lebihan
rezekinya.
476. Dari Abu Hurairah r.a., katanya:
"Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Ingatlah, sesungguhnya dunia itu dilaknat, dilaknat pula
segala sesuatu yang ada di dalamnya, melainkan berzikir kepada Allah dan
apa-apa yang menyamainya, juga orang yang alim serta orang yang menuntut
ilmu."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
Keterangan:
Mal-'uunah, artinya
dilaknati, yakni dibenci dan rendah nilainya di sisi Allah. Jadi seluruh dunia dan seisinya ini menurut Hadis di
atas adalah terlaknat, selain berzikir dan yang menjurus ke arah mengingat
kepada Allah, misalnya ketaatan yang dapat menyampaikan diri kepada
keridhaanNya. Tetapi kita jangan sekali-kali salah faham, yaitu dengan adanya
keterangan dilaknat itu lalu kita mencaci-maki hal-hal keduniawiyahan dan
membencinya secara mutlak. Tetapi hendaknya kita ingat pula bahwa yang
dimaksudkan itu adalah yang menyebabkan menjauhkan diri
266
dari
ketaatan kepada Allah Ta'ala ataupun yang melalaikan kita, sehingga lupa kepada
hal-hal keakhiratan. Ayat-ayat dan Hadis-hadis yang menjelaskan persoalan untuk
giat mencari kebahagiaan di dunia itu banyak sekali.
Demikian pula Hadis yang di bawahnya, agar kita jangan
terpengaruh dengan banyaknya tanah yang kita miliki. Inipun sejiwa dengan yang
di atas, yakni memiliki banyak boleh saja, asalkan jangan sampai mencintainya
melebihi dari soal-soal keakhiratan, sampai-sampai lupa kepada ajaran agama
karena terpesona dengan banyaknya hartabenda.
477. Dari Abdullah bin Mas'ud r.a.,
katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Janganlah engkau semua terlampau cinta dalam mencari
sesuatu untuk kehidupan, sebab dengan terlampau mencintainya itu, maka engkau
semua akan mencintai pula keduniaan."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma,
katanya: "Rasulullah s.a.w. berjalan melalui kita dan kita saat itu sedang
mengerjakan perbaikan rumah, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Apa ini?"
Kita menjawab: "Rumah ini telah lemah - rusak, maka itu kita
memperbaikinya." Beliau s.a.w. bersabda: "Saya tidak mengerti akan
perkara ajal, melainkan akan lebih cepat datangnya dari selesainya perbaikan
ini."
Diriwayatkan
oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dengan isnadnya Imam-imam Bukhari dan
Muslim dan Imam Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Dari Ka'ab bin 'lyadh r.a., katanya: "Saya mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya setiap ummat itu ada fitnahnya
dan fitnah ummatku ialah harta." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Dari Abu 'Amr, ada yang mengatakan Abu Abdillah, ada pula yang
mengatakan Abu Laila yaitu Usman bin Affan r.a. bahwasanya Nabi s.a.w.
bersabda:
"Tidak ada hak apapun bagi anak Adam - yakni manusia -
selain dari perkara-perkara ini, yaitu rumah yang menjadi tempat kediamannya,
pakaian yang digunakan untuk menutupi auratnya dan roti tawar - tanpa lauk -
beserta air."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Imam Termidzi berkata: "Saya mendengar Abu Dawud yaitu
Sulaiman bin Aslam al-Balkhi berkata: "Saya mendengar an-Nadhr bin
Syumail, katanya: Aljilfu itu ialah
roti tanpa lauk." Lainnya lagi berkata: "Yaitu roti yang kasar,"
sedang Alharawi berkata: "Yang dimaksudkan di sini ialah wadah roti
seperti juwatik dan khurj." Wallahu a'lam.
Dari Abdullah bin as-Sikhkhir - dengan kasrahnya sin dan kha'
yang disyaddahkan serta mu'jamah keduanya r.a., bahwasanya ia berkata:
"Saya datang kepada Nabi s.a.w. dan beliau sedang membaca ayat - yang
artinya: "Engkau semua dilalaikan oleh perlombaan memperbanyak
kekayaan." Lalu beliau bersabda: "Anak Adam itu berkata:
"Hartaku, hartaku! Padahal harta yang benar-benar menjadi milikmu itu, hai
anak Adam, ialah apa-apa yang engkau makan lalu engkau habiskan, apa-apa yang
engkau pakai, lalu engkau rusakkan atau apa-apa yang engkau sedekahkan lalu
engkau lampaukan - dengan tetap adanya pahala." (Riwayat Muslim)
Dari Abdullah bin Mughaffal r.a., katanya: "Ada seorang
lelaki berkata kepada Nabi s.a.w.: "Ya Rasulullah, demi Allah,
sesungguhnya saya ini niscaya cinta kepada Tuan." Beliau lalu bersabda:
"Lihatlah baik-baik apa yang engkau ucapkan itu."Orang itu berkata
lagi: "Demi Allah, sesungguhnya saya ini niscayalah cinta kepada
Tuan." Dia berkata demikian sampai tiga kali. Kemudian beliau s.a.w.
267
bersabda:
"Jikalau engkau mencintai saya, maka sediakanlah sebuah baju tijfaf untuk menempuh kefakiran, sebab
sesungguhnya kefakiran itu lebih cepat mengenai orang yang mencintai saya
daripada cepatnya air banjir sampai di tempat penghabisannya."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
Attijfaf dengan kasrahnya
ta' mutsannat dan sukunnya jim dan dengan fa' yang dirangkapkan yaitu sesuatu yang dikenakan pada kuda
untuk menjaga dirinya dari bahaya - senjata dan lain-lain, dan kadang-kadang
pakaian sedemikian itu juga dikenakan oleh manusia.
Keterangan:
Mungkin kita akan merasakan suatu keanehan pada sabda
Rasulullah s.a.w. kepada orang yang menyatakan cintanya kepada beliau, lalu
beliau bersabda supaya orang itu bersiap-siap mengenakan baju kefakiran.
Mengapa demikian dan apakah ada di balik sabda beliau itu yang sebenarnya?
Kita wajib ingat bahwa orang yang menyatakan dirinya kepada
Nabi s.a.w., baik orang di zaman sahabat dahulu ataupun di zaman kita ini,
berarti ia merasa ikut bertanggungjawab menyebarluaskan agama yang benar yakni
Islam yang dibawa olehnya, bersedia berkorban, sanggup menderita dalam
menghadapi siapapun yang hendak menghalang-halangi perkembangan agama itu.
Untuk berkorban itu, bukan hanya berupa omongan yang keluar dari bibir yang tak
bertulang, tetapi wajib disertai dengan perbuatan, dengan menginfakkan dan
membelanjakan harta, menyumbangkan tenaga dan fikiran dan bilamana diperlukan
berjihadpun suka mengikutinya. Jadi bukan sebaliknya, misalnya mengakukan
dirinya mencintai Nabi s.a.w., namun perbuatannya jauh bertentangan dengan
ajaran yang dibawa oleh Islam.
Karena itu, jikalau benar-benar mencintai Nabi, pengabdian dan
pengorbanan wajib ada. Orang yang bersikap demikian itulah yang dimaksudkan
oleh beliau s.a.w. supaya menyiapkan diri untuk mengenakan baju tijfaf liifaqri sebagaimana yang
tercantum dalam Hadis di atas. Wallahu a'lam.
483. Dari Ka'ab bin Malik r.a.,
katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tidaklah dua ekor serigala yang lapar yang dikirimkan ke
tempat kambing itu lebih berbahaya padanya daripada tamaknya seseorang itu pada
harta dan kemegahan dalam membahayakan agamanya,"
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Dari Abdullah bin Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w.
tidur di atas selembar tikar, lalu bangun sedang di lambungnya tampak bekas
tikar itu. Kami berkata: "Ya Rasulullah, alangkah baiknya kalau kita
ambilkan saja sebuah kasur untuk Tuan." Beliau bersabda: "Apakah
untukku ini dan apa pula untuk dunia -maksudnya: bagaimana saya akan senang
pada dunia ini. Saya di dunia ini tidaklah lain kecuali seperti seorang yang
mengendarai kenderaan yang bernaung di bawah pohon, kemudian tentu akan pergi
dan meninggalkan pohon itu."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
485. Dari Abu Hurairah r.a., katanya:
"Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Orang-orang fakir itu akan masuk syurga sebelum
orang-orang kaya dengan selisih waktu lima ratus tahun."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
486. Dari Ibnu Abbas dan Imran bin
Hushain radhiallahu 'anhum dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Saya telah menjenguk dalam syurga, maka saya melihat
bahwa sebagian banyak penghuninya adatah kaum fakir dan saya juga telah
menjenguk dalam neraka, maka saya melihat bahwa sebagian banyak penghuninya
adalah para wanita."
268
Muttafaq 'alaih
dari riwayat Ibnu Abbas. Imam Bukhari meriwayatkan pula dari riwayatnya Imran
bin Hushain.
487. Dari Usamah bin Zaid, radhiallahu
'anhuma dari Nabi s.a.w. sabdanya:
"Saya
berdiri di pintu syurga, maka sebagian besar orang yang memasukinya itu ialah
orang-orang miskin, sedang orang-orang yang kaya - berharta - semua ditahan
dulu, hanya saja orang-orang yang menjadi ahli neraka telah diperintah untuk
dimasukkan dalam neraka seluruhnya." (Muttafaq 'alaih)
Aljaddu
ialah bagian
harta dan kekayaan, Hadis ini telah lalu keterangannya dalam bab:
Keutamaan kaum lemah.
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Setepat-tepatnya kalimat yang diucapkan oleh seseorang syair ialah ucapan
Labid - yang artinya: "Ingatlah, semua benda yang selain Allah adalah
batil - atau rusak dan tidak kekal." (Muttafaq 'alaih)
Lanjutan dari sya'ir di atas ialah:
"Dan setiap kenikmatan itu pasti
akan hilang yakni tidak kekal."
Jadi yang
disabdakan oleh Nabi s.a.w. hanyalah separuh bait yang pertama, sedang yang
lanjutannya tidak. Sebabnya ialah karena ada sesuatu kenikmatan yang tetap
kekal, yaitu kenikmatan yang akan diperoleh ahli syurga, apabila mereka telah
berada di dalamnya. Kenikmatan di situ kekal abadi dan tidak akan lenyap sampai
kapanpun juga.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan