Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab
23
Memerintah Dengan Kebaikan Dan Melarang
Dari
Kemungkaran
Allah Ta'ala berfirman:
"Hendaklah
ada di antara engkau semua itu suatu ummat -golongan - yang mengajak kepada
kebaikan, memerintah dengan kebagusan serta melarang dari kemungkaran. Mereka
itulah orang-orang yang berbahagia." (ali-lmran: 104)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Adalah engkau sekalian itu sebaik-baik ummat yang
dikeluarkan untuk seluruh manusia, karena engkau semua memerintah dengan
kebaikan dan melarang dari kemungkaran." (ali-lmran: 110)
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Berikanlah
pengampunan, perintahtah dengan kebaikan dan janganlah menghiraukan pada
orang-orang yang bodoh." (al-A'raf: 199)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Orang-orang
mu'min lelaki dan orang-orang mu'min perempuan itu, setengahnya adalah kekasih
setengabnya, karena mereka memerintah dengan kebaikan dan melarang dari
kemungkaran." (at-Taubah: 71)
Allah Ta'ala berfirman:
"Orang
-orang kafir dari kaum Bani Israil itu terkena laknat dari lidah Nabi Dawud dan
Isa anak Maryam. Hal itu disebabkan karena mereka durhaka dan melanggar aturan.
Mereka tidak saling larang-melarang kemungkaran yang mereka kerjakan,
sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka lakukan itu." (al-Maidah:
78-79)
Lagi Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
katakanlah: Kebenaran itu datangnya ,dari Tuhanmu semua. Maka barangsiapa yang
suka, maka
baiklah ia beriman dan barangsiapa yang suka maka baiklah ia menjadi
kafir." (al-Kahf:
29)
Juga Allah Ta'ala berfirman:
"Maka
laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu." (al-Hijr: 94)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Kami
menyelamatkan orang -orang yang melarang dari keburukan dan Kami meneterapkan
hukuman kepada orang-orang yang menganiaya dengan siksaan yang pedih dengan
sebab mereka berbuat kefasikan." (al-A'raf: 165)
Ayat-ayat dalam bab ini amat banyak
sekali serta dapat dimaklumi.
Adapun Hadis-hadisnya ialah:
Pertama: Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Saya
mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa
di antara engkau semua melihat sesuatu kemunkaran, maka hendaklah mengubahnya
itu dengan tangannya, jikalau tidak dapat - dengan atau kekuasaannya, maka
144
dengan
lisannya -dengan jalan menasihati orang yang melakukan kemungkaran tadi -dan
jikalau tidak dapat juga - dengan lisannya, maka dengan hatinya - maksudnya
hatinya mengingkari serta tidak menyetujui perbuatan itu. Yang sedemikian itu -
yakni dengan hati saja - adalah selemah-lemahnya keimanan." (Riwayat
Muslim)
Keterangan:
Kemunkaran itu jangan didiamkan saja merajalela. Bila kuasa
harus diperingatkan dengan perbuatan agar terhenti kemungkaran tadi seketika
itu juga. Bila tidak sanggup, maka dengan Iisan (dengan nasihat peringatan atau
perkataan yang sopan-santun),sekalipun ini agak lambat berubahnya. Tetapi kalau
masih juga tidak sanggup, maka cukuplah bahwa hati kita tidak ikut-ikut
menyetujui adanya kemungkaran itu. Hanya saja yang terakhir ini adalah suatu
tanda bahwa iman kita sangat lemah sekali. Karena dengan hati itu hanya
bermanfaat untuk diri kita sendiri, sedang dengan perbuatan atau nasihat itu
dapat bermanfaat untuk kita dan masyarakat umum, hingga kemungkaran itu tidak
terus menjadi-jadi.
186. Kedua: Dari Ibnu Mas'ud r.a.
bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tiada seorang nabipun yang diutus oleh Allah sebelumku
-Muhammad s.a.w., melainkan ia mempunyai beberapa orang hawari - penolong atau
pengikut setia - dari kalangan ummatnya, juga beberapa sahabat,yang mengambil
teladan dengan sunnahnya serta mentaati perintahnya. Selanjutnya sesudah mereka
ini akan menggantilah beberapa orang pengganti yang suka mengatakan apa yang
tidak mereka lakukan, bahkan juga melakukan apa yang mereka tidak
diperintahkan.
Maka barangsiapa yang berjuang melawan mereka itu - yakni para
penyeleweng dari ajaran-ajaran nabi yang sebenarnya ini -dengan tangan - atau
kekuasaannya, maka ia adalah seorang mu'min, barangsiapa yang berjuang melawan
mereka dengan lisannya, iapun seorang mu'min dan barangsiapa yang berjuang
melawan mereka dengan hatinya, juga seorang mu'min, tetapi jikalau semua itu
tidak - dengan tangan, Iisan dan hati, maka tiada keimanan samasekali sekalipun
hanya sebiji sawi." (Riwayat Muslim)
Ketiga: Dari Abulwalid, yaitu 'Ubadah bin as-Shamit r.a.,
katanya: "Rasulullah s.a.w. membai'at kepada kita semua untuk tetap
mendengar - patuh - serta taat, baik dalam keadaan sukar ataupun mudah, juga
dalam keadaan lapang dan payah - tertekan, juga agar kita semua lebih
mengutamakan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Selain itu pula supaya
kita semua tidak mencabut sesuatu perkara -jabatan -dari orang yang
memegangnya, kecuali jikalau engkau semua melihat orang itu masuk dalam
kekafiran yang nyata, yang bagimu ada bukti dari Allah dalam perkara
kekafirannya tadi. Dibai'at pula agar kita semua berkata dengan hak - kebenaran
- di mana saja kita berada, tidak perlu takut untuk mengatakan hak itu akan
celaan dari orang yang suka mencela." (Muttafaq 'alaih)
Keempat:
Dari Annu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w.
bersabda:
"Perumpamaan
orang yang berdiri tegak - untuk menentang orang-orang yang melanggar - pada
had-had Allah - yakni apa-apa yang dilarang olehNya - dan orang yang
menjerumuskan diri di dalam had-had Allah - yakni senantiasa melanggar
larangan-laranganNya - adalah sebagai perumpamaan sesuatu kaum yang berserikat
- yakni bersama-sama - ada dalam sebuah kapal, maka yang sebagian dari mereka
itu ada di bagian atas kapal,
145
sedang
sebagian lainnya ada di bagian bawah kapal. Orang-orang yang berada di bagian
bawah kapal itu apabila hendak mengambil air, tentu saja melalui orang-orang
yang ada di atasnya - maksudnya naik keatas dan oleh sebab hal itu dianggap
sukar, maka mereka berkata: "Bagaimanakah andaikata kita membuat lobang
saja di bagian bawah kita ini, suatu lobang itu tentunya tidak mengganggu orang
yang ada di atas kita." Maka jika sekiranya orang yang bagian atas itu
membiarkan saja orang yang bagian bawah menurut kehendaknya, tentulah seluruh
isi kapal akan binasa. Tetapi jikalau orang bagian atas itu mengambil tangan
orang yang bagian bawah - melarang mereka dengan kekerasan - tentulah mereka
selamat dan selamat pulalah seluruh penumpang kapal itu." (Riwayat
Bukhari)
Kelima: Dari Ummui mu'minin yaitu Ummu Salamah yakni Hindun
binti Abu Umayyah yakni Hudzaifah radhiallahu 'anha, dari Nabi s.a.w.,
bahwasanya beliau s.a.w. bersabda:
"Bahwasanya
saja nanti itu akan digunakanlah beberapa pemimpin negara - amir-amir, maka
engkau semua akan menyetujui mereka, karena kelakuan mereka itu sebagian ada
yang sesuai dengan syariat agama, tetapi engkau semuapun akan mengingkari
mereka-sebab ada pula kelakuan-kelakuan mereka yang melanggar syariat agama.
Maka barangsiapa yang benci - dengan hatinya, ia terlepaslah
dari dosa, juga barangsiapa yang mengingkari, iapun selamat - dari siksa
akhirat. Tetapi barangsiapa yang ridha serta mengikuti -pemimpin-pemimpin di
atas, itulah yang bermaksiat."
Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, apakah tidak perlu
kita memerangi mereka itu?" Beliau s.a.w. bersabda: "Jangan, selama
mereka masih mendirikan shalat bersamamu semua." (Riwayat Muslim)
Maknanya ialah bahwa barangsiapa yang membenci kepada
pemimpin-pemimpin yang suka melanggar syariat agama itu dengan hatinya, karena
tidak kuasa mengingkari mereka dengan tangan atau lisannya, maka ia telah
terlepas dari dosa dan ia telah pula menunaikan tugasnya. Juga barangsiapa yang
mengingkari dengan sekedar kekuatannya, iapun selamat dari kemaksiatan ini.
Tetapi barangsiapa yang ridha dengan kelakuan-kelakuan mereka serta mengikuti
jejak mereka, maka itulah orang yang bermaksiat.
Keenam: Dari Ummul mu'minin yakni Ummulhakam, yaitu Zainab
binti Jahsy radhiallahu 'anha, bahwasanya Rasulullah s.a.w. masuk dalam
rumahnya dengan rasa ketakutan. Beliau s.a.w. mengucapkan:
"La ilaha illallah, celaka bagi bangsa Arab, karena adanya
keburukan yang telah dekat. Hari itu telah terbuka tabir Ya'juj dan Ma'juj 15, seperti ini," dan beliau s.a.w. mengolongkan kedua
jarinya sebagai bulatan, yakni ibu jari dan jari sebelahnya - jari telunjuk.
Saya - Zainab
lalu
berkata: "Ya Rasulullah, apakah kita akan binasa, sedangkan di kalangan
kita masih ada orang-orang yang shalih?" Beliau s.a.w. bersabda: "Ya
jikalau keburukan itu telah banyak." (Muttafaq 'alaih)
Keterangan:
Ya'juj dan Ma'juj adalah dua bangsa
yang dahulu banyak membuai kerusakan di atas bumi, lalu batas daerah kediaman
mereka ilu ditutup dengan cor-coran besi bercampur tembaga, sehingga mereka
tidak dapat keluar dari situ,sebab tembok besi bercampur tembaga tadi amat
tebal dan licinnya, pula sangat linggi. Nanti apabila sudah dekat sekali
tibanya hari kiamat kedua bangsa itu akan dapat keluar, sebab temboknya
pecah-pecah dan hancur. Keluarnya kedua bangsa itu merupakan alamat besar bahwa
hari kiamat sudah dekat sekali tibanya.
146
Hadis ini
menunjukkan bahwa manakala di dalam suatu tempat atau negeri sudah terlampau
banyak keburukan, kemungkaran, kefasikan dan kecurangan, maka kebinasaan dan
kerusakan akan merata di daerah itu dan tidak hanya mengenai orang jahat-jahat
saja, tetapi orang-orang shalih tidak akan dapat menghindarkan diri dari azab
Allah itu, sekalipun jumlah mereka itu cukup banyak.
Oleh sebab itu
segala macam kemaksiatan dan kemungkaran hendaklah segera dibasmi dan segala
keburukan segera dimusnahkan, agar jangan sampai terjadi malapetaka sebagaimana
yang diuraikan di atas.
Ketujuh: Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w.
sabdanya: "Hindarilah olehmu semua duduk-duduk di jalan-jalanan."
Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, kita tidak dapat meninggalkan
duduk-duduk kita, sebab kita semua bercakap-cakap di situ." Rasulullah
s.a.w. lalu bersabda; "Jikalau engkau semua enggan, melainkan tetap ingin
duduk-duduk di situ, maka berikanlah jalan itu haknya." Mereka bertanya:
"Apakah haknya jalan itu,ya Rasulullah?" Beliau s.a.w. bersabda:
"Yaitu memejamkan mata, menahan diri membuat sesuatu yang berbahaya,
menjawab salam, memerintah dengan kebaikan dan melarang dari kemungkaran."
(Muttafaq 'alaih)
Kedelapan: Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahwa-sanya
Rasulullah s.a.w. melihat seutas cincin pada jari seseorang, kemudian beliau
melepaskannya lalu meletakkannya dan bersabda: "Seseorang dari engkau
semua sengaja menuju kepada bara api dari neraka, maka ia menjadikannya dalam
tangannya."
Kemudian setelah
Rasulullah s.a.w. pergi, kepada orang yang memiliki cincin itu dikatakan:
"Ambillah cincinmu. Manfaatkanlah ia - untuk keperluan lain." Orang
itu menjawab: "Tidak, demi Allah, saya tidak akan mengambil cincin ini
selama-lamanya. Bukankah ia telah diletakkan oleh Rasulullah s.a.w."
(Riwayat Muslim)
Kesembilan: Dari Abu Said al-Hasan al-Bishri bahwasanya 'Aidz
bin 'Amr r.a-masuk ke tempat 'Ubaidullah bin Ziad lalu berkata: "Hai
anakku, saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya
seburuk-buruk penggembala ialah orang yang tidak belas kasihan - pada
gembalanya," maka janganlah engkau termasuk golongan penggembala yang
semacam itu." 'Ubaidullah bin Ziad lalu berkata: "Duduklah, karena
hanyasanya engkau itu adalah termasuk antah dari golongan sahabat-sahabat
Rasulullah s.a.w. - maksudnya bukan termasuk sahabat pilihan atau yang utama,
'Aidz bin 'Amr menjawab: "Apakah di kalangan sahabat-sahabat ada yang
termasuk golongan antah? Yang termasuk antah ialah orang-orang yang datang
sesudah sahabat-sahabat beliau s.a.w. itu atau yang memang bukan sahabat."
(Riwayat Muslim)
Keterangan:
Huthamah, artinya manusia yang bersikap keras kepala gembalanya, baik
cara menggiringnya ke ladang yakni
tempat penggembalaan, dalam cara memberikan makanan dan minuman dan lain-lain
lagi,sehingga yang digembalakan itu terdesak-desak antara yang satu dengan yang
lain. Juga sering kali ia memukulnya sehingga menyakitkan sekali.
Hadis di atas
bukan hanya khusus untuk penggembala ternak saja, tetapi juga penggembala
rakyat, yakni para penguasa yang memimpin negara, para majikan terhadap kaum
buruhnya, komandan terhadap pasukannya, guru terhadap muridnya dan lain-lain
sebagainya.
147
Semua itu
diperintahkan oleh agama Islam agar bersikap sebagai kedua orang tua yang amat
kasih sayang kepada anaknya.
Kesepuluh: Dari Hudzaifah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya:
"Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, niscayalah
engkau semua memerintahkan dengan kebaikan dan melarang dari kemungkaran atau
kalau tidak, maka hampir-hampir saja Allah akan menurunkan siksa kepadamu
semua, kemudian engkau semua berdoa kepadaNya, tetapi tidak akan dikabulkan
untukmu semua doa itu."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
195. Kesebelas: Dari Abu Said al-Khudri
r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya:
"Seutama-utamanya
jihad ialah mengucapkan kalimat menuntut keadilan di hadapan seorang sultan -
pemegang kekuasaan negara yang menyeleweng."
Diriwayatkan
oleh Imam Abu Dawud dan Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis
hasan.
Keterangan:
Sebabnya berkata
adil dan hak (benar) kepada sultan (penguasa negara) yang curang itu dianggap
jihad atau perjuangan yang paling utama, karena memang jarang sekali yang
berani melaksanakan, sebab takut balas dendamnya.
Yang dimaksudkan
kalimat adil dan hak itu seperti menasihati jikalau sultan atau penguasa itu
bertindak sewenang-wenang, menyeleweng dari tuntunan yang benar atau ia sendiri
berbuat kemaksiatan dan kemungkaran.
Juga termasuk di
dalamnya apabila orang bawahan sultan atau penguasa tadi memberikan laporan,
artinya apa yang dilaporkan itu wajiblah menurut kenyataan. Rakyat miskin
jangan dilaporkan makmur, ummat mengeluh jangan dilaporkan gembira, hasil
tanaman rusak jangan dilaporkan memuaskan dan sebagainya.
Jikalau semua
itu dilaksanakan baik-baik, maka berartilah bahwa orang yang suka melakukannya
tersebut telah menunaikan jihad atau perjuangan yang seutama-utamanya.
Keduabelas: Dari Abu Abdillah, yaitu Thariq bin Syihab
al-Bajali al-Ahmasi r.a. bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi
s.a.w. dan ia telah meletakkan kakinya pada sanggur di - tempat berpijak pada kendaraan
unta atau lain-lain yang terbuat dari kulit atau kayu, katanya: "Manakah
jihad itu yang lebih utama?" Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu
mengucapkan kata-kata yang hak di hadapan sultan yang menyeleweng."
Diriwayatkan oleh Nasa'i dengan isnad shahih.
Ketigabelas:
Dari Ibnu Mas'ud r.a. katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya
pertama kali cela yang mengenai kaum Bani Isratl ialah bahwasanya ada seorang
lelaki yang bertemu dengari lelaki lainnya, kemudian orang tadi berkata kepada
kawannya: "Bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkanlah apa yang engkau
kerjakan, sebab hal itu tidak halal untukmu." Kemudian orang itu menemui
kawannya pada esok harinya, sedang kawannya itu masih mengerjakan sebagaimana
keadaannya kemarin, tetapi perbuatannya yang sedemikian itu tidak menyebabkan
ia enggan untuk tetap menjadi kawannya makan, minum dan duduk bersama. Ketika
kaum Bani Israil sudah sama melakukan yang seperti tadi, Allah lalu memukulkan
- membencikan - hati setengah mereka
148
kepada
setengahnya, kemudian beliau mengucapkan ayat - yang artinya: "Orang-orang
kafir dari kaum Bani Israil itu dilaknat atas lisannya Dawud dan Isa anak
Maryam. Yang sedemikian itu disebabkan mereka durhaka dan melanggar peraturan
(78). Mereka tidak saling larang-melarang pada kemungkaran yang mereka
kerjakan, alangkah buruknya apa yang mereka lakukan itu (79). Engkau melihat
kebanyakan mereka itu mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin,
sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kirimkan lebih dulu untuk diri
mereka 16, sehingga
firmanNya: "Kebanyakan mereka adalah
orang-orang fasik." (al-Maidah:
78-81)
Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda:
"Jangan
demikian, demi Allah, niscayalah engkau semua itu wajib memerintahkan kebaikan,
melarang dari kemungkaran, mengambil tangan orang yang zalim - yakni
menghentikan kezalimannya - serta mengembalikannya atas kebenaran yang
sesungguhnya, juga membasmi tindakannya kepada yang hak saja dengan pembatasan
yang sesungguh-sungguhnya. Atau jikalau semua itu tidak dilakukan, maka
niscayalah Allah akan memukulkan - membencikan - hati setengahmu terhadap
setengahnya kemudian melaknati - mengutuk - engkau semua sebagaimana Dia
mengutuk mereka - Bani Israil."
Diriwayatkan
oleh Abu Dawud dan Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan. Ini
adalah menurut lafaznya Imam 'Abu Dawud.
Adapun lafaznya Imam Termidzi ialah:
Rasulullah
s.a.w. bersabda: "Ketika kaum Bani Israil sudah terjerumus dalam berbagai
kemaksiatan, lalu alim ulama mereka itupun melarang mereka, tetapi mereka tidak
menghentikan perbuatan mereka itu. Kemudian alim ulama tadi mengawani mereka
dalam duduk, makan dan minumnya - sebagai menyetujui kemungkaran yang dilakukan
itu.
Karena itu Allah
lalu memukulkan - membencikan - hati setengah mereka terhadap setengahnya serta
melaknat mereka atas lidahnya Nabi Dawud dan Isa anak Maryam. Yang sedemikian
itu adalah karena mereka telah melanggar aturan."
Kemudian
Rasulullah s.a.w. duduk dan sebelum itu beliau s.a.w. bersandar, lalu meneruskan
sabdanya: "Jangan demikian. Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman
kekuasaanNya. Laknat itu pasti datang, sehingga engkau semua mengembalikan
orang-orang yang berbuat kemungkaran itu kepada kebenaran yang
sesungguh-sungguhnya."
Keempatbelas: Dari Abu Bakar as-Shiddiq r.a. katanya: "Hai
sekalian manusia, sesungguhnya engkau semua tentu membaca ayat ini - yang
artinya: "Hai sekalian orang-orang
yang beriman, jagalah dirimu sendiri,
tidaklah akan membikin bahaya kepadamu semua orang yang sesat itu, jikalau
engkau telah memperoleh petunjuk." (al-Maidah: 105), tetapi
sesungguhnya saya juga mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda:
Sampai kata-kata "diri
mereka" itu belum selesai ayat 80 dari surah al-Maidah. Lanjutan ialah:
Allah memurkai mereka dan mereka pasti kekal dalam siksaan (80). Jikalau mereka
beriman kepada Allah, kepada Nabi dan apa-apa yang diwahyukan padanya, lentulah
mereka tidak mengambil orang-orang kafir itu menjadi pemimpin. Tetapi
kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik (kurang sempurna akalnya)"
(81).
149
"Sesungguhnya
para manusia itu apabila melihat orang yang zalim, lalu tidak mengambil atas
kedua tangannya — tidak menghentikan perbuatannya 17, maka hampir saja Allah akan meratakan terhadap seluruh
manusia tadi dengan menurunkan siksaNya."
Diriwayatkan
oleh Imam-Imam Abu Dawud, Termidzi dan Nasa'i dengan isnad-isnad yang shahih.
Yakni mencegahnya dari penganiayaan
yang dilakukan baik dengan tangan atau kekuasaan, dengan lisan atau nasihat
atau pun dengan mengingkari dalam hati, maka dengan cepat atau lambat, Allah
akan menurunkan siksanya. Siksa itu akan dijatuhkan kepada orang yang zalim,
sebab kezalimannya, juga kepada orang-orang lain yang tidak ikut melakukan
kezaliman, sebab mereka berdiam saja, padahal dapat mencegah atau kuasa
menghentikan perilaku si zalim tadi, tetapi berhubung pertimbangan ini atau
itu, ia enggan melarangnya, misalnya karena takut hilang kedudukannya dan
lain-lain.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan