Riyadhus Shalihin – Taman
Orang-orang Shalih
Bab
17
Kewajiban
Mengikuti Hukum Allah Dan Apa-apa YangDiucapkan Oleh Orang Yang Diajak KeArah
Itu Dan Yang Diperintah Berbuat Kebaikan Atau Dilarang Berbuat Keburukan
Allah Ta'ala berfirman:
"Tetapi tidak, demi Tuhanmu. Mereka belum sebenarnya
beriman sebelum mereka meminta keputusan kepadamu perkara-perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian mereka tidak menaruh
keberatan dalam hatinya terhadap putusan yang engkau berikan itu dan mereka
menyerah dengan penyerahan yang bulat-bulat." (an-Nisa': 65)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Hanyasanya ucapan kaum mu'minin, apabila mereka diseru
kepada jalan Allah dan RasulNya untuk memberikan hukum di antara mereka itu
iaiah mereka itu mengucapkan: "Kita semua mendengarkan dan mentaati."
Mereka itu adalah orang-orang yang berbahagia." (an-Nur: 51)
Keterangan:
Setiap orang
sudah pasti mengerti bahwa Islam adalah suatu agama yang sudah cukup lengkap
hukum-hukumnya serta peraturan-peraturannya. Dalam segala macam persoalan Islam
sudah menyediakan hukum yang wajib diterapkan untuknya itu, mulai dari hal yang
sekecil-kecilnya seperti berkawan, adab pergaulan,berumah tanggadan lain-lain,
juga sampai yang sebesarnya, misalnya menegakkan tertib hukum, mengatur
keamanan dalam negara dan sebagainya. Dalam hal perselisihan antara orang
seorang, antara golongan satu dengan lainnya, bahkan antara bangsa dengan lain
bangsapun tercantum pula hukumnya.
Jadi kita
sebagar penganut agama Islam berkewajiban mengamalkan hukum-hukum itu tanpa
membantah samasekali, jika memang benar-benar nyata hukum itu dari Tuhan dan
RasulNya dan bukan semata-mata dibuat-buat sendiri oleh manusia yang gemar pada
kebid'ahan, jelasnya orang-orang yang mengada-adakan hukum dari kehendaknya
sendiri dan dikatakan bahwa itulah hukum agama dari Tuhan.
Sementara itu
segala persoalan yang terjadi, maka untuk menerapkan hukumnya jangan
menggunakan hukum yang selain dari Tuhan dan RasulNya. Jadi persoalan itu kita
cocokkan sesuai dengan hukum yang ada dalam agama Islam. Manakala kita
mengerjakan kebalikannya, tentulah salah, yaitu persoalan yang ada itu kita
carikan hukumnya dalam agama yang kiranya dapat sesuai dengan kehendak atau
kemauan hawa nafsu kita sendiri, atau disesuaikan dengan kemauan orang lain
yang kita anggap terhormat agar mendapatkan pujian atau sekedar harta
daripadanya. Oleh sebab itu jikalau hukum agama itu diibaratkan sebagai kepala
atau kaki, sekiranya kita ingin membeli kopyah atau sepatu, hendaknya kopyah
dan sepatu itu yang kita cocokkan dengan kepala atau kaki kita dan tidak
sebaliknya, yakni kepala atau kaki yang kita cocokkan dengan kopyah atau sepatu
tersebut. Kalau kekecilan, kepala dan kaki diperkecilkan dan kalau kebesaran,
lalu kepala atau kaki dipukuli agar bengkak sehingga cocok dengan kopyah atau
sepatu yang berukuran besar tadi.
Ringkasnya dalam
segala hal, jangan sampai hukum agama yang dikalahkan, sebaliknya itulah yang
justeru wajib dimuliakan dan dijunjung setinggi-tingginya, sebab memang
datangnya dari Tuhan Rabbul 'Alamin. Semogalah kita dapat melaksanakan
131
yang sedemikian
ini, sehingga berbahagialah hidup kita sejak di dunia sampai di akhirat nanti.
Amin.
Dalam bab ini
ada beberapa Hadis, di antaranya ialah Hadis Abu Hurairah yang tercantum dalam
permulaan bab sebelum ini – lihat Hadis no. 156 - dan ada pula Hadis-hadis yang
lainnya.
Dari Abu Hurairah r.a.katanya: "Ketika ayat ini turun pada
Rasulullah s.a.w. yaitu-yang artinya: Bagi Allah adalah apa-apa yang ada di
dalam langit dan apa yang ada di bumi. Jikalau engkau semua terangkan apa-apa
yang dalam hatimu alau jikalau engkau semua sembunyikan itu, niscayalah Allah
akan memperhitungkan semuanya," sampai akhir ayat.
Dikala itu, maka
hal yang sedemikian tadi dirasa amat beratoleh para sahabat Rasulullah s.a.w.
Mereka lalu mendatangi Rasulullah s.a.w. kemudian mereka berjongkok di atas
lutut mereka lalu berkata: "Ya Rasulullah, kita telah dipaksakan untuk
melakukan amalan-amalan yang kita semua juga kuat melaksanakannya, yaitu
shalat, puasa, jihad dan sedekah. Tetapi kini telah diturunkan kepada Tuan
sebuah ayat dan kita rasanya tidak kuat melaksanakannya.
Rasulullah
s.a.w. lalu bersabda: "Adakah engkau semua hendak mengatakan sebagaimana
yang dikatakan oleh dua golongan ahlul kitab-kaum Nasrani dan Yahudi -yang
hidup sebelummu semua ini, yaitu ucapan: "Kita mendengar tetapi kita
menyalahi." Tidak boleh sedemikian itu, tetapi ucapkanlah: "Kita
mendengar dan kita mentaati. Kita memohonkan pengampunan padaMu,ya Tuhan kita,
dan kepadaMulah tempat kembali."
Setelah kaum -
sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. - membaca itu, lagi pula lidah-lidah mereka
telah tunduk - tidak bisa bercakap sesuatu, lalu Allah Ta'ala menurunkan lagi
sesudah itu ayat - yang artinya:
"Rasul itu
mempercayai apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, begitu pula
orang-orang yang beriman. Semuanya percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya,
kitab-kitabNya, dan rasul-rasulNya. Mereka berkata: "Kita tidak
membeda-bedakan seorangpun di antara rasul-rasul Allah itu." Mereka
berkata lagi: "Kita mendengar dan kita mentaati. Kita memohonkan
pengampunan daripadaMu, ya Tuhan kita dan kepadaMulah tempat kembali."
Selanjutnya setelah mereka telah
melaksanakan sebagaimana isi ayat di atas itu, lalu
Allah 'Azzawajalla menurunkan lagi ayat - yang artinya:
"Allah
tidak melaksanakan kewajiban kepada seseorang, hanyalah sekedar kekuatannya
belaka, bermanfaat untuknya apa-apa yang ia lakukan dan berbahaya pula atasnya
apa-apa yang ia lakukan. Ya Tuhan kita, janganlah Engkau menghukum kita atas
sesuatu yang kita lakukan karena kelupaan atau kekhilafan - yang tidak
disengaja."
Beliau s.a.w. bersabda: "Benar -
kita telah melaksanakan."
"Ya Tuhan
kita, janganlah Engkau pikulkan kepada kita beban yang berat, sebagaimana yang
telah Engkau pikulkan kepada orang-orang yang terdahulu sebelum kita."
Beliau bersabda: "Benar."
"Ya Tuhan
kita, janganlah Engkau pikulkan kepada kita sesuatu yang kita tidak kuat
melaksanakannya."
Beliau bersabda: "Benar."
132
"Dan
berilah maaf dan pengampunan, belas kasihanlah kita. Engkau pelindung kita,
maka tolonglah kita terhadap kaum kafirin itu."
Beliau bersabda: "Benar."
(Ayat di atas dari surat al-Baqarah 286). (Riwayat Muslim)
133
Tiada ulasan:
Catat Ulasan